
Aku tidak menyangka, rupanya bang Ken bergerak cepat untuk mengurus perusahaan yang akan aku bangun. Tanpa bercerita apapun padaku, setelah dua mingguan ia sibuk setiap hari, kini ia memintaku untuk ikut dirinya ke Banjarmasin.
Jelas aku tidak mau, Ceysa dan Shauwi akan bersama siapa? Aku tidak ingin mereka mendapat nasib malang, karena tidak mengerti apa-apa di kota orang ini.
“Abang sering main ke dua perusahaan Givan, cukup stabil kok di sana. Lagipula, Keith kan yang pegang semuanya. Kau di sini cuma membantu, Abang yakin Keith punya orang sendiri.“ Ia kembali membujukku untuk ikut ke Banjarmasin.
Aduh, gimana ya? Bang Ken di sini yang bersemangat agar aku membuka usaha, dengan SDA darinya.
“Aku hubungi bang Givan dulu.“ Ialah panutanku. Menantu laki-laki yang sering dighibahkan oleh ibu itu, adalah panutanku dan sumber ilmuku.
“Silahkan.“ Bang Ken bersandar di kursi putar, yang berada di hadapan meja kerjaku.
Ia mendatangiku sampai ke tempat kerja.
Panggilan telepon dariku tidak langsung diangkat. Namun, ketika diangkat malah suara lelahnya yang terdengar. Bang Givan terdengar seperti tidak bersemangat.
“Kenapa, Bang? Sakit kah?“ Aku sudah mengulangi pertanyaanku sebanyak dua kali.
“Mbak kau tak bangun udah tiga hari, pusing betul Abang. Keadaannya stabil, cuma kata dokter. Mbak kau keknya punya indikasi khusus dengan obat bius, karena setelah operasi sesar dia begini. Waktu operasi Ra, sama yang terakhir ini.“
Eh, sudah bersalin kah? Bang Givan adalah manusia yang jarang memajang status WA, begitupun dengan saudaranya juga. Jadi, aku tidak tahu kabar apapun dari sana.
“Tapi katanya stabil kah, Bang?“ tanyaku berulang.
__ADS_1
“Alhamdulillah, stabil. Tapi Abang frustasi, lihat mbak kau tak bangun-bangun. Gimana kabar di sana? Minta Keith carikan supir kepercayaan yang mau tinggal di situ. Shauwi ada bilang lagi, katanya ada perubahan jadwal. Jam tujuh sampai jam sepupu, Ces sekolah. Dari sekolah, langsung pengembangan diri sampai jam dua belas. Jam tigaan, les dan konsul ke psikolog khusus itu. Setelah selesai dari situ, Ces ada jadwal mengaji dan sekolah khusus Islam sampai lepas sholat Maghrib. Abang yakin, kau sama Keith pasti bingung atur antar jemput. Coba kau kondisikan keadaan sama Keith, gimana baiknya begitu. Minta Keith tetap stay di rumah, tak ada laki-laki yang paham tentang aturan negara dia di sana soalnya. Kau bujuk juga, tentang kau bisa atur satu ruangan untuk khusus tempatnya melukis. Jadi, dia hanya perlu seminggu sekali aja untuk datang ke galerinya. Tiap Abang telpon, dia ada di galeri terus. Kok rasanya Abang tak suka, dengar dia kerja tak sesuai perintah Abang. Satu hal yang Abang suka dari dia itu, karena dia bisa menahan diri dan disiplin.“
Lah, kok? Berarti, bang Givan belum tahu jika Keith tidak berada di rumah selama kurang lebih dua mingguan.
“Ya, Bang. Nanti aku ngobrol lagi sama Keith. Kita lagi sama-sama sibuk sih soalnya, Bang. Belum lagi, Bang Ken udah action aja. Dia minta aku ke Banjarmasin, untuk mulai pembangunan dan pengecekan lapangan. Katanya juga, apa lima puluh hektar cukup untuk support satu perusahaan.“ Aku meliriknya yang tengah memperhatikanku dengan lekat.
“Ohh, udah mau mulai? Zarin udah di sana kah?“
Zarin adalah anak bungsu tante Zuhra. Tante Zuhra adalah adik bungsu papah Adi yang menikah dengan laki-laki yang berasal dari satu daerah dengan tempat tinggal papah Adi. Zarin baru memiliki gelar sarjana, ia dilempar ke Singapore untuk mengurus perusahaan bang Givan ini.
Ia tidak tinggal serumah denganku, ia tinggal bersama kakaknya yang juga ikut serta mengurus perusahaan bang Givan. Nama kakaknya adalah, Zubair. Entah mereka berapa bersaudara, karena kebanyakan dari mereka sudah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya. Jangan dikira, ini adalah perusahaan distributor ternama, dengan keluarga semua yang bekerja sebagai orang pentingnya. Seperti yang bang Givan katakan, ingin memperkaya keluarga sendiri.
Ya tidak kaya juga, tapi mereka tidak kekurangan fasilitas apapun. Belum lagi, bayarannya pun tidak sedikit.
“Udah bisa dilepas keknya si Zarin. Tak apa kau ke Banjarmasin, yang penting Keith udah dapatkan supir untuk antar jemput Ces. Mana tau, WNI lagi. Biar Shauwi tak sulit komunikasinya.“ Salah satu alasan bang Givan memperkerjakan WNI di rumah, ya karena itulah alasannya.
“Iya, nanti aku pastikan Ceysa dapat supir dulu. Baru nanti aku prepare untuk ke Banjarmasin. Tapi tak apa nih, aku lepas tugas di sini, Bang?“ Aku seperti tangan kanannya, bukan pekerja tetap.
Beberapa kali aku dilempar tugas, dengan alasan agar aku memiliki banyak pengalaman.
“Iya, tak apa. Jaga diri ya? Kalau ada apa-apa bilang ke Abang. Oh iya, minta doanya biar mbak kau cepat bangun.“ Sekacunya dirinya, ia tetap bisa membagi pikirannya.
“Siap, Bang. Nanti aku buatkan doa spesial untuk mbak Canda dan bayi Abang. Eh, siapa nama bayi Abang?“ Bayi prematur setahuku, karena mbak Canda bersalin di usia kehamilan tujuh bulan.
__ADS_1
“Calandra Sheeva Luna, pamannya yang kasih. Namanya agak-agak modern, Abang ada khawatir dia viral karena sesuatu.“
Sungguh, aku malah tergelak meski aku yakin bang Givan tidak sengaja untuk melawak.
“Bagus kok namanya, Bang. Pasti Cala dipanggilnya.“ Kebanyakan anak mereka berawalan huruf C.
“Betul. Nanti kabarin aja kalau udah dapat supir dan kau siap-siap ke Banjarmasin.“ Nada suaranya tidak seceria biasanya.
“Oke siap, Bang. Sehat-sehat ya, Bang?“ Aku tahu ia tidak pandai mengurus diri tanpa seorang istri.
Sedikit cocok hidup mereka. Karena bang Givan suka lupa dengan waktu malam, sedangkan Mbak Canda adalah orang yang suka makan meski belum waktunya. Perut ibu, perut mbak Canda dan perutku, adalah perut-perut karet yang gampang lapar.
“Iya, Dek. Udah dulu, assalamualaikum.“
“Wa'alaikum salam.“ Panggilan terputus, setelah jawaban salam dariku.
“Abang ada saudara jauh, yang minta untuk jadi supir ambulans di rumah sakit Abang. Gimana kalau dia di suruh kerja di sini aja, karena menurut Abang gajinya pasti tak beda jauh?“
Aku merasa, bang Ken seolah ingin mempermudah semua urusanku. Aku merasa, bang Ken terburu-buru agar aku cepat sampai di Banjarmasin.
“Tapi Keith yang diminta, Bang.“ Sebenarnya siapa saja sih, yang penting supirnya dapat.
“Ya coba sok hubungi Keith, memang dia siapa sampai punya segudang orang yang siap dipekerjakan khusus begitu? Supir plus security loh itu.“ Ia seolah menantang.
__ADS_1
“Aku telpon Keith dulu, biar kita obrolkan bareng.“ Semoga tidak malah berujung menjadi perang keris yang menghancurkan ruanganku.