
“Kalau untuk laki-laki, pernikahan itu tanggung jawab. Siap tak tanggung jawab di akhirat nanti? Sanggup tak tanggung jawab untuk biaya hidup istri dan anaknya? Laki-laki itu paham, kalau resiko menikah itu ya punya anak. Otomatis dia memikirkan bagaimana caranya menghidupi anak-anak mereka, biayai anak-anak mereka. Beda perempuan yang berpikir pernikahan itu, biar dia dapat uang dan tak capek kerja lagi.“ Bang Givan seperti tengah menyudutkanku.
Aku terkekeh geli. “Karena memang pikiran aku ya kadang begitu, Bang. Capek ah, pengen dinafkahi aja.“
“Bodoh!“ Bang Givan meraup wajahku.
“Kau tidur di sini kah? Abang pindah di bawah pakai bed cover.“ Bang Givan bangkit dan menarik selimut yang menutupi kakiku.
“Punggung kaki aku digigit nyamuk dong, Bang.“ Aku merasa kehilangan selimutku.
“Nanti pakai sarung Abang. Ngantuk betul Abang, Dek.“ Bang Givan langsung menggelar bed cover di atas lantai tepat di samping spring bed single ini.
“Aku disuruh pulang sama bang Ken, tapi aku takut pulang malam.“ Aku hanya malas untuk pulang sendiri.
Aku mampu berkendara, aku pun berani ke mana-mana sendiri. Entah itu tengah malam, atau pagi buta.
“Sana pulang sama bang Ken sama Bunga. Kasian Bunga, masa tidur di rumah sakit?“ Bang Givan sudah memejamkan matanya menghadapku, tapi mulutnya masih berbicara.
“Udah biarin lah.“ Kamar inap mbak Canda ini nyaman. Tapi memang ada nyamuk meski ruangan ber-AC.
Bang Givan tidak menyahuti, tak lama dengkurannya langsung terdengar. Menurut riset yang aku buat sendiri, laki-laki begitu mudah terlelap pulas, bahkan sampai mendengkur.
Aku memainkan ponselku. Aku paham bermain ponsel sebelum tidur, justru malah menghilangkan rasa kantuk. Tapi, aku tidak bisa membuang kebiasaan ini. Sepertinya, sudah menjadi kebiasaan umum manusia modern.
Aku pura-pura tertidur dengan menyembunyikan ponselku di bawah bantal, kala pintu rumah sakit terbuka. Aku mengintip dari ekor mataku sesamar mungkin, aku bisa melihat bang Ken yang menggendong Bunga yang sudah terlelap.
Wajah kalemnya, tubuh tinggi tegapnya. Aku seperti selalu tersihir oleh pesonanya. Padahal ia sudah tua, tapi aku begitu naksir pada dirinya.
Ia menutup pintu kamar dengan menggunakan kakinya, kemudian mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Cepat-cepat aku memejamkan mata, aku hanya memasang pendengaranku saja untuk memastikan pergerakannya yang tak kuyakini.
__ADS_1
Sampai terasa tempat tidur ini bergoyang, lalu tepat disebelahku seperti diletakkan bobot yang cukup berat dengan begitu perlahan. Sesaat kemudian, barang yang lembek dan basah menimpa dahiku. Disusul dengan usapan ringan di kepalaku dan menghilang setelahnya.
Saat ranjang terasa tidak seperti ditekan, aku mulai membuka mataku perlahan. Punggung lebar itu menjauh ke arah sofa panjang.
Jadi, tadi bang Ken menciumku dan mengusap kepalaku? Apa ia salah pendaratan? Ya maksudnya, ia ingin mencium Bunga tapi salah sasaran?
Kecupan di dahi? Ia berterima kasih karena aku sempat memuaskan n**** b*****nya, atau tanda sayang? Aku diberitahu oleh bang Givan, agar tidak langsung bermain hati dengan laki-laki. Jika baru melakukan aktivitas dewasa, lalu laki-lakinya mencium dahiku, itu adalah ucapan terima kasih, bukan ia sayang padaku. Tapi ini posisinya aku tertidur, ia mengucapkan terima kasih atau benar-benar mengutarakan rasa sayangnya lewat kecupan kecil itu?
Aku pun diberitahukan, tentang jenis beberapa laki-laki yang tidak langsung mengutarakan. Tapi melakukannya dengan pembuktian, dengan perlakuan, contohnya seperti abang iparku itu. Ia tidak pernah berucap cinta dan sejenisnya pada istrinya, karena menurutnya dibuktikan saja cukup.
Aku pun diberitahukan, tentang jenis laki-laki buaya yang banyak berucap cinta. Tapi, ujung-ujungnya untuk menuntaskan g*****nya saja. Soalnya memang ada jenis laki-laki seperti ini.
Siang harinya mbak Canda sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku ikut membantu berkemas, sementara bang Givan menyelesaikan biaya administrasi istrinya. Pulang pun aku ikut dengan rombongan suami istri absurd tersebut, karena bang Ken mengatakan dirinya langsung pulang ke rumah ibu kandungnya.
Untuk informasi saja, ibu kandung bang Ken itu sakit tua. Umi Sukma memiliki riwayat sakit gula dan asam urat, beliau masih bisa berjalan, tapi ketika kambuh ia lumpuh mendadak. Padahal anaknya adalah dokter, eh ibunya yang menjadi pasien wajib anaknya. Aku tidak mengerti tentang rumus kehidupan semacam ini.
Sambutan yang mendebarkan, karena Keith lah yang membukakan pintu mobil untukku. Senyumnya begitu merekah, dengan tubuh yang terlihat semakin atletis saja.
Keith lancar berbahasa Indonesia, karena ia tumbuh dan bersekolah di Indonesia sampai SMA. Barulah ia melanjutkan hidupnya di Singapore, saat duduk di perguruan tinggi. Dia berasal dari keluarga yang broken home, orang tuanya bercerai saat ia baru mendapat surat keterangan lulus dari sekolah menengah atas dulu.
Ayahnya asli Sulawesi, kalau tidak salah dari daerah Palu. Sedangkan ibunya asli Singapore, makanya ia bisa melanjutkan hidupnya di Singapore karena ikut dengan ibunya.
Tingginya ini, sudah seperti canduk untuk mengambil buah mangga yang masak dari pohonnya. Tingginya seratus delapan puluh lebih, makanya anunya bisa panjang.
Ah, aku jadi ingin tertawa.
“Masih marah kah?“ Ia menurutku cukup peka, ketika aku mulai tak membalas pesannya.
Aku menggeleng, kemudian membantu bang Givan untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobilnya. Keith pun membantu bang Givan memindahkan barang-barang ke dalam rumah, hingga akhirnya aku dan Keith ditinggal karena mereka mengatakan ingin bersih-bersih dan beristirahat.
__ADS_1
Tidak tidur siang, tidak tidur malam. Bang Givan selalu menemani mbak Canda tidur, dengan alasan bahwa kakakku selalu mencekali tangannya. Jujur saja, aku tidak percaya. Masa iya ketika tidur, mbakku seperti anak-anak?
“Makan di luar yuk? Kita harus banyak ngobrol.“
Ketika ada kekeliruan yang belum diselesaikan, memang Keith selalu menyelesaikannya dengan obrolan. Selalu seperti ini, makanya hubungan kita awet meski tidak ada ikatan.
“Aku belum ganti baju, Keith.“ Aku berjalan mendahului, aku ingin pulang ke rumah dulu.
Ia sudah akrab dengan keluarga yang di sini, karena orangnya mudah bergaul dan begitu ramah. Belum lagi, pada anak-anak yang selalu ngemong dan tidak pernah membuat mereka menangis.
“Ya udah tak apa, sambil nunggu untuk pergi ke luar, aku pesan taksi.“ Ia mengikutiku ke arah rumah.
“Aku ada mobil, Keith.“ Memang memiliki, tapi herannya aku malas berkendara. Semalam saja datang ke rumah sakit, aku lebih memilih menggunakan taksi online.
Bukan karena aku kurang ahli. Tapi, ya memang malas. Ditambah lagi, aku semalam harus menjaga Bunga yang tidak mau anteng. Ya umumnya anak-anak saja, ia tidak mau diam.
“Itu bukan mobil aku, aku malu masa pergi kencan pakai mobil perempuan. Pakai taksi aja ya?“ Aku mengikutiku yang akan pulang ke rumah ibu.
Aduh, aku khawatir ibu berbicara kurang sopan pada Keith. Memang tidak pernah, tapi aku khawatir saja.
“Ya udah terserah kau, Keith.“ Ia empat tahun lebih tua dariku, tapi ia lebih suka aku menyebutnya dengan namanya saja.
Aku sudah sampai di ruko ibu. “Aku mau ganti baju dulu, Keith.“ Aku meninggalkannya di teras ruko.
“Iya.“ Ia mengukir senyum menenangkan.
Entah ke mana perginya ibu? Karena beberapa kali aku mencarinya di area ruko, ia tidak ada di sini. Ah mungkin seperti biasanya, ibu main ke tetangga.
Ketika aku menghampiri Keith, ia malah tengah mengobrol dengan…..
__ADS_1
...****************...