
Aku tidak meminta Alfonso untuk menemaniku ke rumah sakit, alasannya karena aku takut ia memberitahukan pada bang Givan. Bukan apa-apa, bang Ken saja belum tahu. Masa, ingin memberitahukan pada bang Givan. Kan itu konyol sekali.
Karena yang ada, kita malah dihakimi oleh keluarga dan bang Ken yang disalahkan lebih-lebih nantinya. Aku tak mau ia semakin terlihat buruk di mata keluarga, harusnya pun keluarga memahami perasaan kami, terutama bang Givan. Tapi antara bang Ken dan bang Givan sama-sama keras, yang satunya tidak mau mengerti ego orang jatuh cinta, yang satunya lagi tidak mengerti caranya untuk merendah. Dengan ia menikah denganku, otomatis statusnya menjadi muda dan akan disebut adik ipar.
Mungkin karena bang Ken sudah berusia banyak, jadi ia sulit diberi nasehat. Ditambah lagi, bang Givan pun satu tahun lebih muda dari bang Ken, ia sama-sama sudah tua dan sudah kolot. Mereka sama-sama ingin dimengerti, tapi tidak peka bagaimana aku di sini.
Benar-benar tumbuh dengan baik benih bang Ken di rahimku. Aku tidak percaya benihnya berkualitas baik, di usianya sudah menginjak empat puluh lebih. Aku tahu tentang laki-laki yang konon katanya tidak ada masa kadaluarsanya, tapi ya aku tidak menyangka juga jika itu benar-benar aku alami sendiri. Mungkin yang berkurang itu stamina, atau mungkin memang laki-laki itu ya seperti bang Ken, tidak seperti ekspektasiku selama ini.
Ya, aku baru tahu jika bang Ken bukanlah seseorang yang gila akan s**s. Padahal, awalnya ia terlihat begitu rakus dan menggebu-gebu. Aslinya tidak demikian, ia seperti seperlunya saja untuk melakukannya.
Apa benar laki-laki itu memang sebenarnya seperti bang Ken? Bukan seperti dalam cerita novel, yang konon katanya sehari bisa delapan kali dan sepuluh kali bermain. Apa nyawanya masih tetap menempel di tubuhnya? Jika mereka melakukan hubungan badan sampai berkali-kali seperti itu. Karena bang Ken yang sehari sekali saja, ia langsung pulas dan mendengkur ketika menyelesaikan kegiatan panas kami.
Foto USG yang bagus menurutku, terlihat sekali benihnya bang Ken tumbuh di rahimku. Dokter mengatakan, bahwa usianya baru enam mingguan sejak hari terakhir aku haid. Aslinya, mungkin dua minggu atau satu minggu lebih muda katanya. Karena biasanya pembuahan itu terjadi, di masa subur yang diperkirakan ada di sepuluh hingga enam belas hari sejak hari pertama haid. Ini pun dari keterangan dokter kandungan ini.
Aku pun berterus terang, jika aku masih merokok dan aku butuh saran untuk berhenti dari rokok. Aku tidak menyangka, jika akhirnya aku harus menebus resep obat sebegitu banyaknya. Aku pun diberi step dan saran untuk menghentikan kebiasaan itu secara perlahan, jika aku sulit langsung berhenti.
Bismillah, aku pasti mampu berhenti merokok untuk kebaikan bayiku. Aku yakin aku mampu dan aku bisa menahan rasa inginku untuk merokok setelah makan. Karena itulah yang menggebu-gebu menurutku, seperti cuci mulut paling sempurna.
Aku membayar dengan uang cash, karena khawatir jejaknya akan dilihat bang Ken dari sana. Semalam ke tempat karaoke pun, aku membayarnya dengan uang cash. Aku belajar dari keteledoranku kemarin.
Saat pulang pun, aku singgah dan membeli banyak buah untukku dan untuk kebaikan bayiku. Aku tidak sabar, untuk melihat perutku buncit dengan sempurna karena pertumbuhan benih bang Ken.
Sesampainya di kamar apartemen, aku langsung membersihkan diri dan beristirahat. Tak lupa, aku meluangkan waktu untuk menghubungi bang Ken. Sayangnya, ia tidak pernah mengangkat telepon dariku. Pesan dariku pun, dibalasnya di lain waktu.
Apa alasannya? Ia sibuk katanya. Aku pun percaya, karena beberapa kali ia meng-upload foto kesibukannya dengan bang Danu. Suamiku itu, tengah berada di Banjarmasin.
[Aku kangen.] Aku mengirimkan pesan seperti itu.
__ADS_1
Ia tidak mau mengangkat telepon dariku tadi, tapi ia membalas pesanku. [Jangan ngeburu-buru Abang, nanti Abang lupa lagi urus surat-suratnya. Nanti Abang disalahkan lagi, dikira sengaja.]
[Kenapa tak angkat telepon aku?] Aku penasaran dengan aktivitasnya saat ini.
Ia mengirimkan gambar.
Satu foto kakinya yang mengenakan sepatu hitam resmi berada di bawah meja. Satu lagi foto seorang laki-laki yang tengah menjelaskan sesuatu di depannya, dengan menggunakan semacam in focus. Seperti layar monitor yang diarahkan ke tembok itu loh, itu seperti senter, seperti pemutar film zaman dulu, apa ya namanya? Aku lupa.
[Nanti Abang telepon balik.] Pesan paling bawah, setelah dua foto itu.
[Ya, Bang. Abang di mana?] Aku masih ingin berkomunikasi dengannya.
[Di pabrik farmasi, Abang datang dengan perkumpulan pemilik rumah sakit swasta spesialis. Biasa, Dek. Mau ambil obat-obatan.]
Oh, ternyata kegiatannya sudah lain lagi? Aku kira, ia masih berkutat dengan pabrik kopi di Banjarmasin itu.
[Telepon aku ya, Bang?] Aku ingin bercerita banyak dengannya.
Apa mungkin ia mengidam?
Sayangnya, aku malah ketiduran. Ia sampai menelponiku berpuluh kali, sayangnya tidak satupun terdengar oleh telingaku yang dalam keadaan pulas tadi.
Duh, aku takut ia marah.
[Maaf, Bang ketiduran.]
Lama tidak ada balasan, aku langsung menghitung perbedaan waktu di sana. Rupanya, di sana sudah malam dan sudah waktunya istirahat. Aku langsung berasumsi, bahwa bang Ken tengah terlelap sekarang.
__ADS_1
Ya sudahlah.
Aku berniat mengisi perutku dengan makanan, sembari melihat-lihat sosial mediaku. Namun, aku merasa perutku kenyang seketika. Kala melihat story mantan istri bang Ken. Aku berteman dengannya di sosial media manapun. Sontak saja aku langsung menscreenshot layar ponselku, untuk pembuktian nantinya jika aku perlu bertanya dengan bang Ken.
Yang tidak aku mengerti, ini foto kapan? Caption dalam story tersebut bertuliskan 'first support' dengan lagu yang menggambarkan dukungan besar dan harus tetap semangat.
Aku melihat dengan seksama foto tersebut. Potongan rambut bang Ken dalam foto tersebut, seperti potongan terbarunya saat di sini. Aku merasa, bahwa foto itu baru diambil.
Ah, iseng aku mengomentari story tersebut.
[Lagi nengokin Bunga kah, Kak?] Pertanyaanku tidak mencurigakan bukan?
Kak Riska belum tidur rupanya, karena ia langsung membalas komentarku di story tersebut. [Gak, Dek. Jauh di Aceh, nanti aja kalau Bunga diajak ke sini sama ayahnya.]
Loh? Aku makin bertanya-tanya dong.
[Oh, jadi itu baru ditengok ayahnya aja kah?ðŸ¤] Aku bertanya seperti ini, diikuti dengan emoticon seperti itu agar kak Riska tidak curiga.
Namun, malah begini balasannya.
[Iya 😅]
Minat makanku langsung hilang. Perutku langsung merasa sakit dan mulas, diikuti dengan jemariku yang seluruhnya mendingin.
Bang Ken menemui mantan istrinya? Apa yang mereka lakukan? Aku teringat cerita bang Givan, tentang bang Ken yang selalu memperdaya mantan-mantannya. Kalau tidak salah pun aku teringat, jika aku pernah bertanya tentang alasan bang Ken selalu melakukan hal itu dengan mantan-mantannya. Tapi yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah, apa benar bang Ken akan melakukannya di statusnya yang sudah menjadi suamiku?
[Wah, ya hangat dong 🤣]
__ADS_1
Aku pura-pura baik-baik saja, karena aku ingin mendapat informasi yang jelas dari kak Riska. Semoga prasangka burukku salah, semoga kak Riska juga menjelaskan kebersamaan mereka dalam foto tersebut.
...****************...