Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD42. Pesona Ken


__ADS_3

“Kenapa sih waspada terus gitu? Kau tenang aja, Dek.“ Bang Ken menarik tanganku agar merebahkan tubuhku di sampingnya.


Kalian bayangkan saja, lampu seluruh rumah itu mati. Lampu yang nyala hanya lampu teras dan lampu ruang tamu saja. Lampu kamar mandi pun mati, kami selalu menggunakan senter ponsel atau power bank untuk meneranginya kamar mandi yang akan kami gunakan.


Seperti rumah megah pada umumnya, ruang tamunya luas sekali, kemudian menyatu dengan ruangan apa entah, yang lebih luas dari ruang tamu. Nah, ketika melihat ke arah ruangan gelap itu, pikiranku sudah kacau membayangkan hal seram.


Padahal, bang Ken yang tidur di sisi paling kanan. Di mana, ruangan yang lebih luas itu berada. Sedangkan, tempatku paling mepet dengan sofa. Bayangan seram yang hidup di otakku, malah tentang ada seseorang yang duduk di dekat sisi aku tertidur.


Parnoan memang aku ini.


“Sini, Ria.“ Bang Ken memaksaku untuk merebahkan tubuh di sampingnya.


Ya sudahlah, pinggangku lelah juga duduk saja dari dua jam yang lalu. Sekarang, sudah pukul sebelas malam lebih. Menjelang tengah malam dan aku semakin bertambah takut.


Bagaimana caranya kami meminta tolong, jika jauh dari warga seperti ini?


Hufttt….


“Jangan lihat ke arah sana terus kalau takut.“ Bang Ken menutupi wajahku dengan telapak tangannya.


Kami berbaring berhadapan.


“Ngadep sana, punggungin Abang. Biar Abang peluk Adek dari belakang.“ Bang Ken mendorong bajuku pelan.


Aku menurut.


Yang penting, aku bisa terlelap sajalah. Tapi, nyatanya tetap sulit terlelap.


“Jangan goyang-goyang aja.“ Aku merasa kaki bang Ken sedikit menjauh.


“Coba satu kaki Abang naik ke kaki aku.“ Aku membayangkan kakiku akan ditarik sesuatu.


“Ya jangan goyang-goyang aja, kena tuh.“ Ia menuruti keinginanku.


Kena apa memangnya?


Oh, aku paham. Ada yang mengeras rupanya. Cukup terasa, saat aku bergoyang untuk memundurkan posisiku agar lebih dekat padanya.


“Ria….!“ Suaranya seperti teguran, meski hanya menyebut namaku saja.


Aku pura-pura tenang, aku pura-pura terpejam. Mana tau, aku bisa pulas betulan. Namun, bukannya pulas. Aku merasa tangan bang Ken yang berada di pinggangku, malah masuk ke dalam kaos milikku.


“Dek…,” panggilnya pelan.


Aku tidak menyahuti, aku pura-pura tertidur. Instingku, ia memanggilku untuk memastikan apa aku sudah tidur atau belum.

__ADS_1


Tanpa gerakan yang berarti, tiba-tiba aku merasa tengkukku seperti digigit sesuatu. Sapuan benda lembut pun aku dapatkan, aku sampai bergidikan tak tertahankan.


Setelah mendapat gerakan reflek dariku itu, bang Ken melepaskan tengkukku. Cukup lama aku tak merasakan apapun, sampai baju bagian pun tiba-tiba tersingkap.


Aku masih pura-pura tidur, karena aku tidak merasakan hal lain dari bang Ken. Namun, goyangan samar aku rasakan.


Tempat tidur ini, adalah tempat tidur spring bed. Jadi bayangkan saja, bagaimana rasanya jika orang di sebelah tengah melakukan gerakan.


“Ughmmm….“ Lolos suara misterius itu.


Apa ia tengah c***? Ya ia tengah o***i.


Aku menggerakkan tubuhku, bang Ken langsung menempatkan tangannya di lenganku. Tapi sepertinya, itu adalah tangan kirinya. Karena punggung tangannya terlihat, ketika aku melirik sedikit.


Posisiku menghadap ke kiri, jadi tangan kanannya yang digunakan memelukku. Bisa dibayangkan kan?


Aku makin was-was, karena goyangan di sisinya itu semakin terasa kuat. Inisiatifku rupanya buruk, karena bisa-bisanya rasa penasaranku membawaku untuk menghadap ke arah bang Ken. Tidak sengaja juga, saat memutar posisi, tanganku menyentuh benda miliknya.


Huaaaaaa…..


Karena membuka mata sedikit, aku jadi melihat jelas aktivitasnya.


“Sialan kau!“ Bang Ken langsung menyerangku.


Aku ketahuan, bahwa aku pura-pura tidur. Aku langsung menghalaunya, sayangnya aku kalah tenaga.


“Abang udah bilang, jangan sentuh! Kau kenapa pegang?!“ Ia langsung menarik kedua tanganku ke atas kepalaku.


Aku teringat tentang ancamannya itu. Aku benar-benar tidak sengaja menyentuh miliknya, itu hanya semacam tersenggol saja.


“Bang, aku tak sengaja.“ Tanpa diduga, ia malah mencekikku.


Aku semakin panik, karena ia berhasil duduk di atas perutku. Senyum miringnya menyeramkan, ditambah dengan miliknya yang terpampang jelas di atas dadaku.


Aku tidak kesulitan bernapas, karena ia hanya mengunci pergerakan leherku saja, tidak untuk membuatku mati. Tapi tetap, aku panik mendapat serangan darinya.


“Abang…. Ampun, Abang.“ Aku mencoba melepaskan tangannya yang berada di leherku.


“Tak! Kau milik Abang sekarang.“ Ia menundukkan punggungnya, melepaskan cekikannya pada leherku dan membawa tanganku ke atas kepala.


Bang Ken semakin menggila. Ia pun memperdayaku dengan kehendaknya sendiri.


“Kau tenang, jangan berontak terus.“ Ia menindihiku, dengan wajah yang berada di depan wajahku.


“Abang mau apa? Aku mau diapakan?“ Napasku sampai ngos-ngosan karena lelah meladeninya.

__ADS_1


“Kita main. Adek anteng, jangan berontak terus!“


Mataku membulat sempurna.


“Abang suka perempuan yang pasrah.“ Ia tersenyum menenangkan, dengan melonggarkan cekalannya.


Ini kesempatan untukku. Aku langsung mendorongnya, agar membuatnya menjauh dari atasku. Sayangnya, doronganku tidak berguna sama sekali.


“Abang! Abang…..“ Aku merengek-rengek agar ia kasihan padaku.


“Pasrah buat Abang, Dek.“ Ia membelai pipiku.


Aku menggeleng. “Aku pasrah untuk suami aku.“ Aku menekankan suaraku, dengan memandang penuh tegas pada netranya.


“Tak! Kau milik Abang, Ria. Kau tak bisa lepas dari Abang, kau hak Abang.“ Ia menyatukan dahi kami.


Aku menjedotkan dahiku dengan dahinya. Sayangnya, itu hanya membuatku meringis dan membuatnya malah terkekeh.


“Abang…. Apa iming-iming manfaatkan Abang itu, barter dengan tubuh aku?“ tanyaku cepat, kala ia sudah memperhatikan bibirku.


“Tak, Sayang. Kau boleh minta sesuka kau, tapi Abang tak rela kalau kau harus lepas dengan laki-laki lain,” tutur katanya pelan, tapi semakin terdengar menyeramkan.


“Memang Abang merasa layak untuk dapatkan itu dari aku?“


Aku menyadari perubahan dalam wajahnya. Ia kaku sejenak, kemudian menyamarkan dengan senyumnya.


“Abang layak,” sahutnya meyakinkan.


Layak seperti apa?


“Layak untuk dijadikan apa?“ Aku mencoba tenang, meski posisi ini mengancamku.


Aku ingin ia melepaskanku dan mundur, karena perkataanku.


“Pejantan kau. Jangan pandang usia Abang, Abang masih sanggup puasin kau.“ Sombongnya perkataannya.


“Abang tak cukup gagah untuk aku.“ Aku masih mencoba untuk merendahkannya.


Ia benar-benar melepaskan cekalan tangannya, tapi ia masih menduduki perutku. Show yang indah, ia melepaskan kancing kemejanya begitu seksi. Bang Ken begitu menggoda, ia tahu pasti caranya mengumbar pesonanya.


Aku terhanyut dengan gerakan perlahannya dalam melepaskan pakaiannya. Aku memejamkan mataku, mencoba membutakan mata dari keindahan makhluk empat puluh satu tahun itu.


“Buka matanya, Dek.“ Ia membelai pelipisku.


Aku tidak bisa menolak perintah itu. Ucapan lembutnya seolah diikuti oleh sihir, berbeda dengan ucapan tegasnya yang membuatku takut seperti tadi.

__ADS_1


Senyumnya menambah rasa percayaku padanya. Ia mencondongkan kembali punggungnya ke depan, dengan kedua tangannya yang kembali meraih kedua tanganku.


...****************...


__ADS_2