Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD153. Mencari saran terbaik


__ADS_3

"Maaf, Mah. Ria tak bilang apapun, bahkan tentang anak yang dikandungnya. Aku kecewa, aku murka, aku tak terima Ria berlaku curang di belakang aku. Aku pun tak tau, kalau aku yang salah kira. Karena apa? Karena dia pun tak pernah jelaskan apapun."


Kini, semua mata tertuju padaku. Aku pernah menjelaskan, aku pernah mengatakan yang sejujurnya. Tapi apa? Ia tetap menurutku macam-macam. 


"Sama aja, Dek. Dibolak-balik sampai ending, dua-duanya sifatnya sama, parahnya lagi tak pada nyadarin. Kita tanya ke perempuannya pun, dia balikin lagi masalah ke Ken. Lain Canda lain Ria, lain pula Givan sama Ken. Salah satu penyebab perpecahan mereka yaitu komunikasi, Abang yakin itu. Bedanya, mereka akhirnya nyadarin sedangkan mereka tak." 


Aku menoleh ke arah papah Adi yang tengah menilaiku dan bang Ken itu. Apa benar aku sama dengan bang Ken? 


"Sini duduk, Dek." Abi Haris bangkit dari tempatnya. Kemudian, ia duduk di sofa di samping papah Adi. 


Aku mengangguk, aku menduduki kursi yang diduduki abi Haris tadi. Aku bisa melihat bang Ken dengan jelas, aku berada dekat di jangkauan mamah Dinda. 


"Tak saranin kalian untuk berpisah, Mamah berharap kalian kembali bersatu." Mamah menghela nafasnya dan melirik ke arah bang Ken. "Tapi ada Hala yang kau permainkan di sini, kau tak bisa mainkan perempuan untuk alat yang akan merusak nama baik kau sendiri. Kau terus terang aja, kau pakai Hala untuk jebak Ria masuk kembali ke kehidupan kau kan? Kau mau Ria datang dan buat hubungan kau dan Hala hancur kan? Kau mau Ria jadi perusak hubungan kau dan Hala. Kau pun, berniat untuk tidak memihak siapapun dan membiarkan mereka berebut kau kan?"

__ADS_1


Bajingan! Ia malah mengangguk saat mamah Dinda menuduhnya seperti itu. 


"Itu alasan terbesar Mamah pertahankan Ria dan Kirei tetap di rumah. Kau tak begitu berharga untuk diperebutkan, Ken. Sekali lagi Mamah bilang, kau harus sadar diri. Memang kau sendiri yang ngikat Hala, bukan Hala yang maksa kau untuk mau sama dia. Terus kau jadikan Hala sebuah alat, untuk memancing Ria memperebutkan kau begitu?" Nada lembut mamah Dinda terdengar begitu kasar. 


Memang yang dibilang tante Salwa benar, bang Ken berhati kecil. Ia serapuh itu, bahkan menangis tergugu dengan memalingkan wajahnya. Ia lemah, tapi ia tidak ingin terlihat lemah. 


Mulut tajam mamah Dinda, pasti membekas sekali di hati bang Ken. Melihatnya seperti ini, sampai ibaku turun padanya lagi. 


"Manusia itu tak luput dari salah dan dosa, termasuk Mamah juga. Kalau memang nasehat Mamah kurang baik, kau hanya perlu ambil yang sedikit benarnya aja." Mamah mengusap air mata bang Ken. 


Lalu, mamah Dinda menoleh ke arahku. "Kakak kau dan ipar kau pun udah capek, Ria. Dia punya kehidupan sendiri, dia atur kau karena merasa kah perlu membenahi kehidupan kau. Kakak ipar kau adalah orang yang kapokan, dengan tindakan kau yang nikah diam-diam. Abang ipar kau trauma betul untuk ngatur kau, tapi dia kasian sama kau. Dia kasian, karena kau anaknya ibu Ummu yang sebatang kara. Kalau dia tak lihat kau keluarga dari istrinya, mungkin kau pun tak dipedulikan dia lagi. Cepatlah bangkit, buat dia sedikit bangga kau bisa bangkit dari keterpurukan. Kau tak akan bisa balas jasa-jasa orang baik di sekitar kau, cukup kau buktikan bahwa kau kini bisa bangkit dan berhasil dengan usaha kau sendiri. Ngeratapin Ken terus untuk apa? Dia pun bingung memikirkan dirinya sendiri."


"Apa aku tak bisa balik sama Ria, Mah? Kasian Kirei." Aku teralihkan dengan suara lemah dan sendu itu. 

__ADS_1


"Apa kau bisa buat nama Ria tetap baik, dengan lepasin Hala? Apa kau bisa tata kehidupan kau, sikap kau dan pola pikir kau? Kau yang punya masalah sama Hala, tapi Mamah yakin keluarga Mamah yang akhirnya dipandang jelek sama Hala nantinya. Dia beranggapan, bahwa status sosialnya tak sederajat dengan kami, maka dari itu kami bisa seenaknya mempermainkan dia. Kau harus tau, semua orang kena imbasnya karena tingkah kau."


"Saran Abi sih, talak Ria aja. Kalau memang akhirnya berjodoh kembali, ya kalian pasti kembali dengan cerita baru kek Canda dan Givan. Kalau cerita ini memang tak baik untuk kau dan Ria, abi berharap kalian bisa menjadi partner orang tua yang baik meski tak satu atap. Masa depan Ria masih panjang, Ken. Kau harus tau itu," timpal abi Haris setelah mamah Dinda berkata. 


"Aku tak mau pisah, Bi." Bang Ken tergugu dalam tangis. 


Benarkah ia selemah itu? 


"Saran Papah sih, ya udah masa tenang aja dulu. Kau fokus sembuhkan diri kau, Ria sembuhkan ekonominya. Terus terang aja, Ken. Susu anaknya pertiga hari itu tiga ratus ribu, masih kuat nyusu karena masih bayi, dia belum makan apa-apa. Ditambah, perut Ria ini perut karet. Memang kami tak keberatan, tapi Ria harus bisa mandiri untuk masa depannya. Kalau dia tak bergerak sekarang? Apa nanti nunggu kita tiada baru gerak? Kan jangan begitu, mumpung kita masih hidup, bergeraklah biar diarahkan semisal ada yang salah dalam langkah. Dalam waktu tiga bulan masih belum ada perubahan, kau wajib kasih Ria status janda. Bukan berarti Papah berpihak di salah satunya, tapi Papah pernah dapat pilihan serupa waktu dulu dengan masalah Papah sendiri. Kalau jodoh, pasti akhirnya kalian bersama meski menguras emosi. Kek waktu Papah sama Mamah dulu." Papah Adi tersenyum samar, setelah mengemukakan pendapatnya. 


Bang Ken terlihat tengah berpikir keras, dengan memandang plafon kamar ini. Apa ia akan setuju, dengan saran dari papah Adi? Atau, ia memilih untuk mengambil keputusan berpisah sekarang? Aku pun menanti jawabannya, meski jawabanku diperlukan juga. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2