
“Untuk apa punya anak, kalau orang tua tak utuh lagi? Kalau Abang meninggal, otomatis istri Abang jadi orang tua tunggal, otomatis dia pun berpotensi untuk nikah lagi. Kasian, kalau dia hidup dengan ayah sambung, banyak pelecehan yang dilakuin ayah sambung.“ Ia berbicara dengan memandang tiang infusnya.
Aku tidak mengerti apapun sakitnya, ringan atau berat. Masuk rumah sakit, pasti akan diinfus.
“Kalau berpikir begitu, jangan anggap ayah ke papah Adi.“ Berbicara ayah sambung, mantan majikan ibu itu baiknya tiada tara. Cuma memang, jika sudah marah bisa membuat telinga tuli. Bukan karena banyak yang ia katakan, tapi suaranya seperti mamakai toa.
“Dia panutan, Dek. Abi Abang tak kek dia, abi Abang pantas jadi orang tua, tapi tak pantas jadi panutan.“ Ia menoleh sekilas, kemudian menundukkan kepalanya.
Pantas jadi orang tua? Tapi tidak dengan panutan? Maksudnya bagaimana ya? Apa abi Haris ada keburukan yang tidak bisa ditoleransi?
Eh, iya. Aku lupa, jika perceraian mereka pun karena KDRT. Abi Haris tidak bisa menjadi panutan, karena ia melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Mungkin pun, bang Ken menjadi korban dari kekerasan ayahnya.
“Aku pamit dulu, Bang. Aku harap, Abang bisa berubah.“ Aku bersiap akan melangkah. Tidak akan ada habisnya, jika berbicara tentang hal ini.
“Bentar, Dek. Pegang ini, Dek.“ Bang Ken tergesa-gesa membuka dompetnya, sampai beberapa helai uangnya jatuh dan berserakan.
Setelah aku membantunya, aku memerhatikan sebuah kartu yang ia beri. Kartu ATM, yang berbeda dari sebelumnya.
“Pegang, Dek. Manfaatin uang yang ada, Abang yakin kau butuh banyak pegangan uang.“ Ia memaksaku untuk menggenggam kartu miliknya.
“Memang tak apa?“ Ini soal uang, sudah lain menuruti.
__ADS_1
“Tak apa, pegang dan pakai ya? Abang ada program Bank semacam book saver, jadi tiap bulannya rekening inti Abang terambil berapa juta ketarik ke rekening itu. Ini pegang juga, ini kartu nama Abang. Ada email Abang, ada nomor Abang, ada alamat tempat tinggal Abang di Malaysia. Kalau Adek kangen, Adek bisa hubungi Abang, atau datang ke tempat Abang di Malaysia. Di sana ada asisten rumah tangganya, jadi dia bisa hubungi Abang kalau Adek ke rumah.“ Ia memberikan kartu nama miliknya.
Aku terpaksa menerima, karena ia menyelipkannya di tanganku. Entah bagaimana ke depannya, yang penting aku menerimanya saja lebih dulu.
“Ya, Bang.“ Aku mengangguk.
“Ati-ati, Dek. Jaga diri, jaga hati. Kita belum selesai, kita belum usai, kita masih ada hubungan.“ Ia menggenggam tanganku, tidak disangka ia malah mencium tanganku dengan bibir yang basah. Tidak seperti cara anak muda mencium tangan orang tua, ia seperti pangeran yang mencium tangan princess dalam dongeng.
“Kalau memang kita belum selesai, harusnya Abang berjuang untuk kita. Abang turunkan sedikit kesombongan Abang, berubahlah lebih baik untuk kita.“ Harapanku besar untuknya.
Ia hanya mengangguk samar. Aku tidak merasa ada kesungguhan di dalam dirinya untukku. Aku tidak merasa, bahwa nantinya ia akan memperjuangkanku. Aku malah merasa, bahwa ia seperti tengah menyusun rencana lain agar sesuai dengan harapannya. Bukannya malah ia mengikuti saran dan keinginanku. Aku tidak tahu pasti, aku tahu ini hanya perasaanku saja. Bisa jadi, bang Ken akan mulai mengemis dan merendah pada bang Givan. Isi pikirannya masih menjadi misteri untukku.
“Aku pamit, assalamualaikum.“ Aku melangkah menjauh.
Aku berdoa, semoga luka di kepalanya tidak menyebabkan cidera yang fatal. Aku berharap, ia tetap panjang umur meski tidak berjodoh denganku. Aku berangan-angan, ia akan membuat perubahan besar dalam hidupnya untukku dan untuk kami. Karena aku tidak memungkiri, bahwa hanya dia yang aku semogakan.
“Lamanya, Dek. Pacaran kah sama bang Ken?“ tanya bang Nando begitu enteng.
Apa ia tidak tahu, bahwa pertanyaannya memberi efek tidak enak untukku karena Keith langsung memandangku begitu intens. Apa ia menuntut jawaban? Apa ia akan menuduh aku memilih perpisahan saat itu, karena kehadiran bang Ken? Tapi tidak penting juga kan? Ia sudah akan menikah dan mengarungi bahtera rumah tangganya bersama wanita idamannya.
“Di bangku belakang aja, Dek. Biar bisa istirahat nyaman.“ Bang Nando membukakan pintu kedua mobil ini, kemudian ia merunduk untuk mengatur kursinya.
__ADS_1
“Tapi aku belum ngantuk, Bang.“ Aku tahu penyebab kantukku tak kunjung datang, karena hatiku tengah kacau sekarang.
“Nanti juga ngantuk kalau mobil udah jalan.“ Bang Nando memaksa agar aku duduk bersama Keith.
Aku menghindari Keith, karena aku malas mendengar bualannya dan tuturnya yang sedang mencari pembenaran itu. Ia tidak mau terlihat salah, karena lama menyia-nyiakanku dan tiba-tiba memilih menikah dengan Shauwi tanpa tuntutan darah perawan Shauwi. Ia kejam untukku, tapi ia begitu mempercayai komitmen bersama Shauwi.
Aku paham semua wanita akan menjadi spesial di tangan laki-laki yang tepat. Tapi seorang laki-laki yang membuatku spesial di matanya belum datang untukku. Entah itu orang lama, atau orang baru, yang jelas nantinya aku akan mempertimbangkannya. Aku tak mau hidup sendiri meratapi nasibku yang tidak beruntung ini.
Benar kata bang Nando. Dengan tidak disangka, aku terlelap tanpa menguap lebih dulu. Saat aku terbangun, aku tengah melihat Keith tengah memberikan uang yang cukup banyak untuk bang Nando. Sepertinya, itu untuk pegangan bang Nando kembali ke rumah. Karena saat aku melirik ke sekeliling, aku melihat sebuah hotel yang letaknya cukup dekat dengan bandara. Mobil ini terparkir di bahu jalan, yang kirinya adalah pintu masuk bandara dan sebelah kanannya adalah hotel yang cukup besar. Aku akan tinggal sementara, sampai jadwal penerbanganku datang. Mungkin, aku akan menikmatinya dengan seorang diri, menenangkan diri dan mengagumi keindahan kota ini.
Healing istilahnya.
Kami memesan kamar yang terpisah, aku pun tidak berniat untuk mendatangi kamar Keith untuk melakukan aktivitas dewasa yang dulunya sering kami lakukan. Hari menjelang pagi, tapi masih cukup gelap. Setengah enam pagi, tidak di daerah kampung maupun kota, masih terlihat gelap dan temaram. Bulan pun masih terlihat, meski sinarnya sudah tidak menerangi lagi.
Aku memilih untuk terlelap kembali, karena aku merasa tubuhku masih membutuhkan istirahat. Barulah ketika siang hari, aku keluar dari kamar hotel dan mulai melangkah melipir memperhatikan suasana kota di jam sembilan pagi ini.
Aku singgah di suatu deretan ruko, tepatnya di kedai makan. Aku memesan seporsi menu andalan dan teh manis juga. Sembari menunggu makananku siap, aku memainkan ponselku mencari informasi tentang apa yang terjadi pada bang Ken setelah semalam bang Givan menghampirinya di rumah sakit.
Sayangnya, bang Givan tidak memberi pesan apapun. Aku kira, ia akan melapor tentang keadaan bang Ken di sana. Rupanya, tidak demikian.
Aku hanya mendapat pesan dari mbak Canda, ia menanyakan keberadaanku karena bisa tahu saat bang Ken mengalami kecelakaan. Namun, tiba-tiba aku berpikir bagaimana jika aku mengorek informasi tentang kabar bang Ken dari mbak Canda? Kan ia berkomunikasi dengan suaminya, ia pasti tahu kabar bang Ken dari suaminya.
__ADS_1
“Hallo, Mbak.“ Aku lebih memilih untuk menghubunginya segera.
...****************...