
"Kok bisa ditahan sementara di desa?" Aku bingung mendengar cerita Gavin.
"Cuma dua puluh empat jam aja, karena mengganggu ketenangan kampung. Mamah pun udah jelaskan perihal masalahnya, tapi tetap tak bisa dibebaskan langsung. Susah dikompromi aparat hukum desa sini, harus papah yang maju. Tapi papahnya sibuk, papahnya nunggu bang Ken di rumah sakit." Gavin melanjutkan acara makannya.
"Jadi gimana tahlil nanti?" Aku memandorinya makan.
"Di masjid bang Lendra, katanya di sana mamah jauh bolak-baliknya. Kak Ahya pun jauh kalau pulang-pergi ke sana, jadi nanti bawa kue kering dari sini sama air mineral gelas, dipindahkan ke masjid. Abis Isya aja kata mamah sih, entah disampaikan belum ke masyarakat. Kau jangan capek-capek, fokus ke Kirei aja. Masih rewel aja itu bocil, kek yang mau punya adik." Gavin mengedipkan matanya genit.
Nyatanya, bukannya mau punya adik tapi karena ayah sambungnya mau diganggu terus oleh Ajeng. Setelah dua puluh empat jam Ajeng ditahan, ia kembali dengan amarah yang memuncak dan menyalahkan aku juga.
Karena apa? Karena Cali jatuh dari sofa, sedangkan aku dan Gavin berada di dalam kamar. Kami tidak tahu, jika Cali ada di rumah ini.
"Jangan lebay! Anak kecil jatuh tuh udah biasa." Mamah Dinda mengusap punggung Cali yang menangis di bahunya.
"Ya tak bisa gitu, jangan dibiasakan. Jatuh itu fatal, bisa nyawa taruhannya." Ajeng berani bersuara lepas setelah kejadian kemarin itu.
"Dasar kau yang gatal, Ria! Kau kurung suami kau terus siang malam, tak tau kah anak aku dan Gavin butuh ayahnya. Kau tak bisa jadi ibu yang baik, kau tak bisa jadi istri yang baik." Tajamnya mulutnya sungguh tidak pantas mengadiliku.
"Urusan kau apa nilai dia?"
Aku langsung menoleh ke belakang, tepatnya di pintu samping rumah ini. Karena suara yang familiar di telinga itu datang dari situ, aku tidak percaya juga jika ia sudah pulang dari rumah sakit.
"Aduh, cucu Kakek jatuh? Iya?" Papah Adi muncul dari dalam kamar dengan handuk masih mengalung di pundaknya.
"Maaf ya, Cantik? Kakeknya mau sholat, Adeknya minta ikut sih. Sakit tak, Sayang?" Papah Adi mengambil Cali dan menggendongnya, beliau berjalan melewati bang Ken yang berdiri di pintu samping.
Jadi, Cali ada di sini dibawa oleh papah Adi?
"Kau cerita di depan, kalau kau minta tolong Gavin. Di dalam rumah, kau bawa ribut istrinya. Udah gini aja, biar kau aku yang nolong dengan perjanjian di atas materai kau tak buat keributan di sini. Mamah cerita kau berulah, udah begitu kau tak ada malunya juga. Aku tak suka dengarnya rumah ini ada masalah, rumah ini ini ada keributan. Kau udah mantan, tapi tak tau posisi juga." Bang Ken maju beberapa langkah dan berdiri di samping mamah Dinda.
__ADS_1
Aku dan Gavin beradu pandang, aku memiliki feeling tentang jodoh yang dibarter di sini.
"Kau jangan sok jadi pahlawan, kau bukan siapa-siapa di rumah ini." Ajeng menatap bang Ken dengan penuh marah.
"Kau juga cuma tamu di sini! Kenapa seenak jidat berkeliaran di sini?! Kau minta bantuan, atau nodong bantuan?! Kau minta ditolong tak sebetulnya? Kalau pengen ditolong, harusnya kau bersikap baik di sini." Bang Ken pun sudah memperlihatkan wujud aslinya.
"Kau tak punya malu, Jeng. Kau berulah, tapi kau tak mau pergi meski udah Saya usir." Mamah Dinda geleng-geleng kepala.
"Aku tak suka Cali tanpa pengawasan begitu, ada ibu sambungnya di dalam dan ada ayah kandungnya juga padahal. Tapi mereka asyik dengan kehidupan barunya sendiri, sampai anak Saya terlantar begini. Pantas aja, Cali sampai dititipkan ke bang Givan. Jadi, pengantin baru itu tak mah diganggu."
Siapa yang mengganggu sebenarnya? Karena sampai seminggu mendatang, ia masih keluyuran di sekitar sini meski sudah tidak tinggal di sini lagi. Aku jatuh sakit, karena di samping lelah karena Kirei yang terus rewel karena disambung dengan acara tumbuh giginya. Aku juga risih dan tidak nyaman, karena setiap kali beristirahat di siang hari Ajeng selalu memicu keributan.
Infus terpasang, dengan suhu tubuhku yang belum turun juga. Aku teringat saat di mana ribut besar dengan bang Ken, karena di situlah saat aku merasakan sakit yang cukup lama.
Gavin selalu ada di sampingku, mantan suamiku pun bolak-balik menggantikan kantong infus dan menyuntikkan obat penurun panas dari selang infusku. Tiga kali obat masuk, demamku hanya reda setelah mendapat tindakan itu saja. Setelahnya, aku demam kembali.
"Dirujuk ke rumah sakit aja kah, Bang?" Gavin bertanya pada bang Ken yang memberikan suntikan lagi pada selang infusku.
"Tak punya penyakit lambung, masa dadakan muntah begini. Padahal lagi halangan dia ini." Gavin menempatkan tangannya di jidatku.
"Tak bisa makan enak kan? Sukur! Sakit sih." Ia memasang wajah menyebalkan.
Aku bukan hanya menikahi fisiknya, tapi kelakuan dan sifatnya juga. Aku melihat bang Ken memandang Gavin dengan dahi mengkerut, dengan menyelesaikan aktivitasnya memberikan sesuatu di selang infusku.
"Agak gila." Komentarnya dengan suara lirih.
"Apanya, Bang?" tanya Gavin dengan menoleh ke arah bang Ken yang berdiri di dekatnya dengan membereskan bekas suntikan itu.
"Tak kok, ini jarum suntiknya." Bang Ken pura-pura fokus pada sampah medis itu.
__ADS_1
"Aku sampai belum mandi, sore sama pagi ini tak mandi aku. Sampai siang ini tak mandi juga, bingung salin yang mana."
Aku ternganga, bang Ken pun membulatkan matanya dengan aktivitas yang terjeda beberapa saat.
"Aku yang sakit, wajarnya ini aku tak mandi. Kok kau yang tak mandi? Agak gimana aku dengarnya." Aku sakit telinga mendengar keluh kesah Gavin masanya aku sakit ini.
"Tak ada yang nyiapin baju, makanya jangan sakit coba. Egois nih, sakit sendiri aja." Gavin meraup wajahku.
"Hadeh, sakit telinga aku dengar." Bang Ken keluar dengan membawa sampah medisnya.
"Disuruh beli apalagi ini, Bang? Jangan sedikit-sedikit coba, satu dus, satu kerton gitu." Gavin menatap bang Ken yang keluar dari kamar kami.
"Udah mandi aja! Daripada kasih obat ke istri satu kerton, duda bersama kita yang ada." Bang Ken menutup pintu kamar kami.
Dia banyak berubah, sejak tahlil rutin ini. Semakin baik, semakin ramah, semakin perhatian ke semua orang juga. Bayinya dalam perawatan intensif di rumah sakit miliknya di sana, semalam baru selesai tahlil tujuh harian kak Riska jadi ia belum sempat pergi menengok bayinya di sana.
Prematur, down sindrom dan bocor jantung. Bahkan sudah ada rencana operasi, masa berat badan bayinya cukup. Melihat keadaannya dari foto, begitu mengiris hati dan hanya bisa mendoakan dari jauh saja semoga bayinya kuat dan sehat.
Kak Riska meninggal karena preeklamisa. Bang Ken mengatakan, bahwa preeklamisa adalah silent killer. Preeklamisa adalah darah tinggi pada ibu hamil.
Bahkan menurut cerita bang Ken, kak Riska wafat lebih dulu sebelum melahirkan. Karena otak masih hidup setelah meninggal, bang Ken mengambil tindakan mendadak untuk operasi kak Riska melahirkan bayinya. Ternyata, hal itu benar-benar ada di dunia medis.
Ada beberapa cerita, tentang orang meninggal yang tahu bagaimana tubuhnya ditinggalkan nyawanya, yang tahu tentang siapa yang menangisinya, karena secara medis otak mereka masih hidup dan merekam apa yang terjadi sebelum fungsi tubuhnya benar-benar mati sepenuhnya. Bayi mereka lahir dengan berat sembilan ons, begitu kecil menurutnya.
Sebelum ia terbang ke Indonesia dengan membawa jasad kak Riska, ia sempat memasangkan alat terbaru untuk anaknya yang dinilai canggih untuk penanganan bayi prematur. Ia pun sampai membayar dokter, untuk fokus pada anaknya saja.
"Tuh, keributan lagi." Gavin mengacungkan jarinya ke atas.
Suara Ajeng yang berseru sampai terdengar ke kamarku.
__ADS_1
"Ya udah gitu sih dibantu aja Ajengnya." Aku mengambil keputusan cepat, karena benar-benar lelah dengan Ajeng.
...****************...