
"Loh, kok masih tidur? Makan sih, Yang." Gavin mengusap-usap pelipisku.
"Instan aja ya?" Aku menggeliat dan memeluknya.
Hangatnya pelukan ini. Aku jadi betah bermalas-malasan dengannya di ranjang ini.
"Malam pengen tumis buncis setengah matang campur wortel ya? Sekarang tak apa, mie instan kasih cabai dua, kasih telor juga." Ia melepaskanku, kemudian ia duduk dengan mengucek matanya.
Masih di ranjang, tapi sudah membicarakan makanan.
"Ya, aku cuci muka gosok gigi dulu ya?" Aku keluar dari selimut.
Aku benar-benar tidur lagi, setelah Kirei diangkut untuk jalan-jalan. Aku tidak mengerti dengan bang Givan, anaknya sudah banyak pasti repot dalam bepergian. Tetapi, keponakan juga diajaknya. Aku yakin bukan cuma Kirei yang ikut, pasti ada keponakan lain yang diajak. Belum lagi anak asuhnya yang pasti ikut daftar jok di mobilnya, anak-anak akan terus diajak sekali ada ruang kosong di mobilnya.
"Ehh, Kirei mana?" Gavin panik dan langsung membuang selimutnya. Ya tentu saja, miliknya malah terpampang jelas.
"Diajak jalan-jalan sama mbak Canda." Aku menurunkan satu persatu kakiku menapak lantai.
"Kok kau tak ikut?" Ia mengenakan celananya.
Berapa kali semalam kami bermain? Dua kali! Setelah berdebat, ia benar-benar membuatku menangis kembali karena hal lain. Setelah itu, ia terlelap bersamaku. Ia urung untuk ke bang Givan, dengan alasan sudah malam, mengantuk dan lelah.
"Aku capek, Bang." Aku beranjak ke kamar mandi.
Begini ya dunia rumah tangga? Aku sikat gigi, ia malah buang air. Aku cuci muka, ia bergerak untuk mandi. Seperti tidak ada batasan, tidak ada rasa malu dan tidak ada rasa sungkan.
Aku langsung beranjak ke dapur, setelah bersisir. Entah mie instan punya siapa, aku langsung membuatnya dua beserta dengan telurnya juga.
"Pada ke mana orang-orang?" Suamiku sudah ganteng, ia masuk ke dapur dengan rambutnya yang masih basah.
"Tak tau, Bang." Aku duduk di sampingnya, dengan dua mie instan yang sudah terhidang.
Kami makan dalam diam, kemudian ia pergi setelah kenyang. Aku pun langsung mandi, berbenah dan menyetrika.
__ADS_1
"Dek, ini belanjaanya Kirei." Bang Givan memberiku banyak tentengan.
"Masa iya Kirei bisa belanja?" Aku menerimanya. "Diganti tak nih uangnya?" Aku menilik isi belanjaan tersebut.
"Tak usah, Gue tak miskin sangat. Anak kau dibawa suami kau tengok ladang, Abang mau nyusulin ke sana." Ia langsung berlalu pergi.
Orang-orang pada ke mana ya? Sepi sekali rumah sebesar ini? Saat aku keluar rumah, ternyata rumah bang Ghifar yang ramai. Dari jauh pun, aku melihat mamah Dinda dan papah Adi ada di sana. Rumah bang Ghifar sendiri yang tidak memiliki pagar, aku pun tidak tahu alasannya. Jadi dari jalan pun, sudah pasti terlihat rumah itu begitu ramai di teras dan halamannya. Setengah dari halaman rumahnya dipasang baja ringan, jadi ada tempat yang teduh biarpun matahari sedang teriknya.
Eh, iya. Suamiku meminta masak tumis buncis dan wortel sore nanti. Lebih baik aku belanja dulu, barangkali masih ada sisa buncis dan wortel di warung sayur terdekat.
Setelah beres semua, barulah aku beranjak mendekati kerumunan canda tawa itu. Soalnya, ada bang Ken yang tengah mengobrol dengan mbak Canda di undagan tangga teras yang mengahadap ke halaman samping.
"Ehh, Dek. Kirei dibawa Gavin," ujar mbak Canda saat melihatku berjalan mendekati mereka semua.
Aku mengangguk. "Iya, Mbak." Aku memilih berbelok ke arah ibu, mamah Dinda dan papah Adi yang tengah dikerumuni cucu-cucunya.
Mereka tertawa lepas, dengan sorot mata yang menggambarkan keceriaan dan kesenangan. Ternyata, bahagia itu sederhana ya?
"Udah makan kah? Mamah belum masak," tanya mamah Dinda, saat aku duduk di dekatnya.
Rasanya tidak enak jika masak tumis saja, tidak ada temannya piring terasa begitu sepi. Makan pun kurang selera, karena hanya satu rasa lauk saja.
"Di kulkas Ibu ada, tak ambil di rumah aja," tutur ibu yang mungkin mendengar ucapanku.
"Tak tau, Bu. Pikir aku, mumpung warung sayurnya masih buka." Aku mengambil satu bihun gulung yang disodorkan papah Adi.
Begitu banyak, sudah dicampur dengan saus juga. Mungkin ada dua puluh bihun gulung, yang dipindahkan ke dalam piring. Jajanan ini bukan hanya untuk anak-anak, orang dewasa pun doyan.
"Ke sana tuh, tadi nyariin katanya mau ngomong." Papah Adi menunjuk mbak Canda dan bang Ken yang membelakangi kami.
Mereka ada di ujung teras kiri, sedangkan kami ada di ujung teras kanan. Remaja tanggung ada di tengah, mereka tengah bermain game dalam ponsel sembari ngemil dan ada juga yang tengah berfoto. Sedangkan cucu-cucu yang kecil ada di ujung teras kanan, bersama kakek dan nenek-neneknya ini. Para menantu perempuan ada di ruang tamu, dengan pintu rumah yang terbuka lebar. Sedangkan para anak-anak papah Adi dan mamah Dinda ada di halaman teras, dengan mengobrol dan mengutak-atik mobil bang Ghifar, yang kapnya terbuka lebar.
"Ngomong apa?" Aku mencomot bihun gulung lagi.
__ADS_1
"Ihh! Riut! Itu untuk Kakek, jangan minta terus!!!" Telapak tangan Ra langsung melayang ke lenganku.
Anak ini kebiasaan!
"Biar tuh, Dek. Masih banyak juga tuh." Papah Adi menarik tubuh Ra menjauh dariku.
"Anak Ipan, rewel!!!" Aku memasang wajah jelek.
"Orang kaunya sama aja kek Gavin, anak kecil aja diladenin."
Aku tertawa lepas, mendengar ucapan mamah Dinda. Bukan hanya mamah Dinda saja yang mengatakan hal demikian, sepertinya aku dan Gavin memiliki kebiasaan dan sedikit sifat yang sama. Salah satunya, interaksi dengan anak-anak begini.
"Dek, sini dulu," seru mbak Canda kemudian.
"Riut! Jangan ambil lagi, itu untuk Kakek." Ra melemparku dengan sandalnya dan ia langsung menangis lepas.
"Satu, Dek. Ya ampun, Ra!" Aku geleng-geleng kepala dan berlalu pergi, setelah membuatnya menangis dengan bihun gulung ketiga yang aku ambil.
"Sini sama Papa, Dek." Bang Ghifar melambaikan tangan pada Ra.
Mungkin ia kira anak asuhnya ribut dengan saudaranya yang lain, tidak tahunya kan dengan bibinya. Tapi benar-benar sih, Ra ini musuh sekali denganku. Entah aku salah apa padanya, ia selalu ribut saja denganku.
Memang anak rujuk itu paling nakal, paling bangor. Telinganya tebal, dengan urat yang seram. Tidak ada manis-manisnya, cantiknya hilang ketutup urat galaknya. Jika aku meledeknya seperti ini, ia akan mengamuk langsung dan mengusirku.
"Kenapa, Mbak?" Aku duduk di sampingnya, dengan menghabiskan bihun gulung ini.
Mbak Canda ada di tengah-tengah kami, di sebelah kanannya adalah aku, di sebelah kirinya adalah bang Ken.
"Bang Ken mau ngomong katanya. Semalam belum sempat, karena tak enak sama Gavin katanya." Mbak Canda berbisik padaku.
"Ngomong apa?" Aku celingukan mencari air mineral gelas.
Ada satu kardus air mineral di dekat jangkauanku. Aku langsung menariknya, kemudian mengambilnya.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?" Aku menikmati segarnya air mineral ini, dengan mulai menghadap bang Ken yang terhalang mbak Canda.
...****************...