Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD234. Pemakaman


__ADS_3

"Selesai, Yang. Makasih ya?" Gavin menarik selimut untuk kami sebatas dada. 


"Dilepas dong." Aku mencium wajahnya yang penuh keringat. 


"Biar nanti, sayang masih keras."


Aku terkekeh mendengar jawabannya.


"Mandi, Bang. Terus ke tempat bang Ken, melayat tak?" Aku kecanduan bau keringatnya yang khas sekali. 


"Iya ya, tapi keknya belum datang deh. Rehat aja dulu sebentar, mumpung Kirei tidur juga. Semalam begadang terus sama Kirei." Ia baru menarik miliknya dari dalam sana. 


Uhh, ganjalan itu. Akhirnya plong juga, setelah dijejali cukup lama. 


"Yuk." Aku mencari posisi nyaman dalam dekapan suamiku. 


Entah beberapa menit kami tertidur. Kala bangun, Gavin sudah siap dengan pakaian serba hitam. Ia pun membawa sarung di bahunya dan peci yang asal menempel di kepalanya. 


"Bangun, Bu. Awas Kirei jatuh, tuh. Pakai bajunya, aku mau keluar. Tadi dapat telpon, jenazah udah datang katanya."


Aku bingung karena Gavin sudah membuka pintu kamar saja. Was-wasnya aku, karena mbak Canda itu tidak sungkan keluar masuk kamar siapapun. Kalau aku ketahuan telanjang di dalam selimut, kan tak lucu juga. 


Ceklek….


Aduh, hampir aku jantungan. Gavin muncul lagi, tapi hanya kepalanya saja. 


"Jangan ke sana dulu, Bu. Titipin ke siapa dulu, kalau mau ke sana. Aku duluan ya? Jangan lupa mandi junub dulu." Pintu segera tertutup kembali. 


Fiuh….


Takutnya aku mandi, Kirei malah terbangun. Di Lampung kasurnya tanpa ranjang, kasur busa besar dan tebal sekitar dua puluh sentimeter yang bisa tanpa ranjang ataupun dengan ranjang. Jika di sini, kasurnya dengan ranjang. Tingginya, sampai setinggi paha orang dewasa. Jika Kirei jatuh, ya bisa rumah sakit juga ini sih. 


"Dek…."


Mataku melolong bodoh, dengan selimut yang aku gigit agar menutupi tubuhku yang tak berbusana. 

__ADS_1


Inilah manusia yang aku takutkan, karena ia benar-benar nyelonong masuk ke dalam kamarku setiap main. Mbak Canda malah tertawa geli, dengan menunjuk ekspresi bodohku. 


"Junub di tengah duka," ledeknya dengan tawa renyah. 


"Mmmmmmm…." Kirei terbangun dengan mulut tertutup rapat. 


"Hai, anak Biyung." Mbak Canda nyelonong masuk tanpa memperdulikan jika pintu kamarku terbuka lebar. 


"Mbak, ya ampun." Aku menunjuk pintu kamarku. 


"Pintunya itu." Aku hanya bisa tepuk jidat, saat ia sampai di ranjangku dengan pintu terbuka lebar. 


"Main sama Biyung yuk? Kangen betul Biyung sama Adek Kirei yang cantik." Mbak Canda langsung membantu Kirei duduk. 


Kirei mengukir senyumnya, gusi depannya terlihat semua. Padahal ia lagi rewel, tapi bisa seperti itu ketika berkumpul dengan keluarga di sini. 


"Mandiin, Dek. Mau Mbak bawa ke rumah." Mbak Canda menciumi Kirei habis-habisan. 


Kirei sampai mengeluarkan suara tawanya, rewelnya seketika lenyap dengan suasana yang mbak Canda berikan.


"Kek mana mau mandi, pintu kamarnya kebuka? Aku malu lah, Mbak! Nanti ada yang lewat, dikira apa aku ini." Aku masih menutupi tubuhku yang berselimut ini. 


Mbak Canda tertawa lepas, kemudian turun dari ranjang. "Ria, Ria. Masih hawa pengantin baru aja."


Sebelum mbak Canda menutup pintu, wajah Ajeng muncul di sana. Tentu, ia bisa melihat diriku yang hanya berbalut selimut saja. 


"Enak?" Ia tersenyum miring. 


Eh, eh, mulutnya.


"Enak dong, makanya kau nyesel betul." Mbak Canda yang membalas hal itu. 


Ajeng masih berada di ambang pintu kamar. Ia menatapku dengan alis yang terangkat sebelah. 


"Kau tak tau gimana mulutnya. Kau tak akan paham pola pikir dan hatinya, kau tak tau Gavin luar dalam" Ia tertawa sumbang. 

__ADS_1


"Jangankan mulutnya, bijinya pun udah tau. Keluarga Adi's Bird hanya untuk orang dalam ya, Jeng. Orang luar biasanya untuk nyicip aja." Mbak Canda langsung menutup rapat pintu kamarku, meski masih ada Ajeng di sana. 


"Urus Kirei dulu, terus baru kau mandi. Kau kau ke sana, ya ke sana aja. Mbak dari pagi sama kak Aca, bantu amplopin uang untuk pelayat, uang sholawat itu lah."


Stress aku jika ada Ajeng di sini. 


"Heh!" Mbak Canda menepuk pundakku. "Sana ambil handuk, urus Kirei dulu. Pasti ngelamunin Ajeng kan?" Mbak Canda memicingkan matanya dan menunjuk wajahku. 


"Maksudnya apa ya ngomong gitu? Aku jadi kepikiran." Aku menurunkan satu kakiku dari ranjang. 


"Biar kau cerai. Lagian, siapa orang sini yang tak tau kalau mulut keluarga ini ya tajam? Tak tau Gavin luar dalam gimananya coba? Gavin kan memang orangnya jeplak aja kan? Kalau makan di Mbak juga terus terang aja dia, kak ini tak enak, ini keasinan, ini kurang asin, ini kurang matang, ini kematangan, ini terlalu banyak gula. Dari kecil memang orangnya doyan komen, tapi kalau dikepoin malah baper dan ngomongnya ke mana-mana."


Benar juga sih. Mbak Canda pun menebak pas, sesuai seperti bagaimana Gavin. Tapi aku akan memberi pertanyaan pada Gavin, untuk memastikan sendiri apa yang menjadi ganjalanku. 


"Jangan ambil pusing, Ria." Mbak Canda mendorong punggungku. 


"Ya kadang aja kepikiran ke sana tuh, Mbak." Aku bangkit dengan memakai bedcover ranjangku. 


"Paling bener ngadu aja udah, daripada pusing-pusing."


Aku mengangguk samar dan memilih mengambil handuk, kemudian melilitkan handuk ke tubuhku. Aku menyiapkan air hangat untuk mandi Kirei, kemudian mengajak Kirei untuk mandi.


Setelah ia siap, mbak Canda langsung membawa kabur Kirei dengan susu formula dan dot botolnya. Aku mencari gamis gelap, sebelum bergegas mencari orang untuk mengantarku ke rumah bang Ken. 


Yang membuatku tidak mengerti, Ajeng seperti tidak punya malu sekali. Ia masih ada di sekitar rumah mamah Dinda, setelah membuat ulah di sini. Aku tidak mengerti ada maksud apa, sampai ia membunuh rasa malunya sendiri. 


Tidak ada siapapun di sini, aku bergegas berjalan kaki saja dari pada membuang waktu untuk menunggu seseorang yang mau mengantar. Kebetulan sekali, saat aku menginjak halaman rumah bang Ken, keranda sudah digotong oleh bang Ken, Gavin, bang Ghifar dan Gibran. 


Wajah bang Ken begitu merah, dengan mata yang nampak berair terus. Aku langsung mengikuti di belakang mereka bersama beberapa rombongan wanita yang ikut mengantar. Aku bergandengan tangan dengan mamah Dinda, dengan adik perempuannya kak Riska juga. Aku baru tahu di sini juga, jika kak Riska memiliki adik perempuan. 


Tabah sekali ayah kandungnya Kirei, ia sampai mengadzani kak Riska di l**** lahatnya. Kesedihan semakin terasa, karena suara adzannya begitu pilu. Suaranya bergetar, dengan keparauan yang menggetarkan hati siapapun. 


Ia lekas naik, setelah selesai menutup kak Riska dengan papan. Baru juga naik dan duduk sejenak, bang Ken langsung muntah darah dan ambruk seketika. Pemakanan belum selesai, tapi perhatian kami sudah teralihkan dengan bang Ken. 


Kami para perempuan langsung memberikan pertolongan pertama pada bang Ken, sampai akhirnya bang Ken dibawa pulang dengan menggunakan mobil yang dadakan diambil untuk mengangkat tubuh bang Ken. Belum juga dinaikkan ke dalam mobil, bang Ken malah kejang-kejang. 

__ADS_1


Tidak ada tenaga medis di sini, yang ada kami malah panik dan histeris sendiri. Sampai akhirnya, bang Givan memutuskan untuk membawa bang Ken ke rumah sakit saja, dengan aku dan mamah Dinda yang menemani. 


...****************...


__ADS_2