Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD238. Hak asuh Elang


__ADS_3

"Bahas apa lagi? Aku tuh orangnya tak suka ribet begini loh, Bu. Mantan datang, ngerecokin. Kalau cuma sapa aja, tak masalah. Ini dia ngerepotin aku loh, ngerecokin aku." Gavin memakai pakaian, dengan menggerutu dengan suara kuat. 


"Maksud aku, diselesaikan biar dia cepat pulang tuh. Risih aku tuh, ini itu disindir. Aku tak nyaman, Bang." Aku duduk di tepian ranjang, dengan memperhatikannya yang berdandan. 


Ia tidak mengenakan deodoran sama sekali, tapi ketiaknya tidak bau dan ia tidak bau badan. Aroma keringatnya khas, menurutku. Paling diselingi bau rokok, tapi jika selesai mandi begini wanginya segar sekali. 


"Ohh…." Ia berjalan dan duduk di sampingku. 


"Masalahnya, apa yang dipermasalahkan?" tanyanya kemudian. 


"Tadi barusan aku disindir lagi, kata aku kenapa gitu kan. Akhirnya dia bilang, kalah dia iri. Terus dia jongkok dan nangis." Aku tidak mengatakan sebenarnya. 


Nanti kalau aku mengatakan semuanya, khawatir ia tidak percaya jika Ajeng benar mengatakan hal itu. 


"Ya udah ayo, tapi setelah ini dia harus pergi." Ia menggandengku. 


Aku diajak? 


"Sama aku tak apa?" Aku khawatir mengganggu pembicaraan mereka. 


"Lah? Terus? Berdua gitu? Terus kau salah maksud? Terus kau minta cerai? Terus kau balik ke bang Ken? Hei, tak bisa kek gitu!" Tatapannya langsung sangar. 


Aku mengikuti tarikan tangannya. "Kenapa tak bisanya?" Aku menurut saja dibawa keluar kamar. Entah tahu atau tidak Ajeng ada di mana, tapi Gavin yang iya sok tahu. 


Tuh, buktinya saja ia malah mengajakku keluar dari pintu samping. 


"Hai, dia ruang tamu lah." Aku menepuk punggungnya dan mogok melangkah. 


"Ehh, di mana?" Ia terkekeh dan memandangku. 


"Di ruang tamu." Aku menunjuk arahnya. 

__ADS_1


Ia masih tertawa kecil dan melanjutkan langkah kakinya. Aku mengekorinya sambil bertanya kembali, "Tak bisanya kenapa?" 


"Ya aku cinta sama kau, Bodoh," ungkapan yang sangat romantis sekali. 


Bodoh katanya? 


Ajeng masih di sana, dengan Elang yang berlari ke arah Gavin. "Yah…." Manja sekali panggilannya. 


"Iya," sahut Gavin dengan tersenyum. "Sini duduk," lanjutnya kemudian. 


Elang benar-benar duduk di sebelah Gavin, aku pun di sebelahnya. Jika diperhatikan, Elang seperti haus kasih sayang seorang ayah. Yah mungkin hanya rindu Gavin, karena netranya begitu berbinar sekali. 


"Ayah di mana, Nak?" Gavin mengusap dagu Elang. 


"Ayah siapa?" Ia bertumpu pada pangkuan Gavin. 


"Ayah Elang, yang di sana." Gavin menunjuk arah asal. 


Oh, ia dalam masalah.


Kok lain bicaranya. Tadi padaku, ia berkata tentang masalah yang belum selesai antara dirinya dan Gavin. Kok sekarang jadi tentang Elang. 


"Ya biar adil. Anak perempuan dibuang di teras rumah keluarga bapaknya, anak laki-laki diminta bapaknya. Kan biar kau bebas keluyuran dan segala macam, ambil hikmahnya aja." Gavin berbicara dengan tenang, tapi mulutnya nyelekit. 


"Kenapa kau selalu nyalahin aku?" Suaranya menurun seketika. 


"Terus? Nyalahin aku? Kau tak pernah bilang dengan kondisi kehamilan kau. Dengan kau pergi dari suami, terus kau cuma ngasih foto testpack, tiba-tiba kau bawa pulang ayahnya Elang dan datang secepat kilat untuk buang Cali di teras. Apa itu disebut salah aku?" Ketenangannya bohong, karena kalimat selanjutnya langsung ngegas. 


Aku langsung menggenggam tangannya, aku tidak berani mencampuri karena khawatir aku yang malah mendapat ucapan tidak enak dari ayahnya Cali itu. Ia menoleh sekilas, kemudian meluruskan pandangannya lagi pada perempuan yang duduk sendirian. 


"Harusnya kau datang ke aku dengan anak kita." Ajeng sedikit berteriak, dengan menunjuk dadanya sendiri. 

__ADS_1


"Oh, bisa. Aku bilang itu bisa, kalau Cali diserahkan baik-baik. Atau, aku dikasih tau kalau bayi ini anak kau. Jangankan aku kembali ke kau, aku bakal minta maaf karena udah melalaikan kandungan kau dan kau. Semata-mata, karena kau tak pernah ngasih kabar apapun ke aku. Kalau kau bilang, kalau kau udah sekian bulan dan ini keadaan anak kita di rahim kau. Mungkin aku bakal cari kau, terus aku jaga kau dan kandungan kau. Kau tak pernah ada ngabarin keadaan kau, kau pun sulit dihubungi kan? Kau blokir komunikasi kita kan? Kau seolah buang aku, karena adanya bapaknya Elang di sisi kau itu. Karena kau merasa ada yang bantu, ada yang handle Elang juga. Kau butuh aku pas awal pun untuk itu kan? Masa bapaknya Elang nikah dan mau ambil Elang, kau malah pulang ke aku dan ngumpetin Elang di sini. Kalau kau masih istri aku, bukan cuma aku umpetin, aku pun bakal perjuangkan Elang secara hukum. Nah, memang sekarang kau siapa? Ada mantan istri, tapi tak ada mantan anak meski anak tiri."


Elang seolah mengerti tengah diperdebatkan. Ia naik ke pangkuan Gavin dan memeluk Gavin. 


"Kau bilang sendiri, ada mantan istri, tapi tak ada mantan anak meski tiri. Terus apa salahnya, kalau kau bantu perjuangkan Elang, anak tiri kau untuk tidak ikut asuhan ayahnya?" Pandai juga Ajeng ini. 


Pantesan, bisa jadi orangnya papah Adi di Brasil. 


"Kau nuntut anak kau dinafkahin ayahnya semua, ya kenapa tak sekalian dilimpahkan ke ayahnya kek Cali? Tak ada salahnya, bapaknya Elang pun nampak tulus ke Elang. Dia ada sama kau kemarin saat kau buang aku, itu untuk anaknya. Dia kasihan ke anaknya, karena ibunya mengandung dan akan bersalin sendiri. Dia rela juga kan gantian jaga Elang, karena kalian kerja shift. Itu semata-mata karena dia mandang Elang anaknya, bukan karena mengertikan keadaan kau." Gavin terkesan membela ayah kandungnya Elang di sini. 


"Vin…." Kelopak mata Ajeng tidak bisa menahan genangan air matanya lagi. 


"Apa? Aku ingat jelas ayahnya Elang ngomong gitu, baca balik retak mimpi menjelang tamat. Ada dialognya di situ, dia berucap dengan sadar dan di depan muka kau juga. Apa salahnya hak asuh jatuh ke ayah?" Gavin sudah ngotot-ngotot parah. 


Elang yang menahan air matanya dalam pelukan Gavin. 


"Sama Tante yuk?" ajakku kemudian. 


Mentalnya pasti tak aman sekarang. 


"Kau tak akan ngerti gimana nanti asuhan ibu tirinya. Bapaknya kerja, Elang tak akan selalu dijaga bapaknya." Tangis Ajeng pecah di sini. 


Intinya, Ajeng membutuhkan bantuan Gavin. 


"Kau mikir tak ke Cali gimana? Kau mikirin Elang gimana, tapi tak mikirin Cali gimana?" Telunjuknya terarah ke Ajeng kembali. 


"Aku bilang, aku berpikir kau datang dengan anak kita." Ajeng menangis dengan berteriak. 


"Tak akan pernah ada kejadian begitu, Jeng. Itu cuma bayangan kau aja. Makasih, udah kasih anak perempuan untuk aku. Makasih, udah kasih aku rasanya depresi seperti ibu-ibu nifas yang kena baby blues. Makasih, atas semua pengalaman baik buruknya yang udah kau kasih. Masalah Cali, tutup buku di sini. Dia anak perempuan aku, nasabku, dengan Ria sebagai ibu dalam dokumennya. Seperti yang kau inginkan, kau tak akan keberatan dia tak tau dengan ibu kandungnya yang sebenarnya. Untuk masalah Elang….. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2