Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD197. Diketahui Ken


__ADS_3

Kirei sedang apa itu? Kenapa ia begitu mengagumi wajah Gavin? Ia tengah disangga oleh Gavin, dengan wajah mereka saling berhadapan. 


Pantas saja mamah Dinda tahu jika aku ditinggal Gavin di parkiran, orang bang Ghifar ada di sini. Ia tengah menyuapi Hifzah makan, padahal ia baru pulang kerja. 


Bang Ken ada di kursi teras, ia duduk di belakang Gavin yang duduk di lantai dengan bersama Bunga. Jarak posisi kursi yang diduduki bang Ken dan jarak Gavin, mungkin sekitar dua keramik. 


"Kirei, pulang yuk?" ajakku langsung. 


Kirei tidak menoleh, tapi tiga laki-laki dewasa yang menoleh. Gavin nampak masih marah, karena ia langsung membuang wajahnya lagi. 


"Kak Ria…." Bunga berlari menyambutku. 


Aku tersenyum, kemudian mengusap kepalanya. Rambutnya halus dan berkilau, Bunga amat terawat meski pada tangan pengasuh kepercayaan keluarga ini. 


"Adek Kirei senyum terus, lucu." Bunga menunjuk Kirei. 


"Iya, Kirei memang ramah. Disapa aja, pasti langsung senyum." Aku ditarik Bunga untuk duduk di dekat Kirei, yang artinya dia sebelah Gavin. 


"Nih, Kirei!" Gavin memberikan Kirei ke pangkuanku. 


Kok begitu caranya bersikap? 


Aku masih diam saja, aku bingung akan bagaimana padanya. Meski sudah diberi tahu oleh bang Ghifar, aku bingung dari mana mengawalinya. 


"Dek, ayo ke bunda. Ayah mau ada perlu sama Kak Ria." 


Mendengar penuturan bang Ken, baju bagian pinggangku langsung ditarik oleh Gavin. Hingga bang Ken tak terlihat lagi karena mengantar Bunga ke ibunya, Gavin masih mencekal bajuku. 


"Apa sih? Aku ditinggal tadi, sekarang begini." Aku melirik tangannya yang berada di pinggangku. 


"Awas ya kau! Aku tak main-main! Setelah kau diamkan aku, kau ditanya tapi tak jawab kek tak punya mulut, sekarang mau buka mulut sama mantan suaminya!" Suaranya lirih menekan. 


"Ya kau sadar tak, kalau kau yang salah. Masa begitu ke aku? Betulkah? Kok maksa-maksa aku? Masa begitu ke perempuan?" Sesuai petunjuk bang Ghifar saat di mobil tadi. 


Orang yang memberi petunjuk malah melangkah menjauh dari kami. Ia pura-pura melihat-lihat burung pelihara papah Adi, dengan membujuk anaknya untuk membuka mulut. 


"Kau marah?"


Jadi, ia benar tidak sadar? 

__ADS_1


"Ya iyalah! Masa begitu ke perempuan?" Saat aku mengatakan hal itu, ia hanya berkedip polos beberapa kali. 


Hai, minim sekali kepekaan laki-laki. 


"Kenapa tinggalin aku? Untung ada bang Ghifar." Aku. Melirik ke arah bang Ghifar. 


"Aku tersinggung kau diam aja ditanya, kek tak punya mulut." Ia tertunduk menatap rumput yang terpangkas rapi. 


Ia marah karena aku diamkan, bukan karena keinginan bejatnya tak terpenuhi. Jadi yang kemarin salah kira, ternyata ini loh jawabannya. 


"Aku marah lah!" Aku memandang wajah Kirei yang bingung melihat kami berdebat. 


Baru juga ditatap, Kirei sudah nyengir saja. Hilang lelahku melihat senyum cerianya. Rasanya, tak sia-sia bekerja untuk anak yang selalu memberi semangat dengan senyumnya begini. 


"Dek, ikut Abang dulu," ujar Bang Ken mengalihkan perhatianku. 


"Tunggu." Gavin menahan tanganku. 


"Apa?" Aku menoleh ke arahnya. 


"Aku minta maaf, aku tak tau kau tak suka dipaksa." Suaranya lirih, dengan mata sayu yang menatap dalam. 


"Aku tersinggung, aku tak suka diabaikan. Ditanya itu jawab, bukan diam. Marahnya jangan diam lagi, aku tak ngerti." Kentara sekali tatapan cintanya. 


Aku bisa melihat perbedaan dalam tatapannya padaku, dengan dirinya menatap orang lain. Ia memang tidak bisa romantis dalam bertutur, bahkan cenderung kasar dan nyelekit karena berterus terang. 


Tapi itu caranya menjadi diri sendiri mengungkapkan perasaannya pada wanitanya. Ia bisa saja pura-pura, tapi ia lebih memilih menjadi apa adanya untukku. Aku pun senang, karena kelak nanti bersama aku sudah tidak kaget dengan sifat dan watak aslinya. 


Aku mengangguk samar. Mataku masih terkunci oleh pancaran cinta darinya. 


"Maaf, Vin. Boleh pinjam Ria sebentar, ada yang mau dibahas." Suara bang Ken sudah berada di dekatku saja. 


"Tak perlu dibawa, kau bisa langsung ngomong aja, Bang." Gavin melirik ke arah belakangku. 


"Kenapa begitu?" Bang Ken jongkok di belakangku. 


"Ya ada kepentingan apa? Aku harus tau juga." Ia mulai berani mengklaimku sepertinya. 


"Ini tak ada sangkut pautnya sama kau." Bang Ken masih dalam nada wajar. 

__ADS_1


"Ada, Bang. Bulan depan, aku yang ngasih makan dia dan anak kau." Pintar sekali pemilihan bahasanya. 


"Maksudnya???" Bang Ken sampai menepuk bahuku. 


Kirei melongo saja melihat wajah ayah kandungnya. Entah apa yang enak ini pikirkan. 


"Rencana akhir bulan ini akad dan resepsi," terangku kemudian. 


Ia tertawa sumbang. "Kan? Udah kebaca. Memang dari awal ribut pisah, karena ada feel kan? Sadar diri kok, mamah dan papah dukung karena kau anaknya sendiri." Bang Ken memandang lurus Gavin. "Sedangkan aku cuma anak angkat, anak sahabatnya. Pasti jelas tak dibela, ketimbang dengan anak yang dilahirkan dan dibesarkan sendiri." Ia menepuk dadanya. 


"Apa urusannya? Aku siap nanggung beban hidup dan beban dosa anak dan mantan istri kau loh, aku ringankan beban kau. Masalahnya di mana?" Gavin menyatukan alisnya. 


"Masalahnya, hubungan kau terjalin di masa Ria masih jadi istri aku!" Bang Ken sudah berani bermain fisik. Ie menekan dada Gavin, sampai Gavin sedikit terhuyung dari posisinya. 


"Yang benar? Mak bapak aku yang penuhi perutnya, kebutuhan susu anak kau juga, diapers pun pakai yang elit karena kulit anak kau sensitif. Memang suami begitu? Ke mana kewajiban nafkahnya?" Gavin cukup cerdas dalam memilih jawaban. 


"Aku kasih, Ria nolak." Ia menyentuh dadanya sendiri. 


"Kan yang ngatur mak bapak aku, kasihlah ke mereka. Ria kan numpang hidup di sini, tak perlu harus langsung ke tangan Ria. Sekarang udah cerai kan? Atau kau mau rujuk lagi? Mumpung belum terlanjur, ambil aja kalau mau rujuk."


Aku shock mendengar ucapan Gavin. 


"Kau orang pertama yang tau, kalau Riska hamil. Kau meledek? Kau sengaja bilang gitu, biar aku terkesan buang Ria dan kau pungut?" Wajah seram bang Ken sudah muncul. 


Tangan Kirei terulur ke arah Gavin. Ia bahkan menarik tubuh Gavin semampu jangkauan tangan kecilnya. Apa Kirei takut dengan amarah yang terpancar di wajah ayahnya? Sehingga ia mencari perlindungan pada laki-laki yang ia pikir bisa melindunginya? 


Gavin pun mengerti, ia langsung mengambil Kirei. Kirei begitu manja, ia langsung bersandar di dada bidang Gavin. 


"Tak meledek. Mumpung belum banyak biaya yang keluar, kau bisa ajak dia rujuk kalau dia mau. Daripada aku udah booking ini itu, nanti gagal karena kalian mau rujuk, kan rugi aku." 


Aku merasa Gavin seperti main siasat dalam ucapannya. Ia ingin bang Ken mengucapkan sendiri bagaimana keadaannya, lalu bagaimana ia melepasku untuk dirinya. 


"Silahkan, tinggal nikah-nikah aja! Aku tak ada hak untuk ajak dia rujuk, karena kondisi aku yang serba bingung begini." 


Gila, gila. Anak mamah Dinda bukan main. Aku bisa melihat senyum miringnya terukir sekilas. Ia mencoba melumpuhkan lawannya dengan fakta yang ada. 


"Tapi asal kau tau, Vin. Ria ini….


...****************...

__ADS_1


__ADS_2