Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD11. Menggerogoti leher


__ADS_3

“Udah kah? Apa ada yang mau dibeli lagi?“ Terlihat wajah lelah bang Ken yang sedari tadi menggendong anaknya yang tidak mau jalan.


“Capek, Yah. Bobo di rumah,” rengek Bunga dengan memeluk leher ayahnya.


“Iya, Sayang. Mau bobo kah? Di bangku belakang ya?“


Anggukan Bunga membuat semangatku berkobar. Aku sudah mengasah gigiku dengan sate kambing yang alot tadi, biar nanti menancap sempurna di lehernya.


“Kenapa???“ Bang Ken mengerutkan keningnya memandangku, saat ia masuk ke tempat kemudi. Bunga benar-benar merebahkan tubuhnya di bangku belakang. Ia sudah menguap lebar, kemudian menggaruk kepalanya yang tanpa kutu itu. Entah kenapa kebiasaan anak perempuan itu suka garuk-garuk, padahal ia tidak memiliki alergi atau bekas digigit binatang.


“Tak apa.“ Aku sudah tersenyum penuh arti.


Mana perjalanan pulang cukup jauh. Ah, aku bisa melancarkan aksiku setelah Bunga terlelap nanti. Aku jadi tidak sabar.


“Mau beli apalagi, Dek?“ Sejak tadi, ia memang membayar semuanya.


Meski aku mampu membeli barang sendiri, tapi rasanya lain jika mendapat barang yang dibayarkan oleh orang lain. Entah kenapa, merasa senang saja begitu. Aku membeli banyak barang, ya hitung-hitung upah karena kemarin aku dijadikan pelampiasannya. Biarkan, biar dia bangkrut karena menjajaniku barang-barang mahal.


“Tak ada, Bang. Udah semua.“ Jika kuperinci, mungkin ada sekitar enam puluh jutaan. Parfum yang aku pilih, memiliki harga kisaran tiga juta. Belum tas dengan brand ternama, ditambah dengan sepatu boot incaranku yang belum sempat kubeli. Bukan aku tak mampu, hanya memang tidak sempat saja.


“Cium dong. Tak ada yang gratis, Sayang.“


Heh?


Oke, kesempatan. Aku sudah tersenyum lebar dan memamerkan gigi seputih kapas ini.


“Abang, Abang semalam tidur kah sama Putri?“ Aku mulai mengusap-usap pahanya. Sebenarnya, aku hanya membuka obrolan saja.


“Tak. Di rumah, tidur sama umi. Kenapa memang?“ Ia fokus mengemudi.


Sombongnya sudah menyerupai CEO dalam novel, padahal ia seharusnya memiliki karakter dokter yang ramah tamah.


“Aku tak bisa tidur.“ Tanganku merambah ke bagian paha dalamnya.


“Kurang kah? Biasanya berapa kali keluar?“


Yang begini saja, aku langsung mengerti maksud pertanyaannya.

__ADS_1


“Biasanya, berkali-kali sih.“ Bohong, aku berbohong. Aku memiliki kecenderungan bad mood setelah keluar, aku tahu ini tidak normal dan harusnya diobati. Benar-benar n**** itu langsung turun, langsung tidak berminat sama sekali. Tapi aku belum berani untuk mendatangi dokter khusus, karena statusku yang belum menikah.


“Tangannya mau ke mana?“


Aku tertawa lepas dalam hati.


“Mau pegang lemasnya, mau tau bentuknya. Kemarin tak dikasih lihat soalnya.“ Aku ingin memukul mulutku sendiri yang seolah gatal ini.


Sungguh, aslinya aku tidak begini.


“Eummm, kok begitu? Kau tak marah sama Abang?“


Sialan! Dasar jantan cabul! Ia malah membelokkan ke arah jalan tidak beraspal, yang merupakan lalu lalang untuk kendaraan panen. Ini adalah ujung ladang papah Adi, iya ujungnya sejauh ini. Bayangkan saja, seratus lima hektar lahan kopi, bayangkan jauhnya jarak tersebut. Ini adalah ladang kopi yang berada di sisi ini saja, jika jumlah totalnya mungkin sekitar dua ratus hektar. Sisanya di sisi lain daerah ini, daerah atas disebutnya.


“Tak ada kah penginapan?“ Aku sengaja mengecoh.


“Katanya mau lihat aja?“ Ia menepikan kendaraannya setelah beberapa meter masuk ke jalanan ladang.


Percayalah, ini seperti hutan yang dibelah. Banyak lalu lalang b*** hutan, binatang liar khas lahan kopi. Bahkan, sesekali ada gajah yang lewat.


Sepertinya aku akan terjebak sendiri. Aku harus cerdik, aku harus bisa memberinya cap di jakunnya minimal, jika di dahi tidak mungkin. Sekalian kubuat ia malu, kupenuhi tanda cintaku di area yang terlihat orang.


Jika sampai ia tidak berjodoh denganku, akan kuumbar aib si duda ini pada anaknya yang sudah dewasa nanti. Aku dan Bunga berjarak dua puluh tahun, sepertinya aku masih hidup ketika Bunga beranjak dewasa. Ya aturannya sih masih hidup, karena hitungan umur umat terakhir ini enam puluh lima tahun. Tapi tidak sedikit juga yang mati muda.


“Boleh minta ****?“


Hei! B*******! B******!


Aku bisa, tapi aku tidak mau karena ia tidak merespon dan memiliki tujuan denganku ke depannya.


“Memang turn on?“ tanyaku memastikan.


Ia mengangguk, dan melepaskan sabuk pengamannya. Jangankan sepi begini, anaknya melek saja ia berani nyosor padaku. Punggungnya condong ke arahku, ia dalam posisi seperti ingin mencekikku. Lebih tepatnya, ia ingin menguasaiku agar ia leluasa menc****ku.


Aku bergerak lebih berani, aku cukup agresif dan bergerak cepat. Tergantung settingnya, aku bisa mode hard atau slowly.


Suaranya seperti kaget karena aku mendorong tubuhnya untuk duduk kembali di bangkunya.

__ADS_1


Apakah aku disebut mencintai om-om? Tapi percayalah, ia terlihat muda. Deddy Corbuzier berusia hampir lima puluh tahun sepertinya, entah sudah. Karena atletis dan rajin olahraga, ia terlihat muda dengan kulitnya yang kencang. Ya seperti itulah kulit bang Ken, tidak terlihat dan terasa kendur sama sekali.


Tanganku sengaja masuk ke dalam pakaian bawahnya, agar ia hilang fokus bahwa aku mengincar lehernya. Ia menahan tanganku, aku tahu karena alasannya aku membawanya terlalu kencang. Aku memang sengaja, agar ia kapok padaku.


Indra pengecapku mulai turun ke area jakunnya. Aku tidak pernah membubuhkan tanda merah ini di tempat yang terbuka, aku paham Keith akan malu jika memiliki tanda itu.


Ia sepertinya kacau sendiri karena perlakuanku yang memang sedikit kasar. Asal ia merasa saja, ia pun sama kasarnya sepertiku sekarang.


“Jangan di kepalanya, linu-linu geli. Kau ngapain sebenarnya?“


Sebenarnya, aku mengerjainya dan sengaja membuatnya tersiksa.


Berhasil, beberapa rona merah yang begitu kentara karena kulitnya kuning cerah, berhasil membuat belang lehernya.


“Besar sekali, Bang.“ Aku memujinya, agar ia semakin melambung dan pasrah kala aku menggerogoti lehernya kembali.


“Iya kah? Coba tengok.“ Matanya sudah sayu parah. Ia terlihat pasrah dengan bersandar lemah di kursinya ini.


Baiklah, penasaran juga memang sebenarnya. Aku menundukkan pandanganku, aku menemukan helm baja yang begitu mengkilap. Aku teringat dengan warna kepiting rebus, tapi tidak terlalu merah jika barang yang tengah aku genggam ini.


“Coba cium, Dek.“


Perintah sialan!


“Cium ini aja.“ Aku mengincar mulutnya yang sering berkata manis itu kembali.


Ia mulai bergumam dengan mengusap-usap dua bebanku dari luar baju.


Ia mulai terlena dan pasrah, kala aku mengurut miliknya pelan. Orangnya saja tinggi besar, miliknya pun ya terlihat seperti postur tubuhnya.


“Ria…..“ Bang Ken terlihat sudah sangat pasrah. Tangannya sampai tergeletak begitu saja, dengan mata terpejam. Aku paham, ia sudah berada di ujungnya.


Kala aku memundurkan kepalaku, warna merah di lehernya hampir penuh dengan motif beragam. Uhh, lucunya.


Aku menarik tanganku dari miliknya. “Udah, Bang. Pulang yuk? Aku kebelet pipis.“ Aku berkata begitu enteng.


Matanya langsung mencilak.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2