Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD46. Kekacauan Ken


__ADS_3

“Kau gila, Dek??? Kau sakit hati sama Abang?! Iya??? Makanya nyaranin Abang untuk kebiri?“ Ia mencengkram rahangku erat.


Jantungku bergemuruh, aku membayangkan hantaman tangannya mendarat di tubuhku. Aku berpikir, bahwa ia akan melakukan kekerasan padaku.


Aku tidak suka dengan tabiat kasarnya. Aku pernah memberitahunya bahwa ia kasar, tapi ia mengatakan bahwa ia hanya bercanda saja.


“Kalau Abang memang tak pengen punya anak lagi, ya lebih baik jangan berhubungan badan lagi.“ Aku mencoba melepaskan tangannya dari rahangku.


Terlepas.


Aku menggerak-gerakkan leherku, dengan menikmati rasa sakit yang tersisa. Ia kasar sekali, aku takut mati di tangannya.


“Bang, aku pamit pulang ya? Nanti, aku kirim orang untuk lanjutkan proyek kita.“ Entah kenapa, aku memberi keputusan ini secara tiba-tiba.


Rasanya tidak apa, aku tidak dinikahinya meski aku mencintainya. Daripada seumur hidup, aku harus terikat dengan orang sekasar dirinya ketika marah.


Aku hanya membawa kerudungku masuk ke dalam tas jinjing. Kemudian, ponsel kuraih dan aku mulai berjalan meninggalkan kamar ini.


Aku tak apa jalan satu jam, untuk sampai ke jalan raya. Asalkan, aku tidak mati di sini dan dikuburkan tidak layak olehnya. Maksudku, jasadku disembunyikan begitu.


Brakkhhh…..


Aku salah mencintai orang. Berkali-kali sudah aku katakan, jika aku sudah salah menaruh rasa pada laki-laki. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, karena membawaku sampai ke Banjarmasin ini dan terkunci dengan orang sepertinya.


Siapa yang tidak kalap, melihat sebuah kursi yang mendarat persis di pintu kamar yang sedikit terbuka. Belum lagi, kursi itu langsung rusak dan hancur di depan mataku karena kuatnya lemparan.


Aku masih selamat, karena kursi itu tidak mengenai tubuhku. Bagaimana, jika kursi itu malah menghantam tubuhku.


Prang…..


Brughhhhhhh……


Aku gemetaran. Mendengar cermin yang dipecahkan, kemudian rak buku yang dirubuhkan. Aku tahu pelakunya siapa dan yang membuatku semakin bertambah ketakutan, karena pelaku tersebut kini ada di hadapanku dengan wajah marahnya.


Matanya berair dan begitu merah.

__ADS_1


“Kau berani main-main, Dek?!“ Ia maju satu langkah dan membuatku mundur satu langkah.


Suaranya dingin mematikan, bibirnya sampai bergetar ketika berkata-kata. Urat wajahnya begitu kaku, dengan otot-otot leher yang terlihat jelas.


Bang Ken tidak seperti dokter yang ramah.


Kedua tangannya terangkat dan menekan leherku. “KAU DENGAR YA!!! KAU ABANG PERAWANI, BIAR KAU TERIKAT DENGAN ABANG!!! JADI, JANGAN MACAM-MACAM APALAGI BERPIKIR KABUR!!! KAU INGAT INI, RIA!!!“ Ia berteriak lepas tepat di depan wajahku.


Aku tidak kesulitan bernapas, tapi aku terkunci dengan cekikikannya. Ia tidak melonggarkan, atau mengizinkan kepalaku untuk menoleh.


“Abang!“ Aku merasa tidak nyaman dengan luapan emosinya yang sekasar ini.


“Abang nakutin aku.“ Aku sesenggukan memilukan, dengan menahan tangannya dari leherku.


Ia menyeramkan. Ia bukan Kenandra, ia kerasukan sepertinya.


Apa ia sakit jiwa? Apa otaknya tidak berfungsi normal? Atau, ada kekeliruan dalam susunan syaraf pusatnya?


Ia tidak seperti laki-laki sehat, dengan caranya mencintai seorang perempuan. Untuk apa ia mengunci dan membuatku terikat, jika ia tidak ingin memilikiku dunia akhirat? Apa ia menginginkan perizinahan seumur hidupnya bersamaku? Dengan semua bualannya kemarin, aku tahu inilah kejujurannya atas tindakannya.


“Abang nyakitin aku. Aku kesakitan, Bang.“ Aku menepuk-nepuk tangannya, yang masih mencekal leherku.


“ARGGGGHHHHHHHHHHH……” Ia mendorongku ke belakang begitu kuat, untungnya ada kasur yang menjadi alas jatuhku.


Ia berbalik badan, kemudian ia memukuli pintu kamar bertubi-tubi. Kalian bisa bayangkan ketakutanku, setiap buku-buku jarinya menghantam kayu pintu itu dengan sangat kuat.


Aku takut, aku khawatir, aku panik di sini. Aku tidak tahu ingin melakukan hal apa, aku tidak tahu ingin lari dan meminta tolong pada siapa. Karena bisa saja, itu bukanlah bang Ken. Melainkan, ada makhluk astral yang merasukinya.


Aku berpikir demikian, karena ia terlihat sangat berbeda sekali. Ia amat-amat kasar dan tempramental. Caranya meluapkan emosi, lebih parah dari beberapa kerabat yang aku kenal.


“Abang…..,” panggilku gemetar.


Aku membulatkan mataku, melihatnya malah mengangkat sebuah kursi yang sudah rusak begitu parah. Ia memelototiku, dengan kursi yang siap ia lemparkan.


Aku memejamkan mata, memeluk diriku sendiri mencoba menahan hantaman bilamana kursi itu mendarat padaku.

__ADS_1


BRAKKHHH…….


Hatiku mencelos, jantungku berdegup keras secara mendadak. Kursi itu, terlempar persis di lantai sebelah tempat tidur yang tengah aku duduki ini.


Tangisku sudah menyerupai raungan, aku tidak bisa mengontrol tangisku karena begitu takut dengan kekerasan selanjutnya. Dalam hidupku, aku baru merasakan benar-benar terancam punah. Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan amat takut mati di tangan seseorang. Namun, di tangan bang Ken. Aku yakin, jika aku akan mati muda tanpa adanya penerusku lagi.


Raungan tangis bang Ken terdengar begitu lepas. Tubuhku ditubruk olehnya dan membuatku bergulir bersamanya.


Aku hanya bisa pasrah dan terdiam saat ia memelukku begitu erat. Kami saling memeluk di atas tempat tidur ini, tubuh bang Ken bergetar hebat seiring dengan tangisnya.


“Jangan pergi, jangan pulang…..“ Ia berubah seperti anak kecil yang menangis sembari berbicara.


Apa ia cukup ketakutan, dengan diamnya aku setelah kejadian itu? Ditambah dengan keputusanku yang tiba-tiba ingin pergi secara mendadak ini? Apa ia benar-benar mencintaiku? Apa ia benar-benar ingin aku selalu ada di sampingnya? Apa ia benar ingin kami selamanya bersama?


Tapi, kenapa ia bisa sekasar ini padaku? Atau, itu adalah wujud luapan emosinya yang tak terbendung?


“Abang, aku takut.“ Aku memeluknya erat.


Aku ketakutan dengan situasi sekarang. Aku ketakutan dengan sikapnya. Aku ketakutan jika nyawaku lenyap di tangannya.


“Maaf….“ Suaranya bass-nya terdengar tidak pantas untuk dibawa menangis.


“Maaf, Sayang. Maaf…..,” lanjutnya dengan napas yang sesenggukan.


“Abang tak akan nyakitin Adek. Abang minta maaf udah buat Adek takut.“ Ia membelai rambutku.


“Abang minta maaf, Dek. Tolong ngertiin Abang, Abang cukup kacau sekarang. Abang aja tak ngerti tentang mau diri Abang saat ini, Abang tak mampu ngertiin perasaan Abang sendiri. Abang tak tau harus gimana dan ambil keputusan apa.“ Suaranya begitu parau, dengan napas yang tidak stabil.


Ia menangis saat ini.


“Abang sayang sama Adek. Abang tak mau Adek pergi, Abang tak mau Adek tinggalin Abang.“ Ia memelukku lebih erat, ia menyembunyikan wajahnya. Ia mungkin malu, karena ketahuan menangis.


Aku tidak mengerti dengan susunan kalimatnya. Karena bisa saja ia mengada-ada seperti kemarin. Hari ini ia jujur, tapi mana tahu hari ini adalah kebohongannya lagi.


Maksudku, seperti kebohongan ditutupi dengan kebohongan lagi. Seperti racun, yang ditawar dengan racun lagi. Seperti bualan yang kurang sempurna hingga harus ditutupi dengan bualan pelengkap lainnya.

__ADS_1


Jika memang saat itu adalah ucapan bohongnya. Lalu, apakah hari ini adalah ucapan kejujurannya? Apa kali ini, ia benar berkata jujur dan apa adanya? Atau bualan pelengkap untuk menyempurnakan bualannya?


...****************...


__ADS_2