
“Kalau aku mutusin untuk pisah aja gimana, Bang?“ Karena tidak ada harapan untuk membuat bang Ken mengerti akan sudut pandangku.
Di sini ada bang Givan yang membantu menerjemahkan pola pikiran seorang laki-laki, aku jadi mengerti bagaimana isi pikiran dan anggapan bang Ken saat itu. Tapi di sana bang Ken siapa yang memberitahu dan membuatnya mengerti tentang pola pikir seorang perempuan? Pasti tidak ada, pasti ia juga tidak mengerti apa inginku.
“Ya silahkan, selesai hubungan kau baik-baik. Untuk kedepannya juga kau pikirkan, gimana untuk diri kau sendiri. Karena Abang udah kapok nih ngatur-ngatur kau, nyaranin kau dan arahkan kau. Terserah kau mau gimana setelah jadi janda, yang jelas kau harus jadi sosok ibu yang baik untuk anak kau. Satu keinginan Abang juga, kau jangan buat diri kau hamil kembali. Di luar itu, terserah kau. Kau mau berzina, kawin lagi dan cerai lagi juga terserah. Abang udah tak mau tau-tau, Abang tak mau repot lagi. Cukup repot bantu besarkan Kirei aja, tak dengan anak-anak kau yang lain,” tandasnya begitu terang.
Bang Givan seolah tak memfilter, agar aku sakit hati dengan ucapannya. Bang Givan begitu jelas dan terus terang mengatakannya tanpa kiasan lagi.
“Aku tak bisa selesaikannya.“ Aku ingin bantuan darinya.
“Nikah tanpa siapapun aja kau bisa, masa selesaikan tak bisa? Bisalah, harus.“ Bang Givan menepuk punggungku beberapa kali dengan tersenyum lebar.
Aku yakin semua ucapannya bukan tanpa alasan, ucapannya mendasar dan ada sebabnya. Ia tidak mau mengurusku lagi, karena ia berpikir bahwa aku tidak bisa patuh padanya.
“Abang kok ngomongnya gitu?“ Aku meliriknya dan menunduk.
“Terus gimana? Ghifar dulu ada dilema untuk menikah lagi, Abang tak punya hak paksa dia nikah lagi. Tapi, kasih saran dan gambaran aja. Beda posisinya, kalau dia adalah bujang dan butuh abangnya. Meskipun masih hubungan yang sama, Abang masih Abangnya, tapi setelah pernikahan ada jarak yang kita sebagai saudara sekandung itu tak boleh ikut campur terlalu jauh. Kek Gibran contoh, pengen kerja apa, minat apa. Abang sampai ayo usahakan, Abang ikut gerak, karena ada tanggung jawab Abang ke dia. Beda juga ke Gavin yang minta saran dan minta bantuan untuk cari Ajeng, itu Abang hanya sekedar, bukan menjadi garda terdepan untuk dorong dia untuk nemuin Ajeng. Kau harus ngerti itu, Ria.“
Jika dikupas dan dilihat balik, memang benar ucapannya ini. Tidak salah, tidak meleset juga.
“Kalau memang aku harus selesaikan sendiri, aku mulainya harus dari mana?“ Aku khawatir malah akan seperti tadi, jika memulai dengan obrolan.
“Harus dari sehatkan dulu keadaan jiwa dan raga kau, kau masih nifas,” jawabnya cepat.
Aku menoleh ke arahnya. Kakak iparku memasang senyum lebar padaku dengan bertopang dagu. “Semangat.“ Ia mempertontonkan bisepnya.
__ADS_1
Aku membalas senyumnya. “Semangat juga.“ Aku melakukan hal yang sama.
“Pasti lah, istri Abang doyan belanja online. Tak apa, yang penting anteng di rumah, tak keluyuran. Doyan keluyuran, malah lebih pusing karena pikiran terbagi mikirin dia ada di mana kejebak macet tak, hujan angin ada di mana dan pakai pakaian apa. Tebalkan dompet, beban hidup nambah dari rahim kau beberapa hari yang lalu.“ Ia kembali memamerkan giginya yang rapi karena veener yang selalu terawat itu.
Frontal sekali mulutnya.
“Abang sih ngomongnya gitu.“ Aku memanyunkan bibirku.
“Iyalah, kenyataannya kok. Diapers aja berapa satunya, dibuat tiga ribu rupiah. Dikali sehari, ganti tiga diapers. Udah sembilan ribu aja tuh, diapers untuk sehari. Dikali sebulan, dikali setahun, udah nampak aja tuh hilalnya.“ Ia malah menunjuk bulan yang terlihat bulat dari sini.
Aku terkekeh geli, kemudian memukul lengannya pelan. “Serius Abang tuh.“
“Iya pasti Abang hitungnya begitu. Karena khawatirnya, kau terlampau terpuruk dan sulit untuk menata kehidupan kau lagi. Lebih-lebih, ekonomi kau. Kau adalah ibu dan ayah untuk Kirei. Bang Ken kasih, terima. Jangan sombong, kau aja makan dan minum atas belas kasih Gue. Bang Ken tak kasih, tak usah ngemis-ngemis. Gue mampu kok sedekah untuk keluarga terdekat, karena begitu ilmunya sedekah. Tengok kanan kiri tetangga makan tak, saudara makan tak. Tak perlu jauh-jauh ke pondok pesantren, ke panti asuhan. Tengok kanan kiri aja dulu, masih butuh kita tak. Tak mungkin Abang nyumbang satu juta ke sekolah, tapi kasih makan satu piring untuk kau dilewati. Tak mungkin mbak kau kasih ASI gratis ke anaknya adik iparnya, tapi perhitungan untuk belikan sufor untuk anak adik seibunya.“
“Aku usahakan pasti bisa nyukupin untuk kebutuhan Kirei dan aku, Bang.“ Aku tak mau terus menerima sedekah darinya.
“Harusnya sih memang begitu. Sana benahi barang-barang dari ayah kandungnya Kirei, itu menghemat pengeluaran Abang di sini.“
Kenapa mulutnya sering begitu menusuk? Aku merasa amat merepotkan dirinya.
“Ya, Bang.“ Aku bangkit dan berjalan ke arah ruang tamu.
Tumpukan kardus masih berada di sana, tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Aku pun tidak membenahi apapun sejak tadi, aku terlalu sungkan untuk menerima ini semua. Tapi mulut bang Givan, membuatku bersuka rela membuka ini dengan penuh senang.
Obat-obatan dituliskan dengan petunjuk cara meminumnya. Ada juga beberapa krim bayi dan juga salep untuk ruam merah. Diapers pun sama seperti yang Kirei pakai, untuk kulit yang amat sensitif sehingga ada perlindungan ganda.
__ADS_1
Bang Ken tahu yang terbaik untuk anaknya. Lebih jelasnya, tahu brand yang terbaik untuk anaknya.
Sebuah foto ada di bagian paling dasar kardus ini, sebuah potret kebersamaan bang Ken dan Bunga. Ia seolah ingin aku memberitahu bahwa ialah ayahnya Kirei, juga Bunga adalah saudara perempuannya Kirei.
Benar-benar mencurigakan, bang Ken hilang kabar sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Setiap liburan mereka di tempat terdekat pun, aku dan Kirei ikut. Aku menjadi pengganggu di masa liburan bang Givan dan mbak Canda sampai akhirnya kami kembali ke rumah.
“Aku harus jelaskan apa, Mbak?“ Aku ragu untuk melangkah keluar dari taksi yang mengantar kami ke rumah mamah Dinda.
Aku tidak mengerti, kenapa mereka selalu pulang ke rumah mamah Dinda. Padahal, mereka punya rumah sendiri. Apa ia ingin agar anak-anaknya tidak membuatnya lelah, karena mereka malah berebut oleh-oleh? Entah karena mereka ingin beristirahat, sampai akhirnya keadaannya fit untuk bertemu anak-anak.
“Tak ngabarin dulu sih, Van? Kan Mamah tak nyiapin makanan apapun, mana udah malam lagi.“ Mamah Dinda menyambut kerepotan kami.
“Tak apa, Mah. Nasi goreng aja, Papah pergi belikan.“ Bang Givan tersenyum lebar pada ayah sambungnya yang membantu menurunkan koper dari taksi.
“Enak aja!“ Papah Adi memanyunkan bibirnya.
“Kau beli boneka, Dek? Anak kau banyak, segala kau beli boneka bayi. Untuk apa?“ Papah Adi melongok ke arah gendongan mbak Canda.
Rengekan Kirei terdengar, ia rewel sejak turun dari pesawat.
“Ehh???“ Papah Adi sampai melebarkan matanya.
“Bayi???“ tanya mamah Dinda dengan ekspresi kaget.
...****************...
__ADS_1