
"Ya tak, kau pengen dibantu ya harus perjanjian di atas materai. Aku keberatan dengan sifat minus kau, kalau harus dibayar tenaga aja. Lagi pun, aku tak butuh tenaga kau." Suara bang Ken semakin mendekat.
"Coba sana keluar kamar, Yang." Aku menepuk paha suamiku.
Gavin langsung bergerak keluar dari kamar. Kebiasaan jeleknya, ia selalu membiasakan pintu kamar terbuka saja.
"Tak usah lah, Ken. Biarkan aja, nanti dia juga pergi sendiri," seru mamah Dinda kemudian.
Aku memilih untuk duduk dan bersandar di ranjang, ingin berjalan ke sumber suara. Tapi aku repot membawa kantong infus.
"Mamah kenapa sih biarkan aja? Ria sampai sakit terganggu dia." Itu suara suamiku yang protes.
"Dia udah kena hukum desa, Mamah udah tua malas ribet bolak-balik. Udah capek ngotot-ngotot, udah capek baik-baik, jadi harus gimana lagi?" Mamah Dinda menghela napas panjangnya di akhir kalimat.
Mamah Dinda sering kurang darah, kesehatannya tak lagi bagus. Lututnya sering sakit dan mengatakan susah untuk berdiri, ia masih cantik tapi keadaan sudah kurang prima. Papah Adi tetap bugar, karena rutin aktivitas di luar rumah. Mamah Dinda beraktivitas di luar, hanya mengantar makan siang untuk suaminya saja. Selebihnya, beliau selalu ada di rumah bersama cucu-cucunya. Papah Adi hanya sering kambuh darah tingginya, tapi ia tetap beraktivitas di luar rumah agar peredaran darahnya tetap lancar katanya.
"Ibu kau itu licik, Vin. Dia tak buat masalah untuk aku di sini, tapi pesangon langsung masuk ke rekening aku." Suara tawa Ajeng begitu hambar.
Herannya itu masih sombong saja.
"Ya udah gini, gini! Aku yang akan ajukan banding untuk Elang, tapi urus rumah ibu aku yang di sana. Aku tak akan bayar kau, tapi aku sediakan stok makanan mentah di dapur. Tapi dengan perjanjian tertulis dan tanda tangan di atas materai. Kalau kau setuju, aku urus sekarang." Bang Ken memang terkesan ingin menjadi pahlawan sepertinya.
"Tak bisa gitu, apa dulu isi perjanjiannya?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Ya tentang kau tak boleh datang ke lingkungan rumah ini lagi, tak boleh ganggu rumah tangga Gavin dan Ria lagi. Tak usah sok urus ke Cali juga, orang tuanya udah cukup banyak untuk berikan kasih sayang ke dia." Suara bang Ken menembus kamar dengan jelas, sepertinya ia duduk di sofa yang berhadapan dengan pintu kamar.
"Kenapa kau bawa-bawa Gavin? Bukannya kau suka kalau mereka hancur?" Ajeng seperti nenek lampir yang doyan tertawa tanpa ada hal lucu.
"Kapan aku bilang? Dia ibu dari anak aku, dia sakit anak aku oper sana sini dan aku tak suka. Aku tak pernah berha
rap buruk tentang mereka, terlebih Ria yang asuh anak aku. Kau beranggapan aku seburuk kau? Tak lagi sekarang, udah cukup pedih kenyataan semua ini. Aku cuma berharap, anak-anak aku ada di tangan orang yang tepat, aku udah bingung jalani hidup ini. Kalau kau mau, kau bisa tunggu aku datang di penginapan kau bawa surat itu. Jaga rumah ibu aku, karena aku mau balik ke Malaysia. Urusan Elang, tau beres. Tapi dengan syarat, kau tak boleh datang ke lingkungan rumah ini lagi. Berapa lama kau hidup di sini, kau tak boleh datang ke sini tanpa alasan yang tak mendesak." Suara bang Ken begitu tegas.
"Aku tak percaya kau bisa urus masalah Elang. Ini rumit, istrinya bapaknya Elang punya kuasa di Brasil." Suara Ajeng meninggi bergetar.
Sudah mau ditolong, tapi masih meragukan. Duh, bingung sekali dengan Ajeng ini.
"Intinya, kau mau gimana? Mau minta tolong kan? Ditolong loh ini, segala bilang tak percaya. Ya udah pergi aja sana! Tak usah minta tolong kalau gitu sih."
"Bawa pergi dulu, Ken. Kepala Mamah pusing betul."
"Mah, Mah…." Suara Gavin seperti panik.
Duh, mamah Dinda kenapa ya?
"Kalau Mamah sampai kenapa-kenapa, kau bakal aku hukum seumur hidup!" Sekelebat tubuh bang Ken dan Ajeng melewati pintu samping.
Karena kebetulan sekali pintu kamarku bersebelahan dengan pintu samping.
__ADS_1
Tak lama bang Ken kembali, ada grasak-grusuk dari ruang keluarga. Teh manis pun diributkan, sepertinya mamah Dinda mengalami gejala turun darah lagi. Mamah sering sekali kliyengan akhir-akhir ini, keadaannya sedang tidak sehat.
Gavin datang mengurusku lagi, aku sering dibantu ke kamar mandi untuk mengganti pembalut karena aku tengah halangan hari pertama. Sore harinya bang Ken datang mengambil darahku dan menyuntikkan obat lain lagi.
Ia mengatakan, bahwa obat ini adalah lain dari sebelumnya. Tapi memang sih, saat obat tersebut mulai mengalir ke tubuhku, rasanya tubuh panasku sedikit menghangat seperti dibalaluri minyak aromaterapi.
"Jadi hasil akhirnya gimana Ajeng, Bang?" tanyaku kemudian.
"Udah tanda tangan, nunggu kau sembuh terus mau terbang ke Malaysia. Barangkali si kecil udah ada kemajuan, tapi katanya sih BBnya udah naik tiga ons. Kau punya saran nama untuk dia?" Ia mengeluarkan beberapa lempeng obat.
Gavin tengah sholat di kamar ini juga, kami berbicara dengan nada rendah agar tidak mengganggunya.
"Maksudnya, untuk Ajeng itu gimana? Mau dikawinin?" Aku ada memiliki feeling ke sini.
"Belum ada pikiran untuk nikah lagi. Kenapa sih?" Bola matanya memandangku.
Sudah biasa saja, tidak ada ser-ser sama sekali.
"Soalnya suruh nunggu rumah." Karena ia pasti pulang ke rumah itu nantinya, pasti Ajeng rak semudah itu meninggalkan rumah itu. Ditambah lagi, Ajeng sudah diberikan pesangon.
"Karena aku bakal lama di sana, secara medis bayi aku tak akan pulih dalam waktu dekat. Kalau Ajeng tak dikunci dengan surat perjanjian, dia bakal ke sini terus. Mamah udah tak muda lagi, udah gampang stress. Orang tua itu nyari ketenangan, bukan nyari masalah lagi. Anemianya mamah itu, bisa jadi ganggu tidurnya. Nanti insomnia, lebih parah lagi anemianya. Aku tak bisa kasih mamah apa-apa, mamah udah kaya sendiri. Maksud aku ngunci Ajeng begitu, biar bisa menciptakan ketenangan di sini. Lagipun, kau sama Gavin pasti terganggu sama dia kan? Dari bahasa tubuhnya, dia udah tak ada minat ke Ajeng. Cuma bukan itu yang aku khawatirkan, khawatirnya kau malah yang mempermasalahkan hal itu, terus malah lepasin Gavin untuk cari ketenangan. Nanti Kirei gimana, kalau orang tua barunya tak komplit lagi? Aku? Aku udah tak bisa diharapkan lagi untuk jadi ayah yang baik untuknya, karena fokus aku pasti terkuras untuk bayi spesial aku. Sekarang aja, pikiran aku udah ke sana aja. Karena ingat dia begitu kuat, meski idungnya udah tak bernapas. Telat beberapa menit aja, udah pasti bayi aku pun tak bisa diselamatkan. Semata-mata, aku bantu Ajeng itu untuk kenyamanan kalian, untuk ketenangan kalian. Biar tak muncul masalah baru, karena Ajeng semakin menjadi di sini. Mamah udah tak kek dulu, karena yang dia butuhkan ketenangan. Kau ngerti kan kenapa kita tak ambil tindakan, karena nanti kita sendiri juga yang direpotkan." Tatapan matanya dalam sekali.
Benarkah ia setulus ini?
__ADS_1
...****************...