Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD138. Sudut pandang laki-laki


__ADS_3

“Baiknya aku gimana sih, Bang?“ Aku mendekati kakak iparku yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.


Ini sudah malam, mbak Canda dan Kirei sudah terlelap. Bang Givan sibuk mengecek laporan usahanya, tapi aku malah mengganggunya.


“Tidur baiknya.“ Bang Givan tidak menoleh sedikitpun padaku.


“Maksudnya, aku dan bang Ken.“ Aku tidak bisa tidur, karena teringat serapahnya yang mengatakan bahwa Kirei yang akhirnya akan mencarinya.


“Nikah aja kau tak butuh pendapat. Itu rumah tangga kau, uruslah sendiri.“

__ADS_1


Apa ini bagian dari kekecewaannya?


“Aku butuh pendapat Abang, aku pengen rumah tangga yang harmonis kek Abang dan mbak Canda.“ Miris sekali hatiku saat mengatakannya.


Ia menoleh dan memperhatikanku sesaat. “Kau taunya sekarang ya harmonis, coba kau datang di lima tahun pertama pernikahan kita. Apalagi, kami tak pernah pacaran. Mbak kau pacar Ghifar, Abang calon kakak iparnya, tapi Abang yang malah jadi suaminya. Serba sulit, apalagi sejak Key datang. Mbak kau makin tak nampak naruh hati, cuma sebatas mengabdi ke suami aja. Dari kutipan itu aja, kau pasti bisa bayangkan gimana dinginnya rumah tangga kita. Bertahan? Pasti bertahan, ini pernikahan, bukan mainan. Kalau pacaran dan masih tahap perjodohan, mungkin Abang bakal kabur hadapi hubungan kek gitu. Tapi itu rumah tangga, ditambah mbak kau yang jadi istrinya. Bukan apa-apa, bukan menyombongkan bisa miliki mbak kau. Tapi kau tengoklah suami kau, dia respon tiap kata yang keluar dari mulut mbak kau. Benar-benar malas Abang sih, kalau harus ngobrol sama suami kau itu. Dia dulu bahkan terus terang, kalau pengen punya istri kek mbak kau. Kadang Abang sih berpikir, kalau suami kau itu nikahin kau karena beranggapan bahwa adik Canda itu sama kek Canda. Tak mau juga Abang berpikir begitu, tapi sepak terjangnya bawa Abang untuk berasumsi begitu. Ya mungkin karena pembawaan mbak kau yang santai dan apa adanya, jadi bawa lawan bicaranya terhanyut dalam suasana yang mbak kau bawa. Tapi yang jelas sih, Abang cemburu lihat mereka ngobrol. Siapapun yang terang-terangan bilang bahwa dia suka sama istri Abang, atau ngomong dia pengen istri kek yang Abang punya, ya Abang tandain dia dari sejak itu juga. Orang yang bisa menghargai itu, tak seharusnya bilang bahwa dia pengen memiliki barang milik orang lain. Itu sangat tidak sopan dan tidak pantas.“ Bang Givan menggerakkan kedua tangannya yang tadinya berada di atas keyboard laptopnya.


“Memang tak sebaliknya? Malah bangga karena memiliki perempuan yang diinginkan laki-laki lain?“ Aku bertopang dagu di meja makan ini.


“Tapi tak sopan sekali dia bilang begitu, Ria. Cerminan laki-laki baik itu, tidak iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Maksudnya, dalam hal pasangan ya?“ Ia kembali memperhatikan laptopnya, jemarinya kembali bekerja di sana.

__ADS_1


“Aku ragu kalau bang Ken banyak jujur, aku rasanya dia tak benar-benar berkata jujur.“ Aku mengungkapkan apa yang aku rasakan, dari apa yang ia utarakan pagi tadi.


“Entah bohong atau dustanya mbak kau, Abang percaya aja, karena Abang cinta dan tak mau buat keributan. Tapi sejauh ini, memang mbak kau tak pernah bohong. Sebaliknya, hampir bosan betul dengar mbak kau bilang 'aku cinta betul sama mas' yang jelas mengakui amat cinta sama Abang, tapi dia selalu tak percaya kalau Abang ngomong jujur apa adanya. Karena apa sebabnya? Musababnya, karena Abang pernah bohong. Kepercayaannya ke Abang udah cacat, hal itu buat dia takut dibohongi lagi dan lagi. Dengan dia bilang 'aku cinta betul sama mas' dia berharap Abang bisa jaga cintanya, yang artinya bisa jadi kepercayaannya juga. Dia tetap cinta, tapi memang kadang kurang percaya. Karena ya itu, karena Abang pernah berbohong. Ya mau gimana lagi? Terbukti kok ucapan orang-orang dan kata-kata bijak itu, kalau kepercayaan itu sulit untuk didapat. Mbak kau selalu nyudutin, kalau Abang ada pergi ke mana. Harus aja Abang bilang, ke sini ini loh sama ini sama itu, abis ini abis itu. Biar dia tetap percaya, bukan makin luntur kepercayaannya. Pernah loh Abang sesedih itu dulu, waktu lima tahun pernikahan itu. 'Canda, aku mau ke luar.' Mbak kau cuma iyakan aja, tak ribut ke mana ngapain sama siapa. Sedih juga loh jadi suami, yang tak ditanya sedetail itu. Kejadian itu pun, karena awalnya mbak kau kurang percaya dan Abang bilang kalau Abang tak minta dia untuk percaya sama Abang. Kapok, Ria! Abang benar-benar kapok ngomong gitu, karena dapat responnya cuma iya-iya aja.“ Beberapa kali mbak Canda menirukan suara yang lebih lembut, yaitu suara mbak Canda.


“Kasus kau pun, mungkin karena bang Ken pernah berbohong kali ya?“ tanyanya kemudian.


Aku mengangguk. “Ya sering kek Abang begitu, 'aku tak minta kau untuk percaya'. Lebih sering lagi, dia tak pernah ngomong apapun setelah ada bukti, tak iyakan dan tak jelaskan. Yang terakhir sebelum kami pisah itu, dia dari Bandung, aku tanya dan dia tak jawab. Dia bilang ada di Singapore, aku kirimkan semua buktinya. Terus dia tak balas apapun, sekitar dua harian dia datang dan salah paham. Gimana ya? Aku udah capek, Bang. Toh, dia juga tak kasih kejelasan apapun waktu aku aku kasih bukti-buktinya. Susah tidur, malas makan, rasanya digantung nunggu kebenaran itu, Bang. Jatuh sakit kan aku masa itu, terus Alfonso aku minta antar ke rumah sakit. Pas kali, dia datang juga tuh. Marah kan dia di situ, Alfonso juga udah takut aja, jadi dia pamit. Aku sebenarnya udah malas untuk jelaskan, tapi tetap aku jelaskan. Ditambah, dia makin nuduh tak kurang-kurang. Ya udah, aku pergi aja dengan iyakan tuduhannya. Kalau laki-lakinya waras, harusnya dia tak percaya. Tapi sebaliknya, bang Ken percaya gitu aja. Aku sebenarnya ingin dicegah saat itu juga. Nyatanya, bang Ken biarin aku pergi.“ Suaranya bergetar, hanya mengulas kisah kemarin saja padahal. Kisah itu masih begitu sensitif untukku, aku belum siap untuk menceritakan berulang kejadian itu.


“Abang pun pernah buat kesalahan kek gitu, biarkan mbak kau pergi gitu aja tanpa pencegahan. Mana kan, dia bawa Chandra. Karena pemikiran kita sebagai laki-laki yang egonya tinggi, Abang yakin mbak kau itu pulang lagi karena keadaannya yang tak punya uang dan repot juga. Tapi nyatanya, ya mbak kau memang tak berniat untuk pulang lagi. Nyesel juga gimana? Udah terjadi kok. Ya kita sebagai laki-laki juga tak paham, kalau perempuan ingin dicegah. Sedangkan yang ada di pikiran kita, dia pasti kembali ke kita. Jadi, kau harus paham juga apa yang ada di otak laki-laki kau masa itu. Ditambah lagi, kau dituduh selingkuh dan kau iyakan. Percayalah Ria, kau lebih baik dituduh makan racun dan kau iyakan. Karena kau pasti ditolong dan langsung dibawa ke rumah sakit, untuk menyelamatkan nyawa kau. Kalau dengar ceritanya, keadaan itu lagi panas kan? Kau panas, karena kepikiran penjelasan akan kebohongannya. Dia pun panas, karena datang-datang dan dapati kau sama laki-laki lain. Hei, jangankan laki-laki lain. Abang tengok mbak kau melirik ke Ghifar aja, mendidih ini darah. Terus kau iyakan tuduhan dia? Ya kau nyalakan api di dalam pabrik petasan namanya, Ria. Ini sih menurut sudut pandang sebagai laki-laki aja ya? Karena memang dari awal pun, Abang tak sreg sama bang Ken.“ Bang Givan menyeruput minumannya, kemudian memperhatikan layar laptopnya lagi setelah beberapa saat.

__ADS_1


“Jadi? Maksud Abang, aku yang salah kah?“ Aku menunjuk diriku sendiri.


...****************...


__ADS_2