
“Abang tau itu, Dek.“ Ia tersenyum simpul.
Apa secara tidak langsung, aku mengatakan perasaanku padanya?
“Ya udah, baiknya Abang tak begitu. Kita jaga jarak! Abang ingat, kalau Abang punya Putri.“ Sudah terlanjur lah, aku pura-pura tidak peduli saja.
“Terus, kau mau bebas sama Keith begitu? Dia tak cinta sama kau, Dek.“ Bang Ken seolah ikut campur dalam urusan asmaraku.
Apa dia di sini, sengaja membuat Keith menjauh dariku?
“Itu urusan aku, Bang.“ Aku tak mau membahas tentang mirisnya hidupku tanpa status dari laki-laki lain.
Aku kurang menarik apa ya, sampai laki-laki enggan memiliki status denganku? Atau, aku terlampau terlihat mahal kah? Sehingga mereka yang dari kalangan di bawahku, tidak berani untuk meminta cintaku.
Apa aku harus meladeni Arman? Tapi, komunikasiku dengan Arman tidak pasti. Aku cepat untuk membalas pesannya, tapi ia begitu lama untuk membalas pesanku. Aku tahu ia sibuk, tapi dengan ia seperti itu aku jadi malas meresponnya.
Apa aku harus memberi jarak dengan semua laki-laki yang tidak jelas ini? Agar aku bisa mendapatkan laki-laki lain, yang bisa mengimamiku kelak?
Jika memang baiknya begitu, aku akan menyelesaikan kedekatan kami satu persatu. Akan aku mulai dari Keith, aku ingin aku dan dirinya tidak terikat kedekatan tertentu. Agar ia tidak perlu marah seperti ini, setiap kali ada laki-laki yang dekat denganku. Aku pun tak perlu merasa kecewa, jika mendengarnya meladeni perempuan lain dengan kencan sederhana dan romantis yang selalu ia berikan.
Aku mematikan kompor, lalu membubuhkan lauk yang cukup banyak di nasi yang sudah aku dinginkan. Aku anti memakan nasi dalam keadaan panas, karena selain ribet meniupnya, kandungan gula di nasi panas cukup tinggi juga.
Aku menyusun piring makanku di atas nampan, dengan segelas air putih di gelas yang cukup besar. Aku bersiap membawa makananku ke dalam kamar, aku akan makan di sana saja. Aku butuh ketenangan, aku harus bisa memanage pikiranku dari perkataan laki-laki ini.
“Mau ke mana, Dek?“ tanya bang Ken ketika aku berjalan keluar dari dapur.
“Makan.“ Aku tak mau diganggu olehnya.
Aku adalah jenis manusia, yang cepat mendapat beban pikiran dari hal-hal yang kecil saja. Aku khawatir stress, kemudian berpengaruh pada pekerjaanku dan tanggung jawabku.
Sial! Aku melupakan bahwa aku memberitahunya akses pintu di rumah ini. Kini, duda panas itu ada di dalam kamarku.
Ia asyik merebahkan tubuhnya, ketika aku tengah merokok di depan jendela. Aku sudah menyelesaikan makan malamku, yang terpaksa aku habiskan karena aku sempat telat makan tadi. Aku tidak mau sampai sakit, gara-gara telah makan malam.
“Sini tidur, Dek.“ Begitu ringan ajakannya, seolah tidak ada problem.
“Aku mau keluar.“ Aku mencoba menghindarinya.
__ADS_1
“Abang ikut, Dek.“ Ia langsung bangun dari posisinya.
Aku ingin menghindarinya, ia tidak boleh ikut. Aku sengaja ingin menjaga jarak dengannya, tapi kenapa ia malah semakin mendekat.
“Aku ada perlu sebentar.“ Mungkin aku hanya akan memutari jalanan kompleks saja, atau membeli sesuatu di minimarket terdekat.
“Iya ke mana?“ Ia bangkit dan berjalan ke arahku yang tengah mengambil sesuatu di lemari.
“Ke kantor. Aku lupa bawa dokumen di sana.“ Ini hanya alasanku saja.
“Udah malam, Dek. Biar Abang ikut.“ Ia berdiri di belakangku.
“Tak usah, sebentar.“ Aku mengambil mantel dan hijab sport.
“Tapi, Dek.“ Ia mengikuti langkah kakiku yang keluar dari kamar.
Aku tidak menghiraukannya. Biar ketika aku pulang, ia sudah terlelap di sini.
Sepertinya pun, ia tidak benar-benar mencegah kepergianku. Ia tidak mengejarku sampai keluar kamar, atau menahanku untuk tidak keluar dari rumah.
Ia ada di teras galerinya, ia tengah duduk dengan menikmati rokoknya. Ia sendirian di sana, tidak ada temannya yang menemaninya.
“Ria….“ Ia langsung bangkit, ketika aku keluar dari mobil.
“Kenapa pergi tanpa izin?“ Aku sebenarnya tahu bahwa ia marah padaku.
“Karena aku diminta pergi.“
Heh??? Aku tidak menyangka ia menjawabnya dengan hal itu?
“Siapa yang minta? Kau kerja sama bang Givan, kau di sana karena diminta untuk jaga anaknya.“ Aku menghampirinya yang berada di teras galerinya.
Ini adalah tempat penjualan lukisan. Ia adalah seorang pelukis, ia hobi melukis. Tapi ia tidak punya lukisan seksiku, seperti Jack yang memiliki gambar Rose berpsose seksi.
“Bang Ken bilang tugasku yang itu diganti dengan posisinya sekarang.“
Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?
__ADS_1
“Kau udah konfirmasi ke bang Givan?“ Pertanyaanku langsung digelengi olehnya.
“Aku tak enak hati. Lagi pun, bang Ken keluarganya bang Givan. Mana tau itu benar.“
Aku curiga itu hanya akal-akalan bang Ken saja.
“Dia bilang kau bakal ajarin dia untuk rute antar jemput Ceysa, biar kau tak repot untuk urusan antar jemput Ceysa,” tambahnya kemudian.
Bisa-bisanya? Tadi bang Ken tak mengatakan apapun padaku.
“Aku harus konfirmasi ke bang Givan.“ Aku merogoh satu mantelku.
“Besok aja, Ria. Sekarang kau pulanglah, kau perlu sama aku bisa hubungi aku.“ Aku diusir secara halus olehnya.
“Keith, aku mau ngomong tentang kita.“ Aku duduk di sebelah tempat yang ia duduki tadi.
Aku benar-benar akan menyelesaikan para laki-laki tidak jelas ini satu persatu. Mereka tak baik untukku, mereka hanya mengambil kesempatan dariku, mereka hanya membutuhkan fisikku saja. Aku dimanfaatkan, karena bang Ken tadi pun tak mengutarakan bagaimana perasaannya yang sebenarnya, saat aku keceplosan itu.
Ya secara tidak langsung, hal itu menyadarkanku. Sebaiknya, aku memang tidak mengharapkannya lagi dan tidak berusaha menguasainya. Biarlah ia hidup, dengan keinginannya. Mau ia jungkir balik dengan Putri, atau segera menikah dengan Putri, itu haknya. Sudah terserah dia saja.
“Ngomong apa?“ Keith duduk di sampingku.
Baiklah.
“Keith, baiknya kau cepat cari istri aja.“ Aku bingung bagaimana mengawalinya.
“Kau tau aku belum ingin, Ria. Kalau aku pengen, aku langsung pinang kau? Kau tak sabar nunggu aku, ya silahkan nikah dengan yang lain, Ria.“ Ini jawaban andalannya.
“Bukan gitu maksudnya. Kalau memang tak ada tujuan itu, ya udah kita tak perlu ada sentuhan fisik gitu. Aku pengen mulai kehidupan aku, dengan laki-laki yang mau serius sama aku. Kau tak mengarah ke sana, ya lebih baik kita tak dekat sekalian.“
Hufttt, akhirnya aku bisa menyelesaikan ucapanku.
“Begitu kah? Kapan mau nikah sama bang Ken? Lain kali, terus terang aja. Tak perlu pakai bahasa tentang aku yang tak mengarah ke hal serius. Kau cuma tak sabar nunggu aku, sedangkan yang di samping kau sekarang siap membawa kau ke pelaminan secepatnya. Tinggal bilang aja, kalau kau mau nikah dengan bang Ken. Jadi, aku harus jaga jarak untuk itu.“
Hah??? Aku tidak percaya dengan ucapannya.
...****************...
__ADS_1