
"Gerakan di atas itu, kata bang Daeng sih mainin otot perut. Kalau kita batuk itu gimana? Nah gitu contohnya, kan kek mau jebrol gitu kan di bawahnya? Itu sensasinya luar biasa kata bang Daeng sih. Tapi jangan sengaja batuk terus, cuma otot perut kita itu seolah kita batuk tuh. Abis kek batuk, terus tahan seolah kebelet pipis. Kek dikunci gitu nah, ngerti kan?" Mbak Canda mempraktikkan dengan telapak tangannya yang digenggam dan dilepaskan kembali.
"Susah tak sih, Mbak?" Masa dari batuk pindah ke tahan pipis? Di pikiranku pasti sulit dilakukan.
"Tak susah kalau udah tau caranya sih, Dek. Kau diam pun, dia pasti kelojotan untuk gerakin." Mbak Canda berdekhem dan menoleh ke arah ruangan lain.
Mungkin ia takut suaminya mendengar. Karena ia menarik nama mantan suaminya, bukan nama suaminya.
"Terus masa kita diam aja di atasnya?" Aku membayangkannya saja, pasti aku dapat omongan lagi dari Gavin.
"Condong ke depan, part belakang aja yang diayunkan. Kalau part belakang kau gede, pasti bergelombang sendiri. Sambil kau mainkan otot perutnya, atur napasnya juga. Yang sekiranya, pas narik napas itu sekalian kita tarik dan buang napas itu buang. Kek kegel lah mirip, tapi jangan sampai kentara sekali kek lagi senam kegel." Ia menjelaskan secara pelan.
"Kenapa sih pelan sangat? Aku agak budek, Mbak." Aku sampai mendekatkan telingaku.
"Ya tak lucu kalau ketahuan sama mas Givan. Dia nanti tau rahasia perempuan dong, takutnya ilmu itu dikasih tau ke perempuan cadangannya untuk puasin dia."
Kok lucu pikiran mbak Canda? Ada-ada saja kakakku ini.
"Oke-oke, nanti aku coba." Aku mengacungkan ibu jariku.
"Variasikan gerakan, jangan hadap dia aja. Belakangi dia, biar dia makin gila cuma merhatiin gerakan park belakang kita."
Eh, tapi aku membayangkannya malu sekali.
"Malu loh, Mbak." Masa pamer part belakang ke suami.
"Dih, kok malu? Mbak tak malu meski banyak strecthmark di sana. Mbak kalau hamil badannya melar betul, jadi dari puser, sampai ke belakang lutut itu banyak strecthmark, meski udah perawatan tetap tak bakal hilang, cuma bisa menyamarkan. Mbak tak malu, kata mas Givan pun seksi. Kadang sering ada jerawat di sana." Ia tertawa lepas.
__ADS_1
Memang banyak benarnya yang diucapkannya.
"Apalagi, kalau kena pembalut ya?" Aku sering seperti ini.
"Heem, tapi suami pun pasti ngerti lah. Orang dia sendiri kadang-kadang sering begitu kok."
Masalahnya, suamiku tidak umum. Mulutnya pedas, protesnya kuat dan tajam.
"Ada obatnya tak, Mbak?" Barangkali bisa memperbaiki yang kadang-kadang buluk ini.
"Perawatan aja, tak pernah pakai obat atau salep yang tak paham isinya. Takut bekasnya gosong."
Untungnya, kakakku perempuan. Jadi, aku tidak malu membicarakan hal ini.
"Bentar, Mbak." Aku merasakan getaran di sakuku.
"Gavin nyari kah?" tanyanya saat aku melihat ponsel.
"Hallo." Aku langsung menempelkan ke telingaku.
"Keluyuran terus? Ke mana kau? Kenapa tak ada depan mata? Sarapan ditinggal, baju belum disediakan di kasur."
Aduh, langsung nyesek ke hati.
"Jadi sekarang pakai baju belum?" tanyaku kemudian.
"Udah! Ada di mana?"
__ADS_1
Memang dasar mulutnya seperti ini deh. Duh, semoga aku tidak merasa dijadikan pembantunya.
"Di mbak, Bang," jawabku dengan melirik ke arah mbak Canda.
"Hm, jangan jauh-jauh." Telepon langsung dimatikan.
Jangan jauh-jauh? Bukan menyuruhku pulang kan? Memang dasar mulutnya mencari keributan deh.
"Mbak." Aku menepuk pangkuan mbak Canda, setelah selesai menelpon.
"Ya? Apa?" Mbak Canda memainkan ponselnya, dengan memeluk toples berisi makaroni kering dengan rasa balado.
"Mbak disuruh apa aja sama bang Givan? Sarapan, baju ganti, wajib kah?" tanyaku kemudian.
"Eummm…. Sarapan, air putih pertama, baju ganti kalau sempat, tapi udah kebiasaan jadi selalu sempat. Sprei wajib ganti tiap berhubungan, kalau tak berhubungan itu sampai tiga harian. Dulu sih tiap hari ganti, karena katanya bau eces. Handuk terjadwal dua hari sekali, baju wajib setrikaan. Terus juga, mas Givan doyan salin. Jadi, setiap mandi itu keranjang baju kotor harus dikeluarkan dari kamar mandi. Mandi pagi contohnya, keluarkan. Terus mandi sore, keluarkan juga."
Waduh, ternyata sama saja.
"Pernah tak merasa keberatan? Merasa jadi pembantu gitu?" Aku hanya bertanya, khawatirnya aku memiliki pemikiran begitu.
"Awal sih iyalah, tapi ke sini sih udah biasa. Kalau Mbak yang penting tak disuruh cuci piring, pekerjaan paling berat untuk Mbak tuh itu. Kalau udah biasa, rasanya ikhlas, ringan, malah seneng tiap kali dia ngucapin terima kasih." Mbak Canda menggambarkan kesenangannya dengan senyum yang amat lebar.
"Dimarahin tak awal-awal tuh?" tanyaku kembali.
"Dimarahin lah. Air putih aja jadi masalah besar tau, Dek. Tapi jika dipahami lebih jauh, mereka tuh ingin kita dapat pahala juga. Nih, begini penggalangan ayat terjemahannya…. Sekali suami minum air yang disediakan oleh istrinya adalah lebih baik dari berpuasa setahun. Makanan yang disediakan oleh istri kepada suaminya lebih baik dari istri itu mengerjakan haji dan umrah. Mandi junub si istri disebabkan jimak oleh suaminya lebih baik baginya daripada mengorbankan 1,000 ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin. Apabila istri hamil ia dicatatkan sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad. Pemeliharaan yang baik terhadap anak-anak adalah menjadi benteng neraka, pandangan yang baik dan harmonis terhadap suami adalah menjadi tasbih atau dzikir. Tidak akan putus ganjaran dari Allah kepada seorang istri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya. Apabila meninggal dunia seorang dan suaminya ridha, nescaya ia dimasukkan ke dalam surga, hadits riwayat Tirmidzi. Seorang wanita apabila ia mengerjakan sembahyang yang difardhukan ke atasnya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya dan taat kepada suaminya maka berhaklah ia masuk surga dari mana-mana pintu yang ia suka. Keren kan?" Mbak Canda mengacungkan ibu jarinya dan menaik turunkan alisnya dengan tersenyum bangga.
"Semangat ya? Jangan membatin aja, yang patuh selagi untuk kebaikan. Suami kita tak mungkin mau buat kita celaka kok, Dek. Tenang aja, ada ganjaran di balik ikhlasnya kita melakukan sesuatu untuk suami kita. Awal memang berat, wajar. Kemarin kau perempuan bebas, yang tak punya aturan hidup. Sekarang, kau harus ikut aturan laki-laki. Tapi kau pun harus ngomong kalau butuh hiburan ini dan itu, butuh belanjaan ini dan itu. Laki-laki itu tak paham, mereka tak tau keinginan kita kalau kita tak ngomong. Jangan sampai, kita capek dan bosan dengan rutinitas dan lampiaskan ke dia. Dia pun pasti capek dan bosan juga dengan pekerjaannya, yang ada dia ngamuk kalau kita tak jelas marahnya. Ini sih sesuai pengalaman Mbak aja, kau butuh saran ya Mbak tak bisa kasih, cuma bisa kasih cerita dan pengalaman Mbak aja." Ia berbicara lancar dengan bermain ponsel.
__ADS_1
Alhamdulillah, ada yang membagi ceritanya. Jika aku hanya sendirian seperti saat dengan bang Ken di Brasil dulu, pasti rumah tanggaku sudah dipenuhi emosi lagi.
...****************...