Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD27. Implan PD


__ADS_3

“Mana ada?!“ Aku langsung memalingkan pandanganku ke arah lain


“Ohh….“ Ia terkekeh geli.


“Kangen bilang aja kali.“ Bang Ken menarik bahuku yang ia rangkul, untuk sedikit lebih dekat dengannya.


“Tak lah! Ngapain kangen sama bapaknya Bunga?!“ Aku seolah tidak peduli akan hal itu.


“Karena lama tak dikeluarkan,” jawabnya dengan tawa mengejek.


Cup…..


Sungguh, aku seperti tersengat listrik ketika bibirnya mendarat di leherku. Kenapa ya laki-laki suka sekali mencium leher? Apa kalian tidak tahu, hal itu memberikan sengatan luar biasa?


“Resek!“ Aku memberi jarak duduk kami, dengan melepaskan rangkulannya.


“Gaya! Takut tak tahan sih, lagi haid sih ya?“ Ia cenderung tengah meledekku.


Sialan!


“Abang kali yang takut tak tahan, Abang kan gatal orangnya.“ Aku meliriknya sinis.


“Masa iya? Iyakah? Kok baru tau aku?“ Ia mendekatiku dan menyenggol dadaku dengan sikunya.


Aku langsung memeluk dadaku sendiri dan memberinya delikan mematikan. “Resek betul!“ Rasanya aku ingin menjambak-jambkaknya saja.


Ia memasang kedua telapak tangannya di hadapanku. “Tak sengaja.“ Ia tertawa geli. “Tadinya mau ngikut lengan aja, bukan itu,” terangnya kemudian.


Eh, iya. Aku tengah work out di atas ranjang, selama satu bulan belakangan. Aku ingin meminta pendapatnya tentang perubahan tubuhku.


“Bang, badan aku terbentuk belum?“ Aku memiringkan tubuhku menghadapnya.


Ia menoleh ke arahku. Kemudian, ia kembali menatap televisi dengan condong ke depan untuk menekan ujung rokoknya di asbak.


“Badan ala wanita karir, ramping aja.“ Ia hanya menoleh sekilas, tapi ia menyimpulkan hal yang tak ingin aku dengar.

__ADS_1


Aku ingin dibilang sedikit berisi dan berbentuk. Bukannya malah ia mengatakan hal yang seperti itu.


“Ish! Abang!“ Aku bersedekap tangan dengan memalingkan wajahku.


“Pengen ngebentuk, tapi tak jaga pola makan dan olahraga di luar. Ya percuma aja sih menurut Abang. Olahraga itu dua puluh persen, delapan puluh persennya makanan.“ Ia menjajakan bulu ketiaknya dengan cara mengangkat tangan tangannya dan di tempatkan di belakang kepalanya.


Setelah, ia malah menguap lebar. Ia tidak menjaga imagenya seperti Keith, tapi justru itulah yang membuatnya lebih menarik di mataku.


“Aku pengen badan kek Putri.“ Aku langsung membekap mulutku sendiri.


“Ya operasi. Sama dia pun malas olahraga, kek kau.“ Ia menjawab santai.


Eh, benarkah ia demikian? Operasi bagaimana maksudnya? Seperti transgender kah maksudnya?


“Operasi???“ Aku mengajukan satu kata dalam pertanyaan.


“iya, implan PD. Kalau pinggul sih, memang besar dari sananya, karena dia udah beranak.“


Eh, serius? Dada Putri bukan dada asli? Itu dada silikon? Eh, maksudku implan.


“Serius, Bang????“ Aku belum percaya.


“Bergelayut sih mungkin memang kendor kan, Bang?“ Ini logikaku.


“Pernah tengok film dewasa tak sih?“ Dari pertanyaannya, aku jelas mengangguk.


Aku memang sesekali melihat film dewasa. Entah kenapa aku seperti itu, meski nyatanya aku tak melakukan hal yang lebih setelahnya.


“Ya kan ada sih bintang film dewasa yang PD bentuknya penuh dan bulat, itu kan implan. Ada juga bintang film dewasa yang PD bergelayut, itu memang besar karena gen. Dari bentuknya aja udah beda, jangankan disentuh gitu tuh.“ Ia menjelaskan dengan memainkan ponselnya.


“Nih, begini nih.“ Ia menunjukkan layar ponselnya setelahnya.


Oh, ya ampun. Itu memperlihatkan tampilan film dewasa yang tidak diputar. Agak gila memang.


“Beda bentuknya,” tambahnya kemudian.

__ADS_1


“Abang pernah pegang punya Putri?“ Aku tahu tentang mulutnya yang mengakui bahwa dirinya tidak pernah menyentuh Putri.


“Tak pegang juga, orang Riska pun implan. Ya taulah tekstur dan bentuknya, udah tak penasaran dan tak harus megang ulang punya Putri.“


Ehh? Kok begitu? Semua perempuan pada implan ternyata? Apa mbak Canda dan ibu juga? Karena mereka memiliki PD yang cenderung bergelayut begitu. Besar dan turun, tapi tidak turun sampai perut juga.


“Serius???“ Aku yang terkejut di sini.


“Iya, dia mau punya yang besar. Sedangkan, olahraga apapun tak ada yang membesarkan, adanya mengencangkan. Karena kasian, dia selalu ngerengek duh tak besar-besar, padahal udah pakai serum segala macam. Jadilah Abang bawa dia operasi di luar negeri untuk implan. Kalau tak salah, waktu itu sekalian liburan di Korea. Terus Riska jadi senang, lebih percaya diri.“


Eh, ada pula suami yang begini?


“Kenapa Abang tak larang? Atau pilih opsi lain?“ Ia kan dokter, harusnya ia tahu mana yang terbaik.


“Kasian, dia usaha untuk membesarkan udah, tapi tak ada hasil. Abang tak nuntut padahal, tapi dia mau sendiri karena tak percaya diri katanya. Opsi lain itu apa? Suntik hormon begitu? Suntik hormon untuk membesarkan PD, malah buat penyakit yang ada. Mending sekalian implan, tak mempengaruhi ASI juga. Tetap bisa menyusui, tetap bisa dapat keindahan juga. Waktu implan itu, keknya sebelum nikah deh. Abis dari Bali kan dekat lagi sama Riska, sebelum Abang ambil pendidikan spesialis tuh sempat liburan bersama ke Korea. Niat hati sih, untuk mendekatkan diri, karena benar-benar berjarak tuh.“


Aku baru tahu fakta tentang implan ini. Aku kira, itu tidak aman. Ternyata, itu adalah tindakan yang paling aman.


“Sih tau dia olahraga, dia pakai serum?“ Aku mengerutkan keningku.


“Kan work out bareng, nge-gym bareng. Kalau ditanya, tujuannya pengen punya body goals sama PD besar. Beli serum kan uangnya minta sama Abang, ya tau lah.“


Oh, olahraga juga bisa membentuk badan ya? Aku kira, olahraga hanya membentuk bisep dan roti sobek saja.


Aku mengingat lagi bentuk tubuh kak Riska. Pantas saja, ia sekal berisi aduhai. Rupanya, hasil dari nge-gym.


“Aku mau nge-gym deh kalau begitu.“ Barangkali aku bisa seindah itu juga.


“Boleh, tapi Abang saranin jangan di masa haid. Kalau udah biasa sih, lagi ngandung juga aman. Tapi untuk pemula, kalau lagi haid ya lebih baik jangan dulu.“ Ia mematikan televisinya.


Gelap sudah, karena pencahayaan tadi hanya dari televisi saja.


“Ya udah, oke. Memang Abang lama di sini?“ Aku tahu Keith tidak akan memiliki waktu untuk menemaniku nge-gym.


Ia terkadang tidak pulang ke sini, jika sudah sibuk di galerinya. Tapi aku melihatnya merawat masa ototnya, hanya dengan berolahraga ringan saja di halaman rumah sebelum ia siap berangkat bekerja.

__ADS_1


“Lama, Abang bakal usahakan rumah sakit Abang di sana jadi rumah sakit kelas internasional. Di mana operasi besar dilakukan di sana dengan penanganan terbaik dan tercanggih, ditambah obat-obatan yang memadai. Abang harus gandeng beberapa perusahaan farmasi dan alat medis di sini. Itu butuh waktu, hasil yang besar perlu waktu lebih.“ Ia berbicara dengan serius dan aku percaya dengan ucapannya.


...****************...


__ADS_2