
Aku langsung merapatkan kakiku, kemudian memeluk guling dengan tetap memunggunginya. Sudah tinggi-tingginya, lalu aku dihempaskan sebelum menembus langit.
Rasanya kesal luar biasa.
Aku langsung berpikir, bahwa kejadian ini akan terulang setiap waktu dalam pernikahan kami esok. Aku masih muda, aku masih membutuhkan hal itu. Bahkan, aku masih menggebu-gebu untuk melakukannya.
“Dek, minum ini.“ Ia menyodorkan sebuah pil kecil berwarna putih.
Apa itu?
“Obat apa? Aku tak sakit.“ Aku meluruskan pandanganku pada obat tersebut.
“Tak apa, minum aja.“ Ia meraih botol minum air mineral milikku, yang berada di nakas.
Ia memaksaku untuk minum pil putih kecil tersebut. Aku bergerak cepat untuk menelan dan meminum air putih.
Aku ingin menenangkan diri, aku tak mau banyak komunikasi dulu. Aku takut berbicara lancang dan merendahkannya, padah kondisinya hanya lelah, bukan benar-benar lemah.
“Mau tidur kah, Dek?“ Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhku, kala aku sudah merebahkan tubuhku kembali.
“He'em.“ Aku tak berminat banyak bicara padanya. Aku tak bisa mengontrol mulutku.
“Oh, ya udah.“ Ia malah memelukku dari belakang.
Seperti saat itu, mungkin saja ia langsung terlelap pulas dan mendengkur. Tapi benar juga tebakanku, aku langsung mendengar dengkuran halusnya beberapa saat kemudian.
Sabar, Ria. Mungkin esok sudah berubah.
Pintar sekali duda itu, pagi aku terbangun ia sudah tidak ada di sampingku. Entah ke mana perginya, karena ia sudah menghilang dari sini. Mungkin ia tahu, jika pagi tiba pengurus rumah ada di sini dan sibuk di sini.
Aku langsung bergegas untuk mandi, meski rasa perih kini aku nikmati juga. Aku masih belum merasa plong, aku masih kesal karena bang Ken malah tidak membujuk untuk mengulanginya. Ia tidak sadar, atau memang sengaja. Hanya ia yang tahu.
Aku belum mendapat kabar apapun. Aku lebih memilih untuk mementingkan kursus hari pertamaku, daripada menunggunya tidak jelas.
Aku malah mengambang kembali, entah kenapa jadi atau tidaknya menikah nanti, aku tak terlalu berharap karena kejadian semalam. Apa yang ia lakukan, jika suatu saat aku mengeluh karena batinku kekurangan.
__ADS_1
Apa faktor usia? Tapi aku melihat bang Givan tengah gencar-gencarnya dengan mbak Canda. Papah Adi pun masih romantis dengan mamah Dinda. Padahal, sudah hampir enam puluh tahunan.
“Ria…. Ada yang mencarimu.“ Seseorang berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Siapa?“ Aku baru selesai kelas dan aku tengah berjalan di koridor.
“Laki-laki tegap, aku tidak tahu namanya.“ Seseorang yang memberitahuku menunjuk ujung koridor ini.
“Oke, thanks.“ Aku bergerak cepat untuk mencari tahu siapa laki-laki itu.
Kemungkinannya sih bang Ken, karena jika Alfonso kan tidak tegap. Ya lucu sajalah bentukannya.
Benar, ada bang Ken di sana. Ia memakai celana panjang, dengan kemeja berwarna putih yang tangannya digulung. Apa ia sudah siap untuk akad?
“Bang….“ Aku melangkah mendekatinya.
“Ayo, udah jam sepuluh. Kita beli baju untuk Adek, turus langsung ke masjid yang udah Abang tunjuk. Saksi, wali, imam masjid pun bersiap menikahkan. Semuanya orang Indonesia, katanya sih dari Jawa timur.“ Bang Ken menggandengku.
“Hm, oke.“ Aku merasa tidak bersemangat.
“Senyum dong.“ Ia tersenyum lebar padaku, agar aku mengikutinya. Kemudian, ia bergerak menarikku untuk berjalan.
Mungkin sudah telat pertanyaan ini.
“Menua bersama dan beri pemahaman anak tentang dunia akhirat, ajarkan Adek mampu berdiri sendiri dan ajarkan Adek mampu ngolah usaha Abang nanti.“ Ia berjalan perlahan, membawaku untuk menuju ke sebuah taksi.
“Mindset Abang udah berubah?“ tanyaku kemudian.
“Coba pahami aja. Benar kata Adek, yang mati itu Abang, bukan orang-orang di sekeliling Abang. Kehidupan mereka masih berlanjut, meneruskan semua yang Abang tinggalkan,” jawabnya dengan membukakan pintu taksi untukku.
“Bagus kalau pikiran Abang udah terbuka.“ Aku masuk dan duduk di bangku belakang taksi ini.
Ia berjalan memutar, kemudian ia duduk di sampingku. Ia berbicara pada sopir taksi, untuk mengantar kami ke sebuah toko busana.
“Hari Minggu nanti Abang pulang dulu ya? Nanti Abang kabari kapan Abang balik ke sini lagi, soalnya pabrik yang di Banjarmasin udah dibangun. Abang ngarahin orang-orang dulu dan pesan beberapa mesin. Abang siapkan bahan baku dulu, karena sebelumnya ditampung di gudang lama juga. Kita kek gini aja dulu, sampai Givan nyuruh Adek pulang atau pindah kota. Abang bingung kalau ambil keputusan, khawatirnya nanti malah Givan curiga.“
__ADS_1
Tapi jika seperti itu, ia yang akan lelah menjalani semua ini.
“Harusnya kita target aja, sembari Abang minta restu bang Givan. Sesuai perjanjian awal, enam bulan ke depan untuk melihat kesungguhan Abang. Udah termakan satu bulan, sisa lima bulan lagi. Aku tak pengen keluarga kami tau, kalau kami udah menikah. Tapi, kita bisa berpura-pura belum menikah dan Abang tetap usahakan untuk dapat restu mereka.“ Dengan begini, kami akan bebas berhubungan. Tapi, suatu saat kami bisa mendapatkan restu keluarga.
“Begitu pun tak apa, Dek. Tapi Abang punya satu permintaan.“ Ia mengacungkan jari telunjuknya, dengan tersenyum penuh arti.
Taksi sudah berjalan.
“Apa, Bang?“ Aku kembali meliriknya.
“Adek yang patuh sama Abang, yang nurut sama Abang. Jangan respon laki-laki lain, jangan ladenin laki-laki lain.“ Ia sampai berbisik di dekat telingaku.
“Itu tak masalah, Bang.“ Aku mampu menyanggupinya jika hanya itu.
“Bagus. Di sana tokonya, Abang udah nanya-nanya dan udah pilihkan. Tinggal Adek cobain dan Abang bayar.“ Kemudian bang Ken memberi arahan pada sopir taksi tersebut, dengan menanyakan ongkos perjalanan kali ini.
Setelah membayar, kami langsung menuju toko tersebut. Benar, aku langsung diminta untuk mencoba sebuah dress sopan. Seperti gamis, tapi terlihat mewah dengan belt yang begitu menarik.
Dress ini berwarna putih tulang, dengan model rempel besar-besar di bagian pinggang. Di bagian atas hanya polos dan pas badan, dengan resleting model Jepang di bagian punggung. Sederhana, tapi terkesan mewah dan elegan.
“Abang pakai apa?“ Aku menyentuh kemejanya.
“Abang udah pesan jas aja. Pakai ini, sama jas hitam aja. Tuh udah di kasih, tinggal fitting baju Adek aja tadi.“ Bang Ken menunjuk kasir berada.
Dengan sepatunya, penampilannya terlihat indah dan menawan. Ia tidak kalah kerennya.
“Dokumentasi?“ Aku tidak mau jika tanpa bukti sama sekali.
“Ada, Abang udah booking jasa fotografer. Bukti pernikahannya juga ada, Dek. Nanti ada secarik kertas, bisa digunakan untuk dijadikan dokumen data di negara ini juga. Tapi kalau di Indonesia, tetap dihitung nikah siri. Ya di sini juga siri sih, tapi sah untuk pendataan aja sih. Karena kita WNI, bukan warga asli sini.“ Ia menyentuh kedua bahuku.
“Langsung dipakai aja ya bajunya?“ Ia tersenyum lebar.
“Oke, Bang.“ Aku mengangguk menyetujui.
Ia langsung berbicara dengan pegawai toko baju ini, kemudian ia mengarahkan kami untuk langsung ke kasir.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, kami melakukan perjalanan kembali untuk datang ke masjid tempat diadakannya acara untuk kami. Ia menyiapkan semuanya seorang diri, dengan orang-orang yang ia tunjuk dan bayar untuk acara ini.
...****************...