Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD59. Larangan Givan


__ADS_3

“Aku tak suka kalau Ria harus sama kau!“ Bang Givan mulai menunjuk-nunjuk bang Ken.


Aku menahannya, menepuk-nepuk dadanya. Aku takut ada pukulan yang melayang.


“Sombong! Asal kau tau, adik ipar kau sendiri yang dari awal nempel terus sama aku.“


Aku ketar-ketir. Aku tak menyangka mulut bang Ken seperti itu, aku khawatir ia membocorkan aib kami. Atau lebih tepatnya, ia membongkar tentang aku yang bahkan merelakan diri untuk dijamah olehnya.


“Aku paham, tapi harusnya kau tak ambil kesempatan dalam kesempitan. Aku percayakan ke kau, karena dari kecil kita udah bareng, Bang. Aku pikir, adik aku, ya adik kau juga. Aku kasih kau kepercayaan, bukan untuk dirusak. Kalau udah begini, gimana? Aku yakin, kau bakal ulangi kesalahan kau terus selanjutnya. Aku tau, kau bukan orang yang cepat kapok.“


Aku hanya berdoa, semoga bang Givan mengizinkan kami bersama.


“Gimana-gimananya? Aku mau nikahin Ria, tapi kau seolah persulit keadaan kita.“ Bang Ken sudah menampakkan emosinya di sini.


Kenapa ia tidak merendah saja? Kenapa ia harus banyak berbicara dan menampakkan bahwa dirinya lebih tua dan tak mau kalah dari bang Givan?


“Aku tak persulit!“ Bang Givan membuang napasnya kasar.


“Kau selesaikan urusan kau dengan Putri.“ Bang Givan menekankan kalimat itu, setelah kami hening tak bersuara.


“Aku udah selesai!“ Bang Ken malah ngotot di sini.


“Aku tau, Bang. Kau jangan bohongi aku!“ Pertarungan ini, diselimuti dengan nada lirih nan dingin.


“Putri yang tak mau aku lepaskan, Van! Aku nikah pun, dia bakal lepas sendiri.“ Mata bang Ken sudah berubah merah.


“Kau tak paham dia. Urus urusan kau sama Putri, kalau memang udah impas, kau boleh datang lagi. Bukan aku mau ngancam, tapi dengan jejak digital semesra itu. Bunga paham nanti, dia bakal ngerti gimana tabiat ayahnya. Selesai dengan Putri, dalam artian selesaikan juga jejak digitalnya.“ Bang Givan condong ke arah bang Ken.


“Sombong!“ Bang Ken melemparkan bekas sobekan makanan ringan ke arah bang Givan.


“Pulang kau!“ Bang Givan memasang wajah kejamnya.

__ADS_1


Apa mereka akan bermusuhan.


“Kau tak perlu minta aku datang lagi. Sekali kau mempersulit kek gini, aku malas untuk datang laginya.“ Ia berlalu pergi begitu saja.


Begitu kah?


Sungguh demikian?


Ia tidak mau berjuang untukku? Untuk kami?


“Abang…. Bang Ken….“ Aku berseru menatap kepergiannya.


Aku tak ingin ia seperti ini.


“Awas aja kau kalau berani-beraninya ngejar dia! Masuk sana!“ Bang Givan membetakku.


Aku sampai tersentak, karena mendengar bentakannya.


“Lebih baik tak jadi nikahnya, daripada kau jadi jandanya dia. Mantan dia, bakal terikat selamanya. Dia datang, dia pasti dapatkan yang dia mau.“ Bang Givan memegang kedua lenganku.


Bagaimana ia bisa tahu tabiat bang Ken? Tapi, aku tetap ingin mendapatkan dirinya seutuhnya.


“Bang, aku cinta sama bang Ken.“ Ini pengakuan pertamaku pada orang lain.


“Itu bisa luntur, kalau kau dekat dengan laki-laki lain. Ria, dia keturunan abi Haris loh. Daripada sama keturunan abi Haris, lebih baik sama keturunan ayah Jefri kalau ada yang laki-laki sih.“ Bang Givan terlihat frustasi.


“Abang tau sesuatu? Kenapa kalau anak abi Haris?“ Aku merasa bang Givan tahu banyak tentang sifat bang Ken.


“Kasar, Ria. Abi Haris itu kasar, keturunannya pasti tak jauh kek sifatnya. Bang Ken ini, kalau s**s itu kasar juga. Aku sering lihat, badan kak Riska itu sampai merah-merah. Abang tau, karena kak Riska bilang sendiri. Kau tak boleh nih pegang-pegang dia, raba-raba dia, tangan kau pun pasti dicekal terus. Makanya dia pernah bilang, pengen punya istri kek Canda. Karena mbak kau ini, dulunya benar-benar pasif. Nah, dia suka perempuan yang pasif itu. Dia suka berkuasa, dia suka dia menang atas tubuh kau. Entah kenapa bisa merah-merah kak Riska masa itu, jadi kek digaplokin tuh. Kalau dipukul kan merah membiru, bonyok juga. Itu sih tak, cuma pada merah-merah aja.“


Loh, loh, loh? Kok benar?

__ADS_1


Aku merasakan pun seperti itu, ia bahkan tidak mau sama sekali jika aku berada di posisi atas. Ia ingin dirinya sendiri yang gerak, sedangkan aku hanyalah diminta untuk meresponnya saja.


“Abang tak mau kau dapat penyiksaan berkepanjangan dari dia. S**s itu, penyaluran dari segala rasa. Rasa cinta, sayang. Begitupun dengan rasa kecewa, marah, hiburan dan segala macam. Kalau caranya dia marah aja seram, apalagi caranya dia menyalurkan kemarahannya dalam s**s?“ Bang Givan menggeleng berulang dengan menghela napasnya.


Tapi bagaimana dengan kondisiku sekarang? Aku sudah begitu rusak karenanya.


“Apa mungkin dia bisa berubah, Bang?“ Aku menanyakan hal ini padanya, karena ia pun membuat perubahan untuk dirinya sendiri.


“Bisa, tapi lama. Sabar kau harus banyak, tabah kau harus luas. Lima tahun pernikahan, Abang sama mbak kau masih tak mengerti satu sama lain juga, Abang masih tak bisa kontrol diri Abang sendiri. Setelah rujuk pun sama, meski kita udah saling mengerti satu sama lain. Lambat laun, anak bertambah, masalah silih berganti dengan kebersamaan, ya sampailah di titik Abang mau berubah untuk diri Abang sendiri, mbak kau, anak-anak Abang dan orang tua Abang. Bad boy memang menantang, tapi good boy tak nguras perasaan. Batin kau, pikiran kau, hati kau, perasaan kau, jiwa raga kau, bakal terombang-ambing karena nyanggupin untuk hidup sama laki-laki kek dia. Di usianya yang udah kepala empat aja, dia masih kek gitu kan? Kalau dia ada mikirin ke depan, dia pasti maju untuk nikahin kau masanya dia sadar kau dan dia ada perasaan. Bukan harus kek gini dulu gitu.“ Bang Givan sampai bersila di atas sofa dengan menghadap padaku.


“Kek gini gimana, Bang?“ Aku tahu jika bang Givan benar-benar tahu jika aku sudah melakukannya.


“Udah sama-sama tau kan perasaan kalian? Kau udah banyak tau tentang dia kan? Kau udah tau seluk beluk dia kan?“


Ohh, syukurlah. Ternyata prasangkanya tidak ada yang mengarah ke s**s.


Serius kah? Ia hanya tahu tentang ini?


“Tau gender privat kalian juga kan? Jadi, udah sejauh mana dia rusak kau?“


Aku membeku.


Aku harus menjawab apa?


“Kalau aku udah jauh sama dia, memang Abang mau restuin kami?“ Aku tidak menjawabnya lebih dulu. Aku ingin tahu tanggapannya.


“Tak. Abang tak kira kau sama dia sama-sama suka, karena umur kalian jauh. Abang paham kau ada minat ke dia, tapi Abang tak yakin dia ngerespon kau. Abang ada insting dia nyari kesempatan dalam kesempitan, tapi Abang percaya iman kau kuat. Entah kenapa, Abang yakin kalau usaha kau sama dia itu minim resiko. Udah kek nampak gitu tuh keberhasilan kau, menurut insting Abang sendiri. Bukan Abang sengaja kasih umpan kau untuk dia, tapi Abang mikirnya biar kau maju dengan diawasi dia. Abang percaya sama dia, Abang yakin dia ini berpikir ulang untuk rusak kau. Memang, sejauh mana dia rusak kau? Ayo kita perbaiki.“ Bang Givan berbicara sangat lirih dan lembut.


Aku mendadak menyesal karena semua perbuatanku kemarin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2