
“Aku tak ada hubungan sama dia, Keith.“ Aku membela diri sendiri, bukan karena aku salah. Tapi, aku ingin dia mengerti bahwa aku pun ingin menjauhi bang Ken.
“Kalian sekamar, itu udah jelas. Kalau kau memang ingin kita tak dekat lagi, itu tak masalah. Mau hanya perlu bilang baik-baik, tak dengan banyak alasan, apalagi sampai minta laki-laki kau yang ngomong ke aku. Aku paham, Ria. Kedekatan kita benar-benar selesai. Mungkin benar, apa yang Putri bilang itu.“ Keith memalingkan wajahnya ke arah lain.
Pertanyaanku, memangnya Putri bilang apa?
“Putri ada ngomong apa?“ Aku mulai penasaran di sini.
“Itu tak penting, Ria.“ Keith menyandarkan punggungnya ke tembok.
Ia tidak cinta padaku, aku harus percaya tentang itu. Tetapi, kenapa ia terlihat frustasi seperti itu?
“Itu penting, kau harus konfirmasikan kebenarannya ke orang yang bersangkutan. Jangan kau telan dan percayakan semuanya bulat-bulat. Kau belum tau kebenarannya, tapi kau lebih percaya cerita orang lain, ketimbang langsung kau tanyakan ke aku.“ Aku mulai terbawa emosi.
Keith seperti bukan Keith.
“Karena aku lihat buktinya sendiri. Ngapain laki-laki tidur sekamar sama perempuan lajang sampai pagi? Jangankan kerabat, Ria. Seorang ipar kek bang Givan pun tak umum tidur di kamar adik ipar perempuannya sampai pagi, dengan kau yang juga ada di kamar tersebut. Aku tak pernah berani lebih dari batasan aku, karena aku hargai keputusan perempuan. Aku bisa buat kau kek Via-Via yang lain, kalau dia kasih keputusan untuk melakukannya. Aku tak mau maksa, aku tau itu sakit untuk seorang perempuan. Tapi rupanya kau lebih suka dipaksa ya? Ketimbang diminta baik-baik. Ya cocok lah, dengan kau ambil keputusan sama bang Ken.“ Keith berbicara dengan mengunci pandanganku.
Mulutnya tajam sekali. Ucapannya, begitu menyakitiku.
__ADS_1
“Aku tak begitu, Keith. Toh, lagi pula untuk apa melakukan kalau kau memang tak ada niat nikahin??? Apa aku harus jadi Via dulu? Yang hamil di luar nikah, baru kau nikahin setelah ngandung anak kau. Apa aku harus benar-benar pasrah ke kau dulu, biar kau tau kalau aku pun berharap tentang kita?“ Aku menelan ludahku, mencoba kuat dan tidak menangis.
Maafkan, karena memang hakikatku adalah wanita yang cengeng.
“Aku pernah terluka, Ria. Aku pernah minta seseorang untuk tetap pertahankan aku, meskipun dia manfaatkan aku. Aku sadar kesalahan aku apa, hingga buat dia tak terkunci dengan aku. Yaitu, karena aku biarkan dia lepas dengan kondisinya yang masih perawan. Dari situ aku belajar, kalau titik cinta seorang perempuan paling dalam adalah memasrahkan dirinya ke laki-lakinya. Dengan pengalaman itu, aku tak mau ulangi untuk kedua kalinya. Kau ngomong kek yang iya pengen punya masa depan sama aku, tapi kau tak mau memasrahkan diri kau sendiri ke aku, kau tak percaya kalau aku benar-benar tak akan ninggalin kau.“ Keith mengeluarkan urat tegasnya.
Aku tidak percaya dengan pemikiran Keith.
“Keith, kau pun harus sadar bahwa kau bisa aja jadi luka terberat untuk seseorang.“ Aku tahu prinsip kepercayaan Keith sudah rusak, tapi ia harus sadar diri untuk semuanya.
“Tak! Aku tak pernah lukai perempuan manapun. Aku tak berharap kau mengandung lebih dulu sebelum hamil, tapi aku pengen kau serahkan diri kau karena cinta kau ke aku. Aku tak akan pernah percaya, kalau kau tak pernah lakuin itu. Sekarang udah terlanjur, Ria. Bahagialah dengan duda lain, yang jelas finansialnya lebih bagus dari aku. Aku tau, aku kalah untuk cukupi ego kau untuk belanja. Aku sadar, aku kalau di segala sisi kalau kau bandingkan aku dengan dia.“ Keith tertunduk, dengan raut sendu.
“Asal kau tau aja, Keith. Dengan aku ninggalin kedekatan kita, aku pun ninggalin kedekatan aku dengan bang Ken. Aku tak merasa punya masa depan yang jelas, dengan dua laki-laki yang sama-sama tak jelas. Aku pengen cepat menikah, Keith. Dengan pernikahan, aku bakal serahkan seluruh hidup aku untuk suami aku. Jangankan keperawanan, nyawa aku pun akan aku pertaruhkan untuk melahirkan keturunan suami aku kelak. Kau tak bisa berpendapat, bahwa cinta perempuan dipatok dengan penyerahan dirinya. Orang tua yang biayai dan besarkan anak perempuan mereka dari kecil pun, mereka tak nuntut hal serupa dari anak perempuan. Mereka hanya berharap, anak perempuannya bisa menjaga marwahnya dari laki-laki yang mengharap kepasrahan perempuan kek kau. Bukan berarti aku lepasin kau, aku akan peluk bang Ken kuat-kuat. Aku akan lepasin dia juga, karena kalian sama aja. Karena perasaan aku, aku kalah dan biarkan kau bisa nyentuh aku. Tapi kali ini, setelah ini dan untuk nanti, aku berharap ada laki-laki baik yang ngajak aku nikah.“ Aku memberanikan diri untuk membalas tatapan tajamnya.
Benar, kita harus tetap profesional dalam bekerja.
“Iya, aku pun minta maaf.“ Aku mengulurkan tangan kananku.
Keith segera menyambut tangan kananku, kemudian ia memelukku cepat. “Biarkan kek gini bentar aja, Ria. Kau harus tau, aku benar-benar cinta sama kau. Sayangnya, aku tak percaya kalau kau pun punya perasaan yang sama karena kau tak nyerahin hal yang paling berharga untuk kau ke aku.“ Ia mengusap-usap punggungku.
__ADS_1
Pelukan kami terlepas. Aku memandang wajahnya yang terlihat masih sendu saja.
Jika benar-benar cinta, harusnya ia kunci aku dengan pernikahan. Tapi pikirannya mungkin sudah rusak, entah karena ia memang belum siap menikah. Jadi ia berpikir, bahwa wanita memasrahkan keperawanannya adalah bukti pembalasan rasa agar ia berusaha untuk menikahi perempuan tersebut dengan keterbatasan finansialnya. Aku tidak mengerti konsep sebenarnya, entah ia tengah berbual saja atau memang tengah mengatakan tentang harapannya.
Mungkin kita terlalu jauh dari Sang Pencipta.
Aku harus fokus memperbaiki diriku, memperbaiki ibadahku, memperbaiki imanku, agar aku mendapat laki-laki yang seperti aku inginkan. Bukankah, jodoh kita adalah cerminan diri kita sendiri? Bukankah, tujuan yang baik harus dimulai dari perubahan yang baik juga?
“Aku pamit pulang, Keith.“ Aku melirik ke arah kendaraanku.
“Kau mau aku antar?“
Aku langsung menggeleng, aku tak mau merepotkannya. Lagi pun, aku harus mulai menjaga jarak darinya mulai sekarang. Jika bukan dari sekarang, aku harus memulainya kapan lagi coba?
“Aku bawa mobil, Keith. Aku pulang dulu ya? Kau baik-baik di sini.“ Aku mengusap lengannya dengan melangkah pergi.
Aku segera menuju jalan pulang ke rumah. Dengan Keith sudah selesai, sekarang tinggal dengan bang Ken. Aku harus menyelesaikan hari ini, jika bang Ken belum tidur. Khawatirnya, terlalu lama malah aku keburu nyaman dengan keberadaan bang Ken.
Sosok gagah itu tengah bertolak pinggang di teras, dengan memperhatikanku yang tengah memarkirkan kendaraan.
__ADS_1
Baiklah, segerakan, Ria. Aku harus bisa juga seperti tadi pada Keith.
...****************...