Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD53. Penjelasan Ken


__ADS_3

“Shtttttttttttt….. Tak apa. Tenang, Dek.“ Ia mengusapi air mataku.


“JUJUR!!!!“ Aku berteriak di depan wajahnya.


“Kita sama-sama terhanyut, Ria. Stop nyalahin Abang terus! Kita sama-sama mau.“ Ia membingkai wajahku, ia berkata tepat di depan wajahku.


“Abang p****** aku.“ Aku memukuli dadanya kembali.


Ia menahan tanganku, sampai tanganku terasa sakit. “Kau mau tau gimana dip******? Nih, ini namanya di******a.“ Ia langsung membalikkan posisiku untuk terl******, kemudian ia naik ke atas perutku.


Tangisku semakin lepas terdengar. Rumah ini paling dekat dengan rumah warga, tapi entah apakah ada yang mendengar tangisku tidak.


Sayangnya, mulutku langsung dibekap oleh tangannya. Aku diberi ruang untuk bernapas, tapi mulutku ditutup rapat dengan telapak tangannya. Suaraku, sama sekali tidak terdengar.


Air mataku bercucuran begitu parah. Aku dibuat kacau olehnya.


“Ini contoh kecil, kalau kau di*******. Jangan nangis, aku lepas kau.“ Bang Ken melepaskan cekalan tanganku, kemudian ia turun dari atas perutku.


Aku mencoba menahan suara tangisku, saat ia melepaskan tangannya dari mulutku. Aku takut ia sulit mengontrol emosinya dan mengamuk sejadi-jadinya, jika aku masih menangis histeris saja.


“Udah, udah…. Jangan nangis.“ Bang Ken membawaku dalam pelukannya.


Aku memeluk dan berlindung di dada lebarnya, dengan bang Ken yang mengusap-usap punggungku. Aku masih mencoba meredam suara tangisku, karena aku takut jika mendapat amukannya.


Cukup lama dalam posisi ini, aku mampu berkata setelah sesenggukan ini mulai berkurang.


“Abang isi obat di kopi aku.“ Ini bukan pertanyaan, ini adalah sebuah pernyataan.


“Tak.“ Ia menjawab cepat.


“Abang bohong!“ Aku memberi pukulan lagi di dadanya.


“Ya.“ Ia mengeratkan pelukannya. “Abang marah,” lanjutnya membuatku melongo tak percaya.


Marah mengamuknya menyeramkan, marah diamnya mematikan. Sebenarnya, ia jenis manusia seperti apa?


“Abang kasih flibanserin, dengan dosis sesuai ketetapan yang harusnya kau butuhkan,” jelasnya begitu gamblang.


Aku merapatkan bibirku, mencoba untuk tidak menangis meraung mendengar kenyataan tersebut. “Aku tak butuh obat perangsang itu, Abang!“ Aku berbicara dengan menahan tangisku.

__ADS_1


Begitu sulit, nyatanya air mataku kembali mengalir deras.


“Itu obat medis. Kau butuh itu, Dek.“ Suaranya tegas dan datar.


“Aku tak mau diobati kek gitu! Aku hampir mati, Bang.“ Aku teringat akan rasa kepalaku yang begitu tertekan.


“Abang tau dosisnya dan yang kau minum tak lebih dari dosis aman.“ Ia menghapusi air mataku, kemudian meraup wajahku.


“Udah jangan nangis, Dek.“ Ia memelukku kembali.


“Abang tak boleh lakuin itu sama aku!“ Aku ingin dirinya mendengarkan semua rasa keberatanku.


“Iya, Abang minta maaf. Abang marah, Abang tak suka tau pesan itu. Abang udah blokir kontak Arman juga.“ Ini pengakuan dosanya, atau protes akan ketidaksukaannya?


“Abang begitu tuh, sebenarnya untuk apa? Abang kek yang betul-betul mau nikahin aku aja.“ Aku mendorongnya, melepaskan diri dari dekapannya.


“Betul. Abang pesan tiket sekarang ya? Abang cari penerbangan untuk kita pulang ya?“ Ia bangkit dan menyangga tubuhnya dengan satu tangannya.


Ia meregangkan lehernya, kemudian tangannya masuk dan mengusap tengah-tengah tubuhnya yang tertutupi selimut. Kelihatannya pun, ia terlihat santai dan tenang.


Betulkah ia tidak takut jika bang Givan menentangnya?


“Gimana kalau bang Givan tak setuju?“ Aku berharap ia mau mengusahakanku.


“Abang usahakan. Abang mandi duluan ya?“ Ia mengambil celananya, kemudian mengenakannya di balik selimut.


Aku mengangguk samar, aku masih memeluk selimutku ini. Aku masih dilanda dengan rasa tak percaya, jika bang Ken benar-benar melakukan hubungan itu padaku dengan membubuhkan obat khusus.


Benarkah rasa cinta itu seperti ini?


Apa akhirnya nanti aku akan membawa judul novelku? Atau, dirinya yang akan mabuk diriku? Apa mungkin, ini hanya di awal saja? Hanya di awal karena ia ingin merasakan surga dunia dariku?


Salahkah aku berpikiran sehina itu? Tapi aku tidak yakin, jika ia benar-benar mencintaiku. Cinta itu bukan melulu se*s, meski aku paham di se*s pasti ada cinta. Tetapi, bang Ken lebih memperdayaku dengan se*s. Ia begitu menggebu-gebu, bahkan melakukan hal yang tak kukehendaki tanpa izin dariku. Bang Ken seperti hanya menginginkan selaput daraku saja.


Dengan dulu ia bercerita, bahwa ia membiayai biaya operasi implan PD untuk Riska saat sebelum menikah. Berarti jelas, ia adalah laki-laki yang royal pada wanita. Ia tidak perhitungan perihal uang, yang mungkin juga tengah ia lakukan padaku.


Aku tidak keluar uang sedikitpun untuk seluruh usahaku di sini, aku pun tidak mengeluarkan uang untuk kebutuhan hidupku selama di sini. Ia memberiku banyak keroyalan, semata-mata karena ada tubuhku yang harus ditukar dengan hartanya.


Tuh kan? Aku semakin berspekulasi buruk.

__ADS_1


Lebih baik, aku memintanya segera mencari tiket pesawat yang cocok dengan jarak tempuh dari sini. Agar aku tidak begitu penasaran, tentang keputusan bang Givan dan kesungguhannya untuk memperistriku.


Lebih baik seperti itu kan?


Semoga, aku tidak kesulitan berjalan karena perbuatannya. Ngomong-ngomong, aku merasa meremang ketika teringat akan permainannya semalam. Agresifnya tiada tara, gerakannya begitu gesit dan memberikan sensasi luar biasa. Atau, aku hanya baru merasakan se*s yang sesungguhnya saja? Karena saat baru dip******* olehnya, aku hanya diterobos tanpa adanya hubungan se*s setelahnya.


Aku mencoba bangkit, kemudian berdiri perlahan. Kakiku kuat menopang tubuhku. Hanya saja, intiku benar-benar perih.


Ketika bang Ken sudah selesai mandi, aku langsung menuju kamar mandi. Ternyata, saat buang air besar dan buang air kecil rasanya begitu sakit sekali. Aku sampai meringis menahan perih, aku pun merasa bahwa intiku seperti bengkak.


Aku harus menanyakan ini pada bang Ken, karena barangkali aku benar-benar butuh penanganan khusus. Bisa jadi karena bang Ken melakukannya terlalu bersemangat, sehingga ada kesalahan dalam prosesnya.


Aku menuntaskan segera sesi mandiku, kemudian aku langsung keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalut handuk dan mengeringkan rambutku dengan handuk juga.


“Kenapa, Dek?“ tanyanya yang baru keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


Ia banyak mengoleksi kemeja. Bahkan, setahuku ia tidak memiliki kaos dalam kopernya. Paling juga ada hoodie dan sweater setelan olahraga.


“Bang, keknya bengkak deh. Perih sekali pas jongkok, atau jalan.“ Aku berjalan perlahan setelah mengeringkan kakiku.


“Iya kah? Coba Abang cek.“ Ia mengikutiku yang baru mendahuluinya.


“Tapi jangan macam-macam, Bang.“ Aku tak mau ia berbuat mesum lagi.


“Tak, Dek.“ Lembutnya sahutannya.


Aku memposisikan diriku, sesuai instruksinya. Ia langsung mengarahkan senter ponsel ke arah intiku, aku merasakan jarinya menyibak bagian bibirnya.


“Aman, semalam basah betul. Tak ada bengkak juga, mungkin cuma kaget aja. Tak apa, Dek. Dua atau tiga kali berhubungan sih, udah tak ada perih lagi kalau memang aman.“ Ia mematikan senternya dan menegakkan kepalanya.


“Aku mau minum obat, Bang. Apa atau apa gitu, rasanya ganggu betul.“ Aku butuh obat pereda nyeri mungkin.


“Masa? Coba sini Abang obati.“ Ia membuka kakiku lagi.


Bodohnya lagi, aku menurut dan aku tidak berpikir lain.


“Abang!“ Aku tertawa geli, dengan mendorong kepalanya dari sana.


Kucing liar ini menyapukan l****nya di sana.

__ADS_1


Ia mengangkat kepalanya, dengan tersenyum penuh minat. Ya ampun, ia menggoda sekali.


...****************...


__ADS_2