Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD87. GPS dan kehadirannya


__ADS_3

“I am Ria's husband,” aku laki-laki ini dengan menunjukku.


Hana menoleh ke arahku dengan tatapan tak percaya. “You said you don't have a husband. You are single you say?“


Sudah kubilang, agak belibet bahasanya. Kau bilang kau tidak punya suami. Kau lajang katamu? Kurang lebih seperti itu. Padahal, cukup bertanya dengan kalimat 'you said you were single. But it turns out you're already married.' Tapi rupanya sama-sama belibet ya? Kamu bilang kamu lajang. Tapi ternyata kalian sudah menikah. Lebih kurang, artinya seperti itu.


“But in fact, I am her husband,” jelas bang Ken dengan merangkulku.


Aku langsung mencomot mulutnya, kemudian memberinya tatapan tajam. Memaksa sekali ia bahwa dia suamiku. Untuk meminta restu pun, segala ia merendahkanku.


Aku emosi jadinya.


Ia malah memamerkan giginya, lehernya membawa kepalanya merunduk dan mencium pipiku.


“Hah? You kissed him?“ Hana yang malah terlihat panik.


“Come on, Hana! Never mind, let's continue our goal of going to the market.“ Ayo, Hana! Sudahlah, mari kita lanjutkan tujuan kita pergi ke pasar. Aku menggandeng tangan Hana untuk bergegas pergi.


“Okay, no problem. I will come with you guys.“ Bang Ken malah ikut serta dengan kami.


Hufttt….


Bagaimana caranya mengusir duda ini.


“Ria, your husband is as tall as a military man. What is the profession? Why is he also handsome?“ Hana berbisik padaku.


Katanya, Ria suamimu setinggi tentara. Apa profesinya? Kenapa dia juga tampan?


Aku hanya menggeleng, aku tidak berminat membahas bang Ken. Aku sengaja membuat bang Ken berpencar denganku di pasar, agar aku bisa lepas darinya.

__ADS_1


Aku sengaja membawa Hana melangkah cepat, sayangnya bang Ken bisa mengikutiku. Aku lupa jika ia lebih tinggi, pasti ia bisa melihat jelas gerak langkahku yang berada di depannya.


Saat aku tengah memilih udang, tiba-tiba aku melihat Hana yang sibuk berbicara dengan bang Ken. Sejak kapan mereka berbicara? Sejak kapan mereka terlihat akrab? Bang Ken malah memasang senyum ramah, dengan memperhatikan Hana yang tengah berbicara dengan menggerakkan kedua tangannya.


Aku jadi curiga.


Hana pun seolah terbawa suasana, ia tertawa renyah dengan cara berbicaranya yang terlihat lancar. Sayangnya, memang tidak terdengar ke telingaku.


Sampai akhirnya, tibalah kami berada di depan pasar. Hana memintaku untuk ikut dengannya, berikut dengan bang Ken juga. Aku sudah komplain padanya, sayangnya Hana begitu memaksaku untuk ikut dengannya.


Herannya lagi, Hana menyetop taksi. Padahal perjanjian awal, ia ingin sekali menggunakan kendaraan umum semacam busway seperti itu. Alhasil, kami bertiga menggunakan taksi.


Hana tinggal di apartemen, ia menggiringku dan bang Ken ke sana. Banyak macam bicaranya, ia seolah memintaku untuk menginap di sini.


Ada apa gerangan?


Senyumnya terpasang indah dan seperti mengagumi sesuatu. Sejak tadi, aku banyak curiga padanya.


“Tak enak dalam hal apa? Rumah itu kosong dan mereka tetap bayar orang. Tak ada yang beda, antara rumah itu ditempati atau dikosongkan.“ Aku celingukan menunggu munculnya Hana. Ia berganti baju lama sekali, sudah seperti berganti kulit saja.


“Ya, tak enak numpang terus. Nyusahin terus, kapan hidup mandiri?“ Ia menoleh ke arahku.


Tatapannya begitu dalam.


Kenapa bang Ken selalu membuatku percaya akan rasa maluku? Benar, malu menumpang dan menyusahkan selalu.


“Terus jalan keluarnya gimana? Biar apa ngomong kek gitu?“ Aku paham bahwa ia lelah, kantung matanya bahkan terlihat.


“Kita nikah aja di sini, Abang sanggupin biaya hidup kita. Terserah Adek, mau lanjut pendidikan di sini kah? Atau, mau hidup di Malaysia kah? Apa, kita balik ke papah Adi? Terserah aja, yang penting kita nikah di sini.“ Matanya menyusuri ruangan ini kala mengatakan hal itu.

__ADS_1


Ia menggenggam tanganku. “Kalau Adek mau lanjut pendidikan di sini, Abang pulang pergi Malaysia. Tapi, nanti Abang ambilin apartemen sebelahan sama Hana. Adek tak perlu tinggal lagi di rumah Gibran. Adek bisa alasan, kalau Adek nemenin Hana untuk tinggal di apartemen. Adek pun perlu bilang juga, mau sama Hana karena kalian satu tempat kursus dan satu tujuan ke universitas impian.“


Loh?


Aku merasa, Hana diberi wejangan pada bang Ken untuk kongkalikong dengannya. Aku merasa juga, Hana termakan ucapan bang Ken.


Sekarang saja, ia bertutur manis dan tidak menyebutku dengan sebutan 'kau'. Dia menyebutku, dengan sebutan 'adek' melulu.


“Dalam artian, aku harus nyembunyiin itu semua dari keluarga aku kan?“ Aku paham dengan ucapannya yang mengatakan bahwa, aku bisa memberi alasan.


“Ya, harus. Untuk apa mereka tau? Mereka tak mendukung kan? Mereka ingin kita tetap dalam kondisi zina. Bukan Abang sombong, tapi untuk apa Givan ngehalangi begitu susahnya? Bukan Abang lagi ngehina Adek, tapi kenapa Givan begitu sombongnya punya diri Adek?“


Apa aku perlu memberitahu bang Ken, bahwa semua keluarga tahu wataknya? Ia melarangku dengannya, bukan karena aku begitu berharga. Tapi mereka tak ingin aku disakiti olehnya.


“Bukan dihalangi. Pahami pokok permasalahannya, Bang. Kenapa juga, Abang begitu sulitnya merendah dan meminta restu baik-baik? Daripada susah-susah belah Brasil untuk nyari aku di sini? GPS aku operasi terus, ternyata ada Abang di balik itu semua? Abang cuma perlu meyakinkan orang rumah, kalau Abang sungguh-sungguh sama aku. Aku pasti pulang, untuk mau jadi istri Abang. Abang tak perlu sesulit ini nyamperin aku, karena aku bisa datang kalau restu udah Abang kantongi.“ Aku paham sekarang hubungan antara kartu ATM, GPS dan kehadirannya sekarang.


Kartu ATM untuk memancingku melakukan transaksi menggunakan informasi. Bang Ken sepertinya tahu, jika kartu dari Indonesia memiliki verivikasi ke nomor khusus untuk penukaran nilai mata uang yang ingin ditarik. Dengan bantuan nomor tersebut, bang Ken melacakku dengan bantuan informasi transaksi yang tercetak dari Bank.


Duh, bodohnya aku ini. Kenapa juga bang Givan tidak mengajarkan hal ini? Pengalaman adalah guru terbaik.


“Udah, Abang tinggal di rumah mamah pun udah Abang lakuin. Abang tanya, Van gimana Ria. Dia cuma bilang sehat. Abang nanya untuk kita, bukan merujuk sama Adek aja. Dikasihlah psikolog untuk warasin otak Abang, Abang terima dikira orang gila juga, dimintanya untuk selesaikan dengan Putri. Abang sampai mohon maaf sama Putri, udah juga. Abang tanya, kau minta kompensasi atau apa Put. Putri cuma bilang, agar setelah ini jangan ganggu dia dan hubungannya dengan orang baru lagi. Dia malah lagi minta dijodohin sama orangnya papah.“


Benarkah? Aku ragu jika Putri begitu mudah dilepaskan. Tentang masalah itu, sebaiknya aku konfirmasi langsung pada mamah Dinda saja. Mamah Dinda bisa menjaga rahasia, ia pun pasti membuka tentang kejadian sebenarnya.


“Aku mau hubungi mamah, aku kurang percaya sama pengakuan Abang.“ Aku mencari ponselku di dalam sling bag milikku.


“Silahkan. Tapi jangan bilang ada Abang di sini. Hargain usaha Abang, tak mudah cari Adek di titik ini sekalipun dengan bantuan GPS.“ Bang Ken memberi sorot tegas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2