Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD136. Kesalahpahaman yang terungkap 2


__ADS_3

“Aku sakit dan Hana tak datang karena lagi pulang di Panama. Aku demam tinggi, sampai badan aku gemetaran. Kondisi aku udah hamil dan aku muntah-muntah beberapa kali, Bang. Alfonso aku minta datang, karena kata dia dokter tak bisa datang ke rumah. Aku minta dia antarkan aku ke rumah sakit, tapi aku muntah-muntah lagi pas mau berangkat. Pas itu Abang datang, masa Alfonso lagi urus aku muntah. Salah kah dia di situ? Aku tak punya kerabat dan saudara di sana dan keadaan aku lemah. Ditambah lagi, Abang datang dan gagahi aku tanpa aba-aba dan pemanasan apapun. Sampai hotel, aku langsung ke rumah sakit. Untungnya, anak kau itu tak apa-apa.“ Aku menunjuknya dengan kesal.


Ia diam dan bernapas stabil. Pandangannya seperti bingung dan bertanya-tanya.


“Tapi Abang tak percaya kan? Aku hamil, dituduh hamil anak Alfonso. Jangankan berselingkuh, punya pikiran untuk ladenin chat laki-laki lain pun aku enggan. Jujur aja, aku udah males sama Abang. Aku tuh bermimpi rumah tangga yang bahagia, bisa bebas melakukan kegiatan apapun dengan Abang. Aku diajak ke hiburan malam, ke tempat gym atau ke mana, sama-sama sama Abang. Aku ke tempat hiburan malam, bukan untuk minum-minum, tapi pengen lihat suasananya. Itu pun dengan Abang, dengan suami sendiri. Itu pun tak boleh, harus begini begitu ikut aturan Abang. Aku malah tertekan dan tak ngerasa bebas, punya suami Abang.“ Unek-unekku tumpah sudah.


“Nikah itu untuk menjadi lebih baik, Ria. Kalau kau mau keluyuran tak jelas dan senang-senang begitu, ya berarti kau tak siap untuk nikah.“ Ia ngotot kembali.


“Aku tak mau nikah, kau paksa! Mulut kau manis betul kalau ada tujuannya!“ Aku malas sudah menyebutnya 'abang' karena ia bukan sosok yang pantas menjadi panutan seperti seorang kakak lagi.


“Kau bilang tak mau berzina ini itu, tapi kau tak pernah nolak. Terus mau gimana, Ria?! Kau mau apa?“ Ia seolah beranggapan bahwa aku yang gatal di sini.


“Aku mau pisah!“ Aku tak memiliki harapan apapun itu untuknya.


“Kau tak tengok anak bayi kau? Dia butuh figur ayahnya, dia butuh finansial yang menjunjung untuk kehidupan dan kebutuhannya. Dia butuh kasih sayang yang utuh dari kita, Ria,” tuturnya mendadak lembut. Ia mencurigakan sekali, karena di balik tutur itu ada keinginan yang ia tuju.


“Aku mampu!“ Aku bukan sombong, aku pun perlu bantuan orang lain. Hanya saja, aku tak mau ia ikut campur dalam pertumbuhan anakku.

__ADS_1


“Sombong! Paling kau cuma bisa repotin kakak kau lagi. Udah merepotkan masalah finansial, merepotkan tenaga dan meminta kasih sayang juga. Jangan jadi pengemis terus, Ria!“


Kurang ajar sekali mulutnya!


“Mereka kakak aku sendiri, ada kewajiban mereka untuk ulurkan tangannya ke aku. Aku bukan pengemis dan mereka kasih sedekah ke aku. Lebih baik kau pergi! Bawa barang-barang kau! Tak usah anggap kalau Kirei anak kau, karena dari awal pun kau tak pernah harapkan kehadiran dia.“ Aku bangkit dan mengusirnya untuk pergi.


“Bukan aku tak mengharapkan, Ria. Aku kasih kau pil KB darurat, karena keadaan kita masih nikah di bawah tangan. Nyata kan terbukti? Jika akhirnya Kirei pasti tercatat anak di luar pernikahan, anak kau, bukan anak aku. Dia bisa punya akta kelahiran, tapi jadinya ia seolah anak yang lahir tanpa pernikahan orang tuanya dan dia ikut nasab kau. Dia tak bisa ikut nasab aku, meski aku ayah kandungnya dan walinya yang sah. Kau mempersulit keadaan kita, Ria.“ Ia terlihat begitu frustasi dengan menggosok wajahnya.


“Abang kasih aku pil KB darurat, karena Abang tak mau punya anak. Abang mau freechild!“ Aku tau isi pikirannya.


“Aku tak minum pilnya.“ Pertanyaan itu membuatnya langsung menoleh ke arahku.


“Kau bodoh!“ Jakunnya naik turun, kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain.


“Aku kasih kau pil KB darurat, sampai status kita aman dulu. Bukan aku mau freechild, bukan aku tak mau punya anak dari kau. Aku udah pertimbangkan matang-matang dan aku rasa kau kelak bakal mampu besarkan anak-anak aku, meski aku udah tak ada di dunia ini. Sabar, Ria! Aku juga mau yang terbaik untuk kita, aku mau tak sembunyikan pernikahan kita dari semua orang. Perlahan, semua perlu proses. Pikiran aku terbagi dengan rumah sakit, dengan perusahaan kita. Aku bukan orang yang terbiasa bekerja banyak pekerjaan, aku belum dapatkan orang kepercayaan yang bisa aku percayakan. Jadi, kau cuma perlu sabar. Aku bukan Givan yang bisa atur lebih dari sepuluh perusahaan, otak aku tak mampu, Ria. Aku pelupa, harusnya kau ingatkan, bukan kau tuduh aku sengaja lupakan. Aku pun pengen urus surat-surat untuk persyaratan peresmian kita. Tapi aku lupa, aku baru ingat masa sampai sini.“ Telunjuknya terarah ke bawah.


Apa ia berbohong?

__ADS_1


“Buktinya sampai sekarang Abang tak punya pergerakan apapun untuk urus peresmian kita. Kalau aku jadi laki-lakinya, aku bakal urus-urus sejak dulu meski kita tak lagi baik-baik aja. Setelah itu, aku langsung urus peresmian untuk di sini, baru aku akan cari pasangan aku dan nunjukin kalau pernikahan kita udah resmi.“ Aku akan melakukan hal itu, jika aku menjadi dirinya.


“Semua surat-surat itu ada masa berlakunya, Ria.“


“Ya, memang! Tiga bulan masa berlakunya, aku yakin bisa bereskan itu dalam waktu kurang dari tiga bulan. Memang dasarnya tak ingin kan?!“ Aku menunjuk dirinya dan bangkit dari posisinya.


“Karena harapan aku kecil sama kau, Ria! Apalagi, kau langsung pergi malam itu juga dengan keadaan kau yang buruk. Aku berasumsi, kalau kau lebih milih dia daripada aku. Aku tak minta kau pergi, tapi kau berperilaku seolah-olah kau benar hamil anak orang lain dan kau selingkuh dengan dia.“


Aku masih ingat jelas kejadian yang ia maksud.


“Aku malas untuk menjelaskan, karena Abang lebih percaya diri Abang sendiri. Hidup sama Abang, bukan pilihan yang bagus.“ Aku geleng-geleng kepala memandangnya.


“Kau sombong, Ria! Kau sombong dengan titel kau sekarang! Kau lihat nanti! Anak kau bakal ngemis-ngemis untuk aku pulang dan jadi wali nikahnya! Kau ingat itu, Ria. Kau harus ingat, kalau anak kau adalah anak aku!“ Setelah berkata demikian, ia langsung bangkit dan menarik gagang pintu.


Ia pergi, meninggalkan tumpukan barang bawaannya. Ia pergi tanpa pamit pada siapapun.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2