
“Suami kau mana?“ Mamah Dinda melongok ke arah ponsel menantunya.
Mereka kini tengah membahas makanan yang akan diorder. “Ngecat di PAUD Islami itu, Mah. Siang anak-anak sekolah, jadi malam ngecatnya.“
Gibran menjadi tukang cat?
“Alhamdulillah, kumpul-kumpul untuk persalinan.“ Mamah Dinda mengusap-usap perut besar menantunya.
“Iya alhamdulilah, upahnya mahal juga berani.“ Istrinya Gibran yang tak aku ketahui namanya juga mengusap-usap perut besarnya.
“Berapa memang?“ Aku berpikir, tukang cat hanya berapa upahnya. Mungkin, hanya sekitar seratus ribu sehari.
“Tiga juta untuk karakter, tulisan gitu dua koma tujuh aja. Itu untuk waktu satu jam aja, kalau belum selesai ya nambah uang.“
Hah?
“Kau tak akan percaya, Ria.“ Mamah Dinda mungkin mengerti kebingunganku.
“Ngecat apa, kok mahal?“ Aku bertanya-tanya di sini.
“Ngecat tembok, Kak,” jawab istrinya itu.
Eh, aku tiba-tiba teringat dengan kamar milik Gibran yang berada di rumah Singapore. Kamar penuh dengan gambar, seperti mural dan graffiti.
“Oh, pantesan.“ Aku manggut-manggut dengan pikiranku sendiri.
“Kenapa, Dek?“ Mamah Dinda menyentuh lenganku.
“Kamarnya di sana penuh mural, grafitti, coretan bagus, kata-kata bagus, kaligrafi langsung di tembok, ada juga beberapa foto keren.“ Aku tidak menyebutkan foto perempuan seksi itu bukan? Ya, aku pun paham menyaring fakta baik.
“Iya, Kak. Sekarang profesinya, selain jualan cat.“
Oh, ternyata Gibran juga berjualan cat. Pantas saja, istrinya itu mengenakan emas yang terlihat banyak di badannya. Yang artinya, biarpun merintis. Tapi, ekonomi mereka cukup baik.
“Oh, iya-iya.“ Aku mengangguk berulang.
“Udah, Dek. Pesan itu aja.“ Mamah Dinda mengembalikan ponsel menantunya.
“Oke, Mah.“ Istrinya Gibran itu menaruh ponselnya di atas meja dan mencolek-colek pipi anakku.
__ADS_1
Sudah kubilang, Kirei sensitif sekali.
“Dia dari tadi ngusrekin aja telinga, kek ada yang tak nyaman.“ Mamah Dinda memeriksa telinganya.
“Penerbangan pertamanya, Mah. Mana kan lama.“ Aku khawatir mengganggu pendengaran putri kecilku.
“Besok bawa ke rumah sakit aja, Ria. Takut kenapa-kenapa.“ Sepertinya, mamah Dinda tak menemukan apapun di bagian luar telinga anakku.
“Iya, Mah. Bang Givan pun udah ada bilang.“
Setelah itu, kami makan bersama. Lahap sekali ibu hamil itu, tidak sepertiku saat hamil yang sengaja melelahkan diri agar tidak banyak bersedih. Ia terlihat bahagia, meski tinggal di rumah mertuanya.
“Tidur sama Mamah aja, Dek. Papah di luar sama abang ipar kau.“ Papah Adi membawa dua buah bantal dari dalam kamar.
“Aku sama Mariam, Mas.“ Mbak Canda berbelok ke kamar Gibran.
“Nanti Gibran pulang gimana, Canda?“ Bang Givan memperhatikan istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar tersebut.
“Udah bilang pulang Subuh, Bang. Biar cepat selesai katanya,” jelas istrinya Gibran yang muncul dari belakang.
Ternyata, ia bernama Mariam?
“Transit tak sih pesawatnya, Dek?“ Mamah Dinda masih mencoba memeriksa telinga Kirei.
“Bukan transit lagi, Mah. Kita ambil tiket tujuan negara yang biasa dipakai transit, jadi kita ada istirahat dan beli oleh-oleh dulu di negara itu.“ Perjalanannya saja sepertinya delapan harian.
“Keren, cara orang kaya dari kampung buang uang itu memang beda.“
Aku terkekeh geli.
Ada-ada saja beliau ini.
“Sehat-sehat ya, Nak?“ Mamah Dinda mencium pipi anakku.
Anakku menendang asal dan mencoba memakan jarinya. Ia selalu seperti ini, jika dibiarkan di ranjang.
“Ibu sehat kah, Mah?“ Aku bersandar di kepala ranjang, aku masih merasa kenyang untuk rebahan.
“Sehat, Dek. Biasa, sakit pinggang aja. Dulu kerjanya gimana sih? Beberapa hari yang lalu tuh dibawa ke dokter tulang sama Ken, katanya tulangnya ada yang bengkok. Jadi, ibu sedikit bungkuk tapi miring ke kanan gitu, Dek.“
__ADS_1
Ya Allah, ibu. Semoga ibu sehat selalu dan panjang umur.
“Ya ART biasa, Mah. Tapi waktu di agen kan, ganti-ganti terus pekerjaannya. Pernah juga jadi baby sitter, pernah juga urus orang tua tuh.“ Aku tidak tahu pasti pekerjaan ibu dulu, karena aku tak pernah diajak.
“Iya, jadi sakit pinggang terus tuh karena tulang bagian itunya bermasalah. Bukan karena nyeri otot, atau penyakit tua tuh.“
Ibu malah terlihat sedikit jompo, ketimbang mamah Dinda. Padahal, ibu lebih muda lima tahun dari mamah Dinda. Mungkin karena dulu ibu bekerja keras, sehingga di masa tua ia terlihat sudah kehabisan energi dia tubuhnya begitu renta. Padahal, perawatan kulit juga sama seperti mamah Dinda. Bisa dibilang rutin, karena biasanya diajak mbak Canda.
“Mamah sih pengennya kau kerja di sini aja, urus ibu kau sama mbak kau. Balik lagi aja kerja di Ghifar, Dek. Enak, gaji lumayan. Kau pun bisa dekat sama keluarga kau kan? Bisa urus anak, bisa urus ibu kau.“ Mamah Dinda berbaring menyamping menghadapku yang tidur di sisi lain tempat tidur ini. Di tengah-tengah kami, ada Kirei yang tengah berolahraga.
“Harus di sini kah?“ Aku khawatir kehidupanku diusik bang Ken.
“Iya, Dek. Orang tua kau di sini, dia udah tua. Kau harus berbakti ke ibu kau, kau digondol-gondol ibu ke mana-mana loh sejak dulu.“
Mamah Dinda benar.
“Iya, Mah. Tapi anak aku enaknya gimana?“ Aku mengulurkan tanganku untuk mengusap perut Kirei.
“Dimarinasi terus dibuat ayam goreng krispi tak apa.“
Jelas mataku langsung melebar.
Mamah terkekeh kecil. “Ya di sini, katanya diurus mbak kau. Buat akta nanti ya nama kau. Nanti terus aja, nikah siri kan gitu.“
Jadi, Kirei benar-benar akan ikut nasabku di akta kelahirannya?
“Udah kesampaian kan rumah tangga sama Ken? Menurut kau nih, enak tak? Sampai kau begitu gilanya, dihalangi, malah nekat nikah di sana.“ Obrolannya santai, tapi mamah Dinda membuatku merasa makin menyesal.
“Nyesel, Mah.“ Aku tertunduk memperhatikan pangkuanku.
“Kalau nikah di sini, mungkin lain kejadiannya. Abang ipar kau keras, Ken juga tak mau merendah minta restu abang ipar kau. Sebenarnya sih, Mamah juga udah bilang biar abang ipar kau tak halangi kau dan Ken. Tapi abang ipar kau terlampau sayang sama kau, dia tak mau kau nyesel. Alhasil kan, kejadian menyesal akhirnya?“
Aku diam tertunduk. Ini juga karena egoku yang tak bisa ditahan, aku teramat mencintainya.
“Udah begini, anggap aja kau udah selesai sama Ken. Menurut cerita mbak kau, keknya Ken ini udah ngeluarin talak kifayah deh. Anggap aja kau janda, kau fokus untuk perbaiki diri dan ekonomi kau. Yang kasian sama anak kau, ingat anak kau punya bapak lagi puber kedua. Jadi, kau harus jadi orang tua yang baik yang tak ngegilain laki-laki. Laki-laki akan datang dengan cara terbaik, Ria. Kau tak perlu ngejar-ngejar dan ngemis-ngemis cinta laki-laki lagi. Anak kau butuh cinta dan sayang dari kau. Udah jangan berlarut-larut, sedih secukupnya aja, biar dapat kebahagiaan sesuai porsinya.“ Mamah Dinda tersenyum manis, dengan mengusap kepala anakku.
Aku harus bisa menjadi orang yang beliau inginkan. Setidaknya, itu berguna agar aku tidak jatuh ke kubangan yang sama lagi.
...****************...
__ADS_1