
Setelah mengisi bahan bakar, aku memilih untuk duduk di kursi depan bersama sopir. Aku pun menurunkan sedikit sandaran jokku, agar nyaman saat tertidur. Namun, sayangnya terlalu banyak masalah yang berputar di pikiranku.
Aku melirik ke arah bang Nando yang fokus mengemudi, dengan mengemil biskuit dengan cita rasa asin. Aku memilih untuk menegakkan sandaran jok mobil ini kembali, kemudian memperhatikan bang Nando yang tengah mengemudi.
“Anaknya udah berapa, Bang?“ tanyaku basa-basi. Aku sebenarnya tidak terlalu penasaran juga, hanya mengobrol mencari ngantuk.
“Anak lima, bawaan istri dua, Dek.“ Ia menoleh sekilas dengan tersenyum malu.
Dia mantannya kak Novi, ia memilih untuk menikahi janda ketimbang kak Novi ya jelas lajang.
“Anak kandung tiga ya berarti, Bang?“ Aku membuka mataku tak percaya.
Cepat sekali ia beranak pinak? Perasaan, baru sekitar dua atau tiga tahun silam menikah.
“He'em, anak yang pertama dari Abang dan kedua itu lahir di tahun yang sama. Anak pertama di bulan Januari, Desember anak kedua lahir. Ada malu-malunya pas itu ke bidan, jadi gurauan bidan. Disuruh KB tuh, nanti aja, nanti aja, tak taunya pas mau ikut KB, eh udah isi. Kan sebelum KB tuh, disuruh testpack dulu tuh.“ Ia bercerita sembari terkekeh geli.
__ADS_1
Orang-orang bang Givan memang asyik diajak mengobrol.
“Kek papah Adi sama mamah Dinda ya? Mereka bahkan tiga anak setahun. Aku pernah lihat akta kelahiran bang Ghifar, bang Ghava Ghavi itu lahir di tahun yang sama. Bang Ghifar Februari, bang Ghava Ghavi di bulan September. Yang kembar ini bayi prematur katanya.“ Mendengar ceritaku, eh bang Nando lepas tertawa.
“Ada ya ternyata? Abang kira sendirian begitu.“ Ia mengusap mulutnya sendiri merendamkan tawanya.
“Ada, Bang. Aku juga pas baru tau itu beresin akta kelahiran mereka, kan pas pindah rumah itu dokumen diambil mereka masing-masing. Awalnya, dokumennya sama mamah Dinda semua.“ Aku hanya menyambungi obrolan saja.
“Kau jangan sampai, Dek. Kau harus bisa atur kehamilan kau, biar tak sampai buat stress diri sendiri. Karena tak semua laki-laki itu benar-benar peduli ke istrinya. Mental kau terguncang, kena baby blues sampai istri Abang. Dua anak bawaannya kan, baru tiga tahun sama satu tahun setengah masa itu. Ditambah dua bayi di tahun yang sama, jadi dia tak siap dapat keteteran sebanyak itu. Support dana dari Givan terus-terusan, kata Givan yang penting istri kau tak sampai masak anak-anak kau, istri kau selamat, anak-anak kau selamat. Jadi berobat rutin itu Endah sampai enam bulan atau delapan bulan. Tambah stress Abang, anak-anak Abang, empat-empatnya pakai sufor semua. Alhamdulillahnya Endah sembuh, gara-gara Abang jatuh sakit dan sampai dirujuk di rumah sakit. Abang cerita beratnya beban Abang, Abang minta belas kasihnya untuk sembuh, untuk mau megang anak-anak lagi. Karena rasanya ini tambah stress, masanya dua anak di orang tua dan dua anak lagi di mertua. Nengokin anak yang di sini, dapat cerita, keluhan dan tekanan. Nengokin anak yang di sana, dapat cerita, keluhan dan tekanan. Sedangkan, istri belum bisa kontrol emosi. Drop bener-bener drop. Darah tinggi, gula tinggi, mag dan pencernaan juga tak sehat. Tambah stress takut mati, tengok istri nampak setengah gila, ini anak terlantar dan gimana biayanya, sedangkan kondisi sendiri tak memungkinkan untuk kerja. Untungnya abang ipar kau datang dan bantu urus biaya semuanya. Entah cabut bayaran atau bayar angsuran tiap bulan, tapi yang jelas betul-betul membantu.“ Bang Nando bercerita dengan menggerakkan kedua tangannya yang tengah digunakan untuk mengemudi tersebut.
Rumah tangga seseorang penuh rahasia. Bang Nando menyampaikan pesan, agar aku mampu menjaga jarak kehamilanku nanti. Karena ia memiliki pengalaman buruk, tentang kehamilan yang berjarak dekat tersebut.
“Iya, nikah baru dua mingguan itu divonis hamil satu bulan. Kata bidannya sih, dihitung dari hari terakhir haid, bukan dari pertama kali pembuahan. Tak begitu Abang pikirkan juga, karena dia bawa anak pun Abang terima, kan ibarat katanya begitu.“ Ia menginjak rem dengan begitu halus, cara mengemudinya tidak grasak-grusuk meski dirinya terlihat sangar.
Menerima anak istrinya dengan suami terdahulunya, menurutku adalah rasa tulus yang sebenarnya. Terbukti dari rumah tangganya jauh dari kabar burung, anak-anak mereka pun tinggal satu atap bersama mereka. Yang artinya, bang Nando tidak membedakan mana anaknya dan anak mantan suami istrinya.
__ADS_1
Bisa tidak ya aku begitu ketika punya anak sendiri? Ehh, tapi tak pasti juga aku akan menjadi ibu sambungnya Bunga. Bang Ken hanya memperdayaku, aku harus ingat itu.
“Kok mau sama janda bawa anak, Bang? Mana anaknya dua lagi.“ Aku hanya bertanya saja, bukan menyudutkan bahwa janda tidak pantas mendapatkan bujang. Tapi pemikiran yang berkembang di kalangan masyarakat, bujang memacari janda hanya agar s***nya gratis saja. Tapi tentu tidak benar, karena aku yang V saja bang Ken bisa dapat gratis.
“Dikenalkan orang tua, Dek. Meskipun itu janda nampak mandiri dan galak, tapi nyatanya buat orang tua Abang simpati ke dia. Endah ini buat rumah di depan rumah Abang, otomatis terpandang lah aktivitas Endah tiap hari. Sekekeh-kekehnya Abang perjuangin Novi, orang Novinya tak terjangkau untuk dana Abang. Novi juga udah nikah duluan, ya Abang ikut saran orang tua aja. Awalnya kasihan sih, Abang tak paham ternyata kasihan itu tingkatan perasaannya di atasnya cinta. Kasihan betul dia buka laundry sendiri, dikerjain sendiri, sambil dagang terasi bawang yang udah ditoplesin ukuran berapa gram gitu, sambil momong anak juga. Ya sekarang pun, Abang tempati rumah hasil kerja kerasnya selama menjanda itu.“
Wah, menarik nih. Kak Novi kan mantan bang Ken. Bang Nando ngapain saja ya dengan kak Novi? Kira-kira, bang Nando tahu rahasia apa ya tentang skandalnya kak Novi dan bang Ken, saat status kak Novi adalah istri dari bang Ghifar? Meskipun tidak membuat geger satu RT, tapi cukup membuat geger satu keluarga tersebut.
“Keren ya kak Endah ini, Bang? Dia menjanda karena apa, Bang?“ Aku mengutamakan berbasa-basi agar dirinya tak curiga jika aku tengah mengorek informasi.
“Janda mati, Dek. Makanya Abang rela ngemban tanggung jawab untuk menghidupi anak yatim itu. Kau tau tak pas ada bencana bendungan jebol itu? Kan mantan suaminya Endah ini terseret pas pulang kerja lewat situ.“ Bang Nando melirik ke arah spion tengah. Aku mengikuti arah pandang bang Nando, ternyata terlihat Keith pulas dengan kepala mendongak ke atas.
“Oh, iya-iya. Sebelum sama kak Endah ini, Abang pacaran sama kak Novi ya? Kenapa tuh tak jadi nikah sama dia, Bang? Aku dulu sering lihat kalian bonceng-boncenga.“ Aku mulai dari pertanyaan dasar.
...****************...
__ADS_1