
“Jangan dicontohkan! Diceritakan aja.“ Aku menahan tubuhnya yang akan mendorongku untuk terl*nta*g di sofa.
Ia terkekeh kecil. “Oh, oke.“ Ia tidak jadi mendorongku.
Memang orangnya suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Ya deketin kan gitu, terus bahas anak. Kalau masalah se*s, kek naluriah aja. Dia butuh, tak ada perlawanan, ya jadilah. Karena mantan kan, udah tau titik-titiknya, jadi tak sulit kek perempuan baru.“ Iya duduk condong ke depan, untuk mengambil teh hangat yang aku buatkan untuknya.
“Memang kak Riska tak maki Abang?“ Aku masih tidak mengerti dengan hubungan antara bang Ken dan kak Riska.
“Ya mungkin maki dalam hati. Nyatanya, jadi miskin sulit untuk ketemu sama Bunga. Karena dia sadar, kalau Abang nengokin Bunga pun jadinya nengokin dia.“
Aku manggut-manggut berulang. Oh, pantas saja bang Ken sering mengatakan begitu dipersulit hanya untuk menengok Bunga. Ternyata, kak Riska pun dalam misi menghindari bang Ken.
“Abangnya tuh kenapa gitu sih?“ Aku menyipitkan mataku menyudutkannya.
“Tak tau, sulit. Harus punya perempuan yang protektif, biar kalau ketemu mantan gak slengean lagi.“
Apa dari ucapannya, ia menginginkan aku seperti itu?
Ia melirikku, kemudian tersenyum manis. Ia banyak tersenyum kali ini, ada apa gerangan?
“Haidnya lancar tak?“ Ia tiba-tiba mengusap-usap perutku.
“Cuma telat dua hari. Kenapa gitu?“ Aku melirik ke tangannya yang iseng itu.
“Biasanya memang telat kalau abis lepas selaput dara, biasanya juga ada yang datang lebih cepat. Syukurlah, kalau Adek tak bermasalah.“ Ia menarik tangannya lagi dari sana.
Aku beranjak dan menuju ke kamar. Bisa tidak ya aku tidur sendirian di kamar yang cukup mengerikan ini? Tapi bagaimana lagi, tempat tidur hanya muat satu di setiap kamar. Malah, pas sekali karena di sini ada dua kamar.
“Mau tidur kah, Dek?“
Aku menoleh ke arah bang Ken. Dari tempatku dan juga tiadanya pintu kamar ini, aku bisa melihat keberadaan bang Ken yang tengah duduk di sofa yang berada satu garis lurus dengan pintu kamarku.
“Iya, Bang. Tolong pasangkan kain atau apa.“ Aku menatap kusen pintu ini.
Aku takut ada yang berdiri di sana saat aku tertidur.
“Abang tak punya kain, gorden atau jarik. Masa pakai sarung?“ Ia berjalan ke arah kamarku.
__ADS_1
Jika ia hendak masuk ke kamar, ia harus menundukkan kepalanya sedikit agar tidak terbentuk kusen pintu yang pendek ini.
“Ya tak nutupi semuanya nanti kalau pakai sarung.“ Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur ini.
Setelah memindahkan barang-barang dan berbenah ulang, memang badan terasa amat capek. Tuh kan? Aku sudah menguap lebar.
“Dek, bantuin Abang keluarkan dulu sih.“ Wajahnya terlihat memelas dan penuh pengharapan.
“Keluarkan apa?“ Aku pura-pura polos.
“Ganti oli.“ Ia berjalan dan duduk di tepian tempat tidurku.
Kemarin, aku benar-benar tak peduli padanya. Oke, sekarang bolehlah aku membuatnya merasa jika kami benar-benar baik-baik saja.
“Boleh. Aku lihatin aja ya?“ Karena kemarin aku menolak mentah-mentah dan selalu meninggalkannya untuk tidur lebih dulu.
“Sambil cium. Abang yang kerja sendiri, tapi Abang minta cium aja.“ Ia merebahkan tubuhnya di sampingku.
Semoga aku tidak terjebak.
“Oke.“ Aku membelai pelipisnya.
“Oke.“ Aku tidak mengerti obrolan sensitif itu seperti apa.
“Adek tak kepengen ngerasain penyatuan?“ Ia mulai bertanya dan mungkin aku hanya perlu menjawabnya saja.
Tangannya sudah mulai beraktivitas. Ia tengah sakit, tapi mungkin kepala bawahnya pun sakit.
“Tak, aku takut.“ Ini kebenaran.
“Apa Abang kasar kemarin?“ Ia memejamkan matanya sejenak.
Gila! Kenandra kentir seksi sekali.
“Iya, kasar.“ Aku menjawab seadanya.
“Adek suka kek gimana?“ Matanya terbuka dengan kilatan keinginannya yang terlihat menggebu.
“Suka kalau apa-apa itu minta persetujuan.“ Aku tidak tahu pasti kesukaanku. Tapi aku merasa dimanusiakan jika dimintai persetujuan.
__ADS_1
“Perempuan lebih suka dipaksa, Dek.“ Ia mendekatkan wajahnya, tapi ia belum melakukan hal lain padaku.
Lengg*hannya lepas. Apa emosi laki-laki berhubungan dengan kegiatan dewasa mereka? Atau, cara penuntasannya adalah berhubungan seperti itu?
“Kenapa Abang perkosa aku?“ Aku mengagumi wajahnya yang tetap terlihat tampan dan berwibawa di usianya yang mungkin sudah menginjak empat puluh dua tahun sekarang, karena sebentar lagi aku sudah berusia dua puluh enam tahun.
“Abang tak mau Adek diambil orang. Abang mau jadi kita, Dek. Tapi Abang yakin Adek masih tak paham tentang diri Abang.“ Hembusan napasnya sudah begitu terasa menerpa wajahku.
“Abang serius kita mau nikah?“ Aku masih teringat tentang kalimat yang keluar sebelum amarahnya memuncak.
“Serius. Adek terima keputusan Abang? Adek terima perjanjian kita? Ayo kita nikah, setelah rampung tanda tangan perjanjian.“ Hidungnya sudah bergesekan dengan hidungku.
Aku ingin bersamanya, tapi aku pun ingin memiliki penerus dari darah dagingku sendiri. Aku tak mau, jika harus ikut aturannya yang tidak mau memiliki anak.
“Bisa Abang bilang ke bang Givan? Setelah ini, kan belum begitu malam. Anang bisa telpon dia. Tapi Abang pun harus buka suara juga, tentang Abang yang pengen buat surat perjanjian untuk freechild.“ Aku ingin tahu tanggapan bang Givan.
Jika memang nyatanya keluargaku menentang keras. Aku akan memilih menurut saja, aku sudah lelah jika harus berjuang sendirian di tengah tentangan dari keluargaku. Karena jika jodohku tidak lama dengan bang Ken, aku pasti akan kembali ke keluargaku.
Mungkin juga, aku akan mengambil opsi operasi perawan itu. Aku tak ingin mengecewakan suamiku nanti, biarlah aib ini aku pendam rapat-rapat.
“Oke, nanti Abang telpon dia. Adek mau kan buat surat perjanjian itu?“ Ia menarik kepalanya lagi.
“Tergantung keputusan bang Givan. Bukannya aku mau hidup atas kendali keluarga, tapi aku butuh pendapat mereka sebelum aku memutuskan.“ Aku mengulurkan tanganku dan mengusap-usap tengkuknya.
Ia membuat gerakan cepat, untuk mengambilnya ciuman di bibirku. Aku sudah gila, karena perasaanku padanya. Aku sudah pasrah, karena sejujurnya aku pun ingin memilikinya seutuhnya.
Aku orang munafik, yang mencoba menaklukkan laki-lakiku dengan drama yang aku buat. Entah mampu atau tidak, aku berjuang dengan metode tarik ulur ini. Karena semakin menariknya, aku semakin jauh dalam perasaanku sendiri. Untuk saat ini saja, aku diam tanpa perlawanan saat ia terus menyesapi rasa di bibirku.
“I love you, Ria.“ Napasnya sudah amat memburu, dengan bibirnya yang kini pindah ke leherku.
Kebuasannya, kadang membuatku terlena. Ia begitu mampu memberikan sensasi unik dan tidak monoton.
“Mohonlah ke Givan, Dek. Kalau dia bilang tak mau untuk kasih kita restu.“ Ia menarik tanganku dan menyatukannya di atas kepalaku.
Aku mulai panik jika seperti ini. Ia sering sekali mengunciku untuk tidak bergerak, entah karena apa tujuannya.
“Abang, aku takut kalau Abang begini.“ Aku menyadarkannya agar ia tidak berlaku lain padaku.
“Tapi, Abang suka begini. Abang bentar lagi.“ Urat lehernya mengencang. Matanya terpejam dan terlihat ia sudah dekat dengan tujuannya.
__ADS_1
...****************...