
“Kau mau ambil perguruan tinggi kek mana, Ria?“
Bang Givan tengah menghubungiku, dengan bang Ken yang hanya bisa diam dengan mengunyah makanannya. Namun, jangan dikira dikira ia hanya diam. Ia malah meminta mengaktifkan speaker dalam panggilan telepon ini, agar ia bisa mendengar apa yang bang Givan katakan.
“Yang setahun aja, Bang.“ Aku sebenarnya hanya takut membebaninya.
“Di bidang apa?“ tanyanya kemudian.
“Menurut Abang, bagusan di bidang apa ya? Aku bingung.“ Aku hanya mengikuti perintah darinya, jadi aku tidak tahu aku ingin berkuliah di bidang apa.
“Bisnis tak apa. Di Brasil sih banyak pilihan, Dek. Di sana juga ada SDA kek Gibran, ada tentang SDM juga. Terserah mau di bidang apa.“ Bang Givan malah membuatku bingung.
“Uhuk, uhuk…..“
Aduh, segala ia tersedak.
“Siapa itu, Dek?“ tanya bang Givan kemudian.
“Eummmm….“ Aku melirik bang Ken, rasanya aku ingin sekali membocorkan yang sebenarnya.
“Kakaknya temen aku yang satu kamar mes bareng, Bang. Dia lagi berkunjung anterin buah sama istrinya.“ Entahlah, aku mulutku malah memilih untuk berbohong.
Sepertinya sih, semesta mengisyaratkan agar aku terus terang pada bang Ken. Hanya saja, aku takut memperkeruh keadaan karena aku dan bang Ken belum memiliki kesepakatan akan hal ini.
“Ohh….“ Bang Givan sepertinya percaya.
Lagian, kenapa segala bang Ken terbatuk-batuk? Ia tidak ingin diketahui, tapi ia batuk.
“Udah berapa sertifikat kompetensi, Dek?“
Perasaan, aku bahkan mengirimkan hasil sertifikatku padanya.
“Satu, Bang. Sertifikat bahasa ada dua. Katanya sih bisa, Bang. Aku udah nanya-nanya.“ Bang Ken yang tepatnya bertanya, bukan aku.
“Ohh, ambil jurusan SDM aja kah? Nanti orang Abang yang urus.“
Waduh, bisa-bisa orang bang Givan bisa tahu jika ada bang Ken di sini.
“Nanti aku urus sendiri sama temen, Bang.“ Aku meliriknya yang kembali dengan membawa makanan tambahan.
__ADS_1
Pagi setelah semalam berhubungan, ia merasa tidak enak badan dan muntah-muntah di waktu Subuh. Tapi sekarang ia malah lahap makan, entah ia membawa makanan yang keberapa.
“Oke, bilang aja rincian biayanya ya?“ Aku merasa semakin bersalah, karena bang Givan amat percaya padaku.
“Oke, Bang. Sekarang belum keluar rincian biayanya.“ Uang dari bang Givan tetap masuk dan tersimpan di rekeningku. Karena yang aku gunakan untuk pendidikan dan membeli ini dan itu, adalah uang bang Ken dalam beberapa kartu yang ia berikan padaku.
Tapi katanya pun ia sudah mengurus pendidikan semacam D1 untukku di sini, ia sudah membayar biaya masuk, tapi ia belum mengatakan aku akan duduk di bidang pendidikan apa.
“Ya udah, Dek. Abang mau makan malam dulu, jam delapan malam di sini.“ Bang Givan ingin menyudahi panggilan telepon kami.
“Ya, Bang.“ Aku langsung bernapas lega, setelah panggilan telepon terputus.
“Nih, Dek.“ Bang Ken langsung menyodorkan makanan padaku.
Aku tidak mengerti, aku tidak tertarik untuk makan masakanku sendiri. Aku jadi teringat mbak Canda yang sering ke rumah ibu dan ke rumah mamah Dinda, untuk menanyakan mereka masak apa dan dirinya meminta masakan orang tuanya.
“Aku kepengen ayam drakor aja deh.“ Menurutku itu ayam drakor, tapi di sini sebutannya lain.
“Loh? Kenapa masak ini?“ Bang Ken menatap nanar masakan yang ia bawa dari dapur.
“Tak tau, ada di pikirannya masak itu.“ Itu adalah opor ayam dengan bumbu instan. Aku tidak perlu menambahkan apapun, tinggal bumbu instan, santan instan dan ayam potong freezer. Perbumbuan semacam garam dan kaldu ayam pun tidak perlu ditambahkan, karena bumbu tersebut sudah memiliki rasa dan sudah pas jika kita masak sesuai takaran.
Aku melongok ke ponselnya. “Aku ini order sendiri kah?“ Aku menegakkan punggungku lagi.
“Ya, Dek. Sekolah Adek juga udah siap, tinggal berangkat aja nanti. Adek tak perlu susah-susah untuk daftar dan segala macam. Kejar target ya, Dek? Jangan sampai satu tahun full. Maksudnya, kan ada yang mampu kejar delapan bulan selesai, sepuluh bulan selesai.“
Nah, itu lebih baik. Aku akan mencoba mengejarnya, karena aku tidak terlalu lama betah berlama-lama.
“Siap, Bang.“ Aku membuka aplikasi pembelian makanan secara online.
Aku mendapatkan ayam drakor yang aku inginkan, bang Ken mendapatkan tiket pesawat yang cocok dengan waktu yang ia perkirakan. Intinya, kurang lebih sebulan sekali ia harus pulang. Ia pernah berkata padaku, ia akan pulang tiga bulan sekali. Tapi ya sudahlah, terlalu lama ia di sini aku terkekang dengan aturannya juga.
Jadwal keberangkatan pesawat bang Ken adalah lusa hari. Sampai akhirnya tiba waktunya aku sibuk dengan pendidikanku, bang Ken sudah berada di sana dan ia sibuk dengan pekerjaannya.
Ish, si gigi patah itu ada di sini.
“Alfonso….,” panggilku lepas.
Ia celingukan, kemudian ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum manis, kemudian ia bergerak untuk mendekatiku.
__ADS_1
“Kau di sini?“ Eh, aku malah menggunakan bahasa Indonesia.
Ia mengerutkan keningnya. “Okay, teach me Indonesian,“ katanya ajari aku bahasa Indonesia.
“Oke.“ Aku mulai menggunakan bahasa campuran.
Namun, aku menuliskan dalam dialog menggunakan bahasa umum saja agar mudah dipahami.
“Kau berkuliah di sini?“ tanyaku kemudian.
“Iya, kau baru tau kah?“ jawabnya dengan melirikku.
“Alfonso, mata kau bagus. Warnanya indah, coklat muda dengan lensa hitam.“ Lensa yang aku maksud adalah tengah-tengah yang di bagian dalam mata.
Alfonso geleng-geleng. “Tap kau tetap jelek menurutku, Ria. Cuma kulit kau aja yang bagus.“
Aku terbahak mendengar penuturannya. Ia sulit sekali untuk memuji seseorang, karena ia menilainya dari sisi jeleknya terlebih dahulu.
“Alfonso, aku punya mobil baru. Apa di sini perlu memiliki surat izin mengemudi?“ Aku tidak tahu sebutan SIM kendaraan jika di sini.
“Wow, tentu. Senin depan kalau kau free, kau bisa aku antar. Di mana kau tinggal? Aku jadi ingin menumpang terus pulang-pergi kuliah, kan lumayan mengirit biayaku di sini.“
Aku terbahak lepas. Ditambah dengan senggolan kecil di lenganku dan ekspresi wajahnya yang mendukung, Alfonso selalu terlihat seperti pelawak.
Aku baru tau juga, ternyata aku kuliah di bidang kesehatan. Jika wisuda, mungkin aku bisa menjadi staf rumah sakit mungkin. Jika begini, aku akan berbicara apa pada bang Givan. Kenapa aku keluar jalur pilihannya? Kan ia pasti bertanya-tanya, kenapa aku memilih untuk mengambil bidang ini.
“Aku tinggal di apartemen Delton's. Kau tinggal di mana?“ Aku menunjuk tempatku berada.
“Di mes tempat kuliah, aku lebih dekat dari tempat kau tinggal. Hana tidak berkuliah di sini ya? Ia mengambil pendidikan negeri di sana.“ Jadi seperti mengambil perguruan tinggi negeri, jika di sini swasta.
“Ya, sesekali kau boleh menumpang.“ Aku tertawa ringan. “Aku butuh hiburan, Fonso. Gimana kalau kita kunjungi semacam club malam, atau tempat karaoke?“ Dia adalah teman yang paling asyik menurutku.
Alfonso menggetarkan bibirnya. Kemudian, ia menghela napasnya dan menoleh ke arah lain. “Aku takut ketahuan orang tua aku, tapi kalau tempat karaoke boleh juga.“ Ia langsung tersenyum dan menoleh ke arahku
“Oke, malam nanti ya?“ Aku mengangguk agar ia mengikuti.
Akhirnya, aku bisa menikmati hiburan juga.
...****************...
__ADS_1