
“Makasih ya, Mom?“ Aku diantarkan beliau sampai di depan rusun sewa tahunan yang aku tempati.
“Oke, Ria. Jangan sungkan-sungkan kabari Mommy.“ Ia berdadah ria, dengan satu tangannya memegang kemudi mobil.
“Siap, Mom.“ Aku tersenyum ramah padanya.
Aku tidak curiga dengan keluarga Alfonso ingin berbuat jahat padaku, karena mereka rukun bertetangga dan juga ramah pada lingkungan sekitar. Mereka dikenal baik, oleh beberapa orang yang aku kenal. Aku pun pernah mendengar salah satu tetangga Alfonso yang merupakan teman kampusku, ia mengatakan jika ibunya Alfonso adalah seorang relawan. Itu membuatku bertambah yakin, jika ibunya Alfonso memang berhati besar. Pantas saja, ia bisa mendapatkan ayahnya Alfonso yang merupakan seorang militer di sini.
Aku melangkah masuk. Rukun ini, tidak dalam kategori kumuh. Hanya saja, memang tidak ada fasilitas lift atau eskalator. Naik turun setiap harinya, aku menggunakan anak tangga yang berlapis rapi.
Kamarku berada di lantai empat belas, aku menyewanya selama setahun dengan sisa uang tabunganku. Jika uang dari mbak Canda dan bang Givan, fokus pada pendidikan dan makananku saja.
Yang bang Givan dan mbak Canda ketahui, yakni aku tinggal di mes kampus. Satu fakta yang aku ketahui, mes kampus tidak diperuntukkan untuk mereka yang sudah menikah, atau hidup dengan pasangan. Tidak diizinkan juga, untuk mereka yang berbadan dua. Karena mesnya itu seperti kamar pesantren, di mana satu kamar terisi beberapa orang. Alfonso sendiri, ia menempati satu kamar dengan empat orang penghuni.
Aku sering membayangkan, jika bang Ken menungguku di pintu rusun sewaku. Sayangnya, hal itu tidak pernah terjadi. Aku bertemu dengannya kembali pun, tidak pernah sama sekali. Entah ke mana hilangnya dia, mungkin ia sudah rujuk dengan kak Riska.
Ya terserah saja. Ia sudah bukan kiblatku lagi, ia sudah tidak berarti lagi di hidupku untuk saat ini. Hanya saja, aku sedikit berharap agar ia sehat selalu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpanya, atau sesuatu yang malang menghampirinya. Aku hanya ingin ia tetap hidup, walau sudah tidak bersamaku lagi.
Aku ingin berbincang dengan keluargaku, semoga mereka tidak pangling melihat pipiku. Sejak menginjak trimester ketiga, tubuhku sedikit mengembang dengan pipi yang chubby.
Aku berbenah sebentar, karena aku baru sampai tempat tinggalku di sini. Kemudian, aku berganti pakaian dan langsung merebahkan tubuhku di ranjang. Nyamannya jika sudah di ranjang, sayangnya aku sering terbangun malam karena gerakan bayiku cukup aktif di malam hari.
Aku terkekeh, karena mbak Canda langsung bersin saat panggilan video tersebut tersambung. Terlihat ia menggosok hidungnya, kemudian melirik ke arah lain.
Tumben, ia tidak berhijab. Ya benar juga sih, latar belakangnya itu bantal.
“Pegang dulu, Mas. Aku mau cuci dulu.“ Kamera tidak terlihat jelas, kemudian terlihat dagu bang Givan yang sedikit terdapat bulu.
“Sekalian pakai baju, Canda.“ Bang Givan tengah memandang ke arah lain, ia belum memposisikan ponsel dengan benar.
Mendengar sedikit dialog itu, aku langsung paham jika mereka baru saja selesai ritual malam.
“Maaf ganggu, Bang.“ Aku merasa tidak enak.
“Tak apa, udah selesai.“ Terlihat background di belakang bang Givan sudah berganti kepala ranjang.
Aku melirik ke arah jam dinding. Di sini pukul sebelas siang, di sana berarti sembilan malam.
__ADS_1
“Jam sembilan udah selesai aja? Ngamer dari jam berapa, Bang?“ tanyaku sembari terkekeh.
“Abis Isya udah masuk kamar Abang sih. Ehh, kok kau chubby betul? Gemukan kau?“ Bang Givan rupanya menyadari perubahan di wajahku.
“Iya, Bang. Makan tidur terus, jadi gemuk.“ Aku selalu memenuhi layar ponsel dengan wajahku saja. Maka dari itu, mereka tidak ada yang tahu jika aku tengah hamil.
“Olahraga lah, biar jadi idaman.“ Aku tahu tentang ketajaman mulutnya.
“Malas, Bang.“ Aku kembali memamerkan giginya.
“Jangan gemuk-gemuk betul begitu lah, kok tak suka Abang. Takut kau obesitas, apalagi pipi kau sampai kek ikan buntal gitu.“ Bang Givan memang selalu protes ketika berat badanku bertambah. Aku pernah gemuk juga, saat baru pertama merantau ke Kalimantan. Aku bisa kurus, gara-gara rokok.
Aku sejak hamil dan mengikuti saran dokter, aku benar-benar sudah lepas dari rokok. Aku sekarang mulai gemuk pun, saat trimester ketiga saja.
“Iya, Bang. Nanti aku diet deh, sambil olahraga. Bang, tanggal empat belas bulan depan. Aku wisuda, Bang.“ Aku langsung melaporkan tujuanku menghubunginya.
“Loh, kok cepat?“ Bang Givan menautkan alisnya.
“Iya, Bang. Aku ambil prestasi yang delapan bulan bisa selesai itu.“ Tentu ada resikonya, salah satunya tugas yang tidak ada habisnya. Untungnya, aku sudah terbiasa membuat laporan perusahaan. Jadi, mudah saja menurutku.
“Iya, Bang. Tak buru-buru juga, tapi biar pusing sekalian gitu. Jangan lama-lama sekolah.“ Aku memberikan alasan konyol.
Padahal, aslinya aku benar-benar ingin menyibukkan diri. Aku pun ingin cepat bekerja dan menghasilkan uang untuk kebutuhanku sendiri dan anakku.
“Kau mampu tapi?“ Bang Givan terlihat keren sekali dengan sisa keringatnya. Aku jadi teringat ayahnya anakku, ketika ia berkeringat parah seperti bang Givan begini.
“Mampu aku, Bang. Bisa datang ya, Bang?“ Aku ingin mereka pun hadir menemaniku bersalin.
Bang Givan langsung mengangguk. “Bisa, tapi tak sama ibu ya? Abang sama mbak kau aja, Dek. Abang mau ajak mbak kau jalan-jalan ke Brasil. Anak-anak biar dititipkan sama ibu dan pengasuh di sini, ibu suruh awasi aja.“
“Honeymoon ceritanya ni?“ Aku terkekeh kecil.
“Iya dong, biar tak stress dengan rutinitas.“ Ia tersenyum dan melirik ke arah lain.
“Ladenin Adek kau dulu, Canda. Aku mau ke Ghifar bentar.“ Bang Givan berbicara dengan seseorang di sana.
“Ghifarnya aja suruh ke sini tuh, Mas. Mas tuh keluyuran terus.“ Mbak Canda langsung mengambil tempat di sebelah suaminya.
__ADS_1
“Dekat aja ya ampun, Canda. Kapan keluyuran? Baru juga hari ini aku mau minta ke Ghifar.“
Mereka malah berdebat.
“Aku diajak dong, Mas. Barangkali, Mas malah bahas keganasan Aca sama Ghifar. Nanti ngiri lagi.“
Mbak Canda mulutnya ke mana-mana. Tapi jujur saja, melihat perdebatan mereka itu seperti candu menurutku. Mereka terlihat harmonis, ya ketika berdebat.
“Ck…. Udah bukan waktunya ngiri, udah tua. Sekarang waktunya, gimana caranya buat kita selalu panas terus.“
Layar ponsel sudah beralih ke depan wajah mbak Canda.
“Ya iya, Mas ingat mantan terus sih. Ngapa-ngapainnya sama aku, pikirannya ke masa lalu.“
Kok bisa berlanjut seperti ini ya? Mereka juga seperti lupa, jika aku tengah melakukan panggilan video padanya.
“I love you. Dah selesai, aku mau ke Ghifar bentar.“
Blughhhh….
Terdengar bantingan pintu.
“Dasar, Ipan! Anak Dinda! Buat emosi aja,” gerutu mbak Canda, kemudian ia melirik ke arah ponselnya.
“Ehh…. Gimana-gimana?
Baru tersadar ia rupanya, jika aku masih memperhatikan wajahnya itu. Langganan DNA salmon, ya begitu licin dan kencang kulit wajahnya.
“Mbak, tanggal empat belas bulan depan ke sini ya?“ Aku baru bersuara lagi.
“Oke.“ Ia tidak penasaran apa alasan di baliknya.
Ada ya orang begitu?
“Mbak, nanti setelah wisuda di sini dulu ya? Temenin aku.“ Aku berharap besar jika keluargaku menemaniku bersalin.
...****************...
__ADS_1