Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD216. Ghibah pagi


__ADS_3

"Mbak, napa sih sampai masuk-masuk ke kamar gini? Itu Gavin masih molor." Aku merapikan selimut suamiku. Di dalam selimutnya, ia tidak menggunakan apa-apa. 


"Mau ngajak Kirei main." Mbak Canda tanpa sungkan naik ke ranjang dan mengganggu ketenangan ranjang ini.


Aku ingin libur beraktivitas, badanku lelah sekali. Pinggang sakit, paha sakit, selang****** sakit, lutut lemas dan ujung dada nyeri. Bukan karena gigi Kirei, karena Kirei belum memiliki gigi. Tapi karena ayah sambungnya yang memberi rasa Sampoerna Mild ke ujung dadaku. 


Kirei bisa dibawa bermalas-malasan, ia suka guling-guling di kasur jika ada yang menemani. Kami belum mandi semua, bahkan Gavin masih mendengkur. Kami baru membuka mata sepuluh menit yang lalu, dengan mbak Canda yang menerobos ke kamar beberapa detik yang lalu. 


"Dek, car free day. Ikut tak? Ayah suruh Biyung ajak Adek." Mbak Canda mengangkat Kirei yang tengah tengkurap. 


Tanggapan anak itu? Langsung girang saja. 


"Belum dimandikan, Mbak." Aku menahan kaki Kirei, yang akan dibawa pergi. 


"Duh, ya cepat sih. Nanti ditinggal rombongan." Mbak Canda duduk kembali di tepian ranjang. 


"Aduh, udahlah tak usah diajak. Aku pengen malas-malasan dulu." Rasanya berat sekali untuk bangkit dari ranjang ini. 


"Sebentar tuh, orang cuma mandikan aja. Nanti Mbak yang bawa, Dek. Kau tak ikut, ya tak apa." Mbak Canda mendudukkan Kirei di dekatnya. 


Kirai mencoba menarik rambutku. Ia suka sekali menjambak ibunya ini, isengnya sudah seperti ayah sambungnya. 


"Iya, iya nih." Aku bangkit dan meregangkan ototku. 


Jika Kirei diajak, aku bisa lanjut beristirahat. Mungkin libur masak sehari boleh kali ya? Kan tidak setiap hari terpenting. 


Aku melepaskan baju Kirei. Kirei sudah mengerti tanda-tanda dimandikan, ia langsung berulah dan menengadahkan kepalanya. Ia menolak untuk mandi atau dengan kegiatan lepas pakaian. 


"Anaknya bang Ken katanya nanti kalau lahir kena down syndrom, juga ada bocor jantung. Semalam kata mamah, bang Ken nangis-nangis minta maaf ke mamah dan cerita segala macam."

__ADS_1


Aku langsung meluruskan pandanganku pada mbak Canda. Aku merasa tidak percaya dengan ucapannya, apalagi karena bang Ken dokter. Sudah pasti bang Ken memahami kebutuhan ibu hamil, jadi janin kak Riska tidak akan kekurangan nutrisi. 


"Kak Riskanya darahnya tinggi terus, kemarin katanya sampai dua ratus. Katanya sih mungkin karena stress, tapi entah karena ada pengaruh lainnya juga," lanjut mbak Canda tanpa kuminta. 


"Jadi??" Aku masih mecoba mencerna informasi tersebut. 


"Tak jadi-jadi, minta maaf ke mas Givan, ke Ghifar juga, terus minta tolong Ghifar hubungi Novi. Dramatis deh, Mbak semalam mewek sendiri. Kasihan betul, dia kek orang bingung harus ngapain gitu. Minta maaf juga rasanya udah percuma kan? Orang janinnya udah jadi manusia gitu kan? Dia minta doa, katanya semoga anaknya selamat dan berumur panjang." Mbak Canda membantu melepaskan pakaian Kirei. 


Ia kalap langsung, merengek dan mencoba meraih selimut yang dikenakan ayah sambungnya. Kirei tidak suka air, dari bayi sampai sekarang. 


"Jangan nangis, Dek. Sini bobo-bobo." Tangan Gavin meraba-raba, kemudian ia malah mempuk-puk betisku. 


Lucu sekali. Pasti ia berpikir, bahwa betisku adalah tubuh Kirei. 


Kirei memekik, ia tengkurap dan tiarap berusaha untuk mendekati ayah sambungnya itu. Ia mencari perlindungan. 


"Mau dimandikan, Bang." Aku mencoba mengangkat Kirei yang sudah berada di pelukan ayah sambungnya itu. 


"Terus gimana, Mbak?" Aku menoleh ke arah mbak Canda kembali. 


"Ya tak gimana-gimana, mamah juga tak bisa kasih saran. Anak mamah tuh tak sampai ada yang punya kelainan dari lahir begitu. Paling ada yang sempat kena TBC, kena infeksi paru-paru, pneumonia, radang usus, sinus, amandel. Ini juga setau Mbak sejak jadi menantu." Mbak Canda membuka satu persatu jarinya, kala mengucapkan beberapa penyakit itu. 


Ya aku pun tahu. Bang Ghavi sempat terkena TBC, Gavin kecil pernah terkena radang usus, kemudian yang lainnya itu kebagian penyakit seperti itu semua. Masalahnya satu, merokok itu rata untuk mereka. Jadi, ya sudahlah. Sudah dari ogot-ogotnya pun merokok, jadi penyakit seperti hanya fokus ke pengobatan saja. Bagi yang ingin merokok, ya tetap merokok di luar rumah. 


"Kan bang Ken juga dokter, pasti tak butuh saran." Dia pasti sudah ahli sendiri untuk penanganannya. 


"Maksudnya, saran secara spiritual. Jadi kek harus minta maaf, harus mohon ampun atau gimana gitu tuh. Sedih betul lah jadi dia ini, keknya tak bahagia-bahagia." Mbak Canda malah meratap sedih. 


Sifat perasanya sangat dominan. Ibaratnya, a***** yang sudah menggigitnya pun akan dirawat jika membutuhkan pertolongannya. 

__ADS_1


Aku jadi teringat, kala hatiku secara tidak langsung pernah mengutuk bang Ken harus kesusahan untuk menelateni kebahagiaan. Apa ini serapah tidak sopanku kemarin? Ya, dia harus telaten untuk mengurus buah hatinya yang diibaratkan adalah kebahagiaannya. 


Apa aku harus minta maaf? Tapi aku tidak mengatakan dengan lisanku langsung. Ah, lebih baik aku memohon ampunan saja pada Yang Kuasa. 


"Bang Ken sibuk urus kak Riska, jadi Bunga di mana?" Anak itu pasti kekurangan kasih sayang karena keadaan ini. 


"Di Mbak sekarang sih. Kalau bang Ken sama kak Riska ada di rumah, ya Bunga dijemput. Pengennya mas Givan tuh, Bunga sampai besar sama kami aja. Tapi entahlah, tau sendiri bang Ken agak-agak. Jadi terserah ayah kandungnya aja, toh dia yang lebih berhak untuk anaknya." Mbak Canda mengangkat kedua bahunya. 


"Yung… "


Nah tuh, sulungnya ayang Apin. 


"Sini masuk, Cantik. Ayah masih bobo nih." Mbak Cabda melambaikan tangannya ke arah pintu yang setengah terbuka. 


"Kak Canda, kata bang Givan jadi tak?" tanya pengasuh Cali, yang berdiri di belakang Cali yang sedang merangkak. 


"Jadi, bentar tunggu Kirei mandi." Mbak Canda menepuk pahaku. "Cepat sih mandikan dan dandani dulu, Dek." Mbak Canda bangkit dari duduknya. 


"Itu Ayah bobo, Dek." Mbak Canda berjalan ke arah Cali, dengan menunjuk Gavin yang masih mendengkur. 


Segitu kami mengobrol, Kirei menangis. Ia tetap bisa lanjut mendengkur saja setelah selesai berbicara. 


Cali memekik, ia merangkak cepat untuk keluar dari kamar. Aku bertanya-tanya, sebenarnya kenapa dengan aku dan Gavin? Kenapa Cali begitu anti dengan ayah kandungnya, juga aku sebagai ibu sambungnya. 


Cali sesekali mau ikut denganku, jika aku memberinya ponselku. Ia anteng denganku, tapi lebih tepatnya dengan ponselku. Aku setiap hari main ke mbak Canda pun, niat hati sih ingin mendekati putri sulung itu. Namun, anaknya mau denganku kalau ada maunya saja. 


Lebih sulit membujuknya untuk ikut, karena ia bisa melawan dan berteriak lepas. Senjatanya adalah menangis histeris dengan teriakan, disertai dengan raungan seolah ia akan dicincang. 


Aku segera membenahi Kirei, agar siap diajak jalan-jalan. Lumayan juga, kan aku bisa lanjut mendengkur bersama ayang Apin. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2