Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD38. Permainan


__ADS_3

Hawanya sudah terasa agak lain. Keith lebih sering menaikturunkan jakunnya, dengan memalingkan wajahnya ke arah lain ketika baru masuk ke ruanganku. Aku tahu, pasti alasannya karena adanya bang Ken di sini.


“Keith, kau diminta tetap ke rumah sama bang Givan. Nanti aku atur untuk fasilitas tempat melukis kau, biar kau betah di sana. Kau cuma perlu ke galeri satu kali seminggu aja.“ Aku langsung membuka obrolan di sini.


“Tak bisa ada dua raja dalam satu istana, Ria.“ Dinginnya suara itu. Seperti ada kekesalan yang terpendam dalam ucapannya.


Begitu tidak sopannya, bang Ken malah terkekeh kecil. “Raja yang satu lagi akan pergi dengan ratunya, Keith. Kau tenang aja.“


Sorot tajam Keith langsung berpusat ke arah bang Ken. Aduh, semoga mereka tidak baku hantam.


“Ria….“ Keith menoleh ke arahku, pandangannya seolah tengah menuntut penjelasan dariku.


Tidak semua orang suka dengan rencana kita. Aku diajari oleh orang-orang sukses, untuk tidak mengatakan rencana kita yang belum terencana.


“Aku dikirim bang Givan ke Banjarmasin.“ Aku berbohong.


“Tak. Dia ikut aku pulang ke Banjarmasin.“ Pernyataan bang Ken sungguh membuat suasana mencekam.


“Terserah kau, Ria.“ Keith beranjak dari tempat duduknya.


Ia akan pergi.


“Keith, kau dengar aku dulu. Bang Givan punya amanat untuk kau.“ Aku mengejarnya yang sudah bergerak tiga langkah.


“Kalau begitu, aku berhenti dari bang Givan.“ Ia tidak menghentikan langkahnya.


Aku melangkah semakin cepat, agar bisa menyusulnya. “Kau harus ingat, Keith. Perjanjian dengan bang Givan, itu perjanjian mati.“ Ini adalah perjanjian tangan kanan, seperti orang kepercayaan.


Dunia bisnis ini rumit, kejam dan tidak ramah.

__ADS_1


Ia menghentikan langkahnya sejenak. “Kalau begitu, itu urusan aku sama bang Givan. Kau tak perlu ikut campur, Ria. Urus, urusan kau sendiri,” ucapnya tanpa menoleh padaku sama sekali.


Ia marah padaku? Ia kecewa padaku?


Aku langsung mengejarnya yang keluar dari ruanganku. Aku belum menyelesaikan ucapanku, aku belum tuntas dalam berbicara. Yang ada, nanti rasanya mengganjal terus di hatiku.


“Keith…. Keith….“ Aku mencoba menyetarakan langkah kakinya.


“Keith Malik!“


Hufttt…. Akhirnya, langkahnya terhenti juga.


“Cepat selesaikan ucapan kau!“ Keith pasti tahu, tentang aku yang akan nyericos sampai kosa kata yang akan aku ungkapkan sudah habis.


“Bang Givan minta kau carikan supir yang mau tinggal dan jaga rumah. Bang Givan minta kau tinggal di sana, dia tak mau setiap kali dia nelpon, kau selalu ada di galeri.“ Terus apalagi ya?


“Ya, keknya…..“ Aku pun ragu, sepertinya ada yang kelupaan.


“Dek…. Adek….“ Suara bang Ken semakin mendekat.


“Saudara Abang yang mau jadi supir, udah Abang hubungi. Katanya, dia siap.“ Bang Ken mengatakannya dengan semangat.


“Udah kan, Ria?“ Pertanyaan dari Keith terdengar penuh tekanan.


“Keith….“ Aku semakin tidak enak hati padanya.


“Kau cuma perlu bilang, kau harus pergi. Jadi, aku diminta gantikan tugas kau di rumah. Udah, selesai!“ Keith memutar bola matanya, kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain.


“Kau tak paham, Keith.“ Aku mencoba menyentuh tangannya.

__ADS_1


Namun, ia lebih dulu menghindar.


“Kalau kau memang mau pergi, ya cepat kemasi, Ria. Aku tak mau datang, kalau kau masih di sana. Aku sesak tengok kau ada di sana.“


Ia marah padaku? Ia kecewa padaku?


“Keith, kau ngomong kek gitu seolah aku punya salah sama kau. Bukannya waktu itu, kita selesaikan kedekatan kita secara baik-baik?“ Aku tidak ingin memiliki musuh.


Awalnya, aku dan Keith berkenalan secara baik-baik. Mengakhirinya pun, harus dengan baik-baik juga.


“Karena kau terlalu banyak drama sekarang! Kau tinggal bilang, kalau aku gantikan tugas kau di rumah. Kau tak perlu bawa-bawa nama bang Givan, hanya untuk buat aku balik ke rumah itu. Aku merasa dipermainkan, Ria. Aku diminta pergi, karena dapat suara katanya aku tak dibutuhkan lagi. Aku udah nyaman dengan tempat baru aku, aku diminta datang hanya untuk gantikan tugas kau. Aku tau, kalau aku terikat seumur hidup. Aku nyaman kerja dengan bang Givan, aku tak punya masalah juga sama beliau. Cuma, oknum-oknum yang mengatasnamakan bang Givan ini, yang buat aku merasa dipermainkan. Sejak aku diminta untuk kerja sama dia, sampai hari ini aku tak pernah pindah tugas. Bang Givan bukan orang yang plin-plan kasih perintah. Sekalipun kau adik iparnya, mulai hari ini aku tak mau dengar perintah atas nama bang Givan lagi. Bang Givan butuh aku, dia pasti hubungin aku langsung. Sekarang, mau kau cari supir, mau kau cari security. Silahkan cari sendiri. Kalau memang aku harus gantikan kau, aku bakal datang setelah kau pergi. Aku tau cara menjaga anak-anak bang Givan, meski dia tak perintahkan. Aku tak akan nunggu dia perintahkan untuk aku setia seumur hidup aku ke dia, atau mengabdi ke anak-anaknya dan menjaganya. Aku bisa memposisikan itu. Kau tenang aja, Ria. Aku cuma tak peduli dengan permainan kalian tentang supir dan security itu, bukan tentang anak-anaknya.“ Matanya sampai merah dan berair.


Keith berada di puncak emosinya. Ia merasa aku mempermainkannya.


“Santai, Brodie. Kita cuma perlu ngopi.“ Bang Ken bergerak mendekati Keith.


Keith mundur satu langkah, kemudian ia menaikan dagunya seperti menantang bang Ken. “Kau pelakunya! Kau harus tau, kalau aku pandai mengadu. Tak perlu pura-pura berwibawa, pura-pura paling pengertian, pura-pura paling sayang. Kau cuma ingin sesuatu. Sebetulnya, kau mampu untuk beli dan bayar. Tapi, kau lebih suka skandal. Kau jorok, Brodie!“ Keith menepuk pundak bang Ken dua kali.


Apa ya maksud dalam ucapan Keith? Kenapa begitu acak? Seolah, ia tengah menguak misteri yang tak aku ketahui tentang bang Ken.


“Maksud kau apa?!“ Bang Ken mendorong Keith.


Waduh-waduh, aku panik. Aku langsung menarik lengan Keith.


“Tak satu orang yang bilang tentang kau, Ken. Bahkan pacar yang paling kau banggakan di second akun kau pun, kau dapatkan meski kau tau itu bekas orang terdekat kau. Apa namanya kalau bukan jorok? Perlu aku tambahkan dengan blasteran Turki itu yang kau rusak rumah tangganya? Apa mau tambah tentang belang kau di keluarga, karena kau perdaya perempuan lajang yang masih punya hubungan dengan keluarga angkat kau juga? Rupanya benar dugaan pacar kau, Ken. Paling sedap, baiknya disampaikan tentang apa yang aku tau di sini. Kau harus ingat lagi, Ken. Kau ingat baik-baik, kalau aku pandai mengadu. Cepat atau lambat, yang pegang kendali atas aku, dia bakal tau tentang tabiat kau.“ Keith tertawa sumbang.


“Maksud kau apa, SIALAN?!!!“ Bang Ken manampakan wujud seramnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2