Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD99. Pengakuan Ria


__ADS_3

“Kau pikir aku percaya karangan kau, Ria?“ Dika malah terkekeh kecil.


Ia gila!


“Memang menurut kau aku ini gimana? Keluarga aku pun gimana?“ Aku akan memperjelas kekeliruannya.


“Bukan aku pandang bulu. Tapi menurut aku, kau dari kalangan keluarga berada. Kau asli orang sana dan agama kau bagus juga. Aku juga yakin, kalau pendidikan kau luar biasa, otak kau cerdas, buktinya kau masih nimba ilmu. Karir kau pun bagus kan? Aku baru tau dari kakak ipar kau, ternyata kau CEO di perusahaan salah satu saudara kau.“


Jika ia seperti itu, berarti dirinya lah yang pandang bulu. Ia mau denganku, karena ia tahu aku unggul dari perempuan yang pernah ia kenal. Aku bukan menyombongkan diri, tapi sepertinya memang seperti itu yang ada di otaknya.


“Terus? Kalau aku orang tak punya, agama aku buruk, karir aku tak bagus, otak aku tak cerdas, kau tak mungkin ada untuk nyusul aku ke sini kan?“


Nah kan? Ia langsung diam membisu.


“Udahlah, Dik! Seleksi itu penting, tapi tak terlalu pemilih begini. Aku bukan orangnya, karena aku tak sesuai harapan kau.“ Aku menghempaskan punggungku ke sandaran sofa. Kemudian, aku menatap lurus ke depan.


“Laki-laki itu, diperkenankan untuk memilih. Makanya kenapa, kami para laki-laki pengen seorang wanita baik-baik untuk dijadikan sebagai ibu dari anak-anak kami,” jelasnya yang membuatku melongo.


“Aku bukan yang terbaik untuk kau dan masa depan kau!“ jawabku ketus.


Bagaimana ya caranya untuk menolak laki-laki ini.


“Coba kasih tau satu keburukan kau.“ Ia malah menantangku rupanya.


“Aku tak keibuan.“


Dari pengakuan Keith, ia lebih memilih wanita yang keibuan.


“Tak masalah, Ria. Semua orang bisa belajar untuk itu.“ Ia mencomot makanan dan menikmatinya.


Aku tak mungkin membeberkan semua aibku. “Semua ijazah pendidikan aku, itu ijazah paket. Dari SD, SMP, SMA,” akuku kemudian.

__ADS_1


Ia menoleh padaku. Lalu, ia memberikan semangkuk bakso padaku. “Udah, tak usah dijadikan masalah. Kita tak punya alasan untuk saling menjauh kan?“


Alasanku karena sudah bersuami.


Huh, andaikan mudah mengatakan seperti itu.


“Boleh aku tempati satu kamar di sini untuk istirahat?“ Ia masih menyantap makanannya.


“Ada kamar lain, tapi itu kamar adik dari kakak ipar aku. Dia yang punya rumah di sini dan aku dapat wejangan dari orang kepercayaan abang ipar aku, untuk tak tempati kamar itu untuk menjaga kesopanan.“ Takutnya ada suatu privasinya yang tak sengaja terbongkar.


“Kalau begitu, apa maksud kau kita harus sekamar?“


Laki-laki semuanya sama saja!


“Dik, aku paham! Lantas, untuk apa kau cari perempuan baik-baik, kalau akhirnya kau berniat untuk ngerusaknya?!“ Aku terpancing emosi.


“Hei, Ria. Kita akan menikah, bukan? Kau tak perlu takut, karena aku tak akan lari. Kau pun harusnya paham, dari cerita aku sebelumnya, bahwa bukan aku yang ninggalin pacar aku.“ Terlihat jelas menurutku, jika memang Dika menginginkan sesuatu dariku.


“Tak begitu juga. Tapi maksud aku kan, sekarang atau nanti kan tetap orangnya adalah aku.“


Intinya sama saja!


“Aku udah tak perawan.“


Dahinya langsung mengkerut. “Hei, Ria. Kau pasti jatuh dari sepeda kan?“


Sepertinya, ia begitu kaget mendengar kabar itu. Aku yakin, ia ini adalah kekecewaannya atas perjuangannya untuk menemuiku.


“Tak, aku udah kenal s**s,” jelasku cepat.


Ia terdiam. Sorot matanya terlihat tengah berpikir, kemudian ia mengusap wajahnya sendiri.

__ADS_1


“Ria, aku tak percaya dengarnya.“ Ia menoleh dan memandang ke arah lain.


“Jadi maksud kau, kau perlu pembuktian atas hal itu kan? Kau tetap ingin s**s untuk membuktikannya begitu? Oke begini aja, Dik. Aku punya potretku dengan salah satu laki-laki, ini bukan rekayasa.“ Aku langsung mencari ponselku di tas.


Harusnya sejak tadi begini, terus ia bergegas pergi. Harusnya, tak perlu ada kejadian ia meminta untuk lamaran dan segala macam.


Aku menunjukkan potretku dan bang Ken di atas ranjang. Saat foto ini aku ambil, kondisinya kami baru selesai menyelesaikan pergulatan kami di ranjang. Aku berbantal lengannya, dengan selimut yang menutupi sebatas dada kami berdua.


“Kau gila, Ria!“ Ia memukul lututnya sendiri.


“Ya, aku gila. Makanya kenapa, aku diungsikan. Aku harap, setelah ini kau tak perlu nyusun rencana untuk berkenalan dengan seorang perempuan. Karena yang kau lihat baik dari luar, belum tentu dalamnya segelan. Kau pun perlu tau, bedakan antara kurang minat dan memang dia adalah orang yang bukan perhitungan, bukan pencitraan, atau bukan tentang perempuan yang gila profesi pasangan.“ Mulutku terlampau kasar.


“Aku tak percaya kau begini, Ria.“ Ia menggeleng berulang, ekspresinya terlihat begitu shock.


“Ya, harusnya kau tak percaya. Biar terus kau dipuaskan ilusi dan pendapat kau tentang aku terus menerus. Lagi pun, keadaan kau udah tak perjaka. Kau nuntut perempuan harus benar-benar sesuai kriteria dan persyaratan yang kau inginkan, harus perawan dan harus kau buka sendiri segelnya. Harusnya kau berkaca diri, Dik! Kau bilang, di mana laki-lakinya pasti ingin mencari perempuan baik-baik untuk menjadi seorang ibu dari anak-anaknya. Kau pun harus paham, kalau jodoh itu cerminan diri kau sendiri. Kalau kau pengen perempuan baik-baik, ya kau tengok ruang lingkup kau bergaul itu kek mana? Kalau kau ngerasa bergaul di pesantren, ya mungkin kau dapatkan wanita speak bidadari ahli surga.“ Maafkan aku yang sulit mengontrol mulutku, jika sudah tidak bisa menahan unek-unek yang berada di hatiku.


“Kau nasehatin aku, Ria?“ Ia mendelik dengan tatapan sengit.


“Tak nasehatin kau. Tapi aku tak habis pikir dengan diri kau, Dik. Kau pengen perempuan yang perawan segelan, tapi sebelum sah kau malah kau buka segelnya dulu. Bukannya menjaga, kau malah merusak kalau kek gitu. Kau dapat perempuan baik-baik, tapi kenapa kau rusak? Kan begitu kan? Kalau kau dapat yang baik, ya kau jaga sampai kalian sah. Maaf, bukan aku sok suci. Tapi, aku kesal dengan jenis laki-laki kek kau.“ Aku memandangnya sinis.


“Kau pun harusnya berkaca sebelum mengomentari aku, Ria! Tengok diri kau kek mana, tingkah kau kek mana, kau ngomong seolah kau ini contoh yang patut ditiru. Hei, semua orang punya sisinya masing-masing.“


Apa ia membela perilaku salahnya?


“Aku tak ngaku suci, aku pun berkaca makanya mundur dari kau yang ajak aku untuk nikah. Aku udah minder dari awal, sejak kau sebutkan pandangan kau tentang aku. Aku ini tak sesuai ekspektasi kau, Dik! Aku tau diri dan aku pun tak patut kau pilih!“ Aku mengacungkan jari telunjukku ke arahnya.


“Ohe begitu? Jadi ini alasannya kau dibuang di sini sama keluarga kau yang kaya raya itu? Jadi, kau ini aib keluarga ya? Aku cukup tau aja, semoga aku dihindari oleh orang-orang kek kau!“ Ia mendorong bahuku, hingga aku terhempas dan bersandar paksa di sandaran sofa. Kemudian, ia melewatiku dengan mengayunkan ranselnya saat lewat di depanku.


Bughhh, ransel itu berbenturan keras dengan kepalaku. Ia seperti sengaja dan ia tidak meminta maaf padaku meski menyadari bahwa aku cukup kesakitan karena ranselnya cukup berat dan besar.


Satu fakta yang baru aku tahu dari Dika. Ternyata, ia adalah orang yang kasar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2