Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD111. Penjelasan Ken


__ADS_3

“Ria…. Tugas suami itu, menuntun istri agar jadi lebih baik. Entah di bidang agama, kebiasaan yang buruk. Kau pun, kalau mau bebas ya sendiri aja! Jam kerja istri itu, sakit tak sakit ya tetap tunaikan kewajibannya! Kau apa-apaan kek gitu! Lancang betul mulut ngomong!“


Lah?


Kok begini ya mulutnya?


“Abang adalah suami, seseorang yang patut dicontoh istri dan anaknya. Kalau Abang kek gitu, anak istrinya pun pasti ngikutin.“ Aku ingin dia sadar dengan kesalahannya sendiri.


Bukan muter-muter seperti ini.


“Tak ada ceritanya, Ria. Pernah ada cerita di jaman nabi, istrinya ahli surga dan suaminya pemabuk. Istrinya tetap wajib mengabdi dan patuh ke suaminya, dia sabar dan tabah ngadepin suaminya.“


Kenapa ia selalu membawa cerita di jaman nabi, ia juga selalu menarik contoh agama?


“Terus aku harus setabah dan sesabar dia? Tiap perempuan itu beda-beda, Bang! Abang aja nuntut aku harus begini, harus begitu. Abang nuntut aku harus jadi yang Abang mau, aku pun mau nuntut Abang jadi yang aku mau. Kalau Abang tak pernah mau dengerin aku, tak pernah mau pahami perasaan aku, aku pun tak akan pernah patuh sama Abang!“ Aku mungkin akan sehat jika beradu mulut seperti ini, terbukti dari keringat yang terus membasahi tubuhku.


“Kau ngancam, Ria?!“ Ia memelotoiku.


Bang Ken sampai berani memberiku tatapan murkanya?


“Intinya, Abang tak ngerasa salah kan udah main di belakang aku? Tujuan Abang datang ke sini apa? Kau jelaskan, kan? Aku kirim bukti fotonya dan Abang langsung terbang ke sini, itu semata-mata mau jelaskan? Atau mau bujuk aku, yang udah pasti aku termakannya?“ Aku mencoba membawa diriku lebih rileks.


Bang Ken terlalu berkelit, jika aku ngotot-ngotot dan memaksanya.


“Abang bakal jelasin, makanya kau jangan asal nuduh dulu.“


Berarti benar, bang Ken langsung ambil penerbangan ke sini untuk menjelaskan.


“Oke.“ Aku bersedekap tangan dan memperhatikan wajahnya.


Ia menarik napasnya, bola matanya melihat ke arah lain seperti ia tengah bersiap untuk mengarang. Sungguh, aku malah tidak percaya ia menjelaskan dengan kejujuran.


“Iya Abang di Bandung.“ Ia memandangku sekilas, kemudian ia melihat ke arah lain lagi.


Ia menghindari kontak mata denganku. Aku masih diam, mencoba menunggu penjelasannya yang entah benar atau bohongnya.


“Rapat di pabrik farmasi itu, terus tak sengaja ketemu Riska.“

__ADS_1


Apa? Tak sengaja katanya? Jelas-jelas kak Riska mengatakan, bahwa dirinya ditengok ayahnya Bunga. Lagi pun, kak Riska itu memiliki rumah dan tinggal di Cirebon, bukan di Bandung.


“Riska buka cabang baru restonya.“


Bang Ken hanya menarik garis besarnya saja. Itu pun terpenggal-penggal, karena aku yakin ia tengah mengatur kebohongan.


“Terus?“ Aku mengajukan pertanyaan karena ia lama diam tidak bersuara.


“Iya, ke club malam.“


Tuh kan?


“Izin bertanya.“ Aku memasang telapak tanganku di depan dadaku.


Ia mengangguk dan memandangku.


“Abang di Bandung, tak sengaja ketemu Riska dan ke club?“ Aku menanyakan ulang ringkasan ceritanya.


Ia mengangguk untuk menjawab.


“Kok bisa eh? Kok bisa tak sengaja? Dia bukan resto baru katanya? Ada kemungkinan Abang sengaja datang ke resto barunya, karena kak Riska menuliskan 'first support' di story IG punya dia. Abang tau kalau itu resto baru kak Riska mungkin informasi dari sosial media, atau dari kak Riska sendiri, terus Abang datang dan kasih dukungan untuk dia.“ Aku merasa aneh saja, jika benar-benar tidak sengaja bertemu.


“Iya. Terus, kelanjutannya gimana?“ Aku mengakui bahwa aku tidak percaya padanya.


Ia seperti mengeratkan gigi-giginya, otot-otot lehernya terlihat menonjol dengan napas yang dibuang kasar.


“Bang….“ Aku menggoyangkan lengannya.


“Untuk apa kau nanya, kalau akhirnya kau tak percaya?!“ Suara lantang tiba-tiba dikeluarkan dari mulutnya.


Aku sampai tersentak kaget, dengan tidak terasa air mataku menetes karena bentakan darinya. Aku hanya bertanya, ia pun berjanji menjelaskan, tapi ia malah seperti itu.


“Untuk membandingkan pengakuan Abang dan asumsi aku, juga fakta-fakta yang aku dapat. Kalau pengakuan Abang tak sesuai fakta yang aku dapat, berarti Abang bohongi aku dan mungkin setelah ini aku tak akan percaya dengan Abang lagi.“ Aku yakin, semua perempuan pasti memiliki cara untuk mempelajari hal-hal yang dilakukan pasangan untuk berbohong.


“Aku tanya bukan karena aku tak tau, tapi karena aku mau tau pengakuan Abang!“ tambahku kemudian.


“Ck….“ Ia meluruskan posisi duduknya, kemudian ia langsung melempar meja ruang tamu dengan seketika.

__ADS_1


Prang….


Kacanya langsung pecah berserakan.


“Harusnya aku yang marah, aku yang ngamuk, bukan Abang!“ pekikku cepat, saat ia baru saja melangkah beranjak ke arah kamar.


“Intinya kau udah tak percaya sama suami sendiri, kan?!“ Ia berbalik dan menatapku marah.


“Ya, betul! Kalau memang pasangan tak percaya, ya yakinkan! Bukan malah dibiarkan dengan pemikirannya sendiri! Kalau memang Abang biarkan aku terus kek gitu, Abang bakal ngerasa kehilangan sosok Ria yang Abang kenal.“ Aku bangkit dan menghampirinya yang terlanjur masuk ke dalam kamar kala aku berbicara.


“Pandainya untuk buat alasan lupa! Aku tau Abang langsung ambil tindakan untuk pulang ke aku, masanya aku punya bukti-bukti Abang hfun sama mantan istrinya, biar Abang punya alasan lupa urus-urus surat-surat untuk peresmian pernikahan kita di sini. Awal, Abang bilang lupa karena aku buru-buru Abang untuk pulang ke sini. Sekarang, Abang pasti ngomong kalau Abang lupa karena keburu nyusul aku di sini untuk jelasin. Kalau benar mau jelasin, bisa lewat HP. Jaman sekarang udah HP semua, Abang tak perlu buang-buang waktu untuk jelasin aja. Dasar memangnya Abang pengen kita stuck di nikah siri aja, memang menghindar untuk sengaja ngurus!“ Aku pun bisa berbicara lantang seperti dirinya.


Tanpa disangka, ia malah menarik tanganku sampai tubuhku terhempas ke ranjang. Jelas aku langsung khawatir, meski aku dijatuhkan di tempat empuk. Karena aku tengah mengandung, usia kandunganku masih muda.


Pergerakan selanjutnya sungguh membuatku tidak percaya, karena ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan miliknya. Ia langsung mendekatiku, ia merangkak di atas ranjang dan mengungkungku.


Aku diminta dokter untuk menghindari hubungan s**s di trimester pertama, tapi bagaimana jika bang Ken malah seperti itu. Urat marahnya, membuatku takut jika ia melakukannya dengan kasar.


“Kau pernah bilang, dari pada lempar-lempar barang, lebih baik kita s**s.“ Ia menarik celana kulotku dengan satu tarikan keras.


Ucapan itu berlaku saat itu saja, bukan setiap amarahnya. Apalagi, jika kesalahan ada padanya.


“Aku tak mau, Abang nidurin orang kemarin.“ Aku mencoba merapatkan kakiku dan menjauh darinya.


Namun, ia langsung menarik kedua kakiku dengan kasar dan membukanya dengan cepat. “Abang bersih,” akunya kemudian.


Air liurnya langsung berpindah ke tangan, ia akan melakukan hal itu tanpa membuatku terang**** lebih dulu. Sudah aku tidak boleh melakukannya karena kandunganku masih muda, ditambah ia akan berlaku kasar.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku dan bayiku setelah ini.


“Sakit, Abang!“ Aku meronta, karena tekanan yang ia berikan cukup memaksa.


Aku sampai menangis lepas, karena rasanya begitu menyakitkan. Aku belum terang****, kemudian ia langsung memasukkan miliknya secara penuh.


Yang tadi ia terpejam menikmati, kini giliran matanya terbelalak dengan ia mengecek perutku. Dua jarinya ia pasang di atas tulang **malu** milikku, kemudian ia menekan pelan jarinya yang bergerak untuk memeriksa.


“Ria, kau hamil.“ Ia nampak shock dengan miliknya yang masih tertanam sempurna.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2