Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD149. Rombongan lain


__ADS_3

"Jangan ikut lah Cali sih, nanti malah ribut rebutin nasi kotak aja." Mbak Canda mengangkat tubuh Cali yang masih memeluk kaki kakeknya itu. 


Suaranya sudah riuh begitu ramai dengan satu anak saja. Gavin membuatnya dengan cara apa, anaknya tumbuh menjadi anak yang heboh seperti itu? Kirei tidak seperti itu, semoga pun besarnya tidak begitu heboh seperti itu. 


"Biarin lah, Canda. Givan ada di sana juga." Papah Adi tidak pernah melarang cucunya untuk ikut dengannya. 


"Waktunya tidur siang, Pah. Aku kelonin nanti sekalian aku tidur." Mbak Canda berhasil mengangkat tubuh Cali. 


Ia perempuan, tapi begitu mirip kakeknya juga. Ya bisa dibilang, mirip ayah kandungnya. Karena ayah kandungnya begitu mirip dengan papah Adi juga. 


"Hmm, ya sholat dulu." Papah Adi memperhatikan cucunya yang berontak dalam gendongan menantu tertuanya itu. 


"Iya, Pah. Udah mam, Cali tinggal bobo sama Biyung." Mbak Canda mencium pipi anak susuannya itu. 


Cali berakhir menangis lepas, karena ia dilarang ikut dengan kakeknya. 


"Biarin ikut Papah, Canda. Tak tega Papah lihatnya." Papah Adi mengusap air mata cucunya itu. 


"Nanti sore aja lah, Pah. Suruh bobo dulu sekarang. Aku pulang deh, biar Papah tak lihat tangisnya Cali." Ia langsung nyeruntul pergi. 


"Siapin dot yang susunya masih dipisah itu, Dek. Biar bisa buat nanti." Papah Adi membenahi Kirei. 


"Malu lah, Pah. Ngapain harus bawa Kirei?" Aku tidak segera bergerak memenuhi perintahnya. 


"Tak apa-apa, Papah pun nurut perintah mamah aja. Sana siapin satu atau dua, Papah tunggu di depan." Papah jalan meninggalkan area pintu kamar Gibran. 


Serius ini? 


Apa aku harus ikut juga? 


Aku segera menyiapkannya, lalu membawanya ke dalam kantong plastik kecil. Agar papah mudah membawanya, apalagi papah menolak menggunakan gendongan bayi. Papah selalu menyangga Kirei di depan dadanya, jadi wajah anakku terekspos jelas.


"Ini, Pah. Aku ikut juga kah?" Aku memberikan dua dot susu dengan air terpisah ini. 


"Tak usah, cuci piring aja sana. Terus sholat, makan, tidur." Papah bergerak pergi dengan peci kebesaran yang sudah berada di atas kepalanya. 


"Pah, aku khawatir." Aku masih berdiri di teras memperhatikan papah Adi yang berjalan menjauh. 

__ADS_1


Papah tidak meladeni ucapanku, ia tetap melangkah membawa Kirei. Kirei sih tidak mengerti apa-apa, ia selalu girang jika bersama kakeknya itu. Papah Adi selalu bisa membuat cucu-cucunya bahagia dengan cara sederhana. Pasti ia sangat berkesan di mata cucu-cucunya. 


Sangat terbatas sekali sudut pandang orang pertama, jika begini kan aku jadi tidak tahu apa yang terjadi di sana. Boro-boro tidur, memejamkan mata sejenak pun tak bisa. Aku terus berdebar dan kaki ini seperti gatal untuk membawaku ke sana. Namun, jika aku ke sana sendiri. Khawatirnya, ini tidak sesuai rencana mamah Dinda. 


Sampai pukul tiga sore, Kirei kembali dengan rombongan lain. Ke mana mamah Dinda dan papah Adi? Aku tidak bisa jika Ditanya-tanya banyak. Baiknya aku harus menjawab apa? Jujur atau berdalih, mamah Dinda tidak memberikan peringatan apapun sebelumnya. 


Aku jadi bingung harus menyambut seperti apa. 


Abi Haris, ibu kandungnya almarhum kak Kin, Bunga, pengasuh Bunga, Ahya dan kedua anaknya berjalan ke arahku yang berdiri di teras. Bunga sampai menggenggam tangan Kirei yang digendong oleh abi Haris, ketika mereka berjalan ke sini. 


"Punya mamah nih, Kak. Simpan di dapur katanya, oleh-oleh khas Cirebon." Ahya memberiku kantong plastik yang ternyata cukup berat. Dari aromanya sih, ini seperti terasi. 


"Mamah mana?" tanyaku canggung. 


Tanganku sampai sudah dingin semua. 


"Di belakang, lagi kasih nasi kotak di studio." Ahya menunjuk arah Riyana Studio berada. 


"Masuk yuk?" Ahya malah mengajaku masuk, bukan aku yang mempersilahkan mereka untuk masuk. 


Setelah masuk ke ruang tamu, aku langsung berlalu ke dapur untuk menaruh terasi ini. Sedangkan asisten rumah tangga, sudah bergerak untuk membuat minuman. Aku bingung harus bagaimana, aku malah duduk di kursi makan sampai terdengar suara mamah Dinda dan papah Adi. 


"Dek… Susuin Kirei, haus keknya."


Aku sampai tersentak mendengar suara mamah Dinda. 


"Tolong sih ambilkan Kirei, Mah." Aku canggung sekali bertemu mereka. 


"Tak apa, sanalah. Mamah mau cuci tangan dulu. Bantu bawain minuman tuh, Dek."


Tidak ada pilihan lain, selain mematuhi perintah mamah Dinda. Sialnya lagi, bang Ken ada di sini juga. Tapi wajahnya datar saja, ketika aku datang ke ruang tamu dengan membawa minuman hangat ini. 


"Mau ASI dulu, Adek haus, Bu." Ahya membawa Kirei padaku. 


Aku mengangguk dan tersenyum pada Kirei yang merengek menantikan ASI. Dengan kecanggungan ini, aku bergerak menjauh untuk menyusui Kirei. 


"Pakai apron aja, Dek. Sini ke depan." Aku berpapasan dengan mamah Dinda di ruang keluarga. 

__ADS_1


Aduh, sudah untung memiliki alasan untuk menyusui. Tapi malah diminta menyusui di depan dengan penutup kain. 


Baru juga ingin berlama-lama, Ahya sudah datang menjemputku di kamar. Ia mengajakku untuk keluar, dengan apron yang menutupi dadaku. 


"Udah tidur Kirei tuh, Kak." Ahya berjalan beriringan bersamaku.


"Lama kah?" Aku mempertahankan keluarga yang melihatku dari jauh. 


"Lumayan, selama tahlil dia tidur di gendongan bang Ken."


Sial, ia betah bersama ayah kandungnya. 


Suara Kirei yang menyusu dengan gemas, membuat beberapa dari mereka terkekeh geli. Meski tertutup kain, Kirei tetap menggemaskan meski wajahnya tidak terlihat mata mereka. 


"Nama panjangnya siapa, Dek?" tanya abi Haris, setelah aku duduk beriringan dengan Ahya. 


Kedua anak Ahya dan Bunga bermain di teras rumah, dengan ditemani oleh pengasuh Bunga. Mereka cukup anteng, tidak berlarian seperti anak bang Givan. Tapi gelak tawa mereka terdengar ceria, mereka sepertinya begitu gembira berkumpul bersama saudaranya. 


"Kireina Aqsa, Bi." Aku hanya sekilas memandang wajah beliau, kemudian tertunduk melihat lantai kembali. 


"Bagus namanya. Kapan dia lahir?" Abi Haris lancar bertanya, sepertinya ia tidak mendapat informasi apapun dari anaknya. 


Iyalah, anaknya hanya tahu menghamili saja. 


Aku memberitahu tanggal lahir Kirei. "Di Brasil, lewat sesar karena sungsang," lanjutku kemudian. 


"Padahal ayahnya dokter tuh, ada tenaga medis khusus yang bisa putar posisi bayi." Abi Haris melirik ke arah bang Ken yang terlihat pucat dan diam saja. 


Bang Givan juga mana lagi? Harusnya ia di sini untuk membantuku berbicara dengan keluarga bang Ken ini. 


"Semangat sih, Bang." Ahya pindah ke sandaran tangan sofa yang diduduki bang Ken. Ahya mengusap-usap baju kokoh bang Ken. 


"Tau nih." Abi Haris geleng-geleng kepala, kemudian memperhatikan anaknya dengan seksama. 


Abi Haris memiliki anak yang seperti monster jika tidak ada orang. Beliau tahu tidak, jika anaknya seperti itu? 


Tiba-tiba, cairan merah melompat begitu saja dari dalam mulut… .. .. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2