Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD96. Dihubungi Givan


__ADS_3

Sudah tiga mingguan, kami menikmati waktu bersama. Kini, ia tidak bisa lagi menemaniku sementara. Karena, ia harus pulang ke Malaysia untuk menerima laporan bulanan di rumah sakitnya. Ia pun berkata, ia langsung datang ke Banjarmasin untuk membeli alat-alat pengolah biji kopi dan merekrut orang-orang penting.


LDR sudah.


Kebetulan sekali, ini adalah haid pertamaku setelah menikah. Aku kira, aku akan hamil karena sudah telat datang bulan selama tiga hari. Ternyata, hanya telat tiga hari tapi aku tidak hamil. Aku sudah ingin benihnya tumbuh di rahimku, agar ia benar-benar terfokus padaku.


Namun, kabar yang tidak kusangka datang dari bang Givan.


[Ria, gimana kalau kau terima lamaran dari Dika aja?]


Kenapa bang Givan memberikan tawaran seperti ini? Ada apa dengan Dika, sampai akhirnya bang Givan menyetujui hal itu? Terakhir kami berkomunikasi, aku mengatakan bahwa ponselku rusak tapi sebenarnya adalah bang Ken memblokirnya. Aku pun mengabari hal tersebut pada Dika, dengan menggunakan nomor kontak Hana saat aku bertemu Hana di tempat kursus.


Duniaku dibatasi, karena pulang kursus aku selalu dijemput bang Ken di depan koridor, terkadang di halte bus. Hari-hari kami tidak melulu diisi tentang kegiatan ranjang, tapi tak jarang aku yang memintanya rutin karena aku ketagihan dirinya.


Ia tidak lagi keluar cepat. Mungkin benar saat pertama itu, karena ia lama tak dikeluarkan menjadikan dirinya begitu sensitif. Tapi, ia tetap jarang untuk mau memberi akses padaku. Karena, ia akan cepat mencapai tujuannya jika aku mengendalikan dirinya. Ia benar-benar laki-laki yang begitu sensitif untuk disentuh.


[Kok tiba-tiba, ada apa?] Balasku pada bang Givan.


[Biar Abang tenang. Bang Ken lama tak pulang, Abang khawatir kalau dia nyamperin kau. Apa dia ada ke sana?]


Benar sekali, sayangnya aku tak berniat memberitahukan padanya.


[Tak ada, Bang.] Aku akan mengalihkan pembicaraan.


[Minggu depan kursus aku selesai. Aku bakal ambil sertifikat kompetensi yang jaraknya dua jam untuk satu perjalanan kalau dari rumah inu. Apa aku boleh tinggal di mes sana?] Tulisku setelah menuliskan pesan tersebut.


Aku akan tinggal di sana dan mengambil apartemen, tentunya itu akan dicover oleh bang Ken. Ia berjanji akan kembali, saat kursusku selesai.

__ADS_1


[Boleh, Dek. Terserah kau, yang penting kau nyaman jalaninnya. Abang mikirin bang Ken terus. Orang kepercayaannya dari Banjarmasin datang, katanya janjian mau pesan mesin. Dia alasan ke mamah itu pergi ke Banjarmasin. Kalau orang dari Banjarmasinnya ke sini, berarti dia ke mana? Di Malaysia begitu? Tapi kenapa nomornya sulit dihubungi?]


Jelaslah sulit dihubungi, bang Ken tengah dalam perjalanan. Sulitnya begini mengelabui keluarga yang lebih cerdas, sepak terjangnya lebih kuat, jam terbangnya lebih banyak. Karena instingnya kadang tepat, kadang lagi perhitungan dan pemahamannya seolah benar semua. Aku merasa, cepat atau lambat pun pasti akan ketahuan.


[Ke mana ya dia, Bang? Abang ngabarin begini, aku jadi kepikiran. Abang bilang kan dia stay di mamah, kirain masih di sana.] Aku takut salah merespon.


[Nanti Abang cari tau. Kadang tuh khawatir, apa-apa tuh ya ngabarin tuh. Entah pergi ke mana atau ke mana, ya kasih kabar. Takutnya, dia ada apa-apa dalam perjalanan tuh kami tak tau.] Benar juga ucapan bang Givan ini.


Jika ia mencaritahu bang Ken, otomatis aku harus lebih berhati-hati. Setelah komunikasi terjalin lagi dan ia mendapatkan sinyal, sebaiknya aku tak menghubunginya jika tidak dihubungi lebih dulu. Khawatirnya, ia tengah berada di tengah-tengah keluarga Riyana.


[Iya ya, Bang? Aku pun tak punya akses apapun, untuk cari tau informasi keberadaannya.] Jujur saja, aku khawatir jika responku yang seolah tidak tahu apa-apa ini pasti dicurigai.


[Untuk apa kau bilang sampai kau tak punya akses apapun?]


Aku langsung deg-degan. Salah membalas pesan kah aku ini?


[Aku kira Abang nuduh aku.] Begini saja sepertinya cukup.


Mentalku langsung bergetar. Bagaimana marahnya ia, jika aku ketahuan mengkhianati kepercayaannya?


[Ya, Bang.] Aku bingung ingin membalas apa. Aku cukup lama menunggu pun, nyatanya bang Givan tak membalas.


Syukurlah, sedikit lega.


Jangan senang dulu. Rupanya, bang Givan malah menyambungkan panggilan telepon. Semoga suara gugupku tidak diketahui olehnya.


“Hallo, Dek.“ Suara bang Givan langsung terdengar.

__ADS_1


“Ya, Bang.“


“Abang kasih alamat rumah Gibran yang di sana ke Dika. Dia ada penerbangan ke sana katanya, ganti temannya yang berhalangan datang karena istrinya tiba-tiba disesar karena kecelakaan.“


Bagaimana ekspresiku? Tentunya seperti ini, 😳.


“Kau tenang aja, minta pengurus rumah nemenin kau selama ada tamu. Abang udah hubungi suaminya kok, yang jadi sopir kau itu, untuk jaga-jaga di sekitar rumah,” tambah bang Givan kemudian.


Astaghfirullah.


Aku istri orang. Bagaimana ini?


“Bang, tapi aku tuh sebenarnya udah tak mau respon Dika lagi.“ Aku mendadak jujur di sini, semoga aku tidak keceplosan.


“Kenapa sih? Abang kira, kalian baik-baik aja. Banyak komunikasi sama dia, Abang berpikir kau untuk mengenal lebih dekat dulu. Tapi, jangan buka seluruh rahasia tentang kau. Apalagi, tentang kau yang punya skandal sama keluarga sendiri.“ Bang Givan sepertinya memberi lampu hijau pada Dika.


“Kek kurang klik aja.“ Aku bingung untuk mencari alasan.


“Mau nungguin bang Ken aja? Bang Ken tak ada perjuangannya, Dek. Bahkan, dia lama tak ada di sini. Entah ke mana perginya dia.“ Setiap membicarakan bang Ken, bang Givan seolah terbawa kekesalannya.


“Bang Ken harus gimana, biar Abang setuju tuh?“


“Harus datang ke Abang, akrabin Abang, rendah diri, ngomong baik-baik dan tak kasih perintah ke Abang harus urus pernikahan kau ini dan itu. Intinya, Abang udah terlanjur sakit hati. Kau dikata-katain hidangin dia daging, kau tak sakit hati kah? Dia juga bilang, dia tak rugi tak nikahin kau.“ Bang Givan sudah berbicara lantang.


Sulit, jika bang Givan kasusnya sudah sakit hati begini. Ya memang akan sulit, kecuali orangnya merendah dan mengakrabi terus seperti bang Ghifar.


“Kalau menurut dia, dia udah merasa kek gitu. Tapi menurut Abang, Abang tak merasa kek gitu. Gimana?“ Mengerti tidak ya maksudku?

__ADS_1


“Abang pasti pahami. Orang dia datang ke sini aja, nyarinya Canda. Kasih uang kebutuhan Bunga yang dulunya transfer ke Abang, sekarang cash lewat mbak kau aja. Tak segan-segan dia tanya langsung ke Abang, mana Canda. Dilewati terus Abang, tak pernah dia bawa Abang campur tangan untuk segala sesuatu tentang Bunga. Itu padahal Bunga, yang jelas Abang didik dan asuh dia bareng istri Abang. Terus, apa dia ada nanya tentang kau? Ria sehat kah? Ria sebetulnya di mana kah? Atau, bahas tentang usaha kau sama dia yang di Banjarmasin kah? Tak ada tuh, tak ada sedikitpun pembahasan tentang kau. Abang tak ngada-ngada, tapi begitu adanya.“ Emosi bang Givan tersampaikan sekali dengan nada bicaranya.


...****************...


__ADS_2