
Serasa uji nyali, meski waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Tapi, rasanya aku tidak kunjung mengantuk juga. Bertambah seramnya, karena lampu yang menyala hanya di ruang tamu ini saja.
Aku terus melirik ke arah sofa, karena khawatir tiba-tiba ada yang duduk di sana. Setiap aku ke kamar mandi, aku selalu membangunkan laki-laki yang sudah mendengkur sejak jam tujuh malam ini.
Bang Ken begitu mudah terlelap, ia seperti tidak menikmati hawa mencekam di sini. Ini adalah daerah kampung yang benar-benar kampung. Aku tidak melihat keberadaan gunung atau perbukitan, tapi kata bang Ken dataran di sini memang cenderung tinggi. Makanya, kopi bisa tumbuh sampai berhektar-hektar di sini.
Aku tidak mengerti, karena sinyal providerku saja hilang timbul. Aku tidak mengerti, aku harus berganti kartu atau bagaimana. Karena pesan chat saja selalu berlogo jam.
Hufttt….
Aku seperti dipaksakan untuk menikmati keadaan yang seperti ini.
“Bang….“ Aku menarik-narik bulu kakinya, dengan ibu jari dan telunjuk kakiku.
“Aduh, aduh.“ Ia langsung terlonjat dan mengusap-usap betisnya.
“Pedas loh, Dek. Ada apa?“ Mata merahnya langsung terbuka.
“Bosan.“ Aku kembali meraba tempat tidur yang dipindahkan ke ruang tamu ini.
“Mau makan.“ Aku sebenarnya hanya bingung ingin apa.
“Makan? Kan tadi kita udah keluar beli nasgor.“ Bang Ken mengucek matanya dan terduduk dengan bersila.
“Pengen yang berkuah.“ Aku asal berbicara saja.
Aku hanya bosan, tapi jika makan pun ya kuat juga. Daripada aku ditinggal tidur, dengan sinyal yang tidak lancar.
“Jadi, kita keluar kah?“ Bang Ken menoleh ke arahku.
Aku mengangguk. “Iya, Bang.“ Aku memasang wajah cemberut.
“Dari tadi cemberut terus. Apa tak suka ada di sini?“ Jelas aku langsung mengangguk mendengar pertanyaannya.
“Maunya gimana?“ Bang Ken mengusap lenganku.
“Mau rumah yang nyaman, sinyal yang lancar.“ Karena meminta untuk pergi dari sini cukup sulit.
Aku pun baru tahu, ternyata hotel jauh dari sini. Tidak ada penginapan, hanya rumah warga yang berjarak cukup jauh juga. Bisa-bisanya ada kekayaan yang tak ternilai, di tengah-tengah daerah pelosok yang belum terlalu modern.
__ADS_1
Namanya memang Banjarmasin, kota yang terkenal dengan seribu sungai. Tapi Banjarmasinnya bagian pelosok, entah apa namanya.
“Satu-satu ya? Sabar.“ Bang Ken bangkit dari duduknya.
“Ya, Bang.“ Aku ikut berdiri sepertinya.
“Bentar, Abang pipis dulu.“ Ia beranjak turun dari tempat tidur ini.
“Ikut.“ Aku tak mau ditinggal sendirian.
“Pegangin ya?“ Ia menggandengku dan terkekeh.
“Oh, boleh-boleh.“ Tawanya langsung menggema mendengar sahutanku.
Aku menunggunya di depan pintu kamar mandi. Air gemericik sampai terdengar jelas, karena bang Ken tidak menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Aku terlihat bodoh, tapi nyatanya aku hanya takut. Aku tak mau ditinggal sendirian, karena sungguh menakutkan di bangunan besar yang kurang pencahayaan dan hanya seorang diri.
“Yuk?“ Bang Ken keluar dari kamar mandi, dengan masih membenahi celana jeans-nya.
Tapi diapakan saja, aku tetap melirik. Aku masih penasaran saja dengan bentuk lemasnya.
“Udah, tuh basah.“ Ia menengadahkan telapak tangannya ke arahku.
Yap, benar. Basah.
Aku langsung menggandeng lengannya, aku menyandarkan kepalaku pada biceps-nya. Ketika tak berdaya dengan keadaan seperti ini, apa yang aku bisa kecuali memohon padanya untuk diberi kenyamanan.
Ingin kabur pun menggunakan apa? Dari bandara ke sini saja kami naik travel. Di sini, tidak ada mobil milik bang Ken. Motor pun, tidak ia miliki di sini. Dua kali mencari makanan dengannya, dia kali juga aku menyusuri kampung ini yang ternyata orang-orangnya tak memiliki mobil. Mayoritas motor dan sepeda, tapi tak mungkin disewakan juga. Aku mencoba pencarian driver online sejak tadi, sejak tadi juga tak ditemukan di dekat sini sekalipun.
Kok bisa ada tempat seperti ini di tengah kemajuan zaman? Jarak rumah satu dan rumah lainnya pun, hampir seratus meter. Bahkan, jarak rumah milik bang Ken itu ke rumah tetangga terdekat, sekitar dua ratus meter. Aku tidak tahu akan meminta tolong pada siapa, jika terjadi suatu kemalangan di dalam rumah besar itu.
Kami makan mie rebus di tempat membeli nasgor tadi, kami memutuskan makan di tempatnya karena di rumah bang Ken malas mencari peralatan makan. Besok ia akan mengeluarkan barang-barang, bersama warga yang mau ia suruh dan beri upah nantinya. Sepertinya, aku akan lama sekali berada di kampung ini.
“Sama siapa, Ken? Tinggal di mana sekarang?“ Seseorang yang baru datang ke kedai nasgor ini langsung menyapa bang Ken dengan akrab.
“Istri, Om. Tinggal di Malaysia, kebetulan mau benahi rumah di sini, mau kami tempati, Om.“
Sungguh aku terkejut mendengar jawabannya.
__ADS_1
“Lain sama ibunya Bunga kemarin, Ken? Siapa namanya ibunya Bunga itu?“ Laki-laki yang terlihat lebih tua dari bang Ken itu duduk di hadapan bang Ken.
“Lain, belum ada anak sama yang ini. Riska, ibunya Bunga Riska. Ini Ria, Om. Baru-baru nikah, Om. Masih di bawah tangan, belum resmi duda.“
Hei, hei!!! Kenapa isinya dusta semua? Ia sudah resmi duda, sudah lama malah.
“Ohh, barangkali ada buktinya?“ Aku curiga bahwa ia semacam ketua rukun warga di sini.
“Ada, Om. Besok Saya antar ke rumah.“
Bukti nikah sirinya maksudnya? Kan kita tidak pernah menikah? Memang bisa?
“Oke, oke. Ya barangkali bukan istrinya, Saya sarankan lebih baik tinggal terpisah begitu.“
Nah, kan? Sepertinya benar bahwa ia adalah rukun warga di sini.
Aku cukup mengerti, di mana-mana tetap ada hukum kampung. Bang Ken hanya menyelematkan diri saja, dengan mengatakan bahwa kami sudah menikah siri. Aku makin takut saja dengan bang Ken, karena ternyata ia pandai berdusta juga. Coba modelan anak mamah Dinda yang berbohong, pasti banyak jeda kalimatnya. Bang Ken tidak sama sekali, ia seperti membaca teks yang sudah ia hafal.
“Istri, Om. Baru-baru nikah bulan ini.“ Semudah itu ia mengaku tanpa berpikir lagi.
“Kalau perlu bantuan, tinggal ke rumah aja, Ken.“ Seseorang yang dipanggil om tersebut menepuk pundak bang Ken.
“Oke siap, Om.“ Bang Ken mengangguk dan tersenyum ramah.
Kemudian, laki-laki tersebut mendekati pemilik kedai ini. Sepertinya, ia tengah memesan makanan.
“Nanti Abang jelasin di jalan, Dek. Sok habiskan dulu makanannya.“ Bang Ken tengah merokok sekarang.
Ia mengatakan sudah makan pun, tetap masuk seporsi mie rebus dengan suwiran ayam, telur dan sayuran.
Beberapa saat kemudian kami kembali ke rumah, dengan bang Ken yang menjelaskan seperti yang aku tebak. Benar, ia ingin keberadaan kami aman dari mulut tetangga. Masalah bukti selembar surat, ia berkata bahwa itu mudah saja.
Sepertinya, bang Ken benar-benar lihai dalam berbohong. Ia sepertinya sudah hafal, dengan hal-hal seperti ini. Dengan aku tahu semua bagaimana dia dengan jelas, respectku padanya terasa berkurang juga.
Ia bukan laki-laki baik.
Tapi, suatu saat apa ia bisa berubah seperti bang Givan?
...****************...
__ADS_1