
Namun, ia malah membalas dengan emoticon saja.
[😅]
Apa artinya iya, lalu ia tertawa malu begitu?
Aku semakin bertanya-tanya sendiri.
[Bang Ken lagi di Cirebon kah berarti, Kak?] Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
[Gak di Cirebon, Dek. Kita di Bandung.]
Kita? Ia dan bang Ken maksudnya?
Tidak kusangka juga, kak Riska menyertakan foto mereka bersama. Itu remang-remang club malam, sosok kemeja putih yang digulung lengannya menjadi sorotan foto kak Riska yang dikirimkan padaku tersebut.
Itu punggung bang Ken.
Ia berdiri membelakangi kak Riska, dengan dirinya seperti tengah berbincang dengan seorang pegawai laki-laki club' malam tersebut. Karena dilihat dari seragamnya, juga pakaiannya yang tidak sama dengan pengunjung lain.
Suamiku bersenang-senang, ia bukan tengah beristirahat.
[Gimana kabar Bunga? Katanya, dia dekat sama kamu ya?] Pesan baru dari kak Riska itu mengalihkan perhatianku.
[Baik, Kak. Iya.] Hawaku sudah tidak baik-baik saja sekarang.
[Nitip ya, Ria. Maklum, ayahnya suka keluyuran 🤭]
Maksudnya apa ia berbicara seperti itu? Terkesan kak Riska ingin bebas tanpa anak, bang Ken pun ingin keluyuran tanpa terbebani. Aku jadi berpikir, ketika semua terungkap, apa aku akan dijadikan sebagai pengasuh Bunga, agar ibu kandungnya tetap bisa bebas tanpa anak dan ayahnya keluyuran tanpa terbebani.
[Iya, Kak. Bunga sama pengasuh kok.] Balasku kemudian.
Agar kak Riska tahu, bahwa anaknya tidak diasuh oleh tangan bang Ken sendiri dan tidak dididik oleh bang Ken sendiri. Tapi, seharusnya ia tahu bagaimana mantan suaminya itu meski aku tidak memberitahukan bahwa Bunga bersama pengasuh.
__ADS_1
Mereka sama-sama gila.
[😁]
Hanya itu balasan dari kak Riska. Aku pun tak berniat untuk membalasnya, aku terlampau murka dengan pemikiranku sendiri.
Aku langsung mencari kontak bang Ken, kemudian aku mengulangi panggilan yang tak diangkat olehnya berkali-kali tersebut. Aku menyimpan bukti-bukti foto yang kak Riska kirimkan, aku juga menscreenshot dan menyimpan story kebersamaan kak Riska dan bang Ken.
Ada juga video pendek dalam story kak Riska yang memperlihatkan bang Ken tengah minum minuman keras di gelas kecil, ia menenggak dengan satu tegukan air berwarna dan berbusa tersebut. Terlihat bang Ken seperti terbiasa mengkonsumsi alkohol, karena ekspresinya biasa saja. Tidak seperti kaget meminum minuman pahit, atau rasa yang asing menurutnya.
Dengan kak Riska berprasangka aku berada di Aceh menemani Bunga, berarti bang Ken tidak bercerita sedikitpun tentangku. Apalagi, tentang kami. Ia benar-benar menyembunyikan hubungan kami, juga berpura-pura pada siapapun bahwa ia tidak ada hubungan apapun denganku.
Ia pemain yang handal.
Sialnya, karena hal ini aku sampai tidak bisa tidur semalaman. Hingga pagi pun, mataku tidak terpejam sedikitpun. Aku hanya berkedip dan menghapus air mata yang meleleh tak aku rasa.
Aku hanya terus memantau story dari kak Riska, karena barangkali ia membuat story di kamar bersama juga. Karena sebelum ini pun, ia adalah orang yang aktif membuat story.
Sayangnya, story terakhir hanyalah tentang keramaian club malam dan seorang perempuan yang naik ke atas meja. Meski begitupun, aku tetap mengambil bukti tersebut untuk bahan perdebatanku dan bang Ken.
Bang Ken membuatku gila.
Saat pulang kelas, aku kembali bermalas-malasan karena badanku tidak baik-baik saja. Aku semalam begadang dan belum tidur. Tetapi, kantukku belum datang juga.
Kembali, aku menelponnya. Tetap tidak diangkat. Sekarang jam dua belas siang di sini, berarti di tempatnya sudah jam sepuluh malam. Yang artinya, sejak malam tadi sampai pagi dan sampai malam lagi ia tidak meresponku. Jika dari waktu di sini, dari siang ketemu siang lagi.
Aku merasa tidak dianggap penting olehnya, karena ia malah mengesampingkan mengabariku dan memberitahukan apapun tentang keberadaannya. Dalam foto rapat yang ia kirim tersebut, berarti ia tengah rapat di pabrik farmasi yang berada di Bandung. Lalu, kak Riska menghampiri bang Ken ke Bandung. Entah mereka sudah berjanjian untuk bertemu di Bandung.
Nyata bukti mereka ada bersama, karena foto yang kak Riska kirim sama DM tersebut dan juga story yang terus mengupdate bang Ken. Mungkin di pikiran bang Ken, aku dan tidak saling mengikuti di sosial media. Mungkin juga pikirnya, aku dan kak Riska tidak saling mengenal.
Apa bang Ken sering bertemu dengan kak Riska, kala ia pulang dari Brasil. Apa mungkin, ia membutuhkan perempuan untuk perantara pelepasannya karena ia jauh dariku.
Kembali, aku mengecek story milik kak Riska. Apa isinya? Isinya tentang makanan dan foto sebuah cafe. Sepertinya, bang Ken sudah tidak bersama bersamanya.
__ADS_1
Ia tidak pernah mengunci atau panik kala ponselnya aku mainkan, karena ia bermain secara langsung, bukan lewat komunikasi. Ia sepertinya benar-benar laki-laki yang sering meminta jatah pada mantan-mantannya.
Jika benar ia tidak berubah, bagaimana denganku selanjutnya?
Ketika aku tengah melihat-lihat unggahan foto terbaru kak Riska. Aku mendapat pesan dari laki-laki yang aku tunggu sejak siang kemarin.
Apa isinya?
[Abang baru sampai Malaysia, Dek.] Sebuah foto parkiran dengan bangunan rumah sakit disertakan dalam pesan tersebut.
Oh begitu?
Rapat, lalu ia menuju rumah sakit miliknya? Katanya ia sibuk di Banjarmasin dan akan mengurus surat-surat untuk peresmian di sini, di Banjarmasin saja?
[Bukan di Bandung ya, Bang?] Aku coba menyindirnya.
Cukup lama ia tidak membuka pesan dariku. Aku yakin sih, ia sudah melihat isi pesan dariku dari notifikasi yang muncul di layar berandanya. Tapi sepertinya, ia tengah memikirkan jawabannya terlebih dahulu.
Rasanya aku sangat ingin menghubunginya lebih dulu dan memaki-makinya dengan tuduhan dan bukti yang aku miliki. Tapi aku menahan-nahannya, agar tau bagaimana pengakuannya lebih dulu. Jika ia malah berbohong, berarti aku harus lebih waspada dan ekstra untuk bisa membuatnya mengaku.
[Tak di Bandung, sekarang di Malaysia.]
Dia berbohong dan aku tahu. Rasanya begitu sakit, karena dibohongi oleh seseorang yang aku percayakan. Kenapa ia tidak jujur saja?
Poin pertama kebohongannya, aku harus mengingat tentang hal ini.
[Oh, tapi hfun ya? Atau having s** juga?] Sindiranku kali ini lebih terarah.
Kemarin aku gagal ke club, itu pun untuk melihat hingar bingar keadaan malam. Ibaratnya, hanya sekedar mencari hiburan dan melihat kegembiraan saja. Bukan ingin menikmati apa yang ada di hiburan malam tersebut, seperti manusianya atau minuman kerasnya.
Aku pergi ke karaoke bersama Alfonso, itu pun lebih ke arah melihat atraksi lawak darinya saja. Bukan untuk menikmati malam dengan laki-laki lain, atau bahkan merasakan laki-laki lain.
Karena apa aku begini? Karena ia tidak memberiku kesenangan atau hiburan sedikitpun. Coba kalau dengannya bebas datang dan mencari hiburan bersamanya di mana saja, mungkin aku tak akan keluyuran dengan orang lain juga.
__ADS_1
Sudah ada keterangan mengetik, aku menunggu balasan darinya.
...****************...