
“Kenapa caranya harus begini?“ Aku mengusap-usap punggungnya.
Ia hanya menggeleng samar. Napasnya tersengal-sengal, ia masih sesenggukan begitu jelas.
Sebenarnya, ada apa dengan emosinya? Kalau tidak salah, almarhum kak Kin dia memiliki penyakit jiwa. Apa bang Ken pun sama? Mereka bukan saudara kandung, tapi mereka masih satu keturunan dan satu kakek. Kalau tidak salah juga, umi Sukma minta cerai karena abi Haris KDRT. Apa bang Ken pun demikian? Makanya, dengan begitu mudah kak Riska menceraikan bang Ken tanpa pikir panjang.
Aku membiarkannya dalam posisi seperti ini sampai pagi. Entah jam berapa dan dari kapan kami mulai tertidur, karena yang jelas kami tidur setelah keributan barang-barang melayang itu selesai.
Sekarang, bang Ken malah sakit setelah mengamuk. Ia demam, tapi ia tak mau minum obat. Yang ia cari malah air kelapa hijau, dengan beberapa vitamin yang ternyata ia stok sendiri. Ya namanya juga dokter, ia paham pengobatan seperti apa yang ia butuhkan.
Pembenahan sarang walet itu sudah dicover oleh pemborong, jadi kami tidak perlu bolak-balik untuk memberi makan para buruh bangunan, atau mengecek keadaan setiap harinya. Renovasi total bangunan ini pun, sudah diborongkan juga.
Meski keadaannya tengah sakit, kami tetap prepare untuk pindah ke rumah kontrakan. Aku tidak mengerti, karena kesannya bang Ken seolah tengah membawaku untuk hidup sederhana dan seadanya dulu.
Kini, rumah kontrakan yang ia pilih ini hanya berlantai tanah. Dengan setengah tembok menggunakan batu yang disemen. Kalian tahu tidak, dengan bangun yang polkadot hitam putih dengan hitamnya adalah batu dan putihnya adalah pasir dan semen. Ditambah lagi, ruangan sekat dalam rumah itu menggunakan anyaman bambu. Jendelanya saja, menggunakan full kayu. Seperti rumah yang sudah termakan waktu, tapi memang masih layak huni.
Jujur saja, aku terbiasa hidup dalam bangunan yang megah. Bangunan ruko yang aku tempati pun, bertembok kokoh dengan model bangunan yang modern.
Tidak banyak yang kami pindahkan, karena memang hanya ada lemari penyimpanan besar, sofa ruang tamu beserta mejanya. Kemudian, ada dua spring bed berukuran besar dan juga lemari pakaian. Bang Ken mengatakan, furniture rumah megah tersebut ia jual sejak ia membeli rumah itu karena khawatir rusak termakan lembab.
“Mau buat teh hangat kah, Bang?“ Aku melihat keadaannya cukup buruk.
Wajahnya sampai begitu merah karena demamnya. Kulitnya ini cerah dan bersih, jadi kentara sekali jika ia tengah sakit seperti ini.
Setelah mengulur benang layangan, dengan layangannya adalah bang Kennya. Kini, aku tengah menarik benang layangan sejak pagi tadi. Tujuannya satu, yaitu mengacaukan perasaannya dan membuatnya semakin gila padaku.
__ADS_1
Aku akan seolah-olah terlihat begitu mencintai dan mengkhawatirkannya, sebelum akhir aku mengulur kembali benang layang-layang tersebut pada waktu yang tepat. Jangan tanyakan perasaanku padanya, karena sejujurnya perasaanku padanya ini tertutup rasa kekecewaan yang amat besar.
Ia tidak memuliakanku dan malah merampas keperawananku, itulah yang membuatku amat kecewa padanya. Jika ditanya apakah aku cinta padanya? Ya, aku mencintainya. Hanya saja, respectku sedikit berkurang karena semakin tahu dengan sifat aslinya itu.
Andaikan dan andai saja, ia bisa berubah untukku. Mungkin, besar kemungkinannya aku akan terhanyut dalam perasaan dan sikap yang ia berikan lagi. Aku perempuan umum, yang mudah terbawa perasaan jika diberi perhatian dan diratukan sedemikian rupa.
“Boleh.“ Ia memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie-nya.
Ia memakai sarung berwarna hitam dengan variasi garis putih, dengan hoodie berwarna hitam dengan huruf timbul di kainnya yang berada di bagian dadanya.
Aku paham tentang orang yang demam tidak boleh memakai baju tebal. Tapi kondisi bang Ken saat ini tengah kedinginan, panas dingin istilahnya.
Aku sudah mencuci dan mengeringkan setengah lusin gelas, sendok, garpu dan juga piring. Memang cukup banyak dan tersimpan rapi di dalam lemari penyimpanan yang berukuran besar itu. Untungnya pun, lemari itu mampu masuk ke dalam rumah kontrakan yang apa adanya ini.
Cukup banyak alat dapur, bahkan bahannya terbuat dari keramik semua. Tapi aku hanya mengeluarkan kuali sedang dan sebuah panci saja, tidak lupa dengan sutil untuk mempermudahku membalikkan masakan yang biasanya memang hanya telur ceplok saja.
Ia mengangguk dan memintaku duduk di sebelahnya. Dalam misi tarik benang, jadi aku menurut saja.
“Beli sandal karet khusus nanti, biar sandal di dalam rumah sama di luar itu beda.“ Ia mengusap lenganku yang sengaja memeluk lengannya.
Aku akan membuatnya benar-benar merasa dicintai olehku. Ya meski memang sebenarnya aku cinta juga sih.
“Aku lama tak narik uang, Bang.“ Aku tak memiliki uang cash sama sekali.
“Nanti besok motor metiknya datang, Dek. Adek tak mau kan pakai motor bebek yang Abang beli bekas itu?“ Ia memberi kecupan sekilas di pelipisku.
__ADS_1
“Abang tadi narik uang banyak, nanti Abang kasih.“ Mungkin ia teringat dengan pengakuanku barusan.
Memang selama ini pun, kebutuhan kami di sini ia yang memenuhi. Ia tetap bekerja, meski dari jauh. Aku pun tidak menyangka, ternyata selama dua mingguan ia sibuk di Singapore itu, ia sudah menggandeng perusahaan farmasi yang mengirimkan obat khusus ke rumah sakitnya.
Hanya satu yang tidak ia lakukan, yaitu turun langsung ke meja operasi. Menurutku, percuma saja ia sampai meraih pendidikan spesialis. Jika akhirnya, ia hanya terjun ke dunia bisnis medis.
Entah memang berguna juga. Aku tidak paham sih, tapi yang aku tahu ya memang ia tidak aktif menjadi dokter lagi. Seperti hanya digunakan sebagai batu loncatan saja.
“Bang…. Kita ngobrol-ngobrol dong.“ Aku ingin mengorek tentang kekerasan dalam rumah tangga yang kemungkinan ia lakukan pada kak Riska dulu.
“Apa, Dek?“ Suaranya santai dan ia tidak dalam kondisi emosi.
“Apa Abang suka mukul kak Riska?“ Aku bertanya dengan hati-hati.
“Tak, tak pernah mukul. Kenapa nanya gitu?“ Ia kini melepaskan pelukanku pada lengannya, dengan ia malah merangkulku.
“Aku takut sama Abang semalam. Aku takut mati di tangan Abang.“ Aku mengatakan hal seperti ini, agar aku tahu alasan di balik pengerusakan barang-barang tersebut.
Tangannya menjuntai dari bahuku. Aku baru ngeh, kalau buku-buku jarinya sampai merah dan lecet-lecet.
“Abang tak pernah nyakitin orang. Sama Ghifar dulu pun, Abang tak pernah balas.“
Benar tidak sih pengakuannya?
“Kenapa memang?“ Sejujurnya, aku tidak percaya dengan pengakuannya
__ADS_1
“Barang aja bisa serusak itu, apalagi kalau ke badan orang. Abang tak mau buat masalah baru, karena nuntasin emosi dalam diri sendiri pun susah. Kalau bisa bentak-bentak dan maki-maki kek Givan, mungkin Abang ambil opsi untuk marah yang kek gitu aja. Atau, marah yang lebih privat kek Ghifar. Yaitu, cuma nyungsep di bantal sambil nangis. Tapi sayangnya Abang tak bisa kek gitu. L**** itu kaku buat maki-maki segala macam, mulut ini tak bisa untuk bentak-bentak. Nangis dalam diam pun susah, sesak dan bahkan Abang pernah dibawa rumah sakit karena nahan emosi. Bisa gagal jantung, marah yang terlalu meledak-ledak kek Abang pun beresiko serangan jantung. Karena jantung secara tiba-tiba berpacu lebih cepat saat emosi meledak. Ditahan gagal jantung, diluapkan serangan jantung. Sulit untuk masalah kek gini ini, makanya kenapa Abang pernah coba dekati......
...****************...