
"Jadi, minta aku pulang untuk mastiin hal ini aja?" Urat marah Gavin terlihat jelas.
"Kau pikir gimana?!"
Eh, takutnya aku melihat perempuan ini. Aku memilih mengambil Kirei, kemudian meninggalkan mereka. Kebetulan sekali, berpapasan dengan mamah Dinda yang muncul dengan sutilnya.
"Ne…." Diikuti dengan Cala yang berjalan merambat di tembok dan merengek.
"Sini sama Tante." Aku mendekati Cala, kemudian menuntunnya untuk berjalan dan duduk di sofa ruang keluarga.
Ia ada di tembok yang baru keluar dari area dapur. Mungkin ia ada di sana dan tengah membantu neneknya memasak.
"Ne'.....," pekik Cali, yang duduk di lantai ruang keluarga. Ia baru saja dilewati oleh neneknya begitu saja.
Anak laki-laki itu muncul, ia keluar dari dapur dengan membawa setangkai kangkung. Random sekali anak-anak ini.
"Nenek mana?" tanya Elang, dengan dahi yang mengkerut.
Ia putih, tidak seperti Gavin yang hitam manis. Tidak ada mirip-miripnya, benar katanya hanya anak sambung. Ya mana tahu kan ia menghamili istri orang.
"Tuh, ke depan. Sini aja sama Tante." Aku menepuk tempat di sampingku.
Ia memperhatikan ke arah depan. Sejurus kemudian ia berlari dan berteriak, "Ayah….".
Indah sekali suara rindu tersebut. Hatiku langsung terenyuh, mendengarkan teriakan rindunya anak itu pada sosok panutan dalam hidupnya.
"Ya kau mikirnya gimana, Vin?! Aku marah taun keputusan kau begini."
Aku penasaran dengan seruan Ajeng.
"Hei, aku bebas."
Lamat-lamat aku mendengar suara suamiku.
"Kau sirikan aku? Tapi dengan mudahnya kau nikah lagi secara resmi." Suara Ajeng bercampur dengan tangisan.
Aih, jadi ia mempermasalahkan pernikahan kami kemarin yang memang foto-fotonya full di sosial media Gavin.
"Gini ya? Kalau kau tak buang anak kau di teras, kemungkinan besar kita rujuk setelah anak kita lahir itu ada. Tapi dengan tindakan kau yang seperti itu, kau berhasil lumpuhkan pikiran aku tentang seorang Ajeng. Kau tau, bahkan aku sulit menerima kehadiran bayi kita. Karena apa? Karena aku tanpa persiapan apapun harus mengurus seorang bayi. Kau harus tau gimana depresinya aku, untungnya anak kau tak mati di tangan aku. Kau pantas bilang aku sia-siakan anak kau, karena memang aku tak tau cara membuat bayi kau nyaman dalam tekanan keluarga aku yang nanya ini anak siapa. Kak Canda pulang dari rumah sakit, dia habis selesai bersalin juga. Terus bayi kau sekarat, dia stress, trauma dan dehidrasi. Tengok bayi kau begitu, kakak ipar aku itu susuin bayi kau dengar air dari surga itu. Dia ASIkan anak kau, hari itu juga anak kau jadi anak susuan kak Canda karena rasa ibanya. Aku bisa apa? Aku cuma bisa ngurung diri dengan ngutuk figur seorang Ajeng, yang udah tega dan segila ini. Aku terus bertanya-tanya, maksud kau apa. Tapi masa aku datangi kau di Brasil, kau terlalu banyak mulut dengan alasan kau. Aku cuma bisa menyimpulkan, kalau memang kau ingin kembali bersama ayahnya Elang." Napas ngos-ngosan Gavin sampai terdengar dari tempatku.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana? Sampai sekarang, anak kau dekat ke kak Canda karena dia merasa kak Canda adalah ibunya. Aku tak bisa dekati anak kau dan boyong anak kau untuk ikut aku, apalagi bang Givan keberatan dengan keinginan aku. Dia bilang, kita bareng-bareng mengurus aja. Coba kau dekati anak kau, bawalah pergi kalau dia mau."
Aku yang shock mendengar penuturan Gavin.
Tak lama kemudian, Ajeng muncul dan langsung berjongkok di depan Cali. Aku sempat was-was jika sampai kakaknya Kirei itu mau. Namun, nyatanya Cali langsung merakak berlindung masuk ke bawah meja ruang keluarga.
Antara lucu dan entahlah. Aku memilih untuk menahan tawa, kemudian pura-pura fokus pada Cala yang berpegangan pada lututku.
"Yayah," ucap Cala dengan wajah sendunya.
"Tanya nenek, mana yayah gitu." Aku berbicara dengan Cala dan menatap matanya.
Dasar, Givan kecil.
"Nek, yayah Pan," rengek Cala semakin menjadi.
"Yah, yahhhh…." Cali yang menangis lepas ketakutan di bawah meja.
Aduh, kasihan sekali tidak ada yang menolongnya.
"Sini sama Nenek sini, yuk yayahnya ditelepon." Mamah Dinda muncul, dengan sutil yang masih dibawa-bawanya saja.
Kebetulannya sekali, ponselku berbunyi. Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan melihat siapa yang menelponku.
Otaknya dipakai.
Gavin menelponku, mungkin ia tahu anaknya terjebak di kolong meja dan ia mau denganku jika ada ponselku saja.
Terbukti, bukan cuma Cali yang mendekatiku. Cala pun merambat putar arah, untuk menghampiriku juga.
"Yayah, yayah…." Kedua anak itu langsung excited mendekatiku.
Encer juga otaknya ayang Apin.
Ajeng sepertinya malu sendiri, atau entah apa yang ia rasa. Ia bangkit dari jongkoknya, kemudian diajak mamah Dinda ke dapur.
Ayang Apin muncul, dengan Elang yang menggelayuti lehernya. Banyak sekali anaknya, aku jadi teringat dengan bang Givan.
Kirei menangis lepas dengan mengulurkan kedua tangannya ke arah Gavin. Sudah ia tengah flu, ia banyak menangis lagi.
__ADS_1
"Sini, anak Ayah." Gavin duduk di sampingku dan mengambil Kirei.
Elang berbagi tempat dengan Kirei. Ia diam saja, saat kaki Kirei menendangnya dan tangan Kirei mendorongnya.
Kau salah, Kirei. Anak laki-laki itu pun anak ayah sambung kau, kedudukan kalian sama. Kalian tetap mahram dengan ayah Gavin, meski tidak ada lagi hubungan suami istri antara ibu kalian.
"Yah."
Dua anak kembar ini, mereka berebut ponselku yang menampilkan wallpaper fotoku sendiri itu. Mereka terus berteriak memanggil ayah Pan.
"Maaf."
Aku kaget karena pipiku mendapat kecupan dari bibir basah.
"Bingung kali aku, Yang. Aku kira, mau ada hal apa. Gila aja, mau debat yang udah-udah." Gavin berbisik dan bersandar pada bahuku.
"Tapi seneng kan?" Aku melingkarkan tanganku melewati dagunya.
"Ck, dikiranya nganu seneng tuh. Tabah-tabahkan hati lah, rumah tangga kita diuji menjelang tamat. Bang Ken ngeduda, Ajeng ungkit-ungkit. Padahal kita lagi enak-enaknya." Helaan napasnya menembus kerudung bagian leherku.
"Suruh author minta jodohkan bang Ken sama Ajeng aja. Atau, kita pisah aja? Abang balik sama Ajeng, aku balik sama bang Ken."
Detik itu juga, pipiku langsung digigit olehnya. Aku tertawa lepas, karena malah geli dengan tingkahnya.
"Kau harus hamil detik ini juga, aku tak mau tau. Pokoknya hamil aja, daripada pisah." Ia malah bersembunyi di ketiak bagian belakangku.
"E** dong aku." Aku berbicara lirih sambil melirik ke arahnya.
"Ayo, mumpung lagi pening juga nih. Sekalian tidur siang kan? Keknya kak Riska belum sampai juga. Ini cucu-cucu, titip-titipkan ke neneknya." Gavin malah mengusel ke dadaku bagian samping.
"Iiih, meme…." Cala menunjuk wajah Gavin.
Gavin langsung menegakkan punggungnya, kemudian memamerkan giginya. Ia malu karena anak kecil mengerti kemesumannya.
"Nek, nitip anak-anak dulu. Aku mau ada perlu di kamar sama Mbu Riut," seru Gavin cukup lepas.
"Perlu apa?! Ng*** paling."
Aku langsung menoleh ke belakang, mendengar sahutan mamah Dinda tersebut. Ya ampun, aku dibuat shock dengan ucapan ibu mertuaku sendiri.
__ADS_1
...****************...