Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD189. Rencana resepsi


__ADS_3

"Jangan terburu-buru, aku kemarin nyesel karena buru-buru takut keduluan dosa." Aku membuka obrolan serius ini. 


"Terus, akhirnya berbuat dosa juga kan?" Pertanyaannya yang langsung aku angguki. 


"Sama. Aku pun kemarin takut keduluan dosa, tapi tak sampai melakukan dosa besar. Cuma nyeselnya itu sekarang, karena kenapa tak tunggu perempuan beres aja." Ia duduk di sampingku dan mengayunkan tubuh Kirei pelan. 


Orang-orang pasti menyangka kami adalah pasangan suami istri yang baru memiliki anak, karena Gavin pada Kirei tidak terlihat canggung dan kaku. Mungkin karena ia sudah terbiasa mengayun dan menggendong anaknya sendiri, jadi ia terlihat tidak kaku saat menggendong Kirei. 


"Kita harus di tengah-tengahi orang tua, Vin." Karena aku tidak mau diam-diam seperti kemarin. 


"Rencananya gimana? Biar aku enak ngomong ke ibu, ngomong ke mamah jiga."


Aku mulai berpikir keras di sini. Bagaimana ya rencananya? Jika langsung menikah, apa tak khawatir terburu-buru? 


"Kau ada perempuan lain tak sih? Kalau kita nikah cepat, takutnya ada yang ganggu-ganggu lagi." Ia adalah laki-laki yang bercandanya keterlaluan, kadang mesti saja ada perempuan yang jadinya baper. Aku yakin itu. 


"Aku sih ngerasanya tak ada." Tiba-tiba ia menunjukkan ponselnya padaku. 


Aplikasi chatting yang terbuka, menunjukkan nama bang Ghavi yang teratas. Lalu, nama kontakku. Setelahnya, nama mbak Canda. Kemudian, ada nama mamah dan baru Safana. Safana itu Safa ya sepertinya? 


"Itu Safa?" Aku menunjuk room chatnya dengan Safa. 


"Buka aja." 


Aku mengambil ponselnya, kemudian menyentuh room chatnya dengan Safa. 


[Jengkol, ubi, singkong, pisang, salak.] pesan teratasnya adalah itu. Itu dikirimkan oleh Gavin pada Safa. 


[Sejak kapan aku jual pisang?] balasan dari Safa seperti itu. 


Katanya, ia pedagang buah. Tapi kok, pisang tak ada? 


[Keponakan kau kan jualan buah segar kan? Kau belilah dari dua seharga delapan ribu contohnya, nanti aku tau beres dan bayarin sepuluh ribu.] ini balasan dari Gavin. 


[Ya udah, jumlahnya berapa aja?]


Terlihat sebatas pembeli dan pedagang. 


[Jengkol, ubi, singkong, salak, dua kilo. Pisang, satu kilo aja.] 


Tidak ada yang mencurigakan. 


[Okay, Bray.]

__ADS_1


Sudah, seperti itu saja. Tapi aku tetap memiliki kecurigaan, aku langsung pergi ke aktivitas panggilan telepon via aplikasi WA dan akhirnya menemukan nama Safa paling banyak di sana. 


"Kau nelponin Safa?" Aku menunjukkan buktinya pada Gavin. 


"Heem." Ia ringan sekali menjawabnya. 


"Bisanya? Ngomongin apa?" Jelas aku langsung curiga. 


"Ngomongin harga jahe berapa, dijual berapa nantinya, mobil ke sini jam berapa, kapasitas berapa ton, bensin dari siapa, oke deal dan pembayaran setelah barang datang. Tengok aja waktunya, ada yang lima hari lalu, paling terakhir kan kemarin itu. Aku nelpon, kasih tau dia kalau aku udah sampai rumah. Minta dia bawa rekapnya ke rumah, tapi dia malah sekalian anter belanjaan tuh." Ia terlihat tenang dan santai saat menjawabnya. 


"Intinya tertarik tak sama dia?" Aku mengembalikan ponselnya. 


Ia menggeleng. 


Ia tidak berlebihan dalam meyakinkanku, tapi cukup membuatku percaya padanya. Aku yakin tidak semua anak papah Adi memiliki hati sebaik orang tuanya, tapi aku khawatir salah satu anaknya ini mengecewakanku. 


"Kau mau kapan nikah?" Keinginan Gavin ini yang membuatku tergesa-gesa terus. 


"Setelah kita lebih tau satu sama lain." Aku memandang wajahnya dari samping.


Sepertinya ia menyadari, jika aku tengah memperhatikan wajahnya dari samping begini. Ia menoleh, kemudian mengedipkan sebelah matanya. 


Dasar genit! 


"Tau tuh gimana maksudnya? Tau isi aku dalam celana aku? Begitupun sebaliknya?" Pandangannya selalu dalam sekali. 


"Ya tak bisa, belum nikah masa mau banyak komplain tentang watak kita. Kau sih ngaco aja. Jadi mending gini aja kah? Aku khitbah kau, satu bulan kemudian lagi nikah gitu loh. Kau sekarang masih selamat dari aku, tapi entah nanti bagaimana. Kau mau lama-lama kita jalani hubungan sebelum nikah, khawatirnya aku bosan dulu." Logis sekali pikirannya. 


"Jadi?" Aku memandangnya lagi. 


"Nikah udah paling bener." 


Begitu lagi akhirnya keputusannya. 


"Kalau terlalu cepat, takut gagal lagi." Aku memiliki ketakutan tersendiri. 


"Ya udah, hamil aja dulu kau baru nikah?" Kocak sekali tawarannya. 


Ia tertawa lepas, saat melihat ekspresi wajahku. 


"Kita pulang nih, bilang ke orang tua dulu. Nanti kita sampaikan juga pernikahan kita ini konsepnya bagaimana. Aku belum pernah ngerasain resepsi, kau juga kan? Aku pengen kita resepsi besar, undangan banyak, ada dangdutan, itu bisa di Lampung." 


Aku reflek mencubit perutnya, karena merasa geli sendiri dengan dangdutan tersebut. 

__ADS_1


"Maksudnya, yang ada hiburannya tuh. Aku tak masalah nikah resepsi di halaman rumah juga. Tapi kek ada tari khasnya, ada budaya kita di pernikahan kita. Kan pasti persiapannya harus jauh-jauh hari tuh. Sambil kita nikmati kerepotan kita ngurus acara, kan sekalian mempererat perasaan kita. Terus terang aja, memang awalnya itu cuma tertarik, n****-n**** tipis. Tapi lambat laun kita komunikasi kek kemarin, bercanda, bergurau, kirim-kirim foto, kan jadi rasa itu kek tumbuh dengan sendirinya. Padahal, tubuh kau kan biasa aja. Tak seksi-seksi betul, tapi karena aku tertarik sama kau, sama pembawaan kau, bentuk kek gitu aja tuh kek punya nilai plus di mata aku."


Mulutnya nyelekit. 


"Kau pun kek papah kau, tak ada ganteng-gantengnya!" Aku pun bisa berkata tajam. 


"Kau bilang begitu, biar aku sungkan dekati perempuan lain kan? Cuma kau yang bilang aku tak ada ganteng-gantengnya." Ia melirikku dengan tersenyum tertahan. 


Senyumnya saja semenawan ini. 


"Tau ah!" Ia menyenggol lenganku dengan lengannya. 


Tawanya lepas seketika.


"Oke? Mau ya? Gitu aja ya? Sambil persiapan, sambil dekatkan diri. Nanti aku stay di sini."


Gawat, bisa-bisa ASIku menjadi es k*c*k.


"Aku di ibu tuh pasti." Aku bangkit dari duduknya. 


"Yaaa, atur aja gimana baiknya biar tak menimbulkan fitnah." Ia bangkit dari duduknya juga. 


Ternyata, Kirei sudah pulas kembali. Kirei belum genap empat bulan, jadi ia masih suka gampang terlelap. 


"Kau nyetir, aku yang gendong Kirei." Ia masuk ke mobil, setelah mobil bisa dibuka pintunya. 


"Sejak tadi pun aku yang jadi sopir. Kau enak ngemil, bercanda sama Kirei. Main HP lagi," sindirku kala aku sudah bersiap mengemudi kembali. 


"Jangan dibuat syusyah! Biar ngerasain, itu loh yang laki-laki rasain kalau nyetir pulang pergi. Nanti aku turun di minimarket lagi, aku mau beli susu untuk Cali." 


"Kenapa tak sekalian tadi di swalayan???" Gemas sekali aku jika ada orang yang ke minimarket, padahal baru pulang dari swalayan. 


"Nanti kau minta dibayarin lagi. Aku udah punya pikiran untuk resepsi nanti. Aku udah punya planning untuk resepsi itu, makanya pulang setelah panen kali ini." Ia menaruh ponselnya di dasbor mobil, kemudian menciumi Kirei habis-habisan. 


"Kau pelit." Aku mulai menjalankan mobilku perlahan. 


"Biarin! Kau belum jadi kewajiban aku. Kemarin-kemarin kan ketempelan uang aku juga kan? Kek aku genggam betul aja." Ia menarik pipiku secara tiba-tiba. 


"Perhitungan berarti namanya." Aku masih ingin meledeknya. 


"Ah masa?" Ia mencolek dadaku cukup kencang. 


Aku meliriknya tajam, tapi ia malah tertawa begitu lepas. Memang dasarnya usil, aku akan membalasnya nanti. 

__ADS_1


Awas saja! 


...****************...


__ADS_2