Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD225. Membesarkan masalah


__ADS_3

"Hai, apa aku bilang aku dijodohkan? Aku cuma bilang 'heem' aja, pernyataan aku dijodohkan orang tua pun dari mulut bapaknya. Jadi mereka berpikir, ini bukan kehendak aku dan mau aku, jadi mereka bisa memaklumi keadaan ini. Lain cerita, kalau aku yang awal buka suara kalau aku dijodohkan orang tua dan aku harus menerimanya. Aku tak bilang loh, coba ingat kembali."


Loh? Iya juga sih. 


"Kalau aku ketahuan nikahin kau karena keinginan aku sendiri, pasti mereka memandang buruk aku. Pasti berpengaruh dengan usaha aku di sini, aku yakin itu."


Aku mengusap-usap dahulu. Memang benar sih, logikanya begitu memang. 


"Tapi kau tak bela aku di sana, Vin." Ah, tetap ia melukai hatiku. 


"Harus gimana aku? Aku udah pegang tangan kau, udah usap-usap lutut kau. Masa iya aku ng***in kau di depan mereka?!" Ia ngotot dengan kata-kata yang kena sensor itu. 


Kirei melongo saja. Ia seperti bingung, ia melempar pandangannya padaku dan Gavin secara bergantian. Mulutnya yang terbuka, menambah kesan lucu di wajahnya. 


"Kesannya kau tak cinta aku." Aku lekas cengeng dengan menundukkan kepala. 


"Tak cinta, tak akan tertarik ngajakin kau begituan tiap malam." Ia menggulingkan tubuhnya. "Anak Ayah, bobo dong." Ia berbicara pada Kirei. 


"Ya itu kan kebutuhan kau." Memang dia menggebu-gebu untuk berhubungan suami istri setiap waktu. 


"Kalau kebutuhan, pasti aku jajan perempuan tiap hari untuk memenuhi kebutuhanku kemarin. Munafik! Kek kau tak butuh kelonan aja." Mulutnya amat sadis. 

__ADS_1


Iya juga sih. Kenapa sih, ucapannya kotor banyak benarnya. Aku jadi merasa bodoh sendiri. Contohnya saja beras, kami membeli karena kebutuhan setiap hari. 


"Memang kau nikahin aku untuk apa coba?! Biar kau ada yang ngurusin kan? Biar ada yang ngelayanin kan?" Pasti bukan karena cinta nih alasannya, aku sih curiganya begitu. 


"Gaji kau berapa kemarin? Gaji training kau di bang Ghifar?"


Apa hubungannya ia bertanya gaji? 


"Tujuh juta, kenapa sih?" jawabku cepat. 


"Sekali belanja lima juta habis kemarin. Dua juta kau cukup apa memang? Kau doyan uang jajan dari aku, tapi kau nanya aku nikahin kau untuk apa. Dasarnya kau munafik, Riut! Kau butuh suami, tapi lagak kau kek mandiri sendiri. Kalau orang tua aku tak bantu, abang-abang aku tak bantu, kau tak mungkin bisa nafkahin anak kau lebih." Ia duduk dari posisinya. 


"Kau yang sombong! Mandiri tak seberapa, sombongnya luar biasa. Udah nampak, kemarin kau pun mau minta cerai kan? Mentang-mentang bisa kerja sedikit." Sorot matanya tajam mematikan. 


"Aku nanya, kau nikahin aku karena apa? Kau butuh seseorang yang ngurusin kau kan? Butuh penuntasan setiap hari kan?" Mulutnya ke mana-mana, aku bertanya apa juga jawabnya apa. 


"Kemarin aku tak mati, tak ada yang ngurus tuh. Kau mau ngurusin aku atau tak, terserah kau, itu urusan ganjaran untuk kau sendiri. Tak selang******, malah penuntasan! Udah kubilang, aku pasti jajan tiap hari kalau kau berpikir begitu. Uang ada, waktu banyak, tinggal keluar jalan-jalan malam, atau download michat, udah dapat untuk penuntasan. Aku pernah bilang di awal, kenapa harus diulang? Aku malas bahas perasaan, bahas kata-kata lebay. Malu mulut aku ngomong gitu. Cukup aku tunjukkan tanggung jawab aku ke kau, kepedulian aku ke kau, kasih sayang aku ke kau, itu udah cukup nandain bagaimana aku ke kau. Masa tiap waktu aku harus bilang, I love you, I miss you, I need you. Gas habis, memang bisa pakai I need you? Beras habis, memang bisa pakai I miss you? Lauk tak ada, memang bisa pakai I miss you? Ngotak lah, Ria! Kita bukan lagi pacaran, yang ditampilkannya tentang hal manis terus. Kau bawa-bawa masalah ranjang terus, kek suami istri itu tak pantas melakukan hal itu. Kek cara aku itu tak normal gitu, sampai kau nampak keberatan gitu. Padahal kau sama pengantin barunya, wajar menurut aku begituan kencang. Kau beranggapan aku ini terlalu hiper kah? Kau aku gauli, karena kau halal untuk aku. Pikiran kau begitu lagi, begitu lagi. Bikin tersinggung aja. Kek yang merasa enaknya cuma aku sendiri, wajar kau protes kalau begitu. Aku kan mikirin juga gimana ngenakin kau, gimana caranya buat kau nyebut-nyebut nama aku. Kadang mikir begini, pantas jadi janda, orang banyak protes yang tak manusiawi. Kau tak bisa jadikan suami itu, dalam kendali kau. Kau tak bisa inginkan suami, memperlakukan kau seperti apa yang kau khayalkan. Suami juga manusia, sama kek kau. Suami ada sisi baiknya, ada sisi buruknya. Harusnya kau bersyukur, suami kau bawa kau ke mana dia kerja. Gimana coba, kalau suami kau tinggalkan kau di kampung halaman, tanpa kau tau kesibukan suami kau di luar sana. Pasti kau beranggapan sekarang, bahwa aku bawa kau karena untuk ngurusin aku. Memang hati kau sakit, berpikiran buruk terus. Kalau memang capek ngebakti sama aku, tak usah urus aku. Pahala untuk kau sendiri, ganjaran untuk kau sendiri, aku tak maksa untuk kau urus aku dan layani aku. Belok-belok betul jadi perempuan. Aku di depan mata pun, kena tuduh jelek terus. Gimana kalau aku tak nampak di mata kau." Jakunnya naik turun, dengan tangannya yang mengusap-usap kepala Kirei yang berada di atas pangkuannya. 


"Kau memperbesar masalah, Vin." Bukan ini jawaban yang aku ingin dari mulutnya. 


"Memang maksud kau apa begitu? Kau tau, awalnya aku ke kau pun iseng-iseng berhadiah. Kau mau, ya syukur. Kau nolak, ya aku coba lagi. Nyatanya kau mau sama aku, apa yang harus aku bilang? Aku tertarik sama kau, kau pun tertarik sama aku. Apa aku salah di sini? Aku salah udah naruh hati sama kau? Aku salah udah terlanjur sayang ke anak kau? Aku salah begitu?"

__ADS_1


Tinggal menjawab, kenapa harus diperbesar? 


"Kau nyebelin, Vin." Sesak sekali meladeni bualan mulutnya. 


"Memang kau gimana? Ngajakin ribut begini sekali lagi, aku taruh kau di rumah mak aku. Biar kau kena mental di sana, biar kau paham kehidupan pernikahan ini bukan lagi membahas hal-hal dan alasan pernikahan. Kecuali, mantan datang lagi dan ngacauin rumah tangga kita, boleh kau bawa aku ribut besar sekalian." Ia menunjuk wajahku. 


"Tapi kau begitu, jahat!" Tuh kan aku dibuatnya menangis duluan. 


"Penjahat rupanya aku ini." Ia seperti menggerutu. 


Aku masih menunduk kepala dan menumpahkan rasa cengengku. 


"Jangan bengkok-bangkok sekali lah jadi perempuan. Emosi aku kau begini, Ria. Yang nurut, kecil-kecil begini pun aku suami kau. Jangan beranggapan pola pandang aku kek anak-anak, aku udah dewasa, aku paham mana yang terbaik untuk kita. Takut lancang loh mulut aku ini, kalau kau terus begini. Yang logis-logis aja deh. Lapar, makan. Haus, minum. Bosan, bilang aja. Aku belikan gi**** nanti." 


Saat aku meluruskan pandanganku, ia tengah menahan tawanya. 


"Terus aku harus belikan kau j***** gitu?!" tukasku cepat. Ia malah tertawa lepas, aku segera mengusilinya dengan mencubitinya sekenaku. 


Eh, Kirei yang malah menangis melihat ayah sambungnya tengah aku aniaya dengan ujung jariku. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2