Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD60. Menghampiri Ken


__ADS_3

“Aku pulang dulu ke ibu, Bang. Aku mau nenangin pikiran dulu.“ Aku belum siap berbicara banyak dengan bang Givan.


“Tidur di sini aja.“ Bang Givan mengusap punggungku.


“Aku kangen sama ibu, Bang.“ Bukannya aku tidak ingin tidur di rumahnya, hanya saja aku pasti tidak bebas menghubungi bang Ken.


Sedangkan, aku menuntut penjelasan darinya.


“Ya udah gih, keburu Maghrib nantinya.“


Aku langsung beranjak berdiri. “Ya, Bang. Bilangin mbak Canda, aku pulang ke ibu.“ Aku melangkah keluar dari rumahnya.


Aku merasa mata kakak iparku memperhatikanku dengan intens. Tapi, aku takut menoleh ke belakang untuk memastikannya.


Sesampainya di rumah ibu, aku berpura-pura ceria seperti biasanya. Aku bersenda gurau dan sedikit sewot-sewot kecil dengan ibu. Begitulah kami, kami jarang akur. Pasti, ada saja yang akhirnya membuat kami ribut kecil.


Aku mulai gelisah, karena bang Ken sulit dihubungi. Jangan bilang, ia kabur setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Aduh, aku nethink jika begini.


“Ibu nginep di Cala, Ndhuk. Abang ipar kau ada bilang siang tadi, kalau malam nanti dia ada kerjaan. Jadi, Ibu tidur di sana untuk bangunin mbakmu.“ Ibu membawa tote bag dari kamarnya.


“Ya, Bu. Aku juga mau keluar cari makanan, tapi tidur di sini kok aku.“ Aku memiliki rencana lain untuk makan ini. Aku tak mungkin bisa tidur, dengan keadaan pikirkanku yang semrawut.


“Ati-ati tuh, Ndhuk. Jangan malam-malam.“ Ibu sudah akan menuruni tangga.


“Iya, Bu.“ Aku memalingkan pandanganku pada televisi.


Setelah aku mendengar suara pintu yang ditutup oleh ibu, aku langsung menyentuh ikon panggil di kontak telepon bang Ken. Namun, apa yang terjadi? Lima kali aku lakukan, aku tidak mendapat jawaban darinya.


Sepertinya, aku harus benar-benar ke sana. Maksudku, menghampiri bang Ken di rumah umi Sukma. Tapi, mengganggu orang rumah tidak ya nantinya? Tetapi, jika terus menunggunya mengubungiku, yang ada aku benar-benar tidak tidur malam ini.


Akhirnya, kau memutuskan untuk bersiap datang ke rumahnya saja. Aku butuh penjelasan darinya, karena ucapannya ada yang membuatku khawatir ditinggalkannya.


Setelah memastikan ruko dalam keadaan terkunci, aku langsung melangkah menuju ke tempat tujuanku, yaitu rumahn bang Ken. Setahuku, Ahya memang tinggal di sana. Suami dan anaknya pulang padanya jika malam.

__ADS_1


Cukup ngos-ngosan, ketika aku sampai di teras rumah bang Ken. Begitu sepi, apakah semua orang tidur lepas Isya?


“Ahya….“ Aku sampai memutar ke pintu samping, karena tak mendengar sahutan dari siapapun.


“Buka aja, Dek.“


Oh, itu suara umi Sukma. Aku langsung membuka pintu samping tersebut, terlihat umi Sukma tengah duduk di sofa dengan menonton televisi. Ia terlihat serius menonton tontonannya.


“Lagi apa, Umi?“ tanyaku basa-basi.


“Lagi lihat sinetron. Ahya nginep di rumah mertuanya, Dek. Mertuanya sakit.“ Umi Sukma menoleh ke arahku.


Aduh, aku lupa membawa Bunga agar dijadikan sebagai alasan kedatanganku.


“Bang Ken ada, Mi?“ Aku duduk di dekatnya setelah menutup pintu kembali.


“Ada, di kamarnya. Ke atas aja kalau mau ada perlu, Dek. Umi udah tak bisa naik-turun tangga, sakit lututnya.“ Beliau tertawa malu. Umi Sukma seumuran dengan papah Adi, usianya sekitar enam puluh tahunan sepertinya.


“Iya, gih ke atas aja. Tadi ada suara benda jatuh, entah dia jatuhin apa. Ditanya dari bawah tuh, katanya tak ada apa-apa.“ Umi Sukma begitu fokus menonton televisi. Ia mengobrol denganku, tapi matanya pada televisi saja.


“Aku ke atas dulu ya, Mi?“ Aku menunjuk tangga rumah ini.


“Iya.“ Umi benar-benar tidak mau diganggu dari tontonannya.


Pintu tidak dikunci, aku langsung bisa masuk ke kamar bang Ken. Ia tengah melampiaskan amarahnya, barang-barang berantakan dan berserakan.


Bang Ken tengah duduk di lantai melamun tanpa mengenakan pakaian penutup atas tubuhnya, dengan bersandar di dipan ukir yang begitu mewah.


“Abang….,” panggilku lembut.


“Pulanglah, Dek.“ Ia bersuara lembut tanpa menoleh ke arahku.


“Aku kangen Abang.“ Aku terbiasa selalu bersamanya, sedangkan secara mendadak kami terpisahkan tempat karena kami masih bukan siapa-siapa.

__ADS_1


Ia tidak menyahutiku, ia tetap diam dengan mengatur napasnya. Aku naik ke atas ranjangnya, kemudian berbaring di sisi ranjang telat di belakang ia tengah bersandar. Aku menghirup aroma khas tubuhnya, aku rindu padanya. Aku menjuntaikan tanganku ke bahunya, sengaja merasakan basahnya keringatnya dengan lengan bawahku.


“I love you.“ Aku berkata di dekat telinganya.


“Kalau kau cinta sama Abang, harusnya kau usahakan untuk ambil hati kakak ipar kau.“ Bang Ken tidak menjawab ucapanku.


“Harusnya Abang merendah, karena bang Givan kan orangnya memang begitu.“ Tadi bang Ken merasa lebih tinggi dari bang Givan terus.


“Abang kakaknya, Dek. Harusnya dia ngerti maksud baik Abang, bukannya malah ngajak ribut gitu. Masih untung Abang mau nikahin adik iparnya, bukannya malah naik dagu begitu dia.“


Apa??? Kenapa mulutnya berkata seperti itu?


“Abang udah janji mau nikahin aku! Kenapa mulut Abang ngomong, masih beruntung Abang mau nikahin aku??! Itu janji Abang sendiri! Udah begini, Abang mau lepas tangan. Terus terang aja, kalau memang tak sungguh-sungguh dan tak mau tanggung jawab. Terus terang aja, kalau memang Abang cuma butuh pelepasan, bukan butuh cinta kita!“ Aku terpancing emosi mendengar ucapannya.


Bang Ken menoleh ke arahku, tangannya terulur mengusap-usap kepalaku.


“Bukan style Abang harus ngemis begitu, Dek.“ Ia pindah duduk di tepian ranjang yang aku tiduri, otomatis aku memundurkan posisiku agar ia bisa duduk di dekatku.


“Terus, style Abang gimana? Apa aku harus hamil duluan???“ Aku sudah putus asa dengan cintaku. Bagaimana aku membawa nasibku jika seperti ini?


“Kau tak akan Abang buat hamil, Dek. Kau tenang aja.“ Ia mengungkung tubuhku dengan kedua tangannya.


Aku lupa, ia memang tak berniat memiliki keturunan denganku. Kalau memang niatnya begitu, akan ada masanya di mana ia harus menikmati hasil yang tidak sesuai dengan harapannya. Jika sudah begini, aku tidak bermasalah memiliki anak dengan nasab ikut denganku. Yang terpenting, itu adalah darah dagingnya. Tapi, jika aku berbalik memperdaya bang Ken untuk menghamiliku. Apakah keluargaku akan terima, dengan aku mengandung anak bang Ken tanpa pernikahan?


Tapi, aku sudah terlanjur berdosa banyak karenanya. Masa iya, aku tak bisa mendapatkannya juga?


“Abang sungguh-sungguh tak cinta sama aku kah, Bang?“ Aku membingkai wajahnya.


Pedih sekali rasanya skenario hidupku. Apakah aku tak berhak mendapatkan kebahagiaan? Aku sudah banyak mengorbankan diriku untuk cintaku padanya, tapi hanya pernikahan sederhana pun nyatanya begitu sulit ia wujudkan dengan segala alasannya.


Aku harus berbuat apa, agar ia mau memenuhi tanggung jawabnya untuk menikahiku? Itu janjinya, aku lelah menagihnya dengan gigih seorang diri. Tapi, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasibku jika bukan diriku sendiri?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2