
"Aku tuh tak suka berkata-kata aku cinta kamu, I love you, segala macam berbual cinta. Aku nikahin, ya tandanya aku cinta, aku mau dan aku butuh. Kau di chat nampak kek yang iya mau sama aku, tapi datang undangan beda lagi ceritanya. Kau itu buat aku tak mood sama sikap kau, munafik!" Ia membuka jendela dan meludah keluar.
"Ya dikira-kira aja, Vin. Aku ngerasa kek jadi pelampiasan puber keduanya, terus setelah kita cerai, dia malah balik lagi ke istrinya." Aku selalu swipe up, hal apapun itu. Termasuk, pada bang Ken dulu.
"Untuk apa kau tarik dan ingat lagi? Kau udah lepas kan? Kau pun udah ngeladenin aku kan? Jangan kira aku bakal terlampau ngejar-ngejar kau ya! Aku tak maksa untuk kau mau, aku punya harga diri untuk membatasi orang lain dekati aku. Kalau memang udah mau sama aku, harusnya kau udah ikhlas lepasin yang kemarin. Bisa tak bersikap bodo amat?" Suaranya naik meninggi.
Aku menoleh padanya, kemudian aku menepikan kendaraanku. Pembicaraan ini sudah bukan ke arah baik-baik saja, ia sudah tersulut emosinya sendiri.
"Begini sifat asli kau?" Aku melepaskan sabuk pengamanku, kemudian aku menoleh ke belakang untuk melihat Kirei. Kirei sudah terlelap, mungkin ia bosan karena tidak ada yang mengajaknya berbicara.
"Ya! Kenapa?! Keberatan?! Dari awal pun, aku tak pernah nutup-nutupin sifat asli aku. Kau ngerasa keberatan? Jangan respon aku! Tiga hari tak respon aku, aku pun ngerti langkah apa yang harus aku ambil." Sifatnya sama semua seperti ayahnya.
"Masalahnya tuh apa?" Aku sudah terbiasa melihat papah Adi marah, mentalku tidak boleh terguncang hanya karena hal begini saja.
"Cemburu. Puas?!" Menjawab sedikitpun, ia sampai harus ngotot-ngotot.
"Jangan gitu coba, kau aja akrab sama Safa." Benar tidak ya aku mengembalikan fakta seperti ini.
"Stop membalikkan pokok permasalahan! Harusnya itu kau sadar! Kau melek! Kau tangisi Kendor itu nikah, dengan tiap hari kau udah respon aku. Hai! Kau sama bajingannya, Riut!" Suka-suka ia sajalah dalam menyebutku.
"Iya aku sadar." Aku bertutur lembut. "Tadi kan aku jelasin, kalau aku marah karena baru sadar bahwa aku dijadikan mainan di masanya puber kedua. Dengan dia balik ke istrinya, kek seolah semuanya udah direncanakan," jelasku perlahan.
Nada suaranya makin tinggi, jika aku malah melawannya. Sepertinya, semua laki-laki egonya sama.
"Terus kau sakit hati begitu? Itu namanya kau belum move on, kau belum ikhlas. Kalau ikhlas itu, mau kau dulunya disantet sekalipun, kau tak akan peduli untuk balas kejahatan magic itu setelah kau sembuh. Fokus ke diri kau, jangan terus berpikir tentang keadaan dia, pemikiran dia, rencana dia dan segala macam tentang dia." Ia menunjuk tak tentu arah, dengan ekspresi marah yang maksimal.
Meski matanya sayu, seram juga ketika marah.
Benar juga ucapannya. Jika aku terus memikirkan tentangnya, namanya aku belum ikhlas juga.
"Memang ke Ajeng kau gimana?" Aku tahu ia pun merasa korban dalam pernikahannya.
"Sekarang biasa aja, dia minta foto anaknya aku kasih. Dia tak minta, aku tak kasih apapun dan tak ngabarin apapun. Dia bukan kiblat aku, Kak. Duniaku udah repot, tanpa harus mikirin gimana rencana hidup dia sama mantan suaminya. Bodo amat aja udah, dia butuh pasti datang kok. Kata mamah, minta tolong ya dibantu, tak minta tolong ya tak usah sok peduli. Memang apa yang aku beratin dari Ajeng, dulu memang aku berat karena tak tau alasannya. Udah tau alasannya, ya aku ngertiin lah dan coba bangkit lagi. Aku masih muda kali, duniaku tak akan habis kalau Ajeng pergi."
__ADS_1
Dia dapat nasehat ini dari mana?
"Memang kau bisa terapin itu dalam hidup kau?" Aku berpikir ia hanya pintar berbicara saja.
"Bisa." Ia membusungkan dadanya.
"Caranya?" Aku melirik lagi ke arah Kirei.
"Punya uang dan peluang. Usaha aku lancar, uang punya, bisa beli ini itu buat ego aku. Dengan hal begitu pun, aku senang dan bisa move on. Bukan hal yang sulit, dia bukan Rehan."
Mulai lagi kan?
Nyatanya, aku tetap tertawa.
"Kau tak punya uang sih ya? Sukurin!" Ia mulai meledek lagi.
"Baru gajian, baru punya uang. Orang baru lepas sama dia satu bulan belakangan juga." Aku melepas rem tanganku, berniat menjalankan mobilku lagi.
"Minta traktir es kelapa dong, di taman kota tuh." Ia menggosok-gosokan telapak tangannya pada celana jeansnya.
"Sama apa?" Aku bersiap untuk naik ke aspal lagi.
"Sampoerna mild."
Rokok juga ternyata.
Benar, benar-benar minta ditraktir. Sampai makan siang pun, aku yang membayar. Tapi, hitung-hitung membawa pengasuh bayi untuk mengurus Kirei saat aku repot mendorong troli dan berbelanja. Ditambah dengan ia orang sendiri, orang dekatku, jadi aku percaya Kirei digendong-gendong olehnya.
"Pengen ngerokok dulu, pegang dulu Kireinya." Gavin memberikan anakku padaku, lalu ia duduk menjauh.
Kami berada di stadion yang tamannya dibuka untuk umum. Start berangkat ke taman kota, pulangnya singgah dulu ke stadion untuk bersantai dan jajan lagi setelah lelah berbelanja.
Tubuhnya lebih besar dariku, meskipun lebih tua aku lima tahun, tetap nampak dewasa dia dengan proporsi tubuh tegap gagahnya. Tingginya tidak setinggi bang Ken, tapi tidak lebih pendek dari papah Adi. Papah Adi pun kisaran seratus tujuh puluh, tapi tidak lebih seingatku. Ya Gavin seukuran ayahnya, papah Adi.
__ADS_1
Aku berkeliling sejenak, dengan membeli jajanan untuk di rumah. Gavin masih merokok di bawah pohon, ia berjongkok dan bermain ponsel.
Kedepannya bagaimana kita ini?
Pikiranku jadi banyak negatifnya, karena mengetahui hal ini semua. Maksudnya, bang Ken puber kedua di usia empat puluh tahunan. Jika Gavin sampai di puber keduanya, aku akan diapakan? Kan aku sudah nenek-nenek.
Kemungkinannya adalah dibuang dan tak dirujuk kembali karena sudah tidak menarik lagi. Di masa muda, memang kita cocok karena sama-sama masih terlihat menarik. Tapi, khawatirnya aku sengsara di usia tua.
Aku tak berharap itu terjadi, tapi aku takut hal itu terjadi.
Aku tak memikirkan maut datang pada siapa dulu. Tapi aku khawatir, aku dibuang ketika datang masa pubernya. Aku takut dibuang, masa aku sangat membutuhkan perannya karena kesehatanku pasti sudah menurun.
Ia memperhatikanku dari jauh, kemudian tersenyum samar dan melambaikan tangannya padaku. Aku menghampirinya, sambil melihat sekeliling karena banyak orang yang berlalu lalang.
"Kenapa lihatin aja?" Ia menggendong Kirei kembali, saat aku sudah berada di hadapannya.
Kirei selalu ruang dan akrab pada siapapun.
"Aku mikirin kita gimana kalau jadi nikah." Aku tersenyum getir.
Ia memandangku dalam, pandangan ini yang selalu membuatku terpikat padanya.
"Ayo kita obrolin keseriusan kita. Tapi ayo PAP jelek dulu bareng-bareng." Ia langsung berdiri di sampingku.
PAP, oh PAP. Kau menghiasi hubungan kami.
"Kirei senyum terus, muka jelek tuh kek kak Cali tuh, Dek." Gavin memotret lagi wajah Kirei yang berada di dekapannya.
"Di sini ajalah ngobrolnya." Mobilku pun ada di bawah pohon rindang ini.
"Oke…."
Kami duduk di trotoar pembatas jalan dan taman yang tidak boleh diinjak. Pemandangan kami, motor yang berlalu lalang dan para pedagang yang diserbu pembeli.
__ADS_1
...****************...