Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD246. Orang royal


__ADS_3

"Iyalah! Abang yang hamili aku." Aku memukuli lengannya yang aku peluk. 


"Memang, tenang kok aku tanggung jawab. Nanti aku bantu ngomong ke orang tua kau ya?" Gavin memencet hidungku dengan keras, padahal ucapannya begitu halus mulus. 


Aku makin menganiayanya, memukulinya dan mencubitinya. Ia tertawa geli, dengan melepaskan hidungku. 


"Kau suami aku!" ketusku kemudian. 


"Iyalah! Lucu kali kau." Gavin malah memencet hidungku. 


"Tak suka bercandanya begitu!" Aku bersedekap tangan dan memalingkan wajahku ke arah lain. 


Gavin merangkulku. "Tenang, Sayang. Belanja kita, belanja material." Ia terkekeh puas melihatku mencilak mendengar kalimat terakhir yang ia katakan. 


"Senang dong, bangun rumah. Rumah kita, rumah tangga, rumah yang ada tangganya. Mau tak? Mau dong? Belum pernah dikasih rumah kan? Aku kasih nih, kalau aku macam-macam, tak apa aku yang ditendang. Rumah orang tua aku pasti lebih besar dan kokoh soalnya." Ia mengibaskan tangannya di bahunya. 


"Ish!" Aku mencubit perutnya seketika. 


Gila sekali dirinya ini! Candaannya membuatku kesal terus. 


"Aduh, sensitif betul. Iya deh, iya deh belanja dulu di swalayan, baru belanja material. Tapi besok aku repot ya? Garap tanah sewa punya bang Givan itu. Nanti bangunan sih diborong bang Zuhdi, cuma kita ada ke toko material untuk nentuin mau pakai keramik atau marmer. Terus mau pakai bentuk gagang pintu yang kek gimana, bentuk shower kamar mandi kek gimana, mau pakai wastafel kek gimana dan dapur kek gimana. Banyak diskusi deh pokoknya, kau harus punya gambaran ya? Karena kan kau yang bakal di rumah terus, jadi biar urus rumah dengan sepenuh hati." Gavin berbicara dengan tersenyum lebar. 

__ADS_1


"Cukup uangnya, Yang?" Wajar dong aku bertanya, apalagi membicarakan rumah dan finishing begitu. 


"Banyak dong, tak tau ya? Makanya janda-janda pada mau, orang tua pada ngasih-ngasihin anak gadisnya, karena aku beruang."


Aku tertawa geli dengan memukul pahanya. Beruang katanya? Tak panda saja yang bulunya berwarna putih? 


"Beruang madu." Aku mengusap dagunya. 


Ia terkekeh kecil. "Ya dong? Anda pun makanya mau kan? Dua puluh tiga tahun loh, anak dua, next tiga, eh empat deh. Tapi keknya nanti sih delapan anak aja deh, atau lima bekas aja biar ngalahin Gen Halilintar?" Ia membusungkan dadanya.


Keturunan sombong, ya bagaimana ya? 


"Tak boleh, Yang. Aku riwayat sesar, kan sebaiknya tidak boleh dilakukan lebih dari tiga kali." Aku memasang wajah kecewa, agar ia pun paham bahwa aku mendukung keinginannya hanya saja terhalang keadaan. 


"Ya udah tak apa, ini yang kedua kalinya sesar, lahir dua anak. Nanti, next novel selanjutnya sesar lagi dua anak lagi. Jadi, anaknya punya enam." Ia menunjukkan enam jarinya. 


"Semoga dapat kembar ya? Aku pengen juga punya baby twins, biar kek novel-novel lainnya." Ditambah lagi, keturunan mamah Dinda malah minim yang memiliki kembar. 


Tak semua anak mamah Dinda memiliki anak kembar, hanya bang Ghavi saja yang memilikinya. Mbak Canda pun gagal memiliki anak kembar, mana tahu rejeki memiliki anak kembar ada padaku. 


"Aamiin, tapi yang penting kaunya sehat dan babynya sehat aja. Tadi bergurau aja, anak sedikasihnya aja. Yang Kuasa mau kasih tiga aja, ya alhamdulillah. Mau kasih tujuh, alhamdulillah juga jadi keluarga besar. Dikasih sepuluh, ya semoga tak terlantar." Ia terkekeh kecil di akhir kalimat dengan melirikku. 

__ADS_1


"Tak dong, kan Ayahnya selalu kasih yang terbaik pastinya." Aku mengusap dagunya kembali. 


Ia menempatkan tangan kanannya di perutku. "Aku akan menjadi orang yang royal, memberikan apapun yang kau minta, meski tak kau butuhkan. Meski ponsel pintar seri terbaru, mungkin kalung, cincin emas, atau jam tangan mewah yang kau bayangkan di pikiran kau. Mungkin barang-barang aneh, yang tak kumengerti fungsinya, tapi kau menginginkannya. Sebagai permulaan, aku akan membelikan susu yang ibu kau butuhkan, saat mengandung kau. Kau tak akan aku biarkan untuk mengemis ke orang lain, karena kau membutuhkan baju-baju masa kini, atau kau butuh saldo pada akun dompet elektronik kau, atau kau membutuhkan untuk membayar kostan kau masa memilih untuk mengemban pendidikan jauh. Aku akan selalu menjadi orang pertama, yang akan memberikan pengalaman untuk kau makan di restoran paling fancy sambil ketawa-ketiwi. Lalu, aku bisa memberikan pengalaman untuk kau pergi berlibur dan menginap di villa termahal sambil membicarakan kisah kita yang selalu seperti naik kora-kora. Pokoknya, tak akan aku biarkan rekeningmu mengempis. Sebab, adalah dosa untukku jika dompetmu tipis. Tak akan aku biarkan kau bingung, untuk membeli pulsa atau paket internet yang tak seberapa itu. Tak akan aku biarkan kau diledek teman-teman kau, atas tolakan kau untuk anak-anak hangout karena kau tak punya dana untuk nongkrong. Kau bisa memiliki PIN ATMku, kau bisa memegang kartu kreditku, kau bisa menggunakan sepuas yang kau butuhkan, sebebas yang kau mau. Tenang, aku yang tanggung. Aku yang maju paling depan, jika datang tagihan bulanan tak terduga, demi bisa melihat kau ceria sepanjang hari. Demi bisa membuat kau beruntung, karena memiliki aku. Bismillah aku akan jadi orang royal untuk kau, Nak." Ucapannya begitu dalam dan terasa hangat masuk ke dalam rahimku. 


"Aku terharu." Aku membenamkan wajahku di lengan belakangnya. 


"Anak laki-laki ataupun anak perempuan, aku akan menjadikan diriku sebagai pantunan dan teman terbaik untuk kau." Setelah usapan terakhir, ia mengangkat tangannya dan merangkulku. "Kau buat basah lengan kemeja dongker aku, Riut. Jangan kau kasih ingus juga." Ia berbicara dengan di depan dahiku. 


Aku tengah menangis haru, malah dibuat tertawa geli karenanya. Tanpa sungkan, tanpa malu, aku memeluk tubuh laki-laki muda yang menjadi seorang ayah untuk anak-anakku ini. 


"Tapi kau pelit sama aku!" Aku menepuk pahanya. 


"Mana ada! Bang, uang habis. Aku kasih lagi, tanpa aku tanya kau habis pakai apa. Apa aku ngelarang kau main dan nongkrong juga? Kan tak begitu, kau bebas. Tapi kan memang kau tak punya teman." Ia melirik sinis. "Teman kau cuma aku, kau main ke mana-mana ya aku yang kau bawa."


Kenapa ia meledekku? Kenapa tidak pernah berhasil benar-benar romantis? Endingnya selalu ledekan untukku. 


"Aku tak I love you lah kalau gitu!" Aku melepaskan pelukanku. 


"Biarin, aku yang love you aja. Kau tak perlu love you pun tak apa, kek yang tak butuh aja." Ia melirikku kembali, kemudian bola matanya bergulir ke arah lain. 


Gemas sekali, aku tertawa geli dan memukul lengannya pelan. Padaku, ia absurd sekali. Tapi aku begitu mencintai laki-laki ini, laki-laki yang berusaha ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2