
"Ngajak berantemnya jangan nyiksa, aku kerja pakai fisik, pakai tenaga. Sampai gemeteran, lapar betul." Gavin buru-buru melahap makanannya.
Aku yang jadi merasa bersalah. Tapi aku gengsi meminta maaf untuk hal kecil ini.
Sepertinya aku duduk terlalu dekat, Kirei bisa menarik piring yang Gavin pegang. Aku menggeser posisi dudukku, agar Kirei tidak mengganggu ayahnya yang tengah kelaparan.
"Tolong minumnya, Bu. Air putih." Ia mengusap keringatnya.
Aku harus ingat yang diucapkan mbak Canda, tentang beruntungnya menjadi istri yang melayani suaminya. Ikhlas, lupakan sejenak permasalahan kemarin. Nanti gampang dilanjut malam nanti ributnya.
Kirei merengek, ketika melihat botol dotnya di sisi galon. Ia harus, ia ingin susu formulanya.
"Bentar ya? Kasih minum ke ayah dulu." Namanya juga anak, ia malah menangis lepas seperti dimandikan.
"Apa sih, Adek? Minta apa? Bobo kah?" Gavin menyambut segelas air putih dariku, kemudian ia menyentuh kaki Kirei.
"Buat susu, Yah. Haus keknya." Aku kembali ke dalam rumah, kemudian segera membuatkan susu anaknya.
Kirei bangun pagi, tadi pagi bangun jam lima. Wajar, ia sudah mengantuk pukul tujuh pagi ini. Ia masih doyan tidur, bahkan jika sudah mengantuk ia langsung tidur saja tanpa diayun atau dikeloni.
Rambutnya sampai basah, ketika menikmati sufornya begini. Keringatnya banyak sekali, dengan mata yang mulai terpejam.
"Hallo…." Gavin masuk membawa piring, dengan menempelkan ponselnya di telinganya.
"Dikirim hari ini, lagi disiapkan. Ditransferkan sekarang aja, Pak. Ya sesuai kesepakatan awal aja." Ia masuk ke dapur dan keluar lagi.
Ia benar-benar tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Masak apa ya? Aku bosan masak, aku bosan dengan menu sederhana. Tapi aku tidak bisa memasak makanan yang berbumbu kuat.
Telur puyuh balado enak sepertinya. Di toko terdekat, aku melihat sedia telur puyuh juga saat kemarin membeli telur ayam. Sekalian aku membeli bumbu instannya ah, tinggal aku tambahkan potongan bawang dan cabai saja agar berasa rempahnya.
__ADS_1
Ingin menitipkan Kirei yang sudah tertidur, aku gengsi. Jika meninggalkan Kirei tanpa menitipkan, aku khawatir juga. Jika dibawa, aku juga takut Kirei terganggu tidurnya.
Serba bingung.
Pilihan terakhir, aku akhirnya membawa Kirei yang tengah tertidur untuk ke warung. Gavin melirikku yang pergi membawa Kirei, tapi ia lanjut mengobrol dengan para pekerjanya.
Setelah selesai masak satu menu, aku memilih tidur sejenak sebelum Kirei terbangun. Tak ada yang menggantikanku ngemong Kirei, aku harus bisa me-manage waktu.
Baru juga merasakan amat nyaman, kakiku sudah ditoel-toel saja. Kenapa sih kok jadi begini rasanya punya suami? Tidur pun sulit sekali. Apa memang begini kehidupan umum rumah tangga?
"Ngantuk betul, capek." Aku merengek lelah.
"Ya udah, ya udah." Setelah suara itu, diikuti dengan suara tawa Kirei.
"Sama Ayah, Dek. Kerja kita." Suara Gavin yang menjauh. Setelahnya, diikuti dengan pintu kamar yang tertutup.
Aku membuka mataku yang berat, Kirei sudah tak ada di sampingku. Baru juga tertidur sebentar, aku sudah pulas sangat. Mau gimana lagi? Aku sudah terlanjur mengantuk.
Sampai malam harinya, Gavin memandangku yang tengah menonton televisi. Kirei ada di dekapanku, aku duduk di lantai dan ia terle***** di tengah kasur. Sepertinya, pandangan itu karena ia butuh aku. Butuh selang******ku pastinya.
"Bu." Tangannya meraih tanganku yang menempel di kasur.
Suaranya lembut, ia pasti ada maunya.
"Diem aja? Katanya pengen berantem?"
Aku langsung meliriknya tajam. Aku tahu, mode berantemnya pasti mode lain.
"Kemarin nyuruh diam." Aku mengingatkan perintahnya kemarin.
"Bajingan, bajingan aja soalnya. Tak nampak kali value dan effort aku." Ia menata rambutnya sembari rebahan.
__ADS_1
"Memang ada?" Nilai dan upayanya katanya.
"Ada lah! Kau dengar aku, Ria!" Ia setengah bangun dan menarik bahuku untuk memandangnya.
"Bahhhhh…." Kirei melempar teether penuh ecessnya ke arah ayah sambungnya.
"Adek, jangan lempar-lempar. Tak sopan, Sayang." Gavin mengambil alih teether tersebut, ia bangkit dan mengambil tisu.
"Kasih susu dulu, kasih ASI." Gavin masuk ke kamar mandi mencuci teether tersebut.
Kirei diminta menguras ASI, karena wadahnya akan dimainkan olehnya. Hafal aku dengan tabiat kotornya.
Kirei menolak untuk ASI, aku membiarkannya berguling-guling di kasur saja. Aku menaruh minyak telon dan minyak rambutnya, agar ia berinisiatif bergerak untuk mengambil benda tersebut.
"Teethernya nih, Dek. Jangan dilempar-lempar, Cantik." Gavin tengkurap di depan anaknya. Setengah badan ada di kasur, setengah badan lagi ada di lantai.
Jika dipikir ulang, mau mencari laki-laki di mana lagi yang mampu menyayangi anakku seperti anaknya sendiri. Bahkan ia mencoba menjaga mainan Kirei yang akan masuk ke mulut, agar tetap bersih. Ia si berat tangan berusaha bergerak, demi kebersihan Kirei.
Kirei cengar-cengir saja, ia mengguling kembali mengahadap langit-langit kamar setelah mendapatkan teethernya. Ia terlihat gemas sekali dengan gigitan gusi itu.
"Aku merantau di sini, seorang diri. Kau harusnya paham kenapa aku bisa dekat dengan anaknya pak RT," ungkapnya amat lirih.
"Itu satu kesalahan aku, aku sadar aku memanfaatkan keadaan. Terus, datang masanya aku yakin bahwa ini orang ingin memanfaatkan aku, apa aku pantas diam aja? Ayahnya rela loh anak gadisnya dibawa pergi duda beranak tanpa mereka, hanya untuk dikenalkan oleh keluarga dudanya. Entah-entah perjaka, yang mikirnya masih sama-sama polosnya. Ini aku duda, dengan segala pengalaman aku kemarin. Ayahnya tak khawatir, jadi jelas betul ayahnya hanya memanfaatkan anaknya." Ia memerangi pergelangan kakiku.
"Aku tak mau disalahkan dan aku tak mau jadi penjahatnya di sini. Sengaja, terus terang aku sengaja gantung dia dan slow respon selama beberapa bulan terakhir, karena tak mau hubungan ini dilanjutkan dengan harapan ayahnya yang ingin memanfaatkan aku. Fakta tentang laki-laki tuh gini, kala dia ingin kau pasti effotnya bukan main. Kalau laki-laki itu tak mau sama kau, dia akan buat kau bingung setengah mati. Dari awal pun, ayahnya sendiri yang ngenalin aku ke anaknya. Bukan aku yang berupaya ingin dekati anaknya, aku tak ada perjuangan untuk dekati dia. Ajakan pacaran pun, ayahnya bilang coba jalani aja dulu sama Lina, mana tau ada jodoh. Tuh, begitu. Bukan aku yang berjuang untuk dapatkan dia. Kalau aku ketahuan bersalah di sini, udah tak enak hati, takutnya berpengaruh dengan usaha aku di sini. Kau yang diperjuangkan, kau yang diusahakan, tapi malah maki-maki begitu." Ia memandang wajahku, dengan masih mengusap-usap pergelangan kakiku
"Tapi kenapa aku bilang kita dijodohkan? Kesannya, pernikahan kita karena paksa. Aku malu di situ, Vin. Kau seolah tak bahagia bersatu dengan aku." Tangisku sudah terlanjur lepas.
"Hai, apa aku… .. ..
...****************...
__ADS_1