
“Ya, Dek.“ Suara lembut mamah Dinda terdengar.
Aduh, lupa. Pasti ada perbedaan waktu di sana.
“Maaf ganggu, Mah.“ Aku melirik ke arah jam dinding yang terdapat di ruang tamu apartemen Hana ini.
“Tak apa, lagi bangun juga kok. Abis sholat malam, papah kelaparan soalnya tadi ketiduran belum makan.“
Hm, mana tau aku mengganggu aktivitas dewasa mereka. Tapi didengar dari suaranya pun, mamah Dinda terdengar tidak seperti dalam keadaan mengantuk atau kelelahan.
“Udah selesai makannya, Mah?“ tanyaku kemudian.
“Papah makan, Mamah buat susu aja. Papah masih makan. Gimana, Dek?“ Suara papah Adi yang bertanya 'siapa?' pun terdengar di sambungan telepon ini.
__ADS_1
“Mah, aku kok tiba-tiba kepikiran bang Ken ya, Mah? Boleh tak sih curhat, Mah?“ Aku melirik bang Ken yang memandang kosong ke depan.
Hana keluar dari kamarnya, kemudian ia berjalan ke arah belakang. Ia mengatakan, jika ia akan membuat makanan pengganjal perut dalam waktu singkat.
Aku berinisiatif untuk menspeaker panggilan telepon ini, agar bang Ken pun mendengar ucapan mamah. Sehingga jika ia mengelak setelahnya, ia tidak akan bisa untuk menepisnya.
“Boleh, kenapa Ken dipikirkan? Dia sehat, dia lagi lanjutkan proyek yang di Banjarmasin.“
Seketika, bang Ken langsung menoleh ke arahku. Kemudian, ia melirik ke arah ponsel yang aku sangga di depan mulutku.
“Wajar, Mamah pernah ngerasain juga berharap dinikahin laki-laki pujaan. Dua Minggu kemarin, Mamah minta Ken selesaikan dengan Putri. Mamah marahin Putri, kasih ketegasan dia, kasih wejangan dan kasih ancaman. Bukan cuma sama Ken loh, waktu sama Givan juga dia sebarkan foto vulgar mereka. Mamah panggil Putri, panggil Ken juga, diobrolin bersama di sini. Putri kecewanya, karena Ken ambil dia dari laki-laki lain, tapi setelah Putri lepasin laki-laki itu, si Ken tak nikahin. Kata Mamah, ya udah hapus dulu aja fotonya, biar apa mempermalukan diri sendiri, Jasmine itu udah punya IG, nanti dia bisa tau IG dan foto itu, dia tau nanti gimana ibunya, bisa-bisa Jasmine malu. Putri manggut-manggut, iya mah kata dia. Udah aman, udah tutup akun, tinggal selesaikan tentang perselisihan mereka. Mamah minta diselesaikan baik-baik, jangan kek sama Givan dulu, dengan iming-iming Mamah anggap dia saudara dan Mamah kasih pinjaman dia modal usaha tanpa bunga apapun, tapi tertulis dan tanda tangan materai kalau Putri tanggung jawab dengan hutangnya nanti. Dia langsung lupa masalah Ken tuh, namanya juga perempuan. Dia pun minta diarahkan pemasarannya, untuk buka usaha kosmetiknya yang disita itu. Uang udah cair tiga hari setelah obrolan itu, udah tanda tangan materai dan saksi juga, sekarang dia lagi garap sama Icut. Pemasaran Icut kan oke, apalagi dia bisa carikan jasa endorse murah tapi ada hasil. Putri udah mulai buat formula kosmetiknya lagi, tapi sistem PO dan juga masih dibilang belum resmi karena belum dapat izin. Gerakannya cepat, baru sepuluh harian berarti tuh. Nah, tentang obrolan bersama itu…. Ken juga ada minta maaf, karena dia tak bisa berkomitmen dengan Putri. Tapi di situ Ken tak buka, kalau Ken ada hubungan sama kau. Kalau Putri tau itu, bisa-bisa kau jadi targetnya dibuat hidup tak nyaman. Alasannya Ken, karena dia tak punya waktu, dia sibuk sama pekerjaannya, jadi khawatir tak bisa bagi waktunya untuk Putri. Ken juga buka, kalau dia lagi ada garapan pabrik pengolah kopi. Jadi ya Putri percaya dan paham kalau Ken benar-benar tak punya waktu, di situ pun dia minta maaf udah sebarkan foto itu. Putri juga minta Ken janji untuk tak ganggu dia lagi, apalagi kalau dia udah punya pasangan kek kemarin. Kalau tak ditengahi Mamah, mungkin masalah itu tak selesai. Ditambah lagi, Putri kan tak mungkin berani sama Mamah, ditambah lagi ia tak bisa nolak iming-iming Mamah.“ Mamah Dinda terkekeh kecil.
Alhamdulillah, ternyata sudah selesai. Berarti, bang Ken mengatakan hal yang benar.
__ADS_1
“Terus, Putri sekarang ada di mana?“ Aku ingat jika bang Ken mengatakan bahwa Putri minta dijodohkan.
“Ada di kampungnya Icut tinggal, di daerah atas, di Takengon. Dia ngontrak di sana, tapi udah beberapa kali ke sini dan ada ngobrol. Baru sepuluh harian gerak, dia bilang ke papah untuk carikan suami aja, karena dia pengen dinafkahi. Katanya tuh, berjuang dari awal itu sulit, apalagi bawa brand miliknya yang ditutup paksa kemarin itu. Kata papah tuh ada, tapi kalau seusia Putri itu pasti duda, sedangkan Putri maunya bujang bebas biar suami barunya ada berjuang untuk fokus besarkan Jasmine. Diledek sama Canda, kemarin sama Givan banyak anaknya katanya mau. Si Putri jawab, orang Givan waktu itu cuma ada dua anak aja, Key sama Chandra.“
Benar. Tinggal giliran tentang psikolog ini.
“Bang Ken beneran sehat, Mah? Waktu kecelakaan itu, buat kepala dia bermasalah tak sih, Mah. Aku kepikiran aja, soalnya kan aku tak ada kabar sama dia setelah kejadian kecelakaan itu sampai sekarang.“ Ucapanku meyakinkan tidak ya?
“Sehat kok, Dek. Memang pola pikirnya yang bermasalah, bukan kepalanya. Dia punya trauma dan kisah yang kurang baik. Kata psikolog sih, bisa sembuh seiringnya waktu kalau dia nerima dan punya bukti bahwa kehidupan rumah tangga itu ada yang membahagiakan juga. Cuma kan boro-boro rumah tangga, dia kek terpaku sama kau, tapi Givan halangi betul. Kata Mamah sih, udah aja tuh ya abang ipar kau ini. Udah ketahuan juga, kalau Ken ini cuma ada trauma, bukan sindrom. Kek Ghifar aja, trauma itu bisa sembuh di tangan pasangan yang tepat. Semoga Aca panjang umur aja, biar tak buat Ghifar bertambah buruk. Berdamai sama keadaan, nerima dan punya teman sharing yang sreg. Dia begini kan, karena tak ada tukar pikirannya, jadi asumsi dia itu menang karena tak ada pendapat orang lain yang dia dengar. Mamah pun tanya tentang dia yang konon katanya kalau ngamuk serem ini, kata Ken tuh katanya sekalipun dia suka hancurkan barang juga tapi dia tak pernah hancurkan manusia. Entah kenapa, Mamah punya keyakinan atas pengakuannya juga. Mamah tau gitu, gimana tentang anak yang pernah Mamah urus dengan tangan Mamah sendiri, meski cuma singkat. Tapi kan, kalau jadi sama kau, ya mau tak mau kau harus nerima wataknya. Yang penting kau punya cara nenanginnya aja, biar kau bisa kontrol amarahnya itu. Ya setidaknya, terkontrol aja, tak harus buat dia hilangkan kebiasaan ngamuknya itu. Karena itu kek perantara penghantar emosinya, karena emosi ini kan kek bumerang untuk diri kita sendiri, tak dikeluarkan ya bahaya juga.“
Aku manggut-manggut, aku setuju dengan pendapat mamah Dinda. Seperti mbak Canda yang hanya bisa menangis, itu perantara penghantar emosinya. Seperti bang Givan yang suka membentak dan papah Adi yang bersuara keras.
Tapi, apa aku mampu mengontrol dan menenangkan emosinya itu?
__ADS_1
...****************...