
Sialan!!!
Aku harus kembali ke dalam rumah, dengan tengkuk yang dicekik seperti tengah mengangkat kucing. Kenandra ayahnya Bunga lah yang datang, ia langsung membawaku masuk kembali setelah tahu jika aku akan pergi dengan pakaian terbuka.
“Jaga pakaian kau! Jaga marwah kau!“ Aku didorong pelan, hingga terduduk di sofa tamu.
“Jangan keras-keras ngomongnya! Ceysa lagi tidur.“ Aku menekan suaraku dengan memperhatikannya.
“Jangan kasar! Bisa tak?!“ Keith masuk, dengan langsung menarik kerah kemeja bang Ken.
Aduh, aduh! Dua jantan akan berantam.
Bang Ken menepis tangan Keith. “Ternyata kau ya laki-lakinya?! Laki-laki yang tak bisa jaga pakaian perempuannya di luar rumah!“ Bang Ken memasang telunjuknya di depan wajah Keith.
Pusing sudah jika begini.
“Ria bakal tetap aman di tanganku. Memang kau siapa? Kakak iparnya aja memasrahkan Ria dan anaknya ke aku! Aku bisa dipercaya, sekalipun aku bukan laki-laki baik.“ Keith melotot-melotot dengan wajahnya yang biasa ramah.
“Udahlah, Keith!“ Aku menarik lengan Keith.
Bang Ken mengacaukan saja! Siapa sih yang memberinya alamat untuk sampai ke sini? Lagipula, apa alasannya untuk datang? Tidak jelas sekali duda satu ini.
Aku membawa Keith ke arah kamarnya. Namun, aku berpapasan dengan Shauwi yang baru keluar dari kamarnya.
“Ada apa ribut-ribut?“ Wajah panik Shauwi kentara sekali.
“Ada bang Ken datang, tolong kasih minum hangat dulu,” jawabku dengan tetap berjalan ke arah kamar Keith.
“Oke-oke.“ Aku mendengar pintu kamar yang ditutup, dengan langkah Shauwi yang seperti tengah mengikutiku. Aku tahu, karena arah dapur itu dekat dengan kamar Keith.
“Dia siapa, Ria?“ Keith pasrah saja, kala aku membawanya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Aku menutup pintu kamarnya dengan kakiku. “Dia kakaknya bang Givan, kakak angkat sih. Tebalin sabar kau ya? Dia orangnya dartingnya. Maaf ya? Mungkin acara kita malam ini gagal, aku bakal atur waktu lagi nanti.“ Aku memegang kedua lengannya.
Aduh pusingnya kepalaku melihat dua laki-laki ini.
Wajah kecewa Keith terlihat begitu sendu. Duh, aku jadi tak enak hati telah membuatnya kecewa. “Aku ganti dengan kencan makan siang romantis Senin besok.“ Aku pun akan mengusahakan ini. Sebenarnya aku tidak tahu pasti aku bisa atau tidak, tapi aku akan mengusahakannya.
Keith mengukir senyum samar. “Aku tunggu, Ria.“ Ia membingkai wajahku dan mendekatkan wajahnya.
Ya ampun, terjadilah adegan dewasa. Bibirku ditubruknya lembut, kemudian ia menarik lagi kepalanya.
“Kau di kamar aja ya? Aku harus siapin tempat untuk bang Ken, dia pasti tersinggung kalau aku tinggalkan begitu aja.“ Di sini memang ada seorang pembantu, tapi rasanya aku tidak tega mengganggunya tidur hanya untuk membereskan sebuah kamar saja. Asisten rumah tangga di sini, berasal dari Indonesia malah. Sayangnya, pembantuku ini ilegal. Maksudnya, tidak lewat agensi TKI negara begitu. Dia memang sengaja dibawa dari Sulawesi ke sini, paspornya paspor turis saja.
“Ya, Ria. Aku ngerti kok.“ Keith mengulas senyum menenangkan.
“Aku keluar ya?“ Aku menarik gagang pintu kamarnya.
“Oke,” sahutnya dengan menoleh ke arahku.
Ketika aku sampai di ruang tamu, malah tidak ada orang-orang di sini. Aku berpikir, apa tadi yang datang itu hantu? Yaps, benar. Di Singapore juga ada hantu, sama seperti Indonesia.
“Buat apa, Wi?“ tanyaku dengan menghampiri Shauwi.
Shauwi menoleh ke arahku. Obrolan mereka yang tentang membahas Ceysa, berhenti saat aku bersuara.
“Buat mie rebus.“ Shauwi mengarahkan pandangannya lagi ke atas panci kecil dengan gagang panjang itu.
“Biar aku aja, kau tidurlah lagi.“ Aku mengerti, sekalipun Ceysa libur bersekolah, pekerjaan Shauwi dalam menjaga Ceysa tidaklah libur.
Meski bekerja tanpa hari libur. Aku melihat Shauwi begitu tekun dalam pekerjaannya, mungkin ia menambahkan rasa ikhlas dan sayang untuk mengurus Ceysa. Karena aku yg merasakan sendiri, beratnya tubuh ini untuk bergerak mengurus anak orang lain.
Biarpun aku dituduh sebagai tante yang durhaka. Tapi, satu dua tindakan aku akan turun tangan mengurus anak-anak mbak Canda. Buktinya pun, aku mampu mengurus Bunga juga. Tapi jujur saja, aku masih mencampurkan kegiatanku bersama anak-anak dengan bermain ponsel. Bahkan, jika aku tengah lelah. Aku akan menjejali anak yang tengah kujaga, untuk melihat YouTube dalam ponselku saja. Tidak ada berkorban kuota satu atau dua giga, yang penting mereka mau anteng barang sejenak.
__ADS_1
Jika Shauwi, atau pengasuhnya anak-anaknya mbak Canda yang lain. Mereka tidak mencampur kegiatan mereka dengan anak-anak, dengan bermain ponsel. Hanya ketika anak-anak yang ingin mereka jaga saja meminta mereka untuk menghubungi seseorang, maka barulah mereka mengeluarkan ponsel mereka.
“Sejak kapan kau keluar rumah dengan pakaian dress mini begitu?“ Itu adalah suara bass ayahnya Bunga.
“Aku bebas berpakaian, Bang.“ Namanya juga ingin clubing, masa iya memakai gamis.
“Abang ipar kau pasti kecewa, Ria.“ Tahu apa dia, sok membawa-bawa nama bang Givan.
“Terus mau Bang Ken, aku harus gimana? Baiknya aku gimana?“ Aku berbalik badan menghadapnya sebentar.
Kemudian, aku mematikan kompor dan menuangkan mie yang sudah direbus ini ke dalam mangkuk yang sudah terisi bumbu mie.
“Jadilah Ria yang berpakaian sopan, menjaga sholatnya. Entah bagaimana tentang dosa-dosa kau, yang jelas jangan tambah dosa kau dengan mengumbar aurat kau.“
Bilang saja, jika ia tergoda.
“Hmm.“ Aku hanya menjawab cepat. Kemudian, aku membawa mangkuk mie ke hadapannya.
Sudah ada kopi seduh di hadapannya. Aku akan menambahkan segelas air putih saja, untuk minumnya setelah makan mie.
“Temani Abang makan di sini.“ Ia menahan pergelangan tanganku.
Apalagi ini, Ya Allah?
Aku tidak ingin membuat gaduh. Aku tak mau orang-orang yang tengah beristirahat, malah terganggu dengan kami di dapur ini.
Aku menarik kursi yang berada di bawah meja bar, kemudian duduk di depan bang Ken persis. Aku menurut, hanya untuk menghindari keributan saja. Aku benar-benar tidak ingin ribut dengan jenis manusia Kenandra, karena ia sedikit kasar ketika ribut.
Aku takut dibantingnya di dapur ini, lalu aku berdarah karena terpentok meja bar ini. Kemudian, esoknya ia meminta maaf karena perlakuan kasarnya. Aku tahu ia pasti kasar, karena turunan ayahnya. Aku pernah mendengar ayah kandungnya yang melakukan KDRT, hingga membuat umi Sukma pulang ke orang tuanya.
Aku jadi memikirkan, apa aku akan dibanting-banting dan ditampar-tampar, jika aku berumah tangga dengannya. Tadi pun, aku didorongnya hingga terduduk di sofa tamu. Ya memang pelan, tapi menurutku itu adalah tindakan yang tak patut. Masa iya, seorang laki-laki tega sekali mendorong tubuh perempuan?
__ADS_1
“Bang, perlakuan Abang ke kak Riska tuh sekasar tadi tak sih?“ Aku tidak biasa dengan sesuatu yang mengganggu kepalaku.
...****************...