
“Kau jangan mempermalukan diri kau sendiri, Dek. Kita sama-sama terhanyut, lagi pun Abang tak memperkosa kau. Kita sama-sama suka, kita sama-sama saling membuka. Asal kau tau juga, kau tak di bawah umur lagi.“ Bang Ken memberi penegasan tepat di depan wajahku.
“Tapi Abang tak minta izin!“ Aku tergugu mendengarnya menaikan suaranya, ketika dirinya sedang bersemayam di dalamku seperti ini.
“Abang minta maaf. Tapi Abang pikir, kalau kau pun memang ingin juga. Mata kau penuh pengharapan dari hal yang lebih, Abang berikan karena Abang pikir kau memang ingin ini.“
Jadi, ia menyalahartikan tatapanku saat aku hampir mendapatkan puncak kl*maksku tadi?
Ya ampun.
“Abang kan bisa nanya dulu.“ Aku mendorong tubuhnya kembali.
Aku ingin penyatuan kita ini terlepas.
“Nanya apa?! Abang laki-laki dewasa, Abang tak butuh jawaban. Abang cukup paham dengan reaksi tubuh yang kau kasih.“ Ia menegakkan punggungnya, ia melepaskan penyatuan kami seperti yang aku inginkan.
Lega, kesan pertama yang terasa.
Namun, aku merasa seperti pedih di area sensitifku. Aku merasa sakit, ketika kakiku bergerak untuk menutup.
Apa aku terluka?
Aku meringis kesakitan, dengan berbaring menyamping memunggungi bang Ken. Ketakutan-ketakutanku seperti berputar dengan sistematis. Banyak pertanyaan tentang bagaimana hari esok dan setelah ini?
Aku merasakan goyangan di spring bed ini, dengan sebuah tangan yang hinggap memelukku.
“Maaf, Dek. Maaf, sayang.“ Aku merasa suaranya penuh penyesalan.
“Abang ngomong jujur, Abang kira Adek berharap ini terjadi. Tatapan Adek penuh pengharapan, Abang paham Adek udah tanggung betul. Abang harus gimana? Abang janji tak akan tinggalkan Adek.“
__ADS_1
Sungguh?
Apa ia benar-benar menyangka bahwa aku menginginkan? Apa ia benar-benar tidak tahu jika aku hanyalah menginginkan pelepasan, bukan berhubungan badan?
“Udah begini, aku gimana?“ Aku memeluk tubuhku sendiri, aku merasa begitu tertipu dengan dirinya.
“Abang tak bakal pergi. Adek tenang aja. Apa sih yang Adek takutkan?“ Ia menarikku agar menghadap padanya.
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku begitu kacau sekarang, aku hanya bisa menangis sekarang. Aku bingung ingin menuntutnya seperti apa, aku bingung ingin memohon untuk dinikahi seperti apa. Aku hanya butuh menangis dan menangis saja.
“Abang bakal tanggung jawab.“ Ia mencium kepalaku.
“Ria, kau harus tau kalau Abang sayang sama kau. Bukan kek gini yang Abang mau, bukan tangis kau yang Abang tunggu. Sumpah, Abang tak tau kalau kau tak berharap Abang masuki. Abang kira, Abang artikan, Abang pahami, kalau Adek pengen yang lebih dari tadi. Abang tak sengaja, Dek. Abang harus gimana? Abang minta maaf.“
Benar tidak sih ucapannya ini? Suaranya penuh dengan penyesalan. Namun, yang membuatku tak percaya adalah apakah ia benar menyesal? Atau, ia hanya ingin memanipulasi kesalahannya dengan penyesalan? Agar, ia terlepas dari tanggung jawab dan tuntutan dariku.
Benar ucapan Keith, bang Ken adalah pemain skandal keluarga. Ia begitu tega menghabisi wanita dalam keluarganya sendiri, tidak saudara ipar, ataupun kerabat jauh sepertiku.
“Dek, yang yang tenang. Ucapan Abang bisa dipegang, Abang bilang Abang tak akan ninggalin Adek, Adek harus percaya itu.“ Ia mengusap-usap punggungku.
“Putri.“ Aku tidak mengerti, kenapa bibirku mengeluarkan nama itu.
“Adek mau Abang tinggalin Putri? Abang bisa langsung tinggalin Putri.“ Ia melepaskanku dan mencari keberadaan ponselnya.
Ia fokus pada ponselnya sejenak. Kemudian, ia menunjukkan layar ponselnya padaku.
[Aku ngerti, Put. Mungkin aku sibuk dengan urusan aku, aku nyadarin hal itu. Baiknya, kita urus urusan kita sendiri-sendiri aja. Kita fokus dengan pribadi masing-masing aja. Maaf, aku terlalu sibuk untuk kita.] Aku membaca teks tersebut dalam hati.
Ia tidak menyadari kah? Bahwa di awal ia begitu mengejar Putri.
__ADS_1
“Telpon bang Givan, bilang Abang mau nikahin aku.“ Aku tidak yakin ia berani melakukannya.
“Abang bakal tanggung jawab, Dek. Cuma, untuk komitmen pernikahan. Kita ini bertentangan betul. Abang pengen childfree, sedang Adek pasti menolak itu. Biarpun Adek tak bilang, tapi Abang udah tau. Banyak lagi alasannya, Adek tak mungkin bisa pahami tentang Abang.“
Makin didengarkan, ucapan bang Ken makin malas untuk aku dengarkan. Pola pikirnya seolah sangat salah. Ia tidak mengerti tentang pemahaman childfree secara luas. Hanya tentang ia tidak ingin memiliki anak saja yang ia tahu.
Lain ceritanya, jika pasangan kita mengalami kemandulan atau kesulitan untuk hamil. Tidak dengan cerita seperti ini, tidak dengan alasan seperti bang Ken.
“Bilang bang Givan!“ Aku memberi perintah yang sama.
“Abang harus bilang apa, Dek? Rasanya aneh tiba-tiba telpon, terus ngasih tau kalau Abang tak sengaja udah merawanin Adek. Kita sama-sama tak berpakaian, terus dibilang tak sengaja atau kecelakaan? Ya jelas cacat logika, Dek. Gimanapun ceritanya, Adek tetap salah kek gitu. Abang memang pelaku, tapi pelaku tak ada yang begitu pas dengan kondisi di mana Abang harus maling, kalau sang pemilik barang pun menyerahkan diri?“
Loh, benar juga?
Lalu, aku harus bagaimana?
“Bang, terus aku harus gimana? Abang tolong nikahin aku, aku tak mau kalau harus lanjutkan hidup dengan kondisi kek gini. Dimaki apa nanti aku sama keluarga mamah Dinda? Dimarahin apa aku sama bang Givan? Abang tak kasian sama aku? Abang tak mikirin bagaimana kelanjutan hidup aku? Hidup aku bisa selesai, dengan Abang lepas tanggung jawab begitu. Aku hancur karena Abang, aku begini karena Abang. Abang jahat!!!!“ Aku memukuli dadanya tanpa perlawanan darinya.
“Tenang, Ria. Kira masih punya banyak jalan keluar.“ Bang Ken malah berusaha untuk memelukku semakin erat.
Memang apa jalan keluarnya? Hanya pernikahan jalan keluarnya. Hanya pernikahan, jalan untuk menyelamatkan tentang masa depanku.
“Abang harus ingat, kalau Abang punya anak perempuan! Sedikit aja Abang nyakitin aku, Abang bayangkan gimana kalau anak Abang ngerasa kesakitan yang aku rasakan!“ Sampai suaraku begitu serak. Aku sudah lelah dalam perjalanan, ditambah dengan kelelahan yang seperti ini.
“Abang ngerti, Dek! Ambang paham, Abang pikirkan, tanpa kau ingatkan! Terus Abang harus gimana nenangin kaunya? Kau cuma ketakutan, kau cuma tak tenang. Karena kejadian ini, dunia kau tak selesai, Ria! Kau masih bisa lanjutkan hidup kau! Kau masih bisa mewarnai hidup kau! Kau masih bisa gapai dan raih masa depan kau! Hilang perawan, bukan akhir dari cerita masa muda kau! Apalagi dengan cerita, Abang tak ada niat kesengajaan. Abang kira kau mau dan kau ketakutan di sini! Terus, Abang mesti gimana??? Abang tau, mungkin ini bukan jalan keluar. Tapi, Abang usahakan perawan kau balik. Abang tak jamin ini nampak asli dan rasanya sama, tapi setidaknya kau bisa sedikit tenang misal keperawanan kau kembali.“
Satu pertanyaanku. Memang, keperawanan bisa datang dua kali?
...****************...
__ADS_1