
"Hei, hei…. Rupanya pengen tau kelinci duduk aku ya?" Tangannya masuk ke dalam celananya sendiri dan ia seperti mengusap sesuatu di dalam sana.
Tik, tik, tik…. Seperti suara kaca diketuk dengan kunci motor.
"Yang…. Sayang…. Mariam…. Bukain pintu, digrendel dari dalam keknya." Suara Gibran seperti ada di luar kamar. Maksudnya, dari halaman samping rumah.
Detik itu juga, Gavin langsung bergegas pergi. Ia khawatir dilihat Mariam sepertinya, karena ia berada di kamarku. Tetapi, Gavin membiarkan pintu kamarku terbuka lebar.
"Tadi Abang yang kunci, kelupaan kau belum pulang tuh." Itu suara Gavin, setelah suara pintu samping dibuka.
Semua keluarga tahu kode seluruh pintu di rumah ini, termasuk aku. Termasuk, kunci pagar juga. Namun, beda cerita jika digrendel dari dalam.
"Kau belum tidur, Bang?" Gibran langsung menoleh ke arah dalam kamarku, karena ia berdiri di depan pintu kamarku.
"Udah, kebangun." Suara Gavin disertai grendelan pintu yang ditarik kembali.
"Nih, aku bawa roti bakar dua porsi. Dimakan, Bang." Gibran kembali menoleh ke arah dalam kamarku.
Aku jadi tidak nyaman, karena merasa diperhatikan. Gavin lagi, ia sengaja betul tak menutup pintu kamarku.
Aku bangkit untuk menutup dan mengunci pintu. Aku menyempatkan diri untuk melongok ke luar kamar, sebelum menutup pintu kamarku. Terlihat di mataku, Gavin bersandar di sofa dan memegangi kepalanya. Wajahnya nampak begitu kacau, dengan mata yang terpejam rapat.
Apa ia tengah menahan n****nya?
Aku tidak memikirkan banyak hal tentang dirinya lagi, aku langsung menutup dan mengunci pintu kamarku. Aku berencana esok saja, untuk berbicara padanya. Karena hari ini belum sempat, untuk membahas tentang aku yang tidak bisa bersamanya karena bang Ken belum benar-benar melepaskanku.
Pagi kami pun seperti biasanya, tidak membahas tentang aku dan Gavin juga. Kirei sudah dipinjam bang Givan, untuk ikut serta foto bersama keluarganya. Tidak mengerti juga, tidak ada acara apapun tapi mereka foto keluarga.
Untuk informasi saja, anak aku belum memiliki identitas kelahiran. Papah Adi sudah mengusahakan, katanya tak apa meski menggunakan namaku saja. Tapi pihak desa mengatakan, tak apa ditunggu peresmiannya saja. Sedangkan, aku tidak akan meresmikan pernikahan siriku dengan bang Ken.
"Dek, jangan masak lagi hari ini. Abang bosen masakan rumahan, pengen chicken saus spicy yang sepotong sepuluh ribuan tuh." Papah Adi membuka obrolan.
"Aku pengen makan di rumah kak Canda nanti siang, Mah. Semalam udah aku rendam di sana, kemarin bawa dua kilo dari rumah Safa." Gavin menimpali pembicaraan.
Siapa Safa? Sepertinya, itu adalah nama perempuan. Di antara keluarga besar papah Adi pun, sepertinya tidak ada yang bernama Safa.
"Jangan ikut makan tuh, Dek." Papah Adi menatap tajam istrinya.
Ada apa dengan jengkol?
__ADS_1
"Ibu hamil boleh tak ikut makan jengkol, Pah?" tanya Mariam kemudian.
"Boleh kalau suaminya doyan." Papah Adi melirik anak bungsunya.
Memang apa hubungannya dengan suaminya? Kan istrinya yang makan.
"Memang bener bau kah, Pah?" Gibran memicingkan matanya.
Apanya ya yang bau?
"Ya entah-entah itu sih. Cuma kalau ngomong dalam jarak dekat kan, udah semerbak bau mulutnya. Ada penawarnya memang, tapi mesti aja tercium. Bukan rewel sih, itu kan pribadi masing-masing. Tapi tuh bau khasnya kek tersamarkan jadinya, mengurangi kenyamanannya." Papah Adi menatap anak bungsunya.
Sepertinya, itu adalah hal ranjang.
"Makan timun juga, jadi bagian bawah sana baunya agak lain," tambah Gavin kemudian.
"Hei, ini lagi makan. Kenapa malah bahas m***?!" Mamah Dinda menyipitkan matanya menatap semua orang bergantian.
Hai, serius? Bahas milik perempuan?
"Ya Papah duluan, Mah." Gibran menunjuk ayahnya dengan dagunya.
Lucu keluarga ini. Begitu terus siklusnya sejak aku masih baru haid, sampai aku sudah punya anak satu. Seperti tidak ada jarak antara anak dan orang tua, semaunya sudah dibahas sesuai obrolan mereka saat itu juga.
Sudah setengah tujuh. "Mah, aku berangkat ya?" Aku bergerak untuk mengucek piring kotorku.
"Ati-ati, Dek."
Aku hanya pamit pada mamah Dinda dan papsh Adi, setelah itu aku langsung tancap gas dengan mobilku yang sudah berfungsi dengan baik. Biaya servis mobil ini, sudah dicover oleh Gavin.
Untuk materi, keluarga ini memang tidak pernah hitung-hitungan. Makan setiap hari saja, aku tidak pernah bayar istilahnya.
Pekerjaan sudah lumayan lega, jam sebelas siang aku sudah bersantai. Namun, aku selalu berusaha produktif seperti yang diajarkan bang Givan. Aku selalu mencari pekerjaan untuk esok, agar esok harinya aku tidak terlalu repot.
"Permisi…. Paket…." Laki-laki berkaos itu langsung masuk begitu saja ke dalam ruang kerjaku yang berukuran tiga kali tiga meter ini.
"Paket! Paket!" Aku memandangnya kesal.
Ia cengengesan dan melepaskan jaketnya. "Aku bawa jengkol, aku abis masak-masak sama kakak ipar Cendol."
__ADS_1
Adik iparnya saja suka meledek nama julukan untuk kakakku itu. Tapi memang mbak Canda sefrendly itu untuk adik-adik iparnya.
"Kau doyan kah, Kak?" Ia membukanya dan menaruhnya di atas meja kerjaku.
Tengah pedekate rupanya. Pedekate, bawanya jengkol. Ke Mixue kek, atau ke KFC. Agak lain anak papah Adi ini memang.
"Kau buat pakai cinta tak?" Aku melongok ke dalam wadah makanan tersebut.
"Oh, tentu tidak. Bumbunya malah aku tambahkan ***u." Ia tersenyum lebar.
"Dodol!" Aku tertawa geli.
"Nanya cinta di masakan, kek apa aja?" Ia duduk di kursi depan mejaku.
Aku hanya menyahutinya dengan tawa ringan saja. Mbak Canda memang mengirimkan pesan chat padaku, ia menanyakan aku mau tidak jengkol ini. Kalau aku tidak mau, katanya akan dibawa ke Riyana Studio. Aku membalas, aku mau dan tolong simpan sedikit untukku. Aku tak minta diantarkan.
"Nasi tak bawa kah?" Aku menyemprot tanganku dengan hand sanitizer.
"Tak, dimakan itunya ajalah. Terus ayo keluar, aku mau ajak makan ke rumah makan padang."
Kencan rupanya. Kenapa malah di rumah makan padang? Memang tidak ada romantisnya.
"Kenapa sih tak di KFC gitu?" Aku bertopang dagu dan memperhatikan wajahnya.
"Memang kenyang? Aku sih tak kenyang."
Eh, bukan kencan rupanya. Aku terkekeh, sedangkan dia hanya cuek saja. Ia pelawak rupanya, karena membuatku banyak tertawa sedangkan ia tidak tertawa.
"Kenapa tak bawa anak kau?" Aku mengambil satu buah jengkol balado dari wadahnya.
"Anak aku? Anak bang Givan kali. Sama aku tak pernah mau, sulit betul dekati Cali sejak bisa merangkak. Ini aja aku masak sama biyungnya, aku dilempari mainan terus sama dia. Kek ngusir, kek sengaja buat aku tak betah di sana." Gavin duduk bersandar dengan kedua kaki terbuka lebar. ia tidak menghadapku, ia menghadap menyerong menatap pendingin ruangan yang berada di pojok kanan tempatku.
"Jadi, kalau kau nikah Cali tak dibawa?" Aku mengunyah jengkol ini.
"Lihat nanti itu sih. Kak Cendol berat sama Cali, Cali pun kek ngerasa kak Cendol ini ibunya. Anak susuan soalnya, lebih erat dari anak asuh. Kalau kau ibunya, memang kau bisa urus juga? Kau tak nampak keibuan."
Bagaimana ya pikirannya?
"Memang kau nampak kebapakan?!" Aku melemparkan ucapannya.
__ADS_1
...****************...